Mental Block Terbesar dalam Hidup
November 11, 2009 by admin
Filed under Syahril Syam
Suatu ketika ada seorang perempuan muda, sebut saja Nidar, datang untuk berkonsultasi kepada saya. Ia merasa ada sebuah penghalang besar yang menghalangi dirinya, sehingga ia tidak bisa meraih sukses atau pekerjaan yang layak bagi dirinya.
Akhirnya setelah melakukan beberapa interview, saya pun melakukan proses hypnotherapy kepada dirinya. Saya membawanya ke kondisi profound somnambulism, dan kemudian melacak problem sesungguhnya yang di alami oleh Nidar.
Ternyata ia merasa dirinya tidak cantik, tidak tinggi, dan tidak langsing. Padahal dalam pekerjaan yang pernah ia geluti sebelumnya, ia berharap seperti demikian. Padahal menurut saya, Nidar ini adalah perempuan yang cantik, tinggi, dan cukup langsing. Tapi ia tidak merasa demikian. Ia menghakimi dirinya sendiri. Nidar pada dasarnya merasa disepelekan dan tidak dihargai, dan ketiga kategori di atas adalah parameter ia merasa dihargai.
Akhirnya setelah melewati proses terapi selama satu setengah jam, akhirnya ia kembali menghargai dirinya sendiri. Setelah terapi, ia merasa badannya terasa sangat ringan, seperti ada sebuah beban yang tiba-tiba hilang dari dirinya. Ia merasa sangat plong, dan ia merasa seperti ingin terbang dan begitu bahagia.
Seperti hal Nidar, begitu banyak orang yang mencoba menyangkal dan tidak mengakui shadow mereka dengan melakukan yang sebaliknya dan berusaha untuk menutupinya. Bahkan yang lebih parah lagi adalah menjadi pembenci orang lain atas sikap mereka, dimana sikap tersebut adalah shadow-nya sendiri.
Steven, seorang konsultan bisnis sukses tapi gagal dalam membangun hubungan cinta pernah bercerita bahwa ia begitu membenci salah seorang yang ia temui. Steven menganggap orang tersebut pengecut dan Steven sangat membenci orang yang pengecut.
Setelah ia menyelami dirinya sendiri, ia mendapati dirinya sendiri bahwa saat ia berusia lima tahun, ayahnya mengajaknya masuk ke sirkus kuda. Steven belum pernah melihat kuda sungguhan, dan hal itu membuatnya menjadi takut. Ketika Steven mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak ingin masuk ke sirkus kuda karena takut, ayahnya memarahinya, “Akan jadi laki-laki seperti apa kamu ini? Dasar bocah penakut, kamu mempermalukan keluarga kita.” Steven pun dihukum. Dan sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak lagi bersikap seperti penakut. Ia menghabiskan hidupnya untuk membuat ayahnya bangga. Ia meraih sabuk hitam karate, bermain futbol semasa kuliah, ikut angkat besi. Dan semua ini dilakukannya untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan banci.
Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan pengecut kepada ayahnya, dengan berusaha membuktikan dirinya; tapi ternyata kenyataan tersebut masih menghantui dirinya. Ia berusaha menolaknya dengan ikut membenci orang-orang yang pengecut. Dan sebagai bukti bahwa ia tidak menerima dirinya adalah bahwa ketika ia mencoba menjalin hubungan dengan perempuan, ternyata sikapnya menjadi penakut. Ia takut kepada perempuan, takut berkomunikasi secara jujur, dan hal ini mengakibatkan banyak masalah dalam kehidupan pribadinya.
Banyak orang membenci orang kaya, membenci orang lain bisa sukses, membenci keberhasilan orang lain, dan semua kebencian itu selalu dengan alasan yang nampak rasional. Sikap seperti ini mungkin saja karena orang-orang tersebut juga membenci dirinya sendiri dan membenci kekayaan, kesuksesan, dan keberhasilan.
Bahkan ada yang mencoba meraih suskes karena ingin membuktikan kepada keluarga, teman, dan orang lain bahwa dirinya bisa dan apa yang mereka ungkapkan itu tidak benar. Di satu sisi ini merupakan motivasi dan tidak jarang ada yang betul-betul sukses dan berhasil membuktikan dirinya. Tetapi, apakah kita ini sadar bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar menutupi kebencian dan berusaha membuktikan sesuatu, tetapi lebih kepada meraih kebahagiaan dan kesempurnaan yang hakiki menuju kepada Sang Sumber.
Berbicara tentang the shadow, maka kita mengacu pada titik lemah atau Achilles Heel, sebuah istilah yang berasal dari mitologi Yunani. Alkisah ada seorang panglima perang yang sangat hebat bernama Achilles. Di waktu kecil ia pernah direndam oleh ibunya ke dalam sungai Styx, sungai yang dapat membuatnya menjadi kebal.
Air sungai itu membasahi seluruh tubuh Achilles, kecuali tumitnya yang digenggam oleh tangan ibunya. Ketika dewasa Achilles berusaha membuktikan dirinya bahwa ia adalah panglima besar yang tangguh. Ia berusaha membuktikan dirinya bahwa ia tak terkalahkan, dan ia memang memenangkan banyak pertempuran. Ia tahu bahwa ia mempunyai satu titik kelemahan pada tumitnya, namun ia menutupi hal itu dengan membuktikan bahwa ia betul-betul kebal dan tak terkalahkan.
Daripada menerima kenyataan tersebut dan belajar darinya, Achilles justru selalu berusaha membuktikan bahwa ia tak terkalahkan. Hingga pada suatu ketika, musuh bebuyutannya, Paris, memanah fatal tumitnya.
Seperti halnya Achilles, kebanyakan orang tidak mau mengakui bahwa mereka memiliki titik lemah, dan berusaha menutupi the shadow mereka dengan berupaya tampil sesempurna mungkin. Menurut Bloomfield, kita masing-masing memiliki satu titik lemah, kelemahan, kegelisahan, atau kerentanan yang membuat kita tetap tersandung.
Sindrom Achilles adalah harga yang kita bayar akibat melawan titik lemah kita. Sindrom ini mengacu pada satu hukum psikologis:
APA YANG KITA TOLAK TETAP TERJADI
Benar, apapun yang berusaha Anda sembunyikan dalam diri Anda, dan Anda tidak mau mengakuinya, tetap akan mempengaruhi Anda. Alih-alih ingin tampil sempurna, dengan tidak mengakui the shadow, sebenarnya kita akan selalu tampil dalam ketidak-sempurnaan. Ketika kita menerima dan belajar dari hambatan dan tantangan yang paling besar dalam diri kita, maka hal itu bisa merupakan sumber tenaga, suatu perangsang pada pertumbuhan kita.
Menurut Robert B. Stone, paling tidak terdapat lima hambatan yang selalu membuat kita sulit meraih sukses:
1. Kegelisahan dan kecemasan. Hal ini menyebabkan ketegangan dalam badan. Koordinasi otot dan efisiensi mental dapat dipengaruhi oleh keadaan ini. Kesehatan kita pun jadi ikut terganggu, dan biasanya system pencernaan kita terkena dampaknya paling awal. Gejala lainnya juga berkisar pada sakit kepala dan serangan jantung.
2. Takut. Ini merupakan hambatan yang tersembunyi. Perasaan takut melakukan sesuatu seringkali membuat kita selalu mandek dalam mengerjakan sesuatu.
3. Benci-diri. Begitu banyak orang yang selalu menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak beres, alih-alih mencari tahu apa yang terjadi dan mengoreksi diri sendiri, malah tanpa sadar menghukum diri sendiri.
4. Pesimisme. Merasa tidak bisa sukses dan seringkali memberikan bukti dengan membeberkan kegagalan yang sering dialami.
5. Kesan diri yang terbatas. Kita mempunyai kebiasaan berpikir dalam keterbatasan. Kebiasaan ini seringkali mengganggu kita dalam melakukan sesuatu. Seringkali kita merasa tidak layak dalam mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya baik bagi kita.
Dengan gaya yang sedikit berbeda, Harold H. Bloomfiled, menyebutkan lima jenis hambatan yang sering mengganjal kita, disertai kata hati yang terlintas:
1. Saya takut disakiti lagi.
“Saya tidak tahu apakah saya bisa menjumpai orang yang benar”
“Ketika persahabatan menjadi serius, saya merasa khawatir”
“Saya khawatir ia akan menolak presentasi saya”
2. Saat saya bercermin, saya tidak pernah puas.
“Saya berharap saya bisa lebih tinggi”
“Saya malu kalau audiens melihat jerawat saya ketika saya berbicara”
“Saya merasa tidak memiliki penampilan yang menarik”
3. Saya tidak tahan kritikan.
“Saya selalu mencoba menyenangkan orang lain”
“Saya berharap orang-orang mengerti perasaan saya”
“Saya ingin selalu tampil sangat sempurna agar tidak ada yang mengetahui kelemahan saya”
4. Saya selalu merasa tegang dan tergesa-gesa.
“Saya tidak bisa istirahat sampai semuanya berjalan mulus”
“Saya jadi marah kalau orang tidak menepati janjinya”
“Bahkan dalam liburan pun saya tidak pernah bisa santai”
5. Saya harap saya bisa lebih bahagia.
“Apapun yang saya lakukan saya tidak pernah puas”
“Saya berhasil dalam pekerjaan saya tetapi saya ragu apakah ada perubahan dalam hidup saya”
“Saya kira saya lebih bahagia jika………………(sudah menikah, punya anak, mendapat pekerjaan)”
*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id
Telah di baca sebanyak: 124











aku jatuh sejatuh – jatuhnya karena aku ingin begitu . . . namun ada zat yg terus mengingatkan aku untuk tetap bangkit, aku melawannya krn kumerasa putus asa, aku menolak segala “keterbangkitan” namun sialnya zat itu tetap ada.
someone please . . . what should I do? I don’t have reason to keep my life or maybe I have to scream ” HELP!”
yth, Bpk. Admin( Maaf saya baru, jadi belum mengenal anda)
Mengenai mental block, saya memiliki mental blok yang saya anggap sangat besar berikut penjelasannya:
pertama: bermusuhan dengan orang tua
saya masih bermusuhan dengan ibu saya, apakah itu menghalangi perkembangan saya untuk maju?
kedua: keuangan dan relasi
tentang keuangan: mental block saya, ya saya mengangap uang adalah kejahatan, selama ini saya menganggap bahwa rezeki adalah yang masuk perut saja.
misal, saya memiliki kendaraan pribadi, tetapi selalu digunakan oleh supir saya, berarti mobil itu adalah rezeki supir saya, sebab saya tidak pernah menggunakannya…
jika saya sendiri yang menggunakan, hanya otak saya saja yang merasakan kepuasan, dan merasa memiliki kendaraan tersebut.
contoh kedua: saya memliki rumah mewah, tetapi karena kesibukan saya, saya jarang dirumah, bahkan untuk ketemu relasi selalu di hotel, dan jarang sekali saya pulang kerumah, jadi saya beranggapan bahwa rumah itu adalah rezeki pembantu saya, karena selama ini yang dapat menikmati semua fasilitas di rumah adalah pembantu saya
contoh ketiga: mental block saya mengenai wanita
saya pernah denger, kalo pacaran dalam islam itu ngga boleh, karena ada satu hadits yang mengatakan”lebih baik bersentuhan dengan bara api neraka, daripada bersentuhan dengan selain muhrim”
mental block saya seperti itu,adakah cara yang super efektif untuk menghilangkannya??
sebelumnya terima kasih..
buat bapak yadi tampan:
ubah cara pikir anda donk..
anda harus bs berpikir dr semua sudut..
1. mengenai supir anda..
apakah supir anda senank memakai mobil yang bukan miliknya?
cb bygkn dr sudut dy..
apakah bapak tdk senank bapak pny mobil bagus?
bayangkan org laen yg sedang naik motor, mereka berpanas2an? inginnya mereka naik mobil?
2. rumah anda., pembantu anda hanya kerja di sana..
bukannya milik dia..
dia juga tidak bisa sembarangan bertingkah di rumah anda kan?
memang rejekinya mereka, tapi apakah anda tidak senang menjadi saluran berkat yang dipakai Tuhan untuk mereka?
3. mengenai hukum Islam, karena saya muslim jadi saya tidak tahu bagaimana tanggapan saya ttg itu.
buat erlagga:
banyakkin doa n konsul ke ahlinya aja..
smoga membantu =)
oyah ingin mengoreksi ttg kalimat saya di atas..
maksud saya, saya bukan muslim jadi saya tidak tahu bagaimana menanggapi anda
=)
bapak yang terhormat tolong saya
saya david mahasiswa di jogja dengan uang yang tipis tapi punya hambatan mental
saya mengidap mental block, mungkin karena sya sejak kecil selalu melihat pertengkaran orang tua dan ibu saya sampai saat ini kalau marak ngatain saya yg jelek saya pengin berubah yang peduli dengan saya tolong saya, saya bersedia melakukan apapun untuk kesembuhan saya kecuali soal finansial
ini nomer hp saya 0877 3792 5177