Kolom Alumni

Mentang-mentang

Oleh: Gagan Gartika

“Jauhilah sifat mentang-mentang, agar kehidupan diri, keluarga serta perusahaan selalu terjaga dari kemajuan”. –Gagan Gartika

Bisa saja mentang-mentang maju, jadi lupa diri. Mentang-mentang anak pejabat, jadi sombong. Mentang-mentang perusahaan tak ada pesaing, jadi terlena memasarkan. Mentang-mentang berkuasa Anda bisa menekan orang lain. Semua karena mentang-mentang ini banyak pejabat, keluarga dan perusahaan jadi menurun serta gulung tikar.

Sehingga sifat mentang-mentang ini sebaiknya dapat dihindarkan. Anda berlaku biasa saja, tak perlu mentang-mentang. Karena kata orang bijak, rejeki seseorang hanya sebatas yang dimakan. Sedangkan yang lainnya, hanyalah titipan untuk yang lain. Bisa jadi rejeki datang hanya lewat perantaraan Anda saja, selanjutnya tersebar untuk orang sekitar, atau menjadi milik orang dari kampung, yang tiba-tiba datang menghampiri Anda. Jadi ngapain kita berperilaku mentang-mentang, malah merugikan diri sendiri.

Namun persoalannya, saat seseorang mempunyai kedudukan—sulit terhindar dari sifat mentang-mentang ini, karena kebanyakan orang, sering memiliki sifat ingin dipuji. Mereka senang ketika banyak yang membantu. Mereka senang ketika naik kendaraan mewah. Mereka senang ketika orang menghormati. Mereka senang bisa mengatur-ngatur. Sehingga kesenangan inilah yang sering membuat orang terlena dan akhirnya, menjadi mentang-mentang.

Semestinya orang yang takut kehilangan jabatan, takut kehilangan fasilitas, seharusnya, jangan berperilaku mentan-mentang. Tetapi yang baik dan wajar saja, sehingga pembantu dan pendukungnya, akan tetap mempertahankan ia sebagai pimpinan.

Namun kenyataannya, kita masih sering melihat, banyak pejabat yang berperilaku mentang-mentang karena memiliki kekuasaan, dan bahkan sifat itu telah merembes kepada keluarga, menjadikan mereka sering tak menyadari hal ini, sehingga timbul sifat sombong dan suka menghamburkan kekayaan, seolah uang gampang dicari dan jabatan akan langgeng,

Sebetulnya, saya sendiri sering kasihan melihat orang yang demikian, mudah-mudahan sifat tersebut tak mampir ketempat saya dan keluarga. Karena yang paling sulit, yaitu sifat seperti itu, sering tak disadari, akibat lingkungan yang given disebabkan keadaan anda, misalnya, ketika Anda punya anak buah banyak sebagai atasan, pasti anak buah akan menghormati. Ketika Anda hidup dengan rumah mewah, pasti lingkungan akan selalu melirik kehidupan dan mengagumi Anda. Ketika anda sebagai guru, otomatis murid menghargai ketika bertemu, ketika ustad sering memberi nasihat, anak asuh pesantren akan mendeg-mendeg atau nunduk-nunduk ketika berpapasan.

Nah, lingkungan yang given itu sering berpengaruh kepada pribadi Anda, sehingga secara tak sadar, ketika anak buah Anda kurang hormat, perasaan sering tersinggung—ketika anak murid, anak asuh, bawahan salah omong—sering menjadi masalah. Dan karena kerasnya teguran kita kepada mereka. Akhirnya, mereka sakit hati dan bisa menyebut Anda mentang-mentang……, jadi lupa diri.

Sehingga kalau kita menjadi pejabat, pengusaha, guru, ustad, konsultan atau sebagai pemimpin lainnya, perlu berhati-hati, karena anda dapat terserang penyakit mentang-mentang. Bila penyakit ini parah bisa menjatuhkan, atau lingkungan tak senang, karyawan gundah—murid berontak—client marah—karyawan tak menuruti perintah, dan semua itu bisa menyebabkan kegiatan dan perusahaan tak jalan.

Karena itulah, pada perusahaan pelayanan, misalnya, perbankan, perusahaan telekomunikasi, rumah sakit bagi yang menyadari hal ini. Mereka tak ingin pegawainya terserang penyakit mentang-mentang, yaitu mentang-mentang dibutuhkan, jadi sombong. Mentang-mentang berkedudukan, ketika melihat pasien rewel meminta tolong, sering judes dan selalu cemberut.

Untuk itu, perusahaan, saat awal penerimaan, sering mempersyaratkan dalam menentukan karyawan terpilih—yang mampu menghadapi keadaan dengan kesabaran, penuh senyuman, berprilaku sopan, gesit melayani, ikhlas dan senang membantu—karena pelayanan tersebut menjadi cerminan perusahaan—yang ujungnya nasabah betah dan berdampak kepada kemajuan perusahaan.

Ada beberapa cara dalam mengatasi penyakit mentang-mentang, al:

Pertama, Anda perlu berhati-hati dalam membedakan, mana yang bersifat pujian, sanjungan dan mana yang memajukan, sehingga Anda tak termakan oleh pujian, yang mematikan. Karena terkadang pujian tersebut adalah racun. Sebab bisa karena pujian, Anda jadi menghamburkan biaya—karena pujian menjadikan Anda sering mentraktir—karena pujian menjadikan Anda selalu ingin dilirik orang—karena pujian, Anda menjadi sombong—karena pujian Anda terlena, sehingga keblablasan berperilaku, semua itu bisa menjatuhkan dan menyakitkan. Untuk itu, sebelum bangkrut, Anda perlu berhati-hati menghadapi pujian dan sanjungan.

Kedua, saling menasihati sesama teman, sehingga Anda sering diingatkan, agar tidak berperilaku demikian. Atau Anda sering mendengar nasihat-nasihat dari orang yang kita tuakan, hormati, atau sering membaca buku yang menyadarkan. Terkadang orang tua sulit dalam menyadarkan anaknya, tetapi dengan orang lain atau lewat buku, anak akan lebih menerima dan percaya. Begitu juga, bila tak ada yang menyadarkan Anda, lingkungan yang given bisa memberikan kesenangan dan menyelusup dalam diri, menjadikan Anda tak sadar, bahwa Anda telah terkena penyakit mentang-mentang—yang membahayakan. Namun dengan sering menerima nasihat baik melalui pertemanan, radio, televisi dan buku, minimal bisa menjadi penghalang agar tidak mentang-mentang.

Ketiga, bergaul dengan karyawan, konsumen atau jangan terlalu menjaga jarak dengan bawahan dan masyarakat sehingga mereka senang. Atau dengan perusahaan memberi perhatian kepada lingkungan sekitar, misalnya, membantu penghijauan, membuat pertamanan, memberikan beasiswa, membantu kesehatan—dengan layanan gratis periksa kesehatan, periksa mata, dlsb. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa perusahaan tak hanya mengambil keuntungan, tetapi membagikan bagian keuntungan buat kemajuan masyarakat, selanjutnya perusahaan menjadi dambaan mereka.

Dengan demikian, dengan hati-hati menghadapi lingkungan yang given, mampu membedakan mana pujian dan mana pemberi semangat, mempunyai teman yang membantu menyadarkan Anda, serta mampu bergaul dengan masyarakat, konsumen, murid, karyawan. Semua itu membuat Anda jauh dari sifat mentang-mentang, yang bisa menghancurkan kemajuan diri, kemajuan keluarga, kemajuan perusahaan, bahkan kemajuan bangsa dan negara. (gg)

*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pendiri, Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada bidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta. Email: gagan@kumaitucargo.co.id

Telah di baca sebanyak: 1371
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *