Kolom Bersama

Menulis Adalah Kesenangan Saya

Oleh: Margareth Simardjo

Tiga hari ini saya membaca secara rutin artikel-artikel yang telah dituangkan dalam situs pembelajar.com. Banyak ide-ide yang menggelitik saya untuk bertanya lebih lanjut tapi juga menantang serta memotivasi saya untuk ikut menuangkan gagasan-gagasan saya dalam bentuk tulisan.

Saya seorang yang cinta menulis. Saya cinta membaca. Dan yang terpenting, saya cinta belajar. Untuk saya, kehidupan adalah sekolah saya, pengalaman adalah guru saya, dan cinta dari orang-orang sekeliling saya adalah semangat dan antusiasme saya.

Saya terkesan sekali dengan tulisan-tulisan yang dituangkan oleh Mbak Eni Kusuma. Saya kagum dengan semangatnya. Seorang TKW yang menjadi penulis dan motivator. Sungguh menginspirasi saya. Dan ketika saya membaca tulisan-tulisannya, saya dapat merasakan antusiasmenya serta semangatnya untuk menyebarkan antusiasme yang ia miliki, yang telah mengantarnya menuju seseorang yang dikenal oleh masyarakat.

Untuk saya pribadi, menulis adalah kesenangan. Saya menulis karena saya butuh untuk menulis. Setiap hari saya merenungkan kehidupan saya, mengejar kebijaksanaan dan kebahagiaan dalam hidup saya. Karena begitu banyak ide di pikiran saya, saya merasa saya harus menulis. Dengan menuliskan isi pikiran saya, saya bisa merasa lebih lega. Ide-ide saya sudah terlihat hitam di atas putih, tidak lagi dalam bentuk gumpalan ide yang masih melayang di udara. Belakangan, saya aktif menuliskan notes-notes di facebook saya. Isinya hal-hal sederhana dalam kehidupan saya, mengenai masa kecil saya, masa remaja saya, dan hal-hal sederhana yang saya lalui dalam kehidupan saya.

Setelah saya publikasikan, saya terkejut. Ada yang memberikan komentar bahwa mereka merasa terharu ketika membacanya, ada yang kemudian ikut memberikan pengalaman yang serupa dalam kehidupan mereka, yang selama ini mereka pendam di dalam lubuk kesadaran yang terdalam, ada juga yang memuji saya karena begitu terbukanya saya dalam bercerita tentang kehidupan pribadi saya.

Saya lalu berpikir. Apa yang membuat tulisan saya menggugah emosi orang lain. Menurut saya, apa yang saya ceritakan itu hanyalah bagian dari kehidupan saya. Lalu berdasarkan komentar yang diberikan oleh teman-teman saya, serta dikuatkan dengan artikel mengenai tulisan yang menggugah oleh Mbak Eni Kusuma, saya menemukan jawabannya. Saya menulis dari hati. Seperti yang dikemukakan oleh Mbak Eni, ketika menulis pengalaman hidup, saya menyertakan emosi saya di dalamnya. Saya bisa menitikkan air mata ketika mengetikkan kata demi kata mengenai sesuatu yang membuat saya terharu, saya bisa tertawa ketika teringat kembali peristiwa indah yang pernah saya alami, dan saya bisa menangis terisak-isak bila hal yang saya tuliskan itu bersentuhan dengan luka hati saya di masa lalu.

Dari menuliskan notes-notes di facebook ini, saya mendapat suatu kesadaran. Adalah indah bila kita rela membagikan kehidupan kita kepada orang lain. Kalau saya tidak bisa memberikan materi, saya bisa membagikan pengalaman hidup saya. Saya bisa men-share guru sekolah saya pada orang lain. Saya rindu supaya setiap orang mengejar kebijaksanaan dan kebahagiaan dalam hidup.

Saya teringat apa yang pernah disampaikan oleh Pak Paulus Winarto, di salah satu seminarnya, ‘Maximize Your Talent’. Beliau mengatakan, “Tulisan kita adalah hal yang akan terus ada saat kita sudah tiada.” Itulah yang memotivasi dan mendorong saya untuk terus menulis.

Semoga dengan lebih banyaknya orang yang tergugah lewat tulisan-tulisan yang berasal dari hati, semakin terkikislah rasa kebencian, iri hati, dendam, kesombongan dan keserakahan. Dengan demikian, biarlah lambat laun, perang, pengrusakan alam, korupsi, dan hal-hal negatif lainnya bisa punah dan menjadi hal langka di muka bumi ini. Amin.

*) Margareth Simardjo lulus di fakultas psikologi Universitas Indonesia pada tahun 2004. Dilahirkan tanggal 27 Agustus 1982, masih minim sekali dengan pengalaman dan masih banyak menggali semua sumber yang ada di kehidupan untuk dipelajari. Lahir dengan rasa ingin tahu dan idealisme yang tinggi, ia adalah seorang yang sulit untuk berhenti mencari saat ia merasa bahwa keingintahuannya belum terpuaskan. Ia adalah seorang yang sangat mencintai anak-anak, dan bergulat di bidang pendidikan semenjak ia lulus dari kampusnya. Berbekal pengetahuan yang ia dapatkan, ia merambah dunia pendidikan anak usia dini. Dan seperti anak ayam yang baru menetas, di dunia kerjalah ia menyadari bahwa pengetahuannya sangatlah kurang. Bekerja sebagai satu-satunya staf psikologi BPK Penabur Bandung, menangani 2 TK dan 2 SD, sadarlah ia, bahwa pengetahuan yang didapatkan di universitas tidaklah memadai untuk membantu anak-anak yang mempunyai kesulitan belajar. Di dunia kerja inilah ia mulai belajar menangani anak-anak kebutuhan khusus, seperti anak dengan down syndrome, autis, ADHD, ADD, dan beragam anak-anak. Karena idealismenya yang tinggi inilah, ia memutuskan untuk mencari pengetahuan di luar institusi. Ia mulai mengajar anak-anak secara privat, menjadi helper untuk anak autis, belajar untuk melakukan homeschooling untuk anak-anak kebutuhan khusus maupun anak-anak yang berbakat. Semakin ia berhadapan dengan berbagai macam karakter anak secara pribadi, semakin dirasakan olehnya bahwa sampai kapanpun, kita tidak pernah bisa berhenti belajar. Kehausan akan ilmu pengetahuanlah yang bisa menjadi bekal utama untuk kita bisa membantu sesama yang membutuhkan. Dapat dihubungi langsung di margareth_simardjo@hotmail.com

Telah di baca sebanyak: 1562
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *