Andrias Harefa

Menulis Buku Best-Seller


Buku best-seller menarik untuk diperbincangkan.

Secara logika, kalau disebut best-seller, pastilah buku tersebut tercatat sebagai satu-satunya buku yang “terlaris” atau “paling laris”. Artinya, novel yang best-seller, tentulah merupakan satu-satunya novel yang terlaris di antara novel-novel lain yang beredar saat itu. Buku lain mungkin “terlaris” sebagai buku komik, buku keuangan, buku panduan (how-to), buku swa-bantu (self-help), buku politik, psikologi populer, filsafat, dan sebagainya. Intinya, karena disebut sebagai yang “terlaris”, maka tentunya cuma satu.

Buku saya yang bertajuk Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Buku Kompas, 2000), sempat menjadi buku best-seller selama beberapa tahun untuk kategori nonfiksi. Maksudnya, buku tersebut adalah buku nonfiksi yang paling laris menurut data Penerbit Buku Kompas. Buku itu mengalami 3-4 kali cetak ulang dalam tiga bulan pertama masa peredarannya di pasar. Dan saya sebagai penulisnya tidak melakukan apapun yang spektakuler, revolusioner, atau gilaan-gilaan dalam rangka publisitas untuk buku tersebut. Hampir semua penjualannya melalui jalur tradisional, yakni jaringan toko buku.

Belakangan, lewat publikasi di harian Kompas, 27 Februari 2008, saya ketahui bahwa di lingkungan Penerbit Buku Kompas, hanya ada dua buku nonfiksi yang sempat mengalami cetak ulang sampai kali yang ke-10. Buku itu adalah Menjadi Manusia Pembelajar dan Perang Pasifik karya almarhum P.K. Ojong. Itu sebabnya penerbit merasa perlu mengiklankan hal itu secara khusus. Namun saya tidak diberi tahun buku mana yang “paling laris” di antara dua judul tersebut.

Sampai disini, kriteria buku best-seller bisa diperjelas. Pertama, bukunya harus sudah terbit dan beredar di pasaran dalam kurun waktu tertentu. Kedua, catatan penjualan buku itu diperbandingkan dengan buku-buku sejenis dan terbukti penjualannya tertinggi untuk periode tertentu. Ketiga, predikat sebagai buku best-seller disandangkan kepada buku itu setelah datanya jelas—sehingga tidak mungkin buku mendapatkan label best-seller pada cetakan pertama saat baru beredar.

Jika kriteria yang agak ketat semacam itu hendak dipergunakan, maka ada beberapa soal perlu disepakati para pihak yang berkepentingan. Periode waktu edarnya apakah mingguan, bulanan, triwulan, semester, atau tahunan? Lalu catatan penjualan berdasarkan data seluruh toko buku, toko buku tertentu yang dominan, atau data penerbit yang melakukan cetak ulang berdasarkan pesanan toko buku? Bagaimana kalau penjualannya laku keras melalui program seminar dan pelatihan, tetapi catatan penjualan di toko buku tidak menunjukkan hal yang sama? Dan yang mungkin paling penting adalah siapa yang (mau dan dianggap mampu) melakukan pendataan ini?

Kategori Laris
Cara lain mendefinisikan buku best-seller adalah menentukan jumlah minimum penjualannya setiap bulan. Ini cara yang pernah dikemukakan Wandi S. Brata, Wakil Direktur Eksekutif Gramedia Pustaka Utama. Ketika trilogi pertama yang saya tulis—yakni Sukses Tanpa Gelar (Sept, 1998), Berguru Pada Matahari (Okt, 1998), dan Menerobos Badai Krisis (Okt, 1998)—beredar dipasaran, kami bersepakat bahwa bila dalam 6 bulan terjual minimum 6.000 eksemplar, buku tersebut dianggap best-seller. Artinya, ia dianggap buku-buku “yang laris” meski belum tentu yang “paling laris”. Jadi, ini pengelompokkan dalam arti kategori, tidak menunjuk pada satu buku yang “terlaris”.

Definisi semacam inilah yang agaknya paling banyak dianut oleh penerbit di Indonesia. Hanya saja, jumlah minimum penjualannya masih berbeda-beda, bahkan di internal kelompok penerbitan Gramedia sekalipun. Ada yang menggunakan indikator minimum 400 eks/bulan; dan ada yang menggunakan indikator minimum 850 eks/bulan selama 12 bulan bertutur-turut.

Dalam berbagai kesempatan memberikan pelatihan penulisan buku best-seller, saya mengusulkan untuk menggunakan standar penjualan minimum 6.000 eksemplar dalam 6 bulan pertama peredarannya sebagai kriteria buku best-seller. Dan dengan kriteria ini, saya dapat mengatakan bahwa dari 34 buku yang telah saya tulis—tiga di antaranya sebagai ghost-writer—lebih dari separuh memenuhi standar kategori best-seller; terjual antara 20.000 – 30.000 eksemplar tiap judulnya.

Bisakah Diprediksi?
Terus terang, saya tidak tahu bagaimana caranya menciptakan novel agar menjadi best-seller. Saya tidak memiliki pengalaman di bidang ini. Orang-orang seperti Ayu Utami, Dee, Andrea Hirata, dan Habiburrahman El-Shirazy, akan lebih kompeten untuk berbicara mengenai soal ini. Bagaimana pun saya percaya setiap proses kreatif memiliki pola yang bisa dipelajari. Ada pola yang sulit, ada pola yang mudah dipahami.

Pola yang relatif mudah dipelajari adalah buku-buku panduan dan swa-bantu. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, saya bisa menduga-duga buku-buku macam apa yang akan laris di pasar Indonesia. Tentu saja dengan menggunakan sejumlah asumsi yang berkaitan dengan profil penulis, tema naskah, gaya penulisan, dan momentum publisitas.

Penulis yang juga dikenal sebagai pembicara publik cenderung menghasilkan karya best-seller. Hermawan Kartajaya, Gede Prama, Rhenald Kasali, Mario Teguh, Andrie Wongso, dan Tung Desem Waringin, adalah contoh yang mudah disebut. Dan siapa pun yang menekuni “industri bicara”, boleh berharap cepat atau lambat karya mereka akan masuk dalam daftar best-seller.

Tema-tema yang potensial untuk menjadi best-seller bisa diolah dari sejumlah kata kunci berikut: kaya, cerdas, cantik, cinta, bisnis, wirausaha, Islami, bahagia, dan sesuatu yang bernuansa misterius. Apa saja yang dekat asosiasinya dengan kata-kata itu akan berpotensi untuk mendapatkan sambutan meriah dari pasar Indonesia.

Gaya penulisan juga penting. Safir Senduk telah menulis 5-6 buku mengenai perencanaan keuangan. Meski merupakan pelopor dalam bidang ini, buku-buku tersebut tidak mendapat sambutan yang istimewa. Namun, ketika ia menulis buku berjudul Siapa Bilang Jadi Karyawan Ngga Bisa Kaya?, sambutan pasar luar biasa. Buat saya tidak banyak perbedaan isi yang disampaikan, kecuali konteksnya disesuaikan dengan karyawan dan gaya penulisannya dibuat sangat ringan. Jadi, ini soal judul yang provokatif dan terutama gaya penulisan yang populer.

Suksesnya Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu dipicu oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah momentum publisitas dari The Secret-nya Rhonda Byrne. Belakangan, sejumlah toko buku meletakkan kedua buku tersebut di konter yang sama karena isinya dianggap “dekat”. Ada kawan yang mengatakan bahwa The Secret adalah Barat yang mengagumi Timur, sementara Quantum Ikhlas adalah Timur yang mengapresiasi Barat.

Jadi, bagi penerbit dan penulis yang bernafsu besar untuk menghasilkan karya best-seller dalam bidang buku panduan atau swa-bantu, perhatikanlah empat hal ini: profil penulis, tema naskah, gaya penulisan, dan momentum publisitas. Coba buktikan sendiri.

Mau belajar menulis buku best-seller? Silahkan hubungi 021-460 5757 atau klik www.pembelajar.com

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist. Penulis 37 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Founder www.pembelajar.com

Telah di baca sebanyak: 3415
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *