Emmy Liana Dewi

Menulis Buku Best Seller di Sekolah

Oleh: Emmy Liana Dewi

Saya sungguh beruntung pernah mengajar di Caltex American School–Duri (CAS–D), Riau selama 12 tahun. Saya adalah satu-satunya guru yang berkewarganegaraan Indonesia di di CAS-D yang terletak di negara Indonesia, sedangkan staff pengajar lainnya adalah guru yang ‘diimpor’ dari Kanada dan Amerika yang telah direkrut di Amerika dan ada ada satu – dua istri karyawan warga negara asing yang bekerja di perusahaan minyak Caltex yang direkrut secara lokal. Murid-murid saya semuanya adalah anak-anak dari karyawan asing yang sedang bertugas di Caltex di Duri.

Ketika saya mengajar di CAS-D, saya lebih banyak belajarnya daripada mengajarnya. Saya banyak menimba ilmu dari rekan kerja, yaitu guru-guru dari kelas preschool sampai guru kelas 8 yang menggunakan kurikulum persis di Amerika. Salah satu yang saya amati dan pelajari dan sangat menarik perhatian saya adalah masing-masing wali kelas memberi tugas kepada murid-murid mereka untuk menulis jurnal setiap hari. Jurnal ditulis di buku khusus yang disediakan oleh sekolah dalam format yang khusus dan standard seperti di sekolah Amerika. Akar kata jurnal menurut Wikipedia berasal dari bahasa Perancis: diurnalis, yang artinya setiap hari atau harian. Jadi jurnal mempunyai arti catatan harian dari kejadian-kejadian atau bisnis, sedangkan jurnal pribadi adalah catatan harian yang biasa disebut juga sebagai diary dalam bahasa Inggris.

Murid-murid diberi waktu khusus setiap hari untuk mengisi buku jurnal mereka yang kemudian disertai gambar, foto, maupun benda-benda kecil yang mempunyai kenangan khusus. Menulis di jurnal, tidak memerlukan tata bahasa yang ‘njlimet’ yang penting di dalam jurnal seorang murid bisa menuangkan isi hati terutama kejadian yang berkesan dalam bentuk tulisan yang diberi ilustrasi. Menjelang akhir tahun pelajaran, ada sebagian guru yang memberi tugas murid-muridnya untuk membuat sebuah cerita dari catatan di jurnal. Ada acara khusus untuk presentasi hasil ‘menerbitkan buku’ oleh penerbit CAS secara manual (school publisher). Para orang tua hadir berdandan rapi pakai dasi dan gaun indah, membawa ‘cookies’ dan lemonade serta kamera untuk memotret dan merekam acara istimewa: Acara anak mereka yang berhasil menerbitkan buku di kelas mereka.

Menulis Jurnal Awal Perjalanan Menulis Buku Best-Seller
Sebagai guru ekstra kurikuler yang mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indonesia, saya hanya memberi tugas menulis jurnal kepada murid pada waktu-waktu tertentu saja, yakni ketika sedang mengikuti karyawisata atau wisata budaya. Saya memberi kebebasan kepada mereka untuk menulis apapun tanpa ada campur tangan dari saya. Sebagai tugas akhir, dari catatan di jurnal, kemudian dibuatlah beberapa buah buku besar (big books). Buku Besar tersebut ditulis dalam Indonesia yang sederhana, disertai gambar maupun foto yang dikerjakan oleh beberapa kelompok murid. Hasilnya…? Luar biasa!!

Dari catatan-catatan ringan dan sederhana, murid-murid saya mampu menulis dan menerbitkan buku!! Mereka sangat kreatif dan hasil bukunya bagus serta unik sekali. Pada sebuah proyek budaya dan ilmu sosial terpadu yaitu proyek menanam padi pada tahun ajaran 2001-2002, murid-murid saya menerbitkan buku resep masakan yang menggunakan beras yang berisi resep masakan dari manca negara. Buku resep masakan tersebut dijual kepada komunitas orang asing, dan hasilnya disumbangkan kepada anak-anak korban perang di Afganistan melalui UNICEF. Jadi ngomong-omong mengenai menerbitkan buku sudah menjadi hal yang biasa di CAS-D.

Menurut pendapat saya, menulis sebuah jurnal adalah sebuah langkah penting bagi seorang anak untuk menjadi penulis di kemudian hari. Menulis jurnal setiap hari menjadi kebiasaan positif bagi siswa untuk menuangkan ide, gagasan, pikiran ke dalam bentuk nyata berupa rangkaian kata dan kalimat. Kebiasaan ini akan mengarahkan siswa untuk terbiasa menulis tanpa beban. Menulis bukan hal yang menakutkan atau menyebalkan lagi, karena menulis sudah menjadi rutinitas setiap hari. Sebagai seorang pendidik, saya meyayangkan bahwa di sekolah-sekolah Indonesia, kebiasaan menulis jurnal belum disosialisasikan. Padahal kebiasaan menulis jurnal mempunyai sisi positif dalam dunia pengajaran serta perkembangan jiwa para siswa. Di samping itu, menulis jurnal bisa mengarahkan anak didik untuk menjadi penulis buku best seller.

Menulis dan Hormon Endorfin
Menulis juga mempunyai efek kejiwaan, yang akan membuat suasana di dalam kelas menjadi lebih tenang terkendali. Menurut sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Professor James Pennebaker, Ph.D., seorang pakar di bidang ilmu psikologi di University of Texas menyatakan bahwa menulis bisa menenangkan isi hati seseorang. Menuliskan perasaan atau kejadian yang membuat stress bisa menurunkan denyut jantung dan laju pernafasan seseorang (CNN.com health: Writing for Therapy Helps Erase Effects of Trauma, 16 Mei 2000). Menulis bisa menenangkan, menambah produksi hormon endorfin (hormon pembawa rasa bahagia dan senang) dan mengurangi hormon kortisol (hormon pencetus stress).

Sedangkan menurut Bisola Marignay, MA, konselor pada Writing Therapy, a creative approach di Amerika (Desember 2008), mengatakan bahwa menulis bisa meningkatkan kesadaran diri dan ilmu kehidupan akan kesadaran diri sangat berguna dalam menghadapi segala masalah dalam kehidupan yang juga akan membawa hasil positif dalam proses pembelajaran formal di sekolah maupun pembelajaran ilmu kehidupan. Sehingga menulis bisa juga dipakai sebagai terapi. Dan masih banyak penelitian ilmiah oleh pakar-pakar lainnya yang menyatakan bahwa menulis itu merupakan bagian penting dalam proses menemukan jati diri seseorang.

Menulis dan Gelombang Otak Alfa
Bila pada menit awal di pagi hari siswa diberi kesempatan menuliskan ide, pikiran, rencana, perasaan hati di pagi itu dalam buku jurnal mereka sebelum pelajaran dimulai, maka perasaan mereka akan menjadi lebih tenang. Hal ini menyebabkan gelombang otak bisa menurun dan mencapai gelombang alfa, yakni gelombang yang dibutuhkan untuk berkonsentrasi dalam menyimak dan menyerap pelajaran di kelas. Dan menit-menit selanjutnya akan menjadi ‘the golden minutes in the class’ yaitu waktu yang sangat berharga dalam proses pembelajaran bagi para pembelajar tercinta kita. Dalam hal ini, menulis jurnal bagi siswa di menit-menit awal di dalam kelas menjadi salah satu cara teknik relaksasi yang mengawali pelajaran di kelas. Bila kebiasaan menulis jurnal dijalankan di sekolah, kecenderungan siswa yang biasa melakukan tindakan memalak (bullying) akan menurun karena menulis bisa menentramkan emosi dan pikiran mereka. Gelombang alfapun akan lebih aktif, sehingga kemampuan konsentrasi siswa akan meningkat. Prestasi muridpun akan terdongkrak.

Target Tahun 2045
Tak diragukan apabila kebiasaan menulis jurnal di kelas disosialisaikan di setiap sekolah dan dilakukan pada awal sepuluh menit pertama, maka target tahun 2045 Indonesia menjadi salah satu dari lima negara yang paling maju akan bisa terlaksana dengan memiliki lebih banyak generasi penerus yang lebih tertib, disiplin, berjiwa damai dan gemar menulis dan mempunyai jati diri yang mantap penuh harga diri. Dan pada tahun 2045 Indonesia akan mencetak jauh lebih banyak para penulis buku best seller yang dimulai di ruang kelas di dalam buku jurnal para anak didik tercinta kita.

*) Emmy Liana Dewi, Alumnus Workshop “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller”. Ibu Rumah tangga, pemerhati masalah pendidikan, dan kesehatan holistik ini dapat dihubungi langsung di eshendro@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 3486
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *