Wandi S Brata

Menungangi Tragika


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Salah satu kiatnya adalah tunggangi tragika. Daripada tragika yang biasa-biasa saja, akan lebih hebat Anda bila menunggangi tragika dari sesuatu yang memang hebat, luar biasa.

Aneh sekali, Kamus Besar Bahasa Indonesia terlengkap karya Pusat Bahasa pun tak memuat kata “tragika”. Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko juga tidak. Kita hanya punya “tragedi”, yaitu gaya sastra dengan warna utama kesedihan. Kata sifat yang kita punya adalah “tragis”, menyedihkan.

Kata tragika merupakan turunan dari bahasa Latin, tragicus, kata sifat yang artinya menyedihkan, membikin duka. Jadi tragika adalah hal-hal yang menyedihkan. Tragika adalah kejadian atau keadaan, boleh juga nasib atau fakta runyam, suatu kemalangan atau keterpurukan yang mengenaskan.

Banyak kejadian tragis yang tak terlalu dibutuhkan kecerdasan kita untuk segera menemukannya. Sebut saja peristiwa bencana atau kecelakaan. Sebut saja itu tragika yang langsung kasat mata. Kita bisa menunggangi tragika jenis ini, dan bisa menjadi lebih kreatif kalau kita berpikir dan berusaha memahami banyak pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, ada jenis tragika yang tak dengan sendirinya kasat mata, karena tragika jenis ini mengendap di balik kehebatan sesuatu. Jenis ini hanya muncul setelah diungkit dari kedalaman, lewat proses refleksi. Karena itu, kenyataan bahwa Anda dapat memunculkannya itu sendiri sudah membuat Anda impresif. Dengan itu ketahuan betapa Anda reflektif.

Mengasah kreativitas dengan menunggangi tragika bisa kita lakukan dengan cara membiasakan diri menemukan sesuatu yang tragis di dalam sesuatu yang biasa, bahkan juga dalam sesuatu yang luar biasa dan amat dijunjung tinggi. Kemampuan kita untuk menemukan tragika itu akan memberi kita kemudahan untuk bersikap lebih bijak terhadapnya, karena kita menjadi paham akan keterbatasan sesuatu yang hebat itu, bahkan keburukannya yang mengenaskan.

Ada banyak sekali tragika. Ada tragika dalam kebiasaan kita, karena dia memudahkan sekaligus menyulitkan. Di dalam kerangkanya kita begitu spontan bergerak, tetapi di seberang batas-batasnya kita sulit bergerak karena belenggunya. Di dalam lingkupnya kita berani; di seberang batasnya kita takut. Dia kita bentuk, tetapi begitu jadi, dia membentuk kita. Dia kita ciptakan, untuk kemudian menciptakan kita. Karena itu, orang sukses adalah orang yang memiliki kebiasaan yang membawa orang ke kesuksesan. Sebaliknya pecundang adalah orang yang terus mengikuti kebiasaannya sebagai pecundang.

Ada tragika di dalam pengalaman. Dia membentangkan peta dunia yang kita ketahui yang memudahkan kita bergerak di dalam batas-batasnya. Pada saat yang sama dia juga membelenggu kita untuk beranjak dan menerobos kesempitannya, betapa luas pun dia. Di dalam lingkupnya kita bebas dan spontan bergerak dengan keyakinan, tetapi di seberang batasnya kita jadi peragu dan ketakutan. Kita mengumpulkannya, tetapi begitu terkumpul jadilah dia khasanah yang membuat kita tak mudah bergerak untuk meninggalkan kungkungannya.

Ada tragika di dalam pengetahuan. Ia membebaskan sekaligus membelenggu kita. Ia seperti pagar tembok yang kita bangun. Di dalamnya kita bebas bergerak dengan aman, tetapi persis di situ pula kita terpenjara. Isi pengetahuan kita cari; bangun pengetahuan kita bentuk, tetapi setelah terkumpul dan terbentuk dia mengisi dan membentuk kita, menentukan perilaku dan pilihan-pilihan kita, dalam batas-batasnya.

Ada tragika di dalam asumsi. Dia memudahkan kita menarik berbagai kesimpulan dan konsekuensi, tetapi itu pula penjara bagi kita, karena keabsahan kesimpulan kita hanya sebatas perspektif yang dia sediakan. Jelas sekali keterbatasannya begitu kita memaknainya dalam dan dari perspektif yang lebih luas. Darinya tak akan kita bisa menyimpulkan sesuatu yang tidak ia kandung.

Ada tragika di dalam fokus, karena dia memudahkan, tetapi dia memenjara kita dalam kesempitannya.

Ada tragika di dalam prioritas. Dia memudahkan pencapaiannya, merapikan pengaturan waktu dan mengefektifkan semua sumber daya kita, tetapi ya hanya ke dalam keterbatasannya semua yang kita miliki dan seluruh kedirian kita terarah, dan kita kehilangan keluasan tanpa batas yang sebenarnya tersedia untuk kita jelajahi.

Ada tragika di dalam pilihan. Dia memberi kita sesuatu, sekaligus merampas kita dari semua yang lain. Inilah yang membuat kita takut dan ragu-ragu untuk memilih dari antara yang baik-baik, yang tak bisa kita renggut semua bersamaan. Keraguan itu bisa berlama-lama sehingga berkali-kali terjadi bahwa sesungguhnya kita telah memilih tanpa memilih, karena kita telah memutuskan dengan tidak mengambil keputusan, dan pilihan serta keputusan kita itu merenggut kita dari kekayaan kemungkinan.

Ada tragika dalam kesadaran kita akan tragika, tapi saya bahagia sekali dengan adanya tragika yang satu ini. Gara-gara kesadaran itu kita akan lebih berani menggunakan kebebasan kita untuk beranjak mengatasi tragika itu, walau keberanjakan kita darinya hanya akan memasukkan kita ke dalam tragika berikutnya. Itulah tragika hidup, kita mengatasi perangkap hanya untuk masuk lagi ke dalam perangkap baru. Apa boleh buat, kita memang tidak mahakuasa, tidak mahatahu, dan tidak maha-maha lainnya, tetapi barangkali itu pula indahnya, karena dengan kesadaran itu kita bisa beranjak untuk lebih kuasa, lebih tahu, dan lebih apa-apa lagi itu.

Beberapa tragika itu menunjukkan betapa kita adalah makhluk terpenjara. Dengan ribuan buku yang Anda baca dan dengan tumpukan pengalaman yang telah Anda refleksikan, Anda hanya beranjak dari satu penjara ke penjara berikutnya… hanya lebih lebar, hanya lebih luas, hanya lebih enak barangkali… tapi esensinya tetap penjara.

Tapi justru karena lebih lebar penjara berikut itu, kata “hanya” barangkali sepantasnya tidak usah kita gunakan. Justru di situlah indahnya, karena sesungguhnya kita adalah orang-orang bebas yang bahkan bisa memilih tragika kita. Sama-sama penjara, kalau lebih nyaman, lebih luas, lebih tinggi, lebih dalam, lebih bahagia… ya, saya pilih itu. Kalau kita memilih kepicikan dan kesempitan, ya memang tragis tak ketulungan. Kalau kita tak memiliki ketinggian, keluasan dan kedalaman di tengah lautan dokumen rekaman pengalaman orang yang memberi kita ilmu yang tersaji dalam bebagai buku, itulah tragika tikus yang mati kelaparan di lumbung keju. * * *

*) Wandi S. Brata, Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1748
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *