Wandi S Brata

Menunggangi Ironi


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Kalau cuma mau impresif, kendarai Ferrari. Kalau itu tak cukup dan malah ribet, tunggangi saja kekuatan ironi, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan kekuatan ironi terletak pada negativitasnya. Kalau Anda bisa menungganginya, Anda juga akan dianggap dahsyat.

Terhadap nuansa negatif ironi sekurang-kurangnya kita dapat melakukan dua hal. Pertama, menonjolkan negativitas itu dengan mengontraskan perkaranya. Kedua, mengungkapkan ironi untuk sesuatu yang positif, atau memulasnya sehingga memiliki konsekuensi yang bernuansa positif.

Cara pertama adalah cara yang paling lazim, banyak diketahui dan banyak dipakai. Cara ini paling mudah dilakukan dengan menunjuk kontras pertentangan antara yang seharusnya dan yang senyatanya, atau pertentangan antara yang biasanya dan kekecualiannya. Ketika bicara mengenai keadilan, misalnya, akan impresif Anda kalau bisa menunjuk lembaga atau pihak yang paling diharapkan bisa menegakkan hukum dan keadilan ternyata dalam praktiknya malah menginjak-injak hukum dan keadilan itu. Drama cicak vs buaya lama jadi berita karena kekuatan negativitas ironi di dalamnya.

Cara kedua tak banyak diketahui orang, padahal lebih dahsyat. Caranya adalah dengan memanfaatkan kekuatan negatif ironi untuk sesuatu yang positif. Dengan cara ini Anda tidak hanya akan dipersepsi sebagai orang yang piawai bicara, tapi juga cerdas dan kreatif. Mari kita lihat contohnya.

Dalam misa perkawinan anak seorang teman mantan bos perusahaan rokok ternama, sang pastor menanyai mempelai.

“Mempelai berdua, saya punya pertanyaan yang boleh kalian jawab, boleh juga tidak. Tapi, kalau boleh saya tanya, mempelai pria, seberapa sih besarnya cintamu terhadap calon istrimu?”

“Mungkin cinta saya…” ucap mempelai pria belum kelar.

“Kami tak berharap mendengarkan jawaban ‘mungkin’…” potong sang pastor.

“Sebesar cinta saya terhadap diri sendiri, Romo” kata sang mempelai pria.

“Hmm… Kalau kamu, seberapa besar cintamu terhadap calon suamimu?”

“Tak terukur, Romo. Cinta saya terhadapnya tak bisa diukur.” Kata mempelai wanita.

“Hmm… gitu ya? Ya, itu kalian… Bagaimanapun, kami semua yang hadir di sini cuma menyaksikan … “ Sang pastur berhenti sejenak. [Ini juga salah satu kiat bicara impresif… memanfaatkan kekuatan jeda. Gara-gara jeda itu, saya kira orang bertanya-tanya, pastor akan memuji jawaban seperti itu atau tidak ya?]

“Boleh saya usul sesuatu?” Sang pastor menunggu sebentar, lalu melanjutkan, “Bagaimana kalau cinta kalian sebesar kuku di ruas jati-jari kalian?” Jeda lagi, [dan mungkin orang bertanya-tanya mengenai apa maksudnya.]

“Besarnya, kalian tahu,” lanjutnya, “tapi yang jelas, setiap kali terpotong tak sengaja, dipotong dengan sengaja, atau terlepas, kuku itu tumbuh lagi. Begitulah mestinya cinta kalian satu sama lain.”

“Hmm… impresif” gumam saya dalam hati. Mencintai kekasih sebesar mencintai diri sendiri, kita sudah sering mendengarnya. Cinta tak terukur kedengaran amat biasa, familier, tapi tak memberi gambaran apa-apa. Mungkin karena sudah begitu lazim diucapkan, jawaban kedua mempelai itu tak lagi mengesankan. Kedengarannya kodian, kalau bukannya malah latah.

Usul sang pastor amat impresif karena beberapa alasan. Pertama, tentu karena kita tak banyak mendengarnya, bahkan mungkin baru mendengarnya pertama kali itu, sehingga terasa sebagai sesuatu yang baru. Dengan analogi kuku, saya sendiri baru mendengar ini, tapi saya tak terlalu terkejut karena pernah mendengar orang menganalogikannya dengan rambut.

Kedua, kuku di ruas jari tangan kita tak bisa dibilang besar. Karena itu, amat jelas ada semacam ironi ketika besarnya kuku yang relatif kecil itu dipakai untuk menjawab pertanyaan yang menanyakan sebesar apa cinta kita terhadap kekasih. Ironi juga bahwa cinta kepada kekasih – yang mestinya besar dan penting – dibandingkan dengan kuku yang begitu kecil, simpel dan sepintas lalu malah kurang penting [kecuali bagi pesolek]. Hebatnya, biasanya ironi itu bernuansa negatif, tapi di sini ironi tersebut memiliki efek positif. Di tengah jaman, ketika orang bisa begitu menggebu karena cinta, tapi kehidupan keluarganya begitu kusut layu atau malah bubar sebelum perkawinan mereka berumur sewindu, jawaban seperti itu menyiratkan kerendahan hati orang yang tak suka mengobral janji. Tak tahulah seberapa besar atau kecil, tapi – dan itu adalah kekuatan ketiga kenapa gambaran ini impresif – cinta itu tumbuh. Setiap saat.

Jadi, alasan ketiga, dalam jawaban itu ada dinamisme. Ada kerendahan hati dalam optimisme. Ada janji kesetiaan yang diungkapkan dengan amat pruden, hati-hati dan bersahaja. Dalam ungkapan “mencintai kekasih sebesar mencintai diri sendiri” dan “cinta tak terukur” ada nuansa rayuan dan omongan gombal. Omong besar di depan, tak tahulah nanti di belakang. Dengan kuku ini tidak.

Kalau bicara Anda di sana-sini memunculkan hal-hal seperti ini, saya jamin, pendengar Anda tak hanya tak akan ngantuk, tapi juga tercerahkan.

*) Wandi S. Brata. Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1809
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *