Wandi S Brata

Menunggangi Kontradiksi


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Tunggangi saja kekuatan kontradiksi, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan kekuatan kontradiksi terletak pada pertentangannya. Kalau Anda bisa menungganginya, Anda juga akan dahsyat dan presentasi Anda pasti memikat.

Hakikat kontradiksi adalah perlawanan, dan sekurang-kurangnya ada dua jenis. Kontradiksi jenis pertama tidak terlalu mudah ditemukan, karena dia tidak langsung kasat mata, sebab kontradiksi ini biasanya ada di balik satu entitas. Selain itu, biasanya dia mengendap di kedalaman fakta-fakta, dan baru muncul serta kelihatan jelas setelah direfleksikan. Salah satu contohnya adalah “Nothing fails like success!” Untuk menunjuk contoh di dunia bisnis, misalnya, cukup Anda mengingat kasus Kodak yang saya sebut dalam tulisan berjudul Creative Destruction.

Kalau Anda ingin contoh dalam tataran alamiah, perhatikan benalu. Semakin subur dia, semakin dekat dia dengan kematiannya. Semakin sukses dia, sesungguhnya dia sedang mendulang kegagalannya sendiri yang amat fatal. Perhatikan, ketika benalu itu mencapai puncak kesuburannya, tersedot habis makanan pohon atau cabang pohon di tempat dia menempel, lalu matilah pohon atau cabang pohon itu, dan dengan itu mati pula si benalu.

Kekuatan kontradiksi jenis pertama ini terletak pada daya kejutnya yang begitu besar. Betapa tidak, di dalam sesuatu hal sudah ada kontradiksi dari hal tersebut. Karena tak langsung kasat mata – baik di hadapan sorot mata fisik maupun sorotan mata logika – fakta bahwa Anda bisa memunculkannya saja sudah merupakan kejutan yang impresif.

Karena itu, kalau ingin menjadi lebih kreatif, kembangkan pola pikir kontradiktif, yaitu biasakan melihat sesuatu dengan kepekaan untuk menemukan pertentangan di dalam dirinya. Dengan pola pikir seperti itu, kreativitas Anda akan melejit dan presentasi Anda akan dihargai setinggi langit.

Itu cara menjadi lebih kreatif dan impresif dengan menunggangi kontradiksi jenis pertama. Mari kita lihat prinsip penerapannya sehubungan dengan kontradiksi jenis kedua.

Kontradiksi jenis kedua adalah pertentangan yang dengan amat mudah kita temukan di bidang apa saja. Misalnya, terang – gelap, panas – dingin, besar – kecil, mulia – hina, naik – turun, membesar – menyusut, dst.

Karena kontradiksi jenis ini terserak di mana-mana, tak diperlukan kreativitas dan kecerdasan untuk bisa menemukannya. Cukup dengan mata dan telinga terbuka kontradiksi sudah terdeteksi. Kreativitas dan kecerdasan kita tak terasah hanya karena menemukan kontradiksi itu, tetapi karena upaya kita untuk menemukan makna baru dari kontradiksi itu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain.

Karena itu, kalau mau jadi kreatif dan tampil impresif dengan menggunakan kontradiksi jenis ini, caranya khas. Di sini tak cukup menunjuk kontradiksi, tapi kita harus menunggangi dan memanfaatkannya dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang baru atau memberinya makna yang lebih dalam dari sekadar fakta pertentangannya. Mari kita lihat contohnya.

Saat peresmian Universitas Multimedia Nusantara, 2 Desember 2009, Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhammad Nuh, menyamakan manusia dengan bilangan. Manusia bermentalitas dan berjiwa kerdil – yang alih-alih menjadi bagian dari solusi malah menjadi beban yang merepotkan – ibarat bilangan negatif. Orang positif diwakili oleh bilangan positif. Bilangan nol menggambarkan orang yang tidak mendayagunakan potensinya untuk berkontribusi; ibaratnya tidur. Entah orangnya jahat atau baik, dermawan atau tamak serakah dan pelit, dia sama dengan nol kalau cuma tidur. Tapi tidur ini lebih baik daripada mengganggu. Karena itu dengan gaya suroboyoannya dia bilang, “Nek kon gak iso mbantu, yo ojo ngganggu!” Kalo kamu gak bisa bantu ya jangan ganggu. Tidur aja yang pules mungkin kamu udah dapet pahala daripada ngrepoti dan bikin orang lain lemes.

Menarik, Pak Menteri mengatakan bahwa angka satu menggambarkan orang yang komplit, walau belum sempurna dan masih harus terus diusahakan perkembangannya. Dengan itu, dia meneruskan, “Kalau nilai orang kurang dari satu, semakin tinggi pangkatnya, semakin kecil hasilnya. Kalau lebih dari satu, semakin besar pangkatnya, semakin besar pula hasilnya.”

Ucapan ini impresif dan mengusik hati untuk melakukan refleksi pribadi karena sekurang-kurangnya dua alasan. Pertama, tentu saja karena kontradiksi yang ditunjuk: “semakin tinggi dan mulia pangkatnya [jabatan, posisi structural, emblem berenteng di dada dan di pundak, tahta gemerlap dengan keagungan], semakin rendah dan buruk hasilnya [korupsi, tipu-tipu, kongkalingkong, ironi cicak-buaya, kehancuran kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan maksud baik para pejabat publik, dst.].

Kedua, karena kreativitas Pak Menteri, di sini ada makna baru ketika kontradiksi pada fakta numerik dipakai untuk menggambarkan kontradiksi karakter manusia yang kebetulan sedang melanda kehidupan sosial-politik aktual. Kita dibuat meloncat dengan mudah dari nilai angka ke nilai moral. Kita dibuat paham tentang karakter dan konsekuensinya dengan penggambaran mengenai hitungan angka-angka.

Mulai hari ini, tunggangi kontradiksi, baik yang mudah ditemukan maupun yang sulit, maka kreativitas Anda akan melejit dan omongan Anda lebih menggigit. ***

*) Wandi S. Brata; Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

.:: Group of Book Publishing – Kompas Gramedia

Telah di baca sebanyak: 2736
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *