Wandi S Brata

Menunggangi Paradoks


Anda ingin lebih kreatif dan tampil impresif? Kalau cuma mau impresif, mintalah gendong Rupert Murdoch, raja media dunia, News Corporation, yang pada tahun 2008 saja konon pendapatannya US$ 33 miliar. Kalau gamang dengan itu, atau malah ribet, tunggangi saja kekuatan paradoks, maka Anda akan mendapat keduanya.

Kedahsyatan paradoks terletak pada kesan pertamanya yang seakan-akan kontradiktif, tapi sesungguhnya berjalan seiring. Kalau Anda bisa menungganginya, dahsyat Anda.

Karena hakikatnya yang “terkesan kontradiktif padahal nyatanya tidak” itu, paradoks tidak langsung kasat mata. Itu pula sebabnya, paradoks biasanya hanya kita dijumpai di kedalaman pengalaman yang telah direfleksikan. Karena itu, paradoks banyak sekali ditemukan di ranah kebijaksanaan. Dalam khasanah kebijaksanaan itu, pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat paradoksal biasanya naik ke level wisdom. Fokus tatapan dan refleksi Anda ke arah itu akan mengasah Anda menjadi lebih kreatif, atau lebih cerdas, atau lebih “dalam dan bijak”, atau malah ketiga-tiganya.

Karena itu, kalau mau jadi kreatif dan tampil impresif saya ajak Anda untuk berpikir paradoksal. Maksud saya, kembangkan suatu pola pikir yang secara spontan melihat suatu hal atau perkara dari perspektif sebaliknya, lalu memunculkan hal yang cuma kelihatannya bertentangan dengannya, padahal sesungguhnya saling mendukung.

Analogi sederhana untuk dua hal yang bersifat paradoksal adalah bagian atas pohon dan bagian bawahnya yang berada di dalam tanah. Semakin tinggi menjulang dan melebar bagian atasnya, semakin menghujam dalam dan melebar pula akarnya. Yang satu naik, yang satunya turun, tetapi tidak ada pertentangan di antara kedua bagian itu. Keduanya saling mengandaikan dan saling mendukung, bahkan berkembang beriringan.

Paradoks tidak mudah ditemukan, karena tidak semua yang hal kontradiktif bersifat paradoksal. Karena itu, kemampuan kita untuk berpikir terbalik dan menemukan kontradiksi belum tentu membawa kita sampai pada penemuan terhadap hal-hal yang paradoksal. Kendati demikian, kebiasaan kita untuk menggunakan perspektif ini akan membuat kita lebih kreatif dan peka terhadap keberadaannya.

Sekadar menunjuk contoh. Peduli dengan nasib anaknya, ibu Yohanes dan Yakobus minta kepada Isa untuk menempatkan dua anaknya itu di sisi Isa di kerajan kejayaannya. Mendengar itu, para murid Isa yang lain marah. Dari konteks itulah Isa mengucapkan paradoks yang amat terkenal, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaknya ia menjadi pelayan kalian.” Personal leadership bagi Isa bukan ngedangkrang duduk bersila tumpang di keagungan singgasana, tetapi melayani. Dia memberi contoh ekstrem dengan mencuci kaki para muridnya! Karena menghidupi paradoks besar, luar biasa besar Dia.

Di ranah logika, ada banyak paradoks, tetapi artinya lain dari yang kita definisikan di atas. R.M. Sainsbury dalam bukunya Paradoxes mengatakan bahwa bidang ini paradoks merupakan kesimpulan yang tidak dapat diterima, yang ditarik dari penalaran yang tampaknya dapat diterima, dari premis yang tampaknya juga dapat diterima. Perhatikan kata “tampaknya” itu. Artinya, nyatanya tidak. Mungkin lebih tepat dikatakan, paradoks di sini adalah sesuatu yang cuma kelihatan benar, tetapi tidak bisa dimengerti karena tak bisa dibenarkan.

Salah satu contoh yang banyak diketahui orang yang belajar logika adalah “Apa yang saya katakan ini tidak benar.” Contoh ini disebut “paradoks pembohong”. Bagaimana Anda mau mengerti? Kalau dia mengatakan sesuatu yang benar, apa yang dikatakan tidak benar. Kalau yang dikatakan itu salah, hasilnya justru benar. Jadi bagaimana?

Contoh lain adalah paradoks tukang cukur. Di suatu kawasan di daerah Bayat, Klaten, yang harus ditempuh lewat jalan berkelok jauh dari Kecamatan Bayat, dan hampir mencapai wilayah berbukit-bukit di selatan, tukang cukurnya mencukur semua penduduk dan hanya penduduk yang tidak mencukur dirinya sendiri. Siapa yang mencukur si tukang cukur itu? Bila dia sendiri, dia bukan tukang cukur yang dimaksud. Kalau bukan dia, dialah orangnya. Lalu bagaimana?

Itulah paradoks yang ditutupi dengan cerita yang sengaja dibikin rumit. Sesungguhnya sederhana pemecahannya. Cerita itu tak ada artinya dari sudut keberan logis karena ada pengandaian yang tak bisa diterima, yaitu “dia yang mencukur dirinya sendiri bila dan hanya bila dia tidak mencukur dirinya sendiri.” Jelas tidak ada tukang cukur yang begitu.

Nah, kedahsyatan Anda akan mengecoh orang kalau Anda menerapkan hal ini di kancah di mana kelugasan sama dengan ketololan. Kalau Anda suka politik yang slintat-slintut dan plintat plintut, dengan menunggangi paradoks jenis ini Anda pantas jadi juru bicara presiden di negara yang langka kejujuran.

*) Wandi S Brata, Direktur Gramedia Pustaka Utama. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 1833
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *