Kolom Alumni

Menyikapi Kecemasan

Oleh: Hendri Bun

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku yang salah satu babnya bercerita tentang kecemasan. Menarik sekali cara penulis buku ini menyajikan bab ini, karena dia mengatakan bahwa kecemasan ternyata sangat bermanfaat dalam hidup kita. Apa saja manfaat yang bisa kita peroleh dari kecemasan? Paling tidak ada tiga.

Pertama, kecemasan akan membuat kita lebih panjang umurnya. Kok bisa? Iya, karena orang-orang yang cemas cenderung mengalami susah tidur. Apa artinya kalau susah tidur? Yup … artinya waktu melek orang cemas menjadi lebih panjang. Biasanya orang normal memerlukan waktu sekitar 6-8jam untuk tidur. Tetapi orang yang hidup dalam kecemasan hanya memerlukan waktu rata-rata 3-4jam saja. Orang cemas bisa dipastikan tidak mudah untuk terlelap karena pikiran mereka dipastikan penuh dengan skenario-skenario buruk yang disertai antisipasi-antisipasi negatif. Kalau 1 hari orang cemas unggul sekitar 3 jam untuk melek, itu berarti satu bulan mereka punya waktu ekstra sebanyak 3jamx30hari = 90jam atau setara 4 hari. Wow … asyik bukan?

Kedua, kecemasan membuat kita lebih sehat. Nah, teori apalagi ini? Yup, kecemasan kadang membuat kita lupa untuk melakukan banyak hal penting dalam hidup kita. Makan salah satunya. Memang, ada sebagian orang menghadapi kecemasan dengan lari ke makanan. Tetapi lebih banyak orang yang kehilangan selera kala cemas. Paling tidak ada 2 sehat sebagai hasil kecemasan. Pertama, sehat dalam hal finansial. Jelas sudah, kalau kita kehilangan selera makan itu berarti kita juga tidak perlu keluar banyak uang dalam hal makanan. Yang kedua sehat secara berat badan, karena jarangnya asupan makan membuat kita menjadi langsing cenderung kurus. Bukankah ada teori yang mengatakan bahwa tubuh yang lebih ringan itu artinya tubuh yang jauh dari bibit-bibit penyakit? Jadi dipastikan dengan cemas penyakit seperti obesitas, kolesterol, darah tinggi, jantung, dan kawan-kawannya akan enggan mendatangi orang yang cemas. Jadi kalau kita mau sehat, bercemas rialah.

Ketiga. kecemasan membuat kita menjadi kreatif. Ya, orang cemas akan mendadak menjadi kreatif dalam merancang dan memikirkan skenario-skenario yang penuh imajinatif. Bagaimana kalau ini terjadi? bagaimana kalau itu yang terjadi? Apa yang harus aku lakukan kalau situasinya begitu? Apa yang harus aku siapkan kalau terjadi begini? Sayangnya, kreativitas yang muncul itu bukanlah kreativitas yang positif, tetapi lebih sering kreativitas yang menjebak kita semakin dalam jatuh ke jurang keputusasaan. Pikiran yang kuat akan membuat kita bersemangat. Sebaliknya pikiran yang lemah akan melemahkan raga kita juga.

* * *

Tentu saja penjabaran di atas tidaklah benar. Tetapi menarik kalau kita pikirkan ulang, apa sih sebenarnya keuntungan kecemasan dalam hidup kita? Banyak negatifnya daripada positifnya bukan? Sudah jelas, kecemasan membuat kita menjadi lumpuh, baik secara mental maupun fisik. Orang yang cemas menjadi susah untuk berpikir secara jernih dan logis, sehingga tidak heran kita sering melihat orang yang hidup dalam kecemasan cenderung mudah mengambil langkah pendek yang tidak masuk akal. Orang cemas juga rentan dengan penyakit-penyakit yang susah dijelaskan secara medis. Sakit kepala terus-menerus sampai maag yang sering akut sering ditemukan pada orang yang hidup dalam kecemasan.

Namun demikian, apakah itu artinya kita harus hidup tanpa kecemasan? Tentu saja tidak. Karena orang yang hidup tanpa rasa cemas akan cenderung mudah menggampangkan segala sesuatu. Mungkin di sinilah kita perlu secara bijak membedakan antara kecemasan yang positif dan kecemasan yang negatif.

Kecemasan yang positif saya definisikan sebagai kecemasan yang ada datanya, dan secara logis kita memikirkan antisipasinya. Mengambil nasehat dari Dale Carnegie dalam bukunya “How to Stop Worrying and Start Living”, salah satu cara mengatasi kecemasan adalah dengan membuat yang namanya the worst scenario. Artinya ketika kita mengalami suatu masalah yang membuat kita menjadi cemas, pikirkanlah resiko terburuk yang mungkin terjadi dari kecemasan tersebut. Nah, setelah resiko terburuk tersebut dibuat, fokuskanlah pikiran pada langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi dan mengurangi kemungkinan resiko terburuk itu terjadi. Setelah itu, hiduplah kembali di hari ini dengan kekuatan maksimal.

Sebagai sebuah refleksi, saya memberikan sebuah contoh pribadi. Sekitar 8 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mengambil rumah secara KPR. Apakah ada keragu-raguan dan kecemasan yang muncul saat itu? Yup. Muncul kecemasan bagaimana kalau suatu saat saya tidak bisa membayar cicilannya. Jadi untuk mengantisipasi itu, saya berpikir bahwa the worst scenario yang mungkin muncul adalah rumah saya disita. That’s all. Tidaklah mungkin gara-gara tidak mampu membayar cicilan membuat saya dipenjara, hidup saya terancam, dan sebagainya. Paling buruk setelah rumah disita adalah saya harus mencari kontrakan. Nah, pikiran dengan membuat skenario tersebut membuat saya menjadi kuat dan mantap untuk mengambil KPR. Hasilnya, sampai sekarang lancar-lancar saja tuh. Coba kalau waktu itu saya tenggelam dalam kecemasan yang membuat saya tidak berani bertindak, akan beda ceritanya bukan. Memang waktu itu saya belum baca bukunya Dale Carnegie. Tetapi waktu saya refleksikan .. oh ya, itu satu momen yang menguatkan saya bahwa kecemasan tidak perlu kita pelihara.

Kalau cemas negatif? Saya mengartikannya sebagai kecemasan yang tidak berdasarkan data dan sudah di luar logika. Orang yang cemas negatif cenderung mengarahkan pikiran pada skenario-skenario negatif yang terlalu berlebihan. Kalau kecemasan ditanggapi dengan cara seperti ini, akibatnya sangat berbahaya karena sudah mengarah ke level stress, bahkan cenderung paranoid. Makanya tidak heran kalau kita sering membaca ada orang yang lompat dari gedung tinggi atau minum obat nyamuk untuk mengakhiri hidup mereka. Ya … mereka tidak kuat dalam memahami dan berdamai dengan kecemasan.

* * *

Kata Yunani untuk kecemasan, merimnao, berasal dari kata kerja merizo (membagi) dan nous (pikiran). Kecemasan membelah pikiran, memisahkan pemikiran antara hari ini dan esok hari. Mencemaskan masalah esok hari (yang belum tentu terjadi) pada hari ini akan menyedot kekuatan yang kita perlukan untuk hari ini. Jadi dari pada menghabiskan seluruh energi untuk hal-hal yang belum mungkin terjadi, akan lebih bijak kita menfokuskan segenap pikiran pada apa yang bisa kita lakukan bukan?

Salam #Proaktif
-Hendri Bun
bun.hendri@gmail.com; http://hendribun.blogspot.com

Telah di baca sebanyak: 2883
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *