Agung Praptapa

Merasa Bisa atau Bisa Merasa? (Local Wisdom 8)

Oleh: Agung Praptapa

Kompetenkah Anda? Profesionalkah Anda? Mampukah Anda? Dalam menjawab pertanyaan tersebut terdapat dua kelompok besar yang saling bertentangan. Kelompok yang pertama akan dengan cepat mengatakan saya kompeten, saya profesional, dan saya mampu. Tapi begitukah keadaan sebenarnya? Tentunya tidak ada jaminan bahwa orang yang mengatakan dirinya kompeten dalam kenyataannya juga kompeten. Yang mengaku profesional belum tentu profesional. Yang mengatakan dirinya mampu dalam kenyataannya belum tentu mampu. Bisa saja mereka hanya “merasa” kompeten, “merasa” profesional, dan “merasa” mampu. Hanya “merasa”. Kenyataannya? Belum tentu!

Untuk itulah maka kearifan lokal jawa mengajarkan dua hal yang terdiri dari dua kata dengan dua penempatan. Dua kata yang dimaksud adalah kata “rumongso” yang berarti “merasa” dan kata “biso” yang berarti “bisa ” atau “mampu”. Dua penempatan yang dimaksud disini adalah penempatan dua kata tersebut yang bisa ditempatkan dalam dua kombinasi, yaitu “rumongso biso” dan “biso rumongso”.

Dua kombinasi kata tersebut memiliki makna yang sangat berbeda dan bahkan berlawanan. “Rumongso biso“ dapat diterjemahkan sebagai “merasa bisa”, dan ini berkonotasi negatif. Orang yang merasa bisa belum tentu demikian pula keadaan sebenarnya. Orang dalam tipe “rumongo biso” akan menyimpulkan dirinya mampu walaupun keadaan sebenarnya tidak demikian. Ini adalah orang-orang yang sombong, sok bisa, sok mampu, dan menyepelekan pekerjaan yang sedang dihadapi. Orang bijak akan menghindari posisi ini.

Kearifan lokal jawa lebih mengarahkan orang agar “biso rumongso”, yang bisa diterjemahkan sebagai “bisa merasa”, yaitu orang yang mampu menempatkan perasaan dan keyakinan terhadap kemampuan dirinya secara obyektif . Orang yang “biso rumongso” adalah orang yang rendah hati, yang mampu menempatkan dirinya sebagai orang yang mau belajar dan mengembangkan diri. Mereka merendah tanpa harus merendahkan martabat diri sendiri. Di mata orang jawa, orang yang “biso rumongso” adalah orang yang bijak, baik hati, menghargai orang lain, dan mau maju. Mari kita lihat bagaimana sisi positif dan negatifnya dari dua posisi tersebut, yaitu orang yang “rumongso biso” dan orang yang “biso rumongso.

Merasa Bisa
Memang tidak salah apabila orang “merasa bisa” untuk mengerjakan sesuatu. Ini bahkan positif apabila posisinya adalah “merasa bisa dan kenyataan sebenarnya juga bisa”. Ini menunjukkan kepercayaan diri. Tidak sedikit orang yang sebenarnya mampu tetapi mereka “merasa tidak mampu.” Kondisi seperti ini menunjukkan pesimisme. Tidak menghargai diri sendiri secara wajar. Jadi, orang yang “merasa mampu” dan keadaan sebenarnya mereka memang benar-benar “mampu” akan menimbulkan kekuatan atas kemampuannya tersebut. Posisi seperti ini justru dihargai dan disarankan.

Yang harus dihindari adalah posisi “merasa bisa” yang kenyataan sebenarnya tidak demikian. Kearifan jawa mengajarkan kita untuk tidak “rumongso biso” atau “merasa bisa” bila keadaan sebenarnya tidaklah demikian. Ini jangan sampai disalah artikan sebagai bentuk dorongan untuk selalu pesimistik. Ini adalah anjuran agar kita tidak sombong, tidak menyepelekan keadaan, dan tidak menyepelekan orang lain. Ini juga tidak untuk membuat kita ragu-ragu untuk “merasa bisa”. Kalau kita merasa bisa, kemudian kita coba lakukan, dan ternyata gagal, hal demikian tidak apa-apa. Ini manusiawi. Orang tidak selamanya mendapatkan apa yang mereka mau. Jadi, tidak ada salahnya kita “merasa bisa” walaupun tidak ada jaminan bahwa kita akan benar-benar bisa. Yang tidak dianjurkan adalah bila “kita sudah tahu bahwa kita tidak bisa atau tidak mampu” tetapi kita dengan kesombongan dan keangkuhan kita menciptakan perasaan “bisa”. Jadi yang tidak dianjurkan disini adalah kebohongan pada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Bisa Merasa
Bisa merasa atau “biso rumongso” adalah suatu ajaran agar kita peka terhadap lingkungan. Keberhasilan seseorang maupun organisasi ataupun perusahaan akan sangat bergantung kepada keberhasilan kita membaca lingkungan, baik lingkungan eksternal maupun internal. “Biso rumongso” adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri maupun orang lain. Hal ini juga berkaitan dengan kesediaan seseorang untuk memahami kemampuan diri dan kemudian selalu mengembangkan diri untuk membentuk kapasitas diri yang semakin lama semakin besar. Jadi “biso rumungso” bukan berati kita tidak boleh optimistik. Bukan pula berarti kita tidak boleh mencoba kalau kita pandang diri kita belum mampu. Jangan salah! Kita justru harus mencoba dulu sebelum kita mengatakan tidak bisa. Never say I can’t before you try. Jangan pernah mengatakan aku tidak mampu sebelum kita mencobanya.

Biso rumongso” justru dimiliki oleh orang-orang berjiwa besar. Orang yang berjiwa besar akan menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, sehingga tidak masalah bagi kita untuk memiliki kelemahan dan kekurangan. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita mengeksplor kelebihan yang kita miliki dan terus mengembangkannya. Sedangkan tentang kelemahan dan kekurangan kita yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaikinya dan menjaga supaya kita tidak terkungkung oleh kelemahan dan kekurangan yang kita miliki. Nah, kalau kita sadar tentang hal ini berarti kita sudah “biso rumongso”.

Orang yang “biso rumongso” adalah orang yang peka. Artinya, mereka akan cepat merespon lingkungannya dengan repon yang tepat. Hal ini sangat penting untuk keberhasilan seseorang. Kesuksesan seseorang akan bergantung seberapa efektif respon yang diberikan orang tersebut terhadap perubahan yang ada. Ini berkaitan dengan hukum aksi reaksi. Aksi yang dijawab dengan reaksi yang tepat akan menimbulkan momentum keberhasilan. Kemampuan memberikan reaksi yang tepat atas aksi yang ada dimiliki orang yang “biso rumongso”.

Uraian yang disajikan disini tentang “biso rumongso” adalah untuk menangkis salah pengertian bahwa seseorang yang biso rumongso harus mengalah, lamban, dan tidak berbuat sama sekali. Hati-hati dengan kesalahpahaman ini. “Biso rumongso” justru berarti peka, cepat memahami, dan cepat bertindak secara tepat, dan berani mencoba.

Jangan sekedar “rumongso biso”, tapi kita mesti “biso rumongso”. Jangan ragu untuk mengatakan “bisa” tapi jangan sombong dan takabur. Asah kepekaan kita terhadap lingkungan kita tanpa kita harus menjadi lemah dan ragu-ragu. Kita mesti cepat dan tepat.

*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur, Direktur AP Consulting. Alumni writer schoolen dan trainer schoolen. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.

Telah di baca sebanyak: 1942
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *