Syahril Syam

Meta Model: The Power of NOW

Baru-baru ini saya sempat mengikuti kuliah umum yang dibawakan oleh seorang pakar komunikasi di Indonesia. Beliau memaparkan informasi mutakhir tentang komunikasi. Menjadi sangat menarik ketika beliau memulai pembahasan dengan mendefenisikan apa itu komunikasi. Menurut informasi mutakhir, komunikasi di defenisikan sebagai the process of making sense out of the world and sharing that sense with others through verbal and nonverbal messages. Menelik defenisi di atas, maka komunikasi atas sebuah proses pembuatan makna dari dunia di luar diri kita dan berbagi makna tersebut dengan orang lain secara verbal maupun nonverbal.

Dengan kata lain, we can not not communication. Stimulus apapun yang berasal dari luar diri kita akan membuat kita memberikan makna tertentu padanya. Ketika kita mencari makna dalam diri kita, maka kita melakukan sebuah pencarian data di dalam memori untuk bisa menalar stimulus yang kita terima. Istilah kerennya adalah Transderivational Search (TDS). Nah, ketika melakukan TDS ini, maka kita cenderung melakukan pelanggaran meta model.

Meta model adalah model pertama yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder berdasarkan pola-pola bahasa yang digunakan terapis Virginia Satir dan Fritz Perls. Yang diamati oleh mereka adalah tipe-tipe pernyataan tertentu yang ternyata mempunyai manfaat terapi. Dengan kata lain, orang bisa menjadi lebih sehat dan lebih baik hanya karena mendapat pertanyaan-pertanyaan tertentu.

Jadi ketika kita melakukan TDS pada diri kita, seringkali kebanyakan dari kita melakukan berbagai makna yang sifatnya abstrak dan melebihi batas waktu. Dengan kata lain cenderung melakukan pelanggaran meta model. Nah, dengan meta model kita bisa membantu diri kita untuk menemukan kembali informasi yang hilang, menghubungkan kembali ke pengalaman internal, dan menata kembali makna-makna yang telah kita buat, agar tentunya kita menjadi lebih sehat dan lebih baik.

Yang menjadi kian menarik adalah bahwa masalah yang kita hadapi bukan berarti bahwa dunia di luar diri kita yang memburuk, melainkan kita telah melakukan process of making sense out of the world. Kita telah melakukan proses membuat makna-makna internal yang sifatnya cenderung abstrak dan melebihi batas waktu. “Kamu tidak bisa lagi dipercaya”, “Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu” adalah berbagai contoh-contoh pembuatan makna yang kebanyakan orang lakukan ketika menghadapi stimulus/peristiwa tertentu.

“Kamu tidak bisa lagi dipercaya”. Benarkah demikian? Salah satu unsur dari meta model adalah distorsi. Yaitu sebuah proses menyederhanakan pengalaman tertentu, padahal kita belum tentu memiliki keseluruhan informasi. Kebanyakan orang melakukan kesimpulan yang tiba-tiba yang tidak dijamin ketepatannya. Pernyataan “Kamu tidak bisa lagi dipercaya” adalah sebuah kesimpulan yang tiba-tiba yang tidak ada jaminan kebenarannya. Karena betulkan kita telah mendapat keseluruhan informasi bahwa memang dari sejak lahir hingga saat ini, orang tersebut memang tidak bisa dipercaya. Terus, apakah hingga masa depannya nanti memang tidak bisa dipercaya. Ataukah hanya sebuah kesalahan tertentu yang dilakukan, tapi kita terlalu dalam mengambil kesimpulan.

“Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu”. Benarkah sikap orang itu secara keseluruhan seperti yang kita gambarkan (maknai) sehingga kita harus berkata “Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi dirimu”. Ataukah kita hanya bingung sejenak menghadapi peristiwa tertentu, namun akhirnya hubungan ini akan menjadi semakin mesra.

Penting untuk diingat, bahwa karena kita cenderung melakukan sebuah proses makna yang melanggar meta model, maka makin mudah dipahami bahwa kita selalu dan selalu mempunyai pilihan dalam hidup. Selalu ada jalan dibalik setiap kesulitan. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. QS 94:5-6”.

Di karenakan kecenderungan orang sering melakukan pelanggaran meta model dan selalu melebihi batas waktu, maka sangat penting untuk hidup di saat ini, di hari ini. Kita sebaiknya memandang seseorang itu berdasarkan konteks waktunya. “Oh, dia melakukan kekhilafan itu kemarin saja”. Dengan kata lain, setiap kesalahan yang mungkin dilakukan oleh seseorang pasti berdasarkan konteks waktu yang melingkupinya. Karena disaat lain pasti ia telah melakukan kebaikan yang lain. Oleh sebab itu, kemampuan melihat seseorang berdasarkan konteks waktunya membuat kita akan menjadi lebih tenang di saat ini, di hari ini.

Anak saya sering berkata kepada saya di waktu pagi, “Hari ini hari yang indah, ayah!” Saya menjawab, “Ya, betul nak. Hari ini memang hari yang indah.” Dan jika kita simak pernyataan anak saya di atas, ternyata setiap hari adalah hari yang indah. Bukankah ketika kita bisa hidup di hari esoknya nanti, maka hari tersebut pasti akan menjadi hari ini. Nah, pada akhirnya, betapa mudah hidup ini untuk dijalani. Iya kan?

Hiduplah selalu hari ini!

*) Syahril Syam adalah seorang berlisensi NLP dan certified Hypnotherapist. Beliau juga adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 2913
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *