Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Mobilitas Minimum, Hasil Maksimum

September 28, 2009 by  
Filed under Artikel Writing School

Oleh: Avanti Fontana

Pagi itu, Senin 7 September 2009, sekitar jam 4, Axelo dan Axela sudah bangun dan seperti biasa bersiap-siap untuk pergi ke kantor yang mereka lalui dalam waktu 2 jam. Itu belum termasuk persiapan mereka di rumah, persiapan makan bersama anak-anak dan persiapan memanaskan mobil-mobil mereka.

Hawa sejuk pagi hari di sekitar kompleks perumahan asri yang mereka tinggali baru setahun itu pun tidak sempat mereka nikmati karena tuntutan pekerjaan dan kebijakan kantor moderen, para pekerjanya harus masuk tepat waktu dengan jam pulang yang cukup fleksibel.

Sekitar dua jam mereka mempersiapkan perjalanan mereka dan tepat jam tujuh pagi mereka bersama keluar rumah, saling bersapa selamat bekerja, dan menstarter mobil mereka masing-masing. Sekitar 500 meter dari rumah, mereka tiba di pintu tol Jatiwarna di kawasan Bekasi Selatan, gerbang pertama yang mereka lalui untuk sampai pada gerbang berikutnya, dan berikutnya. Rutinitas ritual berulang. Mereka bersiap masuk pintu tol, membayar, dan melaju, dengan laju tersendat-sendat, karena sudah banyak kendaraan memenuhi lajur tol JORR yang sekarang sudah memberi akses ke banyak penjuru.

Waktu tempuh ke kantor Salemba untuk Axela dan Serpong untuk Axelo, yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 60 menit, sekarang tidak bisa lagi. Axela dan Axelo membutuhkan setidaknya 120 menit untuk sampai kantor mereka masing-masing. Waktu perjalanan pulang dilalui kurang lebih sama, bahkan lebih. Bila ingin cepat sampai rumah, mereka perlu pulang lebih awal—yang sulit diterapkan—atau mereka pulang lebih lambat, di atas jam 19, dengan konsekuensi waktu sampai rumah mereka tidak dapat bermain dan bercengkrama serta menemani belajar dua anak mereka, Abel 6 tahun dan Abela 8 tahun.

Itulah sekelumit kehidupan dua professional muda berprestasi dengan karir yang terus menanjak. Bayangkan berapa banyak profesional muda sebaya dengan situasi serupa? Berapa biaya ekonomi dan sosial serta lingkungan yang ditimbulkan dari kebiasaan hidup demikian—yang tidak bisa mereka elakkan bila mereka mau bertahan pada situasi yang sama? Data statistik tahun 2005 (http://www.datastatistik-indonesia.com) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia di perkotaan yang berumur 15 tahun ke atas yang bekerja berjumlah 38 juta orang. Yang tinggal di DKI Jakarta dan Jawa Barat ada 11 juta. Bayangkan, jika jumlah profesional muda seperti Axel dan Axela ada 20% saja dari penduduk perkotaan di DKI Jakarta dan Jawa Barat, maka jumlah mereka sekitar 2 jutaan, bayangkan jika masing-masing dari mereka mengandalkan kendaraan roda empat untuk berkomuter. Mereka mengandalkan Air Conditioner berfreon. Mereka mengandalkan HP. Mereka mengandalkan kulkas, dan seterusnya rentetan produk-produk penghasil panas.

Gaya hidup orang Jakarta dan sekitarnya merupakan salah satu kontributor semakin panasnya Jakarta dan sekitarnya, selain pemanasan yang mengglobal itu sendiri. Hasil carian internet menunjukkan adanya kenaikan penjualan jumlah AC per tahun dengan rata-rata konsumsi BBM 1,6 juta barel per hari secara nasional.Tentunya untuk Jakarta jumlah konsumsi di atas rata-rata.

Perbaikan gaya hidup yang lebih humanis dan ramah lingkungan dapat mengurangi dampak negatif pemanasan global yang menyebabkan bumi semakin keropos kering kerontang.

Hari demi hari keluarga Axel mengalaminya, ikut serta dalam meningkatkan intensitas pemanasan global di Jakarta, dan mereka menyadarinya. Sampai pada suatu saat, mereka terhenyak, “Astaga! What the hell are we doing? Mengapa kita terlena dengan aktivitas ritual ini?” Dan sampai pada suatu hari mereka berdua memutuskan untuk melakukan rapat keluarga memikirkan kehidupan mereka ke depan dan berbagai implikasi yang ditimbulkan.

Sebagai pendukung kehidupan ramah lingkungan, Keluarga Axel mulai memikirkan cara-cara mengatasi kehidupan rutin yang sepertinya tidak sehat. Mereka memutuskan untuk berbicara dengan masing-masing atasan mereka dan bernegosiasi untuk mendapat permisi dalam menentukan waktu kerja mereka, waktu kerja fleksibel. Argumentasi mereka adalah bahwa dengan tidak ke kantor tiap hari, mereka bisa bekerja lebih produktif dan berhemat, dan mengurangi panasnya Jakarta, mengurangi sumbangan polusi kendaraan bermotor, mengurangi jumlah kendaraan di jalan-jalan Jakarta, yang menurut data terakhir (hasil pencarian internet) ada 5,7 juta. Kantor diuntungkan karena profesional kantor dapat bekerja lebih produktif di rumah.

Dalam negosiasi tersebut, Axelo dan Axela juga mengajukan argumentasi bahwa bekerja lebih produktif di rumah dimungkinkan karena kondisi tubuh yang lebih fresh, tidak stress di jalan, karena mereka tidak lagi menghirup zat-zat berbahaya yang beterbangan di udara selama perjalanan… Bantuan teknologi informasi dan komunikasi seperti handphone, email, dan blackberry membuat mereka bisa bekerja secara virtual dan berkomunikasi dengan lancar dan cepat.

Singkat kata, usul mereka diterima oleh perusahaan masing-masing. Bahkan mereka memperoleh acungan jempol. Lebih menariknya lagi, perusahaan mulai mengkaji ulang kebijakan SDM perusahaan dan menilik satu-persatu profil karyawan professional mereka untuk menentukan hari-hari mana di mana mereka perlu ke kantor dan hari-hari mana di mana tidak. Perusahaan mereka menerapkan kebijakan “Mobilitas Minimum-Hasil Maksimum” (MMHM).

Kebijakan MMHM mendapat sambutan hangat berbagai kalangan di perusahaan dan membangkitkan kehidupan baru, yang lebih segar, sehat, dan produktif. Perusahaan pun berkampanye: “Manfaatkan Kebijakan Mobilitas Minimum Hasil Maksimum dengan Berwirausaha Korporat dan Mandiri dalam rangka Ikut Serta Membuat Jakarta Lebih Sehat.”

Hasil perbincangan saya dengan Keluarga Axel di suatu hari Senin yang cerah, kala menemui mereka di beranda rumah mereka sehabis mereka menikmati olahraga dan sarapan pagi, memberi informasi tentang betapa senangnya mereka bisa bekerja di rumah dan bepergian seperlunya. Dan di samping itu, mereka bisa bekerja lebih banyak daripada biasanya dan sekaligus memiliki waktu lebih banyak untuk anak-anak mereka. Axela dengan bangga berkata, “Kami pun dapat mengawasi pengelolaan usaha rumahan kami yang dijalankan oleh dua staf kami yaitu usaha tingkat UKM untuk jual-beli sembako dan bahan bangunan serta bakery mungil memanfaatkan bakat-bakat terpendam keluarga kami.” Axelo melanjutkan, “Kami mau berkontribusi untuk mengurangi panasnya Jakarta sambil juga meningkatkan kesejahteraan dengan menjadi wirausaha produktif.”

Saya pun berkesimpulan bahwa untuk mengurangi panasnya Jakarta, banyak yang bisa dikontribusikan para keluarga di Jakarta dan sekitarnya. Keluarga-keluarga bisa berkontribusi antara lain dengan tidak bepergian terlalu sering untuk tujuan-tujuan yang sebetulnya bisa dicapai dengan mengerjakannya dari rumah saja. Situasi panasnya Jakarta pun dapat mendorong munculnya pemikiran-pemikiran kreatif untuk mencari cara menguranginya, antara lain dengan menerapkan prinsip MMMHM tadi, yang dapat memicu pula lahirnya wirausaha-wirausaha baru—muncul karena himpitan kehidupan sosial-ekonomi-budaya yang tidak sehat. Mobilitas minimum dapat diterapkan untuk memperoleh hasil maksimum tidak saja dari sisi ekonomi, tetapi yang lebih penting lagi ditambah juga dari sisi sosial dan budaya. Dan ini bisa berhasil dengan bantuan kerja sama banyak pihak, paling tidak pihak keluarga dan perusahaan.*

*) Avanti Fontana, Alumnus Workshop Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik. Penulis Buku “Inovate We Can!” ini dapat dihubungi langsung di avantifontana@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 335

Rating This Post

Comments

One Response to “Mobilitas Minimum, Hasil Maksimum”

  1. Agung Praptapa on September 29th, 2009 1:53 pm

    Formula yang hebat Bu Avanti: MMHM……! MMHM merupakan trend kerja modern…officeless…paperless….tapi jangan sampai lupa bahwa manusia tetap mahluk sosial, yang bertemu face-to-face dengan rekan kerja masih diperlukan. Perubahan pola kerja seperti ini menjadikan “the way we manage people” dituntut berubah pula. Diperlukan “the art of controlling people”……walah..walah…kok malah promosi…he..he…tapi bener kok…tulisan ini menegaskan bahwa kita memerlukan seni tersendiri dalam controlling people…

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top