Edy Suhardono

(Mod)èl, Bukan (Mod)al Personal

Para futurists adalah mereka yang berusaha memecahkan masalah sembari mengubah perilaku sesuai dengan perspektif masa depan. Mereka konsisten mengerjakan apa yang mereka katakan, menyadari kebutuhan yang paling relevan dengan perubahan, dan rela berkorban demi mempertajam visi mereka. Tindakan yang mereka ambil didasarkan lebih pada informasi sebab-akibat yang “dapat dan mungkin terjadi” secara acak (random) ketimbang yang “seharusnya terjadi” secara menetap (fixed) selama sejam, sehari, seminggu, atau setahun ke depan.

Kisah Darko Soweno berikut menggambarkan bahwa insan pengusaha tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga model tentang masa depan.

Kisah Biji Jambu
Darko Soweno, pemuda desa asal Semin, Gunung Kidul mendatangi seorang pastor di daerah Pulomas, Jakarta Pusat. Konon, Darko Soweno bermaksud melamar kerja sebagai seorang koster , setelah mendengar kabar dari seorang handai tolan bahwa ada lowongan pekerjaan koster di suatu gereja di Pulomas, Jakarta Pusat.

Tepat jam 08.00, di suatu hari Kamis, Pastor Paulus Winasis mewawancarainya dan mengetes bagaimana ia mengepel lantai dan mengosek toilet pastoran yang kebetulan berdampingan dengan gedung gereja.

“Baiklah, Darko. Melihat hasil pekerjaanmu, saya nyatakan kau diterima.”

Selanjutnya Pastor Paulus Winasis berkata, “Sebagai persyaratan administratif, dan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku, kau harus menyerahkan salinan ijazah SD. Setelah salinan ijazahmu saya terima, saya akan memberimu dua lembar blanko yang harus kau isi berkenaan dengan informasi tentang dirimu. Baru setelah itu kau resmi diterima bekerja sebagai koster di gereja ini.”

Muka Darko berubah pucat pasi. Seluruh persendiannya serasa dilolosi satu-satu dan posisi duduknya pun jadi meringkuk lunglai tanpa daya. Dengan suara parau terbata-bata ia berusaha menjawab, “Tetapi Pastor… saya ini kan tidak punya ijazah SD… saya juga tidak mungkin mengisi blanko, sebab saya tak kenal aksara.”

“Sayang sekali, Darko,” kata Pastor Paulus Winasis, “Dengan tak punya ijazah SD, secara administratif-formal kau sama saja tidak pernah ada di dunia kerja. Dan jika kau tidak ada, berarti tidak dapat bekerja.”

Darko Soweno berasa hilang harapan. Ia berdiri tertatih, melangkah gontai, mengulurkan tangan, menyalami Pastor Paulus Winasis sebagai ungkapan pamit tanpa kata. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya mau ia kerjakan.

Ia malu kembali ke Semin. Selain karena telanjur mengumumkan diri ke para sanak tetangga bahwa ia baru akan kembali ke kampung paling cepat setahun kemudian, untuk pulang pun ia tinggal mengantongi 180.000 rupiah hasil nyelengi upah kerja sebagai buruh tani selama enam bulan. Di tengah kebuntuannya, terpikir olehnya untuk membeli biji jambu mété yang ia kenal sebagai hasil perkebunan di Semin, kampung halamannya.

Ampun, Tuhan, betapa terperanjat ketika ia tahu harga sekilo biji jambu mété yang di kampungnya hanya seharga 5000 rupiah, di Jakarta Pusat dijual orang dengan harga kulakan 18.000 rupiah per kilo. Apa boleh buat, akhirnya ia membeli 10 kilo biji jambu mété. Tak sepeser pun uang tertinggal di sakunya.

Kemudian ia berkeliling menjual 10 kilo biji jambu mété itu dari pintu ke pintu sembari meyakinkan kepada para calon pembeli bahwa ia sengaja membawa biji jambu mété itu dari tempat asalnya, Semin, Gunung Kidul. Dalam waktu kurang dari tiga jam, ia berhasil menjual dagangannya dengan harga 20.000 rupiah per kilo. Ia mengulangi keberhasilannya tiga kali dalam hari yang sama dan ia mendapatkan keuntungan kotor sebesar 60.000 rupiah, sepertiga dari modalnya!

Darko Soweno yakin, ia dapat bertahan dengan cara itu, dan mulai mengerjakannya setiap hari dengan berangkat lebih pagi dan pulang lebih lebih malam. Modalnya yang semula berlipat dua setiap tiga hari, dalam sebulan pertama telah berlipat setiap hari. Akhirnya Darko Soweno berhasil menyewa sebuah ruko, mengangsur pembelian truk, dan melakukan kulakan langsung dengan mengambil biji jambu mété dari Semin dengan harga yang jauh lebih rendah.

Lima tahun kemudian, Darko Soweno bukan hanya menjadi salah seorang pemasok biji jambu mété terbesar di kawasan Pulomas, tetapi juga berhasil membuka usaha makanan camilan berbahan baku biji jambu mété. Ia mulai mengancangkan masa depannya dengan hidup berkeluarga.

Tujuh tahun kemudian ia memutuskan untuk punya life insurance. Ia menemui seorang broker insurance, dan bermaksud memilih satu di antara beberapa menu proteksi. Ketika percakapan menjelang pengambilan keputusan, entah kenapa si broker sempat menanyakan ijazah dan sertifikat apa saja yang dimiliki Darko Soweno. “Saya tak punya selembar kertas ijazah pun,” tukas Darko Soweno serta-merta.

Si broker penasaran, “Jadi, Anda yang tanpa selembar ijazah pun telah berhasil membangun kerajaan bisnis yang mengesankan ini? Dapatkah Anda membayangkan betapa akan jauh lebih hebat seandainya Anda mempunyai ijazah?!!”

Darko Soweno berpikir sejenak dan menjawab, “Ya, seandainya saya dengan ijazah SD, saya pasti hanya akan menjadi seorang koster gereja!”

Mod(al) dan Mod(el) Personal
Apakah menurut pembaca kunci kesuksesan Darko Soweno terletak pada kemampuannya mengembangkan modal personal yang memang sangat terbatas? Modal adalah salah satu dari sisi keping mata uang, namun sisi keping lain yang tak kalah menentukan adalah model personalnya.
Model Personal Darko Soweno terletak pada kemampuannya untuk membuat perbedaan dalam melakukan apa yang ia kerjakan. Model personalnya tampak dari kemampuannya memproses, memperlakukan, dan mentransformasikan sumber dayanya yang bernilai 180.000 rupiah ke dalam hasil yang ia kehendaki.

Tatkala dirundung bingung ia tak hanya berpikir tentang pemecahan masalahnya saat itu, tetapi juga mendayagunakan jenis energi, karakter, dan pengetahuannya tentang cara; mulai dari mendatangi pembeli secara pintu ke pintu hingga memiliki ruko; mulai dari berjalan kaki menjajakan sekilo demi sekilo hingga memasok dengan truk berkuintal-kuintal biji jambu mété.

Makin mampu Darko Soweno memproses sumber dayanya, makin bermunculan pula fungsi di dalam diri Darko Soweno, yang tak tergantung semata pada seberapa besar sumber daya (modal) yang ia miliki. Nilai dan kualitas Darko Soweno sebagai pribadi bertambah ruah berkat peningkatan kemampuannya melakukan pemrosesan atas sumber daya yang terbatas; sedemikian rupa sehingga ia akhirnya menguasai berbagai kecakapan lebih dari sekadar mengosek toilet atau mengepel lantai pastoran.

Adapun Modal Personal Darko Soweno sebagai faktor pengungkit (leverage) tidak ditentukan semata oleh ijazah SD yang dipersyaratkan Pastor Paulus Winasis seperti saat ia melamar menjadi koster. Percontohan yang ia pelajari dan pelatihan lapangan, juga yang ia peroleh dari berbagai pengalaman menjajakan biji jambu mété di jalanan adalah dua di antara gugus cara yang memungkinkan Darko Soweno mendongkrak kemampuannya. Penciptaan produksi baru, berbagi pengetahuan baru yang ia peroleh secara sambil jalan, dan pembelajaran bersama orang lain; kesemuanya bukan hanya menjadi pengumpul tetapi pengumpul yang memperbesar pengaruh Darko Soweno dalam lingkup dunia bisnisnya.
Kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka inginkan atau bagaimana meraih keinginan mereka. Benar bahwa mereka memasuki wahana pembelajaran formal dengan kebutuhan, keinginan, atau pertanyaan, namun mereka lupa melakukan analisis diri dan penjelajahan atas nilai-nilai diri, pemilihan gaya, kekuatan dan kelemahan untuk mengetahui “Siapa Aku”.

Padahal yang diperlukan adalah pengalaman kesuksesan kecil sebagai model personal. Kebanyakan orang yang sukses menurut kata orang tidak selalu merasa benar-benar sukses. Sebab, untuk melihat prestasi, untuk mengakui daya “metabolizing” mereka, mereka harus yakin bahwa yang telah mereka kerjakan dapat diulang. Baru keyakinan ini gilirannya menjadi kunci pemberdayaan personal.

*) Edy Suhardono, Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 5, Juli 2009.

Telah di baca sebanyak: 1180
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *