Edy Suhardono

Momen = (Mo)tivasi (Men)jadi


Pernah suatu saat saya mengajari Dadan, anak laki-laki saya, 4 tahun, melontarkan bola basket ke arah backboard, menemukan sudut pantul yang tepat; agar bola tak membentur ring dan langsung menerobos net.

Berkali-kali ia mencoba melempar, mencapai backboard pun tidak; apalagi memantul. “Ayo, lebih kuat lagi lontaranmu, Nak!,” teriak saya berkali-kali menyemangati. Sekeras apa pun saya berteriak, sekuat apa pun ia berusaha; tetap saja bola tak mencapai backboard. Bola bergerak naik tak lebih dari setengah jarak antara lantai dan ring. Bola tak pernah mengenai sasaran dan selalu terus jatuh ke lantai, diikuti pandangan mata kosong anak saya, tanda kekecewaannya.

Tak sabaran, saya peragakan contoh melempar sesantai mungkin, seolah saya melemparkan tanpa tenaga, sembari berucap: “Lihat! Begini saja kok, Nak, kenapa sulit?” Anak saya berusaha dan berusaha lagi, namun tak pernah lemparan bolanya berhasil membentur backboard.

Akhirnya ia terduduk terengah-engah setengah baring dengan kedua lengan tangan bertelekan di lantai. Katanya lirih: “Buat ayah mudah sekali membikin bola itu naik, memantul ke bawah, dan menerobos net. Ayah tak mau tahu, betapa sulit buatku membikin bola sial itu naik dari bawah ke atas sana…”

Ucapannya membuat saya tersentak. Bukan karena saya merasa terkritik habis, tetapi karena di luar kesadaran nalar saya, ternyata anak saya mampu berpikir dan merasakan sebagaimana orang dewasa umumnya berpikir dan merasakan; sementara saya kehilangan momen —motivasi menjadi— orang dewasa, atau lebih khusus, motivasi menjadi orangtua. Saya dililit perasaan malu lantaran ulah kekanak-kanakan saya.

Saya coba menetralkan galau perasaan saya. Saya ikut-ikutan setengah berbaring di lantai di bawah papan backboard yang terpasang di dinding depan teras rumah kami. Saya mencoba bersanding di sebelahnya sambil mengikuti arah ke mana matanya melayangkan pandangan. Rasanya saya tak sanggup beradu mata dengannya di tengah kecamuk perasaan malu saya.

Sembari memejamkan mata, saya merenungkan lagi kalimat anak saya yang masih terngiang di telinga. Rasanya ia sedang menggugat kata-kata ritual yang selalu saya bisikkan ke telinganya setiap kali mengantarnya ke pembaringan: “Ayah selalu sayang kau, Nak,” Rasanya ia sedang secara tandas mempersoalkan: apakah dirinya benar-benar dihargai, diterima, diurusi, diperhatikan, dicintai oleh orang yang sehari-hari ia panggil sebagai “Ayah”?

Perkataan bahwa “…ayah tak mau tahu…” adalah pernyataan fakta bahwa anak saya mampu membayangkan bagaimana orang lain berpikir dan merasakan di kala menghadapi momen yang sama. Ia sadar tentang kehadiran dan eksistensi orang lain. Bahkan ia dapat menangkap, menganalisis, dan menarik sintesis atas penanda-penanda kenyataan, seperti bahasa tubuh dan tonasi suara; dan akhirnya menarik kesimpulan.

Ia obyektif, karena ia sadar kenyataan —termasuk sadar akan keberadaan dirinya sendiri— dari berbagai sudut pandang. Kebalikannya, saya subyektif. Saya menangkap kenyataan semata dari perspektif saya sendiri, pun telah mengabaikan eksistensinya.

Empati
Sebagai psikolog saya paham, keberhasilan berinteraksi dan berlaku kooperatif dengan orang lain merupakan keterampilan hidup sentral seseorang. Tindakan anak yang merefleksikan kepedulian dan pertimbangan tentang eksistensi orang lain menjadi fundamen bagi pembentukan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, berbagai perilaku antisosial, seperti: perilaku agresif, berbohong atau mencuri berkorelasi positif dengan juvenile delinquency dan kriminalitas (Farrington, 1987).

Dari jurnal yang saya baca saya tahu, perilaku agresif dan bohong berawal dari penolakan sosial (Patterson, 1982), yang gilirannya menjadi bibit kriminalitas (Rutter & Garmezy, 1983). Agresi dan penolakan sosial yang dialami seorang anak berkorelasi dengan problem akademik, sosial, problem perilaku di masa remajanya (Coie, Lochman, Terry, dan Hyman, 1992; Dodge, Coie, Pettit, dan Price, 1990; Kupersmidt dan Coie, 1990); dan penjelas dari berbagai kasus dropouts di SMA (Asher dan Gabriel, 1989). Berbagai data ini menyentak kesadaran saya sebagai seorang ayah yang baru saja melakukan penolakan sosial terhadap anaknya sendiri dalam skala tertentu. Artinya, meski saya psikolog, saya harus mengakui telah kehilangan momen —motivasi menjadi— orangtua yang efektif.

Pernyataan “…ayah tak mau tahu…” menyadarkan saya, betapa ia telah memiliki kapasitas berempati dan kecerdasan menafsirkan apa yang sedang berlangsung dalam situasi sosial tertentu. Pernyataan ini juga meyakinkan, ia memiliki kapasitas berbagi respon emosi atau mengalami “feeling with.” Beberapa penelitian yang pernah saya baca menguatkan, empati mencegah perilaku antisosial, baik selama masa kanak-kanak maupun sesudahnya (Eisenberg & Mussen, 1989; Feshbach, 1983).

Sementara itu, kemampuan merespon dengan empati pada orang dewasa menjadi indikator kritis dari keterampilan menjadi orangtua efektif. Salah satu hasil riset, seorang ibu dengan tingkat empati tinggi jarang melakukan children abuse, walau ia sedang mengalami tingkatan stres tinggi (Letourneau, 1981). Para peneliti juga menyimpulkan, kapasitas untuk berempati ini muncul di tengah setting rumah, prasekolah, maupun di laboratorium; dan pada usia dini, yakni antara usia 3 hingga 5 tahun (Dunn & Kendrick, 1979).

Momen
Sayalah psikolog yang pernah kehilangan momen: motivasi menjadi orangtua efektif. Bukan bagi sembarang atau semua anak, tapi bagi anak saya sendiri. Saya pernah gagal memberikan respon empathetic terhadap Dadan, anak saya.

Dari beragam kasus yang saya tangani di bilik konseling/terapi saya pun diyakinkan, betapa yang terjadi diskontinuitas proses pembentukan karakter manusia di hulu dan di pangkal proses, di fase perkembangan paling dini, yakni masa kanak-kanak. Sebagaimana yang saya alami, penyebabnya jelas: kegagalan saya dan para orangtua umumnya menangkap momen keorangtuaan bagi anak sendiri, yakni motivasi menjadi seorang yang berdaya empati tinggi.

Selama ini orang mudah terserap ke dalam cara pemahaman masalah secara myopic dan terdistorsi, lantaran pengambilan jarak yang terlalu dekat dengan masalah yang sedang dialami. Di tempat kerja Anda temui kasus mangkir kerja, apatisme, mogok, demo, pencurian, penggelapan, eksploitasi, otoritarian. Di area publik Anda temui pungli, korupsi, power abuse, inkonsistensi, tebang pilih kebijakan, pembunuhan karakter, politik seks. Tak terkecuali, di lingkup pendidikan pun Anda jumpai berbagai pungutan dana dengan berbagai justifikasi, pendangkalan karakter melalui berbagai perlakuan non-edukatif, berbagai tindak kekerasan yang diatasnamakan pada prinsip-prinsip prematur.

Fokus kita lebih pada hilir, ujung, dan akhir proses; namun secara nalar-logik kita lebih cenderung mengklaimnya sebagai hulu, pangkal, dan awal permasalahan; sehingga secara das sollen kita pun terjebak ke dalam pseudo sense of urgency untuk segera mengeliminasi dan melenyapkannya dari medan pandang realitas kita, tanpa pikir panjang. Seolah semua dapat diselesaikan berkat ortodoksi kita.

Kita permiskin daya refleksi dan empati kita dengan ketaksediaan belajar dari kejadian-kejadian dan kemalasan mengidentifikasi mana ujung mana pangkal, mana hilir mana hulu, mana akhir mana awal, mana akibat mana sebab. Kita mudah kehilangan momen —motivasi menjadi— di dalam konteks yang paling konkrit, di tengah hidup keseharian kita. Momen selalu datang. Persoalannya ada pada sensitivitas dan totalitas menanggapinya.

*) Edy Suhardono, adalah Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, Edisi Februari 2009.

Telah di baca sebanyak: 1742
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *