Wandi S Brata

Mundur Terus Pantang Maju


Anda ingin lebih kreatif? Salah satu kiatnya, berpikirlah terbalik. Dengan kata lain, melawan arus untuk menemukan kekecualian.

Anda masih ingat isi tulisan berjudul, “Untung Ada Orang Gila”? Di situ saya puji dengan penuh syukur beberapa tokoh yang dianggap gila oleh masyarakat mereka, karena pada orang-orang seperti merekalah kemajuan dunia ini tergantung. Untuk artikel ini, saya ingin berefleksi mengenai cara berpikir mereka. Salah satunya adalah cara berpikir terbalik.

Salah seorang yang disebut dalam artikel itu adalah Colombus. Tokoh ini tidak hanya mencuatkan kekaguman dan rasa syukur saya atas kegilaan dan keberaniannya, tapi juga menunjukkan kekuatan cara berpikir terbalik. Tak percaya bahwa dunia ini berbentuk piring yang dikelilingi jurang tanpa dasar, Columbus nekad berlayar ke barat untuk menuju tempat yang dari kawasannya terletak di timur. Kegilaannya membawanya sampai ke Amerika! [Maaf, saya tak mau mengatakan “menemukan”, tapi “ketemu” (kalau bukannya terdampar di) Amerika.]

Dari pelayaran Colombus nyatalah bahwa melawan arah yang menjadi tatapan kebanyakan orang bisa sungguh mencerahkan. Karena itu, judul di atas saya pilih karena begitu sering kita mendengar orang menasihati kita agar berani maju terus pantang mundur. Faktanya, kita bisa menunjuk banyak kekecualian yang menegaskan bahwa mundur terus pantang maju juga bisa membawa kita sampai ke tujuan yang kita mau.

Dalam keseharian ada beberapa hal yang menuntut kita untuk mundur. Anda pernah mengamati orang menanam padi? Di situlah prinsip mundur terus pantang maju diterapkan. Para petani mundur saat menanam padi agar tanamannya tidak terinjak. Hal yang sama juga berlaku ketika para petani menanam bibit mereka yang jarak tanamnya amat rapat. Kedelai, misalnya. Di sini, kesuksesan terjamin bukan dengan maju, tetapi dengan mundur.

Dalam ranah motivasi dan keinginan untuk mencapai kesuksesan, mundur terus pantang maju juga berlaku. Dengan mundur terus pantang maju Anda juga bisa mencetak rekor. Kalau bagi banyak orang rekor merupakan salah satu penanda kesuksesan, jelaslah bahwa mundur terus pantang maju bisa amat efektif membawa kita sampai ke sana.

Ada beberapa contoh. Misal, dalam rangka HUT yang ke-19, Kaltim Post mengadakan kegiatan jalan mundur menempuh jarak 1919 meter oleh 19 orang. Kegiatan ini memecahkan rekor MURI [muri-rekor.blogspot.com].

Kalau Kaltim Post mundur untuk memecahkan rekor, saya baca di www.masjidkotabogor.com Hermawan ketua KAMMI Daerah Bogor dalam orasinya mendesak pemerintah RI agar mencabut dukungannya terhadap resolusi 1747 tentang penghentian pengayaan uranium yang dijatuhkan PBB kepada Iran. Orasi itu dilanjutkan dengan unjuk rasa KAMMI dan berjalan mundur dari Tugu Kujang menuju depan Istana Bogor.

Saya membaca artikel di: www.jurnalbogor.com, 25 Desember 2008. Di situ diceritakan aksi Wakil Ketua Cabang Pemuda Pancamarga Kabupaten Ciamis, Imam Ahmad Sholihin. Tergerak untuk melestarikan permainan asli Indonesia, yakni egrang, ia jalan dengan egrangnya, mundur dari Ciamis menuju Jakarta. Konsistensinya luar biasa, karena bahkan ketika baru sampai di Cibinong ia sudah menjalani niatnya itu selama 47 hari.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mundur terus pantang maju bisa menjadi sarana dan praktik yang amat ampuh untuk mencapai tujuan yang Anda canangkan. Tak hanya itu, karena sifatnya yang kontras dengan kebiasaan banyak orang, perspektif dan praktiknya bisa amat mencengangkan. Siapa yang tak terkesima oleh gerak gaya Michael Jackson yang kelihatannya melangkah maju tetapi sesungguhnya mundur itu? Itu pun menurut saya adalah rekor prima, yang bisa membius semua fans Jacko di seluruh pelosok dunia.

Satu lagi, mundur terus pantang maju dapat membuat Anda lebih cerdas dan waspada! Soalnya, berjalan mundur ternyata juga amat bermanfaat untuk menajamkan pikiran. Konon, berjalan maju membuat tubuh dan mental kita berada pada kondisi siap “meraih sesuatu”, sedangkan berjalan mundur membuat tubuh dan mental kita lebih siap untuk “menghindari sesuatu”. Psychological Science edisi Mei 2009 memuat studi Severine Koch Ph.D dan para koleganya dari Departemen Psikologi Sosial dan Budaya di Radboud University Nijmegen, Belanda. Hasil studi itu menyatakan bahwa dalam kondisi menghindar [dan dalam riset ini berarti berjalan mundur], tubuh dan pikiran kita konon menjadi lebih waspada, lebih cepat memobilisasi sumber-sumber kreativitas dan kapasitas kognisi. Sederhananya, jalan mundur mengaktifkan seluruh organ dan kemampuan mental kita sehingga kita menjadi lebih peka, lebih cerdas dan waspada.

PS:
1. Mulai hari ini, banyaklah jalan mundur [dan sebagai disclaimer, tolong risikonya Anda hadapi juga. Saya tak mau tanggung jawab kalau gara-gara jalan mundur itu Anda celaka, karena jalan raya kita memang seperti medan rebutan yang kadang amat brutal.]

2. Saya ingin tanya pada para pembaca. Mundur terus pantang maju yang kita bicarakan ini kan bermakna harfiah. Bagaimana jadinya, kalau mundur itu dalam arti metaforis/analogis? Apa masih bisa mencapai sukses dengan “mundur metaforis” itu? Apakah kita bisa sukses kalau kita terus menghindar dari sasaran yang kita mau? Kalau Anda di departemen marketing, apakah Anda akan sukses kalau alih-alih mencapai target, Anda malah tekor melulu karena sale selalu lebih rendah daripada biaya promosi Anda?

*) Wandi S Brata. Dapat dihubungi langsung di wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2494
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *