Syahril Syam

Noncontadiction Principle in Personal Development

Oleh: Syahril Syam

Allah Mahaperkasa.
Engkau tunduk pada-Nya bahkan tanpa disadari.
Tapi akan jauh lebih baik untuk tunduk dengan sedikit pemahaman, daripada tanpa disadari
– Da’ud ibnu Ibrahim al Shawni –

Jangan biarkan kenangan menjadikanmu berpuas diri.
Apa yang engkau temukan selama pencarian adalah hadiah-Nya bagimu.
Tapi saat hadiah-Nya engkau buka,
jangan jadikan ia sebagai tujuan.
– Da’ud ibnu Ibrahim al Shawni –

Pastikan bahwa bukan engkau yang mati, tapi hanya tubuhmu.
Karena orang yang terlihat dari luar sebagai dirimu, adalah bukan dirimu.
Jiwalah yang merupakan diri sejati, bukan bentuk fisik yang bisa ditunjuk dengan jari.
– Cicero –

Pengetahuan non kontradiksi, pada akhirnya akan mengantarkan kita pada perubahan persepsi. Perubahan persepsi yang saya maksudkan adalah perubahan yang akan mengantarkan kita pada persepsi yang benar. Persepsi yang benar ini, pada akhirnya menuju pada pandangan dunia yang benar. Nah, pada pandangan dunia ini, segala persepsi kita sebenarnya berawal.

Dan untuk menggambarkan tentang perubahan persepsi, mari kita simak kisah yang dialami oleh Stephen R. Covey:

Suatu minggu pagi dalam kereta bawah tanah di New York. Orang-orang sedang duduk dengan tenang – sebagian sedang membaca surat kabar, sebagian sedang melamun, sebagian lagi beristirahat dengan mata terpejam. Suasananya tenang dan damai.

Lalu tiba-tiba, seorang pria dan anak-anaknya masuk ke dalam gerbong. Anak-anak tersebut begitu berisik dan ribut tak terkendali sehingga segera saja keseluruhan suasana berubah.

Pria tersebut duduk di sebelah saya dan memejamkan matanya, agaknya tidak peduli akan situasi saat itu. Anak-anaknya berteriak-teriak, melemparkan barang-barang, bahkan merenggut koran yang sedang dibaca orang. Sangat mengganggu. Namun, pria yang duduk di sebelah saya ini tidak berbuat apapun.

Sulit untuk tidak merasa jengkel. Saya tak mengerti ia dapat begitu tenang membiarkan anak-anaknya berlarian liar seperti itu dan tidak berbuat apapun untuk mencegah mereka, sama sekali tidak bertanggung jawab. Sangat terlihat bagaimana semua orang lain di dalam gerbong juga merasa terganggu.

Akhirnya, dengan rasa sabar dan pengekangan diri yang luar biasa, saya menoleh ke arahnya dan berkata, “Tuan, anak-anak Anda benar-benar mengganggu banyak orang. Dapatkah Anda mengendalikan mereka sedikit?”

Orang itu mengangkat dagunya seolah baru tersadar akan situasi di sekitarnya lalu berkata dengan sedih, “Oh, Anda benar. Saya kira saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit dimana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.”

Dapat Anda bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Paradigma saya berubah. Tiba-tiba saya melihat segalanya secara berbeda, dan karena saya melihat dengan cara berbeda, saya berpikir dengan cara berbeda, saya merasa dengan cara berbeda, saya berperilaku dengan cara berbeda.
Kejengkelan saya seketika hilang. Saya tidak perlu lagi khawatir untuk mengendalikan sikap atau perilaku saya; hati saya dipenuhi dengan kedukaan yang dirasakan pria itu. Perasaan simpati dan kasihan mengalir dengan deras. “Istri Anda baru saja meninggal? Oh, saya turut berduka. Dapatkah Anda menceritakannya pada saya? Apa yang dapat saya lakukan untuk membantu?” Segalanya berubah dalam seketika.

Anda lihat sendiri kan? Bagaimana Covey pada akhirnya merubah persepsinya. Walaupun dipicu oleh perasaan empati pada pria itu, yang jelas begitulah gambaran tentang perubahan persepsi. Dan perubahan ini sampai pada perubahan perilaku.

Dalam pandangan Covey, perubahan persepsi adalah bagaimana melihat pada lensa yang kita gunakan untuk melihat dunia, sekaligus pada dunia yang kita lihat, dan bahwa lensa itu sendiri membentuk cara kita menafsirkan dunia.

Pencarian Identitas Diri
Biasanya, kita memandang dunia melalui suatu pola konsep yang kita warisi. Kadang, jendela-jendela itu buram, perlu dibersihkan: begitu rupa sampai-sampai nyaris yang kita lihat adalah jendela yang kita buat dan bukannya dunia luar. Selain itu, terkadang, setelah memeriksa dan merenungkannya dengan cermat, kita tersadar bahwa jika pengaturan jendela-jendela itu kita perbarui dan jendelanya kita bersihkan, kita memperoleh pemandangan yang lebih baik ke dunia nyata di kejauhan sana. Jelas kita syukuri bahwa para pendahulu kita telah membuat jendela-jendela yang memungkinkan kita melihat. Tanpa mereka itu, kita tentu masih terkurung dalam penjara pengalaman langsung kita atau dalam lingkaran kecil kita – sebagaimana para nenek-moyang mereka pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi, bukannya durhaka kalau kita kadang-kadang mempertanyakan apakah penglihatan kita tidak akan lebih baik kalau saja kita memperlebar jendela di sana-sini atau menggantinya dengan jendela-jendela baru yang bentuknya berbeda (Smith, 2004).

Seperti halnya Wilfred C. Smith, kita pun perlu merenungkan sejenak jendela kita. Bagaimana menemukan sebuah jendela yang tepat? Saya ingin mengutipkan kepada Anda pengalaman Jung, yang saya ambil dari makalah Jalaluddin Rakhmat, Psikologi dan Agama: Bersaudara atau Bermusuhan.
Carl Gustav Jung, seorang pendiri mazhab psikologi analitis. Pada 1944, Jung menderita myocardial infraction, dan beberapa kali mengalami apa yang nanti dikenal sebagai near death experience, pengalaman menjelang kematian. Di ranjang rumah sakitnya, beberapa kali Jung mengalami penglihatan ruhaniah, spiritual vision. Jika selama ini ia berusaha menjelaskan pengalaman spiritual secara ilmiah agar diterima pada lingkungan akademis, kali ini Jung sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin menyampaikan kebenaran. Akhirnya ia menerbitkan Seven Sermons of the Dead, Synchronicity: An Acausal Connecting Principle, Answer to Job, Mysterium Coniunctionis, Memories, Dreams, Reflections. Pada akhir hayatnya ketika Jung diwawancara BBC apakah ia berpikir bahwa Tuhan itu ada, Jung menjawab, “I don’t think, I know He exists.”

Pengalaman Jung di atas, mengingatkan saya akan prinsip niscaya lagi rasional. Anda lihat sendiri, Jung sangat yakin akan kehadiran Tuhan, walaupun mengalami kesulitan untuk menjelaskan secara ilmiah pengalaman spiritualnya. Biarpun begitu, paling tidak, Jung telah memiliki suatu jendela untuk melihat dunia ini.

Kembali pada prinsip niscaya lagi rasional. Dalam prinsip ini, kita kemudian akan mengenal dengan prinsip NONKONTRADIKSI. Prinsip nonkontradikisi adalah prinsip yang mengatakan bahwa kontradiksi itu mustahil. Jadi, penafian dan penetapan itu tidak mungkin berkompromi dalam setiap keadaan. Adanya sesuatu bertentangan secara mendasar dengan tidak adanya sesuatu itu, bukan dengan tidak adanya sesuatu yang lain. Yang dimaksudkan dengan pertentangan keduanya adalah bahwa keduanya itu tidak mungkin menyatu atau ada bersama-sama. Jadi, kalau Anda saat ini sedang membaca makalah saya, maka pada saat yang sama pula Anda tidak mungkin sedang memasak.

Prinsip nonkontradiksi ini, pada akhirnya akan melahirkan apa yang disebut dengan prinsip identitas. Anda tentu memiliki identitas yang hanya sama dengan identitas Anda sendiri, dan tidak mungkin sama dengan identitas saya. Dan karena identitas Anda berbeda dengan yang selain Anda, maka hal ini meniscayakan keberadaan yang lain selain Anda sendiri.

Jika kita menarik benang merah dari hal ini, maka pertanyaannya kemudian akan menjadi, apakah ada sesuatu yang memiliki identitas tersendiri yang berbeda dengan identitas alam semesta secara keseluruhan? Untuk menyederhanakan persoalan ini, mari kita simak cerita berikut ini:
Alkisah tentang seorang ilmuwan yang membuat suatu sistem tertentu yang dilengkapi dengan panas, uap air, dan dengan segala syarat lain yang diperlukan dalam proses alami untuk melahirkan anak ayam dari telur. Di dalam sistem itu, ia letakkan telur agar menghasilkan ayam. Tetapi, ia tidak memperoleh hasil yang dikehendaki.

Lantas tahulah ia dari situ bahwa studinya terhadap kondisi-kondisi reproduksi alam itu tidak memadai. Ia kemudian melakukan eksperimen-eksperimen lain terhadap ayam ketika ayam itu mengerami telurnya. Setelah observasi-observasi dan tes-tes yang sangat cermat, ia menemukan bahwa ayam tersebut dalam saat-saat tertentu mengubah posisi telur dan membolak-balikkannya dari satu sisi ke sisi lain. Lantas, sekali lagi, ia melakukan eksperimen dalam sistem khususnya dengan memberlakukan proses yang dilakukan sang ayam tadi. Maka, eksperimen tersebut mendapat keberhasilan yang sedemikian.

Cerita ini menyimpulkan sebuah pertanyaan besar. Siapakah yang mengajarkan kepada ayam itu rahasia ini (cara menetaskan telur menjadi anak ayam) yang tersembunyi dari dari ilmuwan besar tersebut? Atau siapakah yang mengilhami ayam itu dengan aksi yang bijak tersebut, yang proses reproduksi tidak akan dapat berlangsung tanpa aksi itu?

Seperti yang telah dipaparkan, maka secara jelas prinsip nonkontradiksi meniscayakan adanya perbedaan diantara setiap identitas. Karena setiap identitas itu berbeda dan tidak memiliki kesamaan, maka hubungan yang dimungkinkan terjadi dapat disebut sebagai hubungan sebab akibat. Jadi, nonkontradiksi meniscayakan adanya hubungan sebab akibat.

Sebab dan akibat dalam bahasa Inggrisnya adalah cause dan effect. Dan ternyata, kata “cause” memiliki arti bukan hanya “sebab”, tapi juga “alasan”. Begitu pula dengan kata “effect”. Selain berarti “akibat”, juga berarti “pengaruh”. Sebagai contoh, matahari dan sinarnya. Matahari merupakan alasan akan keberadaan sinar. Dan sinar dari matahari adalah pengaruh yang ditimbulkan akan adanya matahari.

Alasan dan pengaruh ini bukan hanya berlaku pada benda, tapi juga pada sifat dan perbuatan, serta kemungkinan eksistensial. Mengetahui secara mendasar antara sebab dan akibat atau alasan dan pengaruh, akan memberikan pengaruh yang sangat besar pada pola pikir, kesadaran, dan perilaku kita. Jika Anda berniat makan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh, tentu gaya hidup/perilaku Anda akan berbeda, dibandingkan kalau Anda berniat makan untuk kenyang. Antara mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan kenyang disaat makan memiliki perbedaan mendasar.

Hubungan antara “alasan” dan “pengaruh” berkembang menjadi “mengapa” dan “bagaimana”. Pertanyaan “mengapa” inilah yang sesungguhnya menjadi tujuan, dan pertanyaan “bagaimana” adalah pengaruh, efek, atau konsekuensi dari sebuah tujuan yang ingin dicapai. Walaupun dalam kebanyakan manusia, justru “bagaimana/pengaruh” ini yang menjadi tujuan. Kenyang, pada kebanyakan manusia, menjadi tujuan untuk makan dan bukan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Jika kita kembali pada pertanyaan: siapa yang mengajar ayam, sehingga mampu untuk bereproduksi dengan benar (seperti pertanyaan di atas)?

Dalam buku Psikologi Agama, Jalaluddin Rakhmat menceritakan tentang Einstein. “Kita ingin tahu tidak saja bagaimana alam itu dalam seluruh prosesnya, tetapi kita juga ingin tahu mengapa alam ini begini dan tidak dalam bentuk lainnya,” kata Einstein, nama yang melambungkan raksasa ilmu pengetahuan. Ketika bergerak dari pertanyaan “bagaimana” ke pertanyaan “mengapa”, ia bergerak dari ilmu pengetahuan ke agama. Dalam tulisan ini, kita bergerak dari identitas alam ke identitas lain. Karena alam semesta adalah keseluruhan proses (pengaruh, konsekuensi), maka harus ada “alasan” dibalik ini semua. Dalam bahasa Bruno Guiderdoni – Direktur Riset Institut Astrofisika Paris – fitrah manusia mengarahkannya pada pengetahuan tentang identitas Allah. Hidupnya adalah pencarian terhadap identitas itu.

Akhirnya kita akan kembali bertanya, (setelah penelusuran yang panjang untuk mengetahui tujuan akhir atau “alasan” kita dalam melakukan segala sesuatu) bagaimana kita berbuat (dalam proses pengembangan diri kita)? Saya kembali akan mengutip tulisan Bruno Guiderdoni dalam makalahnya, Pencarian Identitas Tertinggi Dalam Islam.

Sesungguhnya Allah berfirman dalam Al-Quran, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” Menurut ajaran Islam, makna rahasia ibadah adalah upaya mengenal Allah. Menyembah Allah adalah mengetahui siapa Tuhan (Al-Rabb) dan siapa hamba (al-‘abd), siapa Yang Absolut dan siapa yang relatif, siapa Pencipta dan siapa ciptaan (dalam bahasa pembahasan kita, yang mana “alasan” dan yang mana “pengaruh”). Ibadah adalah upaya mengenal Dia yang memiliki hak penuh atas eksistensi dan sifat-sifat yang berlimpah, dan siapa yang sesungguhnya hanya memiliki sifat reseptivitas, kecenderungan (fitrah) untuk menerima eksistensi dan sifat-sifat. Ini merupakan pencarian pengetahuan – yang boleh disebut sebagai metafisika – tentang identitas Sang Pemberi dan sang penerima.

Amal ibadah mengantarkan kita pada ‘ubudiyyah, kesadaran penghambaan-spritual. Amal akan mengantarkan kita ke ujung jalan, yaitu ‘ubudah, kesadaran spiritual akan ketergantungan radikal hamba kepada Allah. Ini merupakan maqam para nabi dan wali. Dengan demikian, perlu kiranya kita pahami hadis terkenal yang sering-sering diulang-ulang para mistikus muslim: “Barang siapa mengenal dirinya (atau jiwanya), maka ia mengenal Tuhannya.” Ini bukan merupakan pernyataan bahwa jiwa identik dengan Tuhan. Tetapi, melalui pemilahan-intelektual dan intuisi-spiritual, ungkapan ini bermaksud untuk membangkitkan kesadaran intim tentang kepada siapakah kita akan kembali. Pengetahuan spiritual disebut pula oleh mistikus muslim sebagai tahqiq, verifikasi (pembenaran) atau realisasi (perwujudan). Pengetahuan ini akan menyingkap realitas yang sebelumnya tersembunyi dari kita, yaitu identitas Sang Penguasa. Pengetahuan ini membuat realitas itu menjadi nyata bagi kita, atau tepatnya, kitalah yang dibuat nyata oleh realitas itu.

Dengan mengetahui secara jelas “alasan” (tujuan) kita berbuat dan apa “pengaruhnya” (konsekuensi logis dari perbuatan) pada kita, akan memberikan sebuah kesadaran baru bagi kita. Ini akan menjadi jendela kita (dalam bahasa Smith) atau pandangan dunia (dalam bahasa Covey di atas). Dan hal ini tentunya akan memberikan pengaruh yang besar pada perilaku keseharian kita. Sebagai penutup saya ingin mengutip sebuah syair dari Jalaluddin Rumi:

Aku mati sebagai mineral dan menjadi sebatang tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan menjadi seekor hewan.
Aku mati sebagai seekor hewan dan menjadi seorang manusia.
Lalu, apa lagi yang kutakutkan, karena aku tidak dapat disusutkan kematian?
Suatu ketika bila aku mati sebagai manusia, aku akan menjadi malaikat,
dan aku akan meninggalkan kemalaikatan,
Karena Ketiadaan, ‘Adam, memanggil dengan suatu suara seperti organ:
“Sesungguhnya setiap kita adalah milik-Nya, dan kepada-Nya kita kembali!” (Q.S. 2:151)

*) Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Telah di baca sebanyak: 937
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *