Pitoyo Amrih

Online Store, Antara Mimpi dan Kenyataan (II)

(sambungan artikel sebelumnya)

Sekian banyak saya coba amati dan pelajari beberapa online store yang dimiliki oleh ‘pure-player’ maupun ‘brick and clicker’ lokal, kesimpulan sementara saya, bahwa sebagian besar diantara mereka masih rancu dalam membuat garis batas jelas antara e-marketing dan e-sales.

Online store, memang bisa diibaratkan seperti seseorang yang memiliki dua kaki, yang pada kasus tertentu, bisa menempatkan kaki sebelah pada fungsi pemasaran (e-marketing) dan pada saat yang sama kaki satunya menapak pada fungsi transaksi penjualan (e-sales). Sesuatu yang bila mengacu pada sebuah kegiatan usaha ‘brick and mortar’ telah dibuat batas yang jelas kedua kegiatan itu yaitu pada upaya strategi pemasaran, menyangkut menentukan segmen, menciptakan differensiasi, mengkomunikasikan produk, dan sebagainya. Dengan kegiatan distribusi, yang berfokus pada fungsi bagaimana produk bisa menjangkau konsumen secara efektif dan efisien.

Hanya saja, kebanyakan online store lokal (dari Indonesia), baik melalui blog maupun situs sendiri, sepertinya kurang tuntas dalam menapakkan kedua kakinya pada kedua fungsi di atas. Sehingga hal ini menjadi sebuah tantangan ketiga bagi online store ini, yaitu bagaimana seorang netter sebagai calon pembeli, sudah cukup memiliki informasi atas apa yang terpampang pada blog atau situs yang menawarkan atau menjual sebuah produk.

Saya ambil contoh, misal ada sebuah online store lokal dari sebuah blog, yang seperti berusaha memfungsikan dirinya seperti sebuah butik. Menjual berbagai macam perlengkapan wanita. Dari blus, tas wanita, sepatu wanita, sendal, berhiasan, dan sebagainya. Tampilan blog itu begitu menarik. Tatanan foto-foto produk pun cukup atraktif. Dan di setiap foto diberi keterangan harga dalam rupiah. Blog itu terdiri dari banyak halaman yang semuanya berisi foto-foto dengan keterangan harga dibawah. Dan ada satu halaman yang berisi rincian tata cara pemesanan, berupa baris kalimat yang menginstruksikan agar para pembeli mencatat sendiri barang mana saja yang dipilih, menjumlahkannya, kemudian diminta mengirim pesanan ke no hp atau alamat e-mail tertentu, itupun harus melewati tahap konfirmasi akan ketersediaan stok barang. Sementara ongkos kirim akan ditentukan kemudian setelah penjual tahu persis berapa total berat barang yang akan dibeli.

Pada kondisi seperti ini, saya mencoba membayangkan bila saya sebagai seorang pembeli, sepertinya butuh sebuah kesabaran komunikasi yang cukup panjang antara dua pihak, baik antara penjual dan pembeli. Dan bila pada akhirnya terjadi transaksi, hal itu saya yakin adalah sebuah hasil akhir dari komunikasi dua belah pihak yang sama-sama bisa saling percaya, sabar, dan menganggap satu sama lain saling membutuhkan –dalam arti pembeli harus merasa bahwa sang penjual adalah satu-satunya pihak yang bisa memenuhi kebutuhannya, dan si penjual harus menganggap sang pembeli, adalah pembeli satu-satunya-. Hal ini tentunya menjadi kontraproduktif dengan tawaran kemudahan pada toko online. Fungsi online store yang seharusnya mudah, menjadi tampak merepotkan. Bila tidak ada diferensiasi yang tajam pada produk, maka tentunya orang akan memilih untuk datang ke toko swalayan saja untuk memenuhi kebutuhannya tinimbang beli online.

Sebuah blog, kita tahu disana ada keterbatasan fungsi. Bila kita ingin menjual produk dengan memakai blog, maka dia hanya bisa dimanfaatkan dari fungsi e-marketing saja. Maka ketika itu disadari dari awal, maka sebaiknya –menurut saya- pemilik lebih berkonsentrasi untuk memaksimalkan fungsi ini. Dimana strateginya tidak hanya sekedar mendisplay barang, tapi lebih luas lagi, seperti upaya membentuk komunitas, menajamkan diferensiasi produk, edukasi terhadap konsumen, menciptakan trend. Sementara dari sisi e-sales, bila kemampuannya masih pada taraf ‘hanya’ kemudahan komunikasi jarak jauh saja, saya cenderung untuk justru mengupayakan distribusinya fokus pada distribusi barang secara konvensional, seperti memberi informasi jelas letak toko fisik, sehingga orang bisa datang untuk melihat produk yang ditawarkan. Atau bila upaya online ingin dimaksimalkan, mau tak mau harus menciptakan sumberdaya tenaga pemasar yang harus sering online sehingga memudahkan komunikasi misal melalui messenger dan sebagainya.

Fungsi e-sales yang ideal pada online store, sebenarnya bukanlah fungsi yang sederhana. Sepanjang saya tahu belum ada blog yang menyediakan fungsi ini, sehingga membuat situs sendiri adalah satu-satunya cara untuk memaksimalkan fungsi e-sales pada online store. Dan itupun belum cukup! Kita harus membuat program online store yang bisa mewakili layaknya sebuah fungsi toko. Selain display barang berupa foto dan dekripsi, informasi harga, juga program-program lain yang dipasang di sana sehingga pengoperasiannya mudah. Seperti program untuk memasang pajak penjualan secara otomatis pada semua barang, atau program untuk membuat diskon promo, sehingga secara otomatis memotong harga kelompok definisi barang-barang tertentu. Juga program yang memungkinkan kita memberi informasi berat barang, sehingga bila belanja barang lebih dari satu, otomatis program akan menjumlah berat untuk perhitungan ongkos kirimnya. Tidak hanya di situ, online store ini juga harus bisa mendefiniskan wilayah-wilayah pengiriman, setiap kali konsumen mengisi tujuan kiriman, sehingga secara otomatis ongkos kirim akan ditambahkan. Juga yang tak kalah pentingnya, adalah info tentang stok. Yang seharusnya memungkinkan program untuk mengurangi stok secara otomatis setiap kali ada pembeli yang sudah melakukan konfirmasi pemesanan. Sehingga tanpa harus bertanya, konsumen akan selalu tahu kondisi stok barang secara update. Dan terakhir adalah metode pembayarannya, misal via ATM, konsumen juga harus secara otomatis mendapat info yang bisa setiap saat di-print, tentang total pembelian dan no rek yang dituju. Syukur-syukur di sana disediakan link internet banking bagi yang memilikinya.

Program online store shareware juga banyak terdapat di internet, semisal yang cukup banyak disukai formatnya adalah oscommerce, cube-cart atau zen-cart. Tapi bila program jadi ini akan diaplikasikan untuk penjualan online di Indonesia, mungkin perlu banyak penyesuaian-penyesuaian program, yang hanya bisa dilakukan oleh para programmmer. Seperti misalnya, masalah yang ada disana adalah tampilan kurs yang tersedia belum ada dalam bentuk Rupiah. Modul transaksi pembayaran via ATM, harus kita tambahkan sendiri pilihan-pilihannya, karena yang tersedia di sana, hanya metode pembayaran yang banyak dipakai di Eropa dan Amerika seperti kredit-card, paypal (sampai saat ini, paypal bagi area Indonesia hanya bisa melakukan pembayaran, belum bisa menerima pembayaran), ipayment, money-order, dan sebagainya, yang tidak umum bagi kita di Indonesia. Termasuk juga modifikasi dalam modul shipping, dimana di kita biasanya akan memakai sistem zone, mengikuti kebanyakan jasa kurir domestik. Sementara yang tersedia di program online memungkinkan banyak pilihan –flatrate, zone, per definisi item, berat, dan sebagainya- yang tidak perlu dan kemungkinan justru membingungkan konsumen.

Saya terkadang berpikir, mungkin memang sudah hukum alamnya, bila kita ingin online store yang mudah bagi konsumen, tuntutannya akan sangat rumit bagi pembuat program, yang tentunya berdampak mahal ongkos investasinya. Kalau program yang mudah dan memanfaatkan yang ada –misal blog atau online store software shareware apa adanya-, biasanya justru sulit bagi konsumen. Mungkin justru tantangan kita menciptakan sesuatu diantara keduanya…
(bersambung)

*) Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1800
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *