Pitoyo Amrih

Online Store, Antara Mimpi dan Kenyataan (III)

Sebuah toko, sebagus apa pun itu, butuh untuk dikunjungi agar muncul kemungkinan produk yang dijajakan akan dibeli orang. Demikian juga toko online. Agar produk yang dipampang dibeli orang, butuh tahapan agar orang tahu keberadaan toko online itu, kemudian setelah tahu, tahapan berikutnya adalah bagaimana agar orang datang berkunjung. Setelah berkunjung, ada lagi tahapan agar orang yang sudah berkunjung merasa perlu untuk suatu saat mengunjungi lagi toko online itu. Dan tentunya tahap berikutnya, harapannya orang yang selalu berkunjung tadi suatu saat akan membeli produk yang dijajakan. Inilah yang kemudian menjadi tantangan yang keempat bagi para ‘pure-player’ maupun ‘brick and clicker’.

Tahapan agar orang tahu keberadaan toko online, sepertinya akan sedikit lebih mudah bagi para ‘brick and clicker’. Bahkan akan jauh lebih mudah bila mereka sudah memiliki brand-awareness yang cukup baik di dunia nyata. Seperti sudah pernah saya ceritakan pada artikel saya dulu, bahwa ‘brick and clicker’ adalah para pengusaha yang menjalankan brand sebuah produk yang sama, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Dan konotasi ‘brick and clicker’ banyak dipersepsikan bahwa sang pengusaha mengawali usahanya menjual produk secara off-line, baru kemudian dengan produk yang sama melebar merambah dunia maya, tanpa harus mengurangi intensitas usahanya di dunia nyata. Sehingga bagi mereka yang sudah memiliki brand cukup bagus di dunia nyata, tentunya memiliki kemungkinan lebih besar orang akan tahu keberadaan toko itu di dunia maya. Pun juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk tahapan berikutnya, yaitu orang berkunjung ke toko online tersebut.

Seperti contoh misal beberapa penerbit buku yang memang sudah berjaya di dunia nyata, semacam Gramedia dengan sekian banyak anak usahanya, atau Penerbit Erlangga. Ketika mereka kemudian saat itu buru-buru mendaftarkan brand mereka baik di dotcom maupun co.id, maka seolah toko mereka pun seperti begitu saja berada di ‘jalan raya’ yang akan dilalu-lalangi banyak orang, karena nama-nama itu begitu melekat di kepala khalayak sebagai penerbit buku dengan segmen khas mereka masing-masing.

Atau contoh beberapa pelaku usaha nyata di pusat elektronik glodok, atau pusat grosir garmen tanah abang, yang sengaja mendaftarkan nama domain mereka dengan memberi embel-embel ‘glodok’ ataupun ‘tanah-abang’, demi sebuah lompatan agar orang serta merta mengenal mereka di dunia maya.

Lalu bagaimana dengan pure-player yang nyata-nyata belum memiliki awareness yang cukup untuk usaha mereka baik di dunia nyata maupun dunia maya? Atau para brick-and-clicker yang memang, usaha nyata mereka belum memiliki brand yang matang ketika mereka melebarkan usahanya menjadi online store? Tahapan mengenalkan usaha mereka agar orang tahu, sebenarnya sama dengan sebuah upaya membangun brand-awareness pengusaha konvensional di dunia nyata. Hanya mungkin, para pelaku usaha online-store, bisa memiliki lebih banyak kemungkinan untuk mempercepat dan mempermudah proses membangun brand tersebut, selama mereka bisa selalu memutar otak untuk inovatif dan kreatif.

Membangun tahapan agar orang kenal, bisa diawali dengan cara ikut didalam sebuah jaringan atau membangun jaringan itu sendiri. Dan dunia internet saat ini seperti semakin mudah saja orang membangun sebuah jaringan. Bisa melalui jaringan pertemanan, macam Friendster, Facebook, Myspace, Goodreads, Flixter, tentunya dengan segmennya masing-masing. Disanalah para pelaku usaha online store bisa mengenalkan usaha mereka. Kemudian bisa juga dengan cara mengikuti milis-milis, iklan di berbagai situs penyedia layanan iklan. Hanya saja perlu berhati-hati, bahwa mengenalkan usaha kita di internet apa pun caranya seperti analogi kita berteriak-teriak di sebuah keramaian. Ketika kita berteriak, pada tahap tertentu akan menarik perhatian orang untuk tahu lebih banyak. Tapi tahap berikutnya bila kita tidak bisa melihat situasi dan kondisi, bisa jadi teriakan kita akan dirasakan sebagai gangguan. Spam dan semacamnya, pada dasarnya adalah predikat bagi mereka yang terlalu banyak berteriak-teriak.

Cara lain adalah seperti yang pernah saya utarakan pada artikel terdahulu mengenai strategi SEO, Search Engine Optimization. Sebuah upaya bagaimana kita bisa bersahabat dengan situs mesin pencari sehingga untuk keyword-keyword tertentu bisa dengan mudah terjaring oleh indexing mereka.

Bisa juga selain kita memiliki online store dengan nama situs milik kita sendiri, kita bisa juga ‘membuka’ gerai toko kita pada online store kolektif yang sekarang juga banyak bermunculan. Online store kolektif, analogi dunia nyata seperti layaknya sebuah mall. Dimana tentunya lebih banyak kemungkinan orang berkunjung di sana, karena sifatnya yang ‘serba ada’. Dengan membuka halaman situs di pasar online kolektif ini, kita bisa mengenalkan produk kita, dimana bisa kita pasang di sana link yang akan mengarah ke toko kita sesungguhnya. Di online store kolektif kita bisa saja hanya memasang beberapa produk kita, untuk kemudian pengunjung di halaman ini bisa langsung diarahkan menuju ke toko online milik kita sendiri yang tentunya berisi katalog produk yang lebih lengkap. Pasar online kolektif yang cukup terkenal misalnya Ebay atau Alibaba.com, atau khususnya buku dan stationary-gadget bisa di Amazon.com. Yang lebih luas lagi segmennya, adalah misalnya DinoMarket, yang walaupun masih relatif baru, para pelaku usaha online semakin banyak saja yang bergabung di sini.

Ketika orang kenal kemudian berkunjung ke toko online kita, apakah itu sudah cukup? Tidak! Kita mungkin sepakat bahwa kunjungan seseorang ke sebuah toko untuk pertama kalinya, kemungkinan untuk membeli bisa jadi sangat kecil. Ketika orang kemudian berkehendak mengunjungi toko ini kedua kalinya, disanalah ketika si toko memperlihatkan kualitas tampilan tokonya secara konsisten, kemungkinan membeli itu akan semakin meningkat. Dan kemungkinan itu akan semakin meningkat pada kunjungan-kunjungan berikutnya. Sehingga ketika kebutuhan atau keinginan membeli itu muncul, maka transaksi bisa jadi hanya masalah waktu.

Sehingga pertanyaan pada tantangan keempat ini, adalah sesuai tahapan berikutnya, bagaimana agar orang akan selalu berkunjung ke toko kita? Ini juga sebuah tantangan yang tidak mudah. Sebagian online store memasang modul-modul tambahan yang membuat para pengunjung merasa perlu untuk berkunjung lagi ke toko tersebut. Misal dengan menambah modul berita yang selalu diupdate, berisi berita-berita yang memiliki relevansi dengan produk-produk yang dijual, yang tentunya harus diungkap secara menarik sehingga pengunjung merasa perlu untuk datang lagi. Ada juga dengan memasang modul membership dengan privilage tertentu yang bisa membuat orang tertarik untuk datang lagi.

Sebagian lagi menyertakan engine di online store mereka yang bisa memberikan notifikasi secara otomatis masuk ke e-mail para pengunjung itu, yang berisi hal-hal baru dan menarik untuk memancing mereka berkunjung kembali. Atau sebagian lagi memasang program RSS Feed untuk memudahkan para pengunjung selalu mendapat informasi baru setiap online store di-update.

Kemudian tahapan berikutnya, yang klasik terjadi pada setiap toko tidak hanya online store, tapi juga toko nyata, yaitu para pengunjung itu membeli dan suatu saat ketika ada kebutuhan, membeli di toko kita kembali. Tahapan ini akan banyak terbantu bila kita menerapkan ilmu-ilmu konvensional sebuah toko, misalnya jaminan atas kualitas barang, kualitas layanan, jaminan pengiriman barang, after sales support. Seperti layaknya sebuah usaha konvensional, seseorang akan kembali membeli ketika kita dinilai mampu memberikan produk kita secara tepat mutu, tepat jumlah dan tepat waktu, dan tak kalah pentingnya tepat dalam memilih strategi layanan purna jual…
(bersambung)

*Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

Telah di baca sebanyak: 1042
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *