Kolom Alumni

Paradoks Kekayaan

Oleh: Eko Supriyatno

Richard Branson pendiri Virgin berucap: “sejujurnya saya katakan, saya tidak pernah terjun dalam bisnis untuk menghasilkan uang. Kalau itu satu-satunya motif Anda, saya rasa Anda lebih baik tidak melakukan apa-apa”. Bagi Branson uang hanyalah soal angka. Ini tidak berarti ia menafikan eksistensi uang. Uang hanyalah alat mencapai tujuan. Buatnya dalam bekerja yang terpenting bagaimana ia melakukan penggalian makna hidup atau uang.

Ray Kroc Bos MC Donalds (1902 – 1984) menyatakan bahwa jika anda bekerja hanya untuk uang. Anda takan pernah sukses, Tetapi jika Anda mencintai apa yang Anda kerjakan dan selalu mengutamakan kepentingan pelanggan, kesuksesan akan Anda di tangan Anda. Ingatlah, bahwa masyarakat adalah pelanggan Anda. Berbagi pada pelanggan adalah solusi.

Hamilton berulang kali menyatakan bahwa semakin banyak uang yang anda miliki, semakin besar kemungkinan anda akan kehilangan uang itu. Hamilton menyebutkan bahwa kekayaan bukanlah soal seberapa banyak uang yang anda miliki. Kekayaan adalah apa yang masih Anda miliki bila anda telah kehilangan semua.

Kehilangan uang bukanlah masalah bila anda tidak memilikinya sama sekali, tetapi saat anda memiliki kelebihan penghasilan, banyak kesempatan baru yang muncul. Sungguh menggoda untuk membelanjakannya atau menginvestasikannya di bidang yang belum pernah anda lakukan sebelumnya dan di bidang yang hanya sedikit anda ketahui kelemahannya di masa depan. Kepercayaan diri anda jauh melebihi kompetensi anda dan uangnyapun hilang.

Trump pernah membangun bisnis propertinya pada tahun 1980-an dimana sebagian besar usahanya dibangun dengan utang yang jumlahnya sangat besar. Ketika pasar berubah di tahun 1990. Ia tidak lagi mampu membayar bunganya. Sehingga ia memiliki utang perusahaan sebesar $3,5 juta dan sebesar $900 juta utang pribadi. Berarti Anda sekitar $900 juta lebih kaya daripada Trump pada tahun 1990. Kendati demikian Trump membali situasi itu dan tahun 2005 ia memperoleh net profit sebesar $2,7 milliar dan masuk dalam daftar 400 orang terkaya di AMerika versi majalah Forbes.

Setelah menyelami falsafah bekerja, saya harap Anda menyimpulkan, dunia kerja yang kita bicarakan ini, demikian agung. Bekerja, not just for money. Bekerja, dalam konteks bahasan kita, demikian memerdekakan kita mempersepsi dan mendekonstruksinya kembali sesuai perkembangan kemapanan spiritual kita. Spiritual? Kita mau bicara “bekerja” atau mau “mengaji”. Dua-duanya, atau kalau kita bawa satu urusan, otomatis urusan lainnya terbawa serta. Karena – sebagai penegasan di bagian sebelumnya – saya tempatkan bekerja itu sebagai ibadah.

Keyakinan konvensional tentang zona nyaman, terlalu ajeg dipersepsikan, sehingga seolah-olah di luar itu, bukan zona nyaman. Ketika digali lebih dalam, dalam, dan kian dalam sampai ke dasarnya, nyata, tak terjumpai kenyamanan yang disebutkan sebagai tema zona kerja itu. Kenyamanan, tidak dibangun semata-mata oleh tantangan “duniawi” manusia, melainkan juga oleh sebuah keinginan mendalam menghubungkan semua perbuatan, jauh, jauh ke lubuk hati kita sebagai niat ibadah tadi.

Dengan memperdalam penggalian kita akan makna kenyamanan, sampai tersua kenyamanan sejati, kita menjadi maklum, adanya kenyamanan semu dan menepisnya agar tak terjebak untuk menggilainya, mempertahankannya mati-matian, lebih-lebih, sampai kita benar-benar mati. Jangan, jangan habiskan umur anda untuk memeluk kenyamanan bekerja di zona nyaman yang semu.

Salah seorang anggota DPR tertangkap tangan melakukan tindak pidana korupsi. Kemudian dinyatakan bersalah dan dimasukkan dalam bui. Apakah nyaman. Seorang pebisnis besar melakukan kongkalikong dengan penguasa, kemudian ia tertangkap. Apakah ia merasa nyaman.

Kalaulah kekayaan itu memang membuat nyaman mengapa kekayaan seseorang justru membuat banyak orang iri padanya. Mengapa sering terjadi banyak pembunuhan karena kekayaan. Membuat adik Willy “Bud” pemenang lotere dipenjara, karena mengincar harta kakaknya. Betulkah itu zona nyaman?

Lalu bagaimana dong? Tidak bolehkah kita menjadi kaya? Tentu boleh, bahkan sangat dianjurkan. Bukankah agama mengajarkan bahwa kemiskinan cenderung pada kekufuran. Yang menjadi pangkal adalah bagaimana kita mendistribusikannya dengan benar. Bukankah sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi banyak orang.

*) Penulis adalah Master Terapi Bisnis, Kolumnis dan Trainer berbagai pelatihan. Alumni “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller” Batch IX. Alumnus PPM. Email: eko_supriyatno2007@yahoo.co.id atau eko@terapibisnis.com Website: www.terapibisnis.com

Telah di baca sebanyak: 1446
admin
Admin Pembelajar.

One thought on “Paradoks Kekayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *