Edy Suhardono

Pemimpin dan (Pre)seden

By Edy Suhardonoª

Tiba-tiba saya teringat wajah Pak Herry, guru yang mengajar Ilmu Fisika dan Ilmu Ukur sewaktu saya di kelas tiga SMP dulu.

Segelas Kebijaksanaan

Begitu duduk di kursi, Pak Herry mengeluarkan tujuh gelas kosong dari kantong dan meletakkan sebuah kendi tanah liat berisi air yang ditentengnya. Kemudian, ia menuangkan air kendi ke dalam salah satu gelas. Seraya mengangkat gelas yang hampir penuh terisi air itu, ia bertanya kepada seluruh siswa, “Perhatikan, berapa kira-kira berat gelas berisi air ini?”

Sebagian dari kami, para siswa, menjawab “lima puluh gram”; sebagian lagi menjawab “seratus gram”; dan sebagian sisanya menjawab “seratus dua puluh lima gram”.

“Saya sendiri sama sekali tidak yakin berapa beratnya, kecuali saya menimbangnya,” kata Pak Herry. “Benar juga dia,” kataku dalam hati. “Nah, lantas apa yang bakal terjadi jika saya memegangnya terus seperti ini selama beberapa menit?” Beberapa detik tak ada jawaban.

“Tak terjadi apa-apa,” hampir kami semua menjawab.

“Baiklah. Sekarang, apa yang bakal terjadi jika saya memeganginya terus seperti ini selama satu jam?” tanya Pak Herry.

“Tangan Bapak akan terasa pegal,” salah satu teman saya menjawab sekenanya. Terdengar tawa kecil dari beberapa teman.

“Bagus, bagus, bagus. Lantas apa yang akan terjadi jika saya memegangnya seperti ini selama sehari penuh?” tanya Pak Herry lagi.

“Lengan Bapak akan kram. Sejauh saya tahu dari keterangan Bu Siti Aniati, guru Biologi kami, Bapak akan mengalami stres otot dan paralysis;[1] bahkan mungkin Bapak harus dibawa ke rumah sakit untuk memastikannya!” saya menjawab; diikuti ketawa kompak terbahak teman-teman sekelas saya.

“Bagus. Bagus. Bagus … Tapi, selama waktu sehari itu, apakah berat dari gelas ini akan berubah?” tanya Pak Herry.

“Tidaaak!” Kami kompak menjawab.

“Lantas apa yang menjadi penyebab lengan pegal, stres otot, dan paralysis, dan bagaimana kalian mengira saya akan mengalami seperti itu?”

Kami saling memandang dan melempar kilatan mata, seolah mau menyingkap jawaban tersembunyi di balik mata kami masing-masing.

“Pak, taruh saja gelas itu!” kata Bambang Satriyo Yudiono, teman saya yang selama itu selalu menjadi juara umum setiap kali pengumuman kenaikan kelas.

“Ya. Tepat sekali!” kata Pak Herry. “Persoalan-persoalan hidup, entah politik, ekonomi, sosial, lingkungan, budaya, teknologi adalah sesuatu yang sama dengan gelas berisi air ini, bukan?”

Ia menoleh ke arah Bambang Satriyo Yudiono, sembari melanjutkan kata-katanya, “Bambang, benar sekali jawabanmu tadi. Kalau kau memegang gelas berisi air itu selama beberapa menit saja, gelas itu beres-beres saja.”

Kemudian pandang mata Pak Herry beralih menjelajah ke seluruh siswa. “Bayangkan seperti yang tadi saya lakukan. Coba kalian pikirkan gelas berisi air itu terus-menerus dan selama mungkin. Maka, jangankan tangan kalian, pikiran kalian pun akan mulai pegal, stres, dan paralysis; dan kalian tak akan dapat melakukan apa-apa.”

Preseden, Anteseden, dan Konsekuen

Dari Pak Herry yang secara formal mengajar Fisika dan Ilmu Ukur saya tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga esensi kebijakan di balik pelajaran Fisika dan Ilmu Ukur. Dari beliau saya memahami bukan saja struktur dan dimensi konkret-bendawi dari suatu kenyataan amatan, yang gilirannya membuat saya mencintai Fisika dan Ilmu Ukur; tetapi juga tentang struktur dan dimensi pikiran dan kejiwaan manusia yang berhubungan baik dengan kenyataan bendawi maupun manusiawi.

Peragaan Pak Herry membawa saya ke pemahaman bahwa sangatlah penting untuk menjawab tantangan (persoalan) hidup, namun jauh lebih penting untuk “menaruh persoalan” itu pada saatnya, yakni di setiap akhir dari momen kehidupan; di saat sebelum saya “berbaring untuk beristirahat”. Setelah lebih dari 30 tahun peristiwa peragaan itu berlalu, dan seolah mengeram saja di alam bawah sadar saya, mulai menetaslah insight saya untuk memahami gejala klinis kejiwaan seperti: kesulitan kerja, belajar, makan, tidur, dan having fun. Dengan “menaruh pada saatnya” kita terhindar dari rundungan stres dan mampu bangun di pagi hari dengan perasaan segar, lega, siaga; selanjutnya mampu menangani setiap masalah, tantangan, ancaman, dan peluang yang merekah bersama terbitnya fajar pagi.

Tampaknya, apa yang kita temukan dan temukan kembali selama siklus musim kehidupan ialah fakta bahwa kepemimpinan (diri sendiri) bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh para pemimpin berkharisma. Kepemimpinan adalah persoalan proses luar biasa pada orang-orang biasa yang memungkinkan mereka mengarahkan diri secara tepat, baik tertuju ke diri sendiri maupun ke diri lain.

Sekurangnya hal ini diyakinkan oleh hasil refleksi Barry Z. Posner, James M. Kouzes, dan Thomas J. Peters (2003) dalam buku mereka, “The Leadership Challenge: How to Keep Getting Extraordinary Things Done in Organizations.” Dengan “menaruh persoalan  pada saatnya”, kita membebaskan diri kita dan membangun kepemimpinan diri sendiri. Dengan membebaskan diri, segala yang luar biasa akan terjadi.

Kosa kata “kepemimpinan” adalah suatu kata kerja (verb), bukan kata benda (noun). Kepemimpinan adalah tindakan, bukan suatu posisi. Kepemimpinan perlu didefinisikan menurut apa yang kita lakukan, bukan menurut peran yang kita mainkan. Jika dicermati, banyak orang nampak cemerlang ketika memainkan “peran kepemimpinan” (leadership roles), yakni sebagai pengemban kursi pemimpin. Sebagian besar dari mereka terdiri dari para bos, “snoopervisor“, teknokrat, birokrat, manajer, komandan, kepala, dan semacamnya.

Sebaliknya, banyak orang tidak menyandang peran kepemimpinan formal, tetapi mereka adalah para pemimpin cemerlang sejati di tengah dunia yang berubah serba cepat ini. Inilah para pemimpin perubahan, pemimpin “presedensial” bukan “presidensial”. Mereka tidak hirau tentang peran formal yang sedang mereka bawakan, tetapi sadar penuh terhadap anteseden diri, lingkungan dan kejadian-kejadian; sadar penuh terhadap konsekuensi masa depan tindakan yang mereka kerjakan dan -yang paling signifikan- mereka senantiasa menciptakan preseden kebaikan.

Kepemimpinan Presedensial

Memimpin adalah menunjukkan arah jalan sembari tetap berjalan, memandu langkah sembari tetap menuju, mempengaruhi namun tetap mengendalikan diri untuk tidak menggiring pendapat orang lain. Dengan lain ungkap, memimpin adalah membuat presedensi dengan menyadari antesedensi dan mengantisipasikan konsekuensi sekaligus.

Pemahaman ini membuka keniscayaan bahwa kita semua tidak hanya mungkin, tetapi butuh menjadi pemimpin, terlepas dari ada-tidaknya judul atau peran formal. Proses menjadi pemimpin sama dengan proses menjadi manusia efektif. Perkembangan kepemimpinan adalah juga perkembangan personal. Leadership ultimately shows itself in what we do “out there”, but it starts “in here”.

Di tengah Anda sibuk mendamba pemimpin baru, pemahaman ini hendaknya menjadi kriteria keputusan Anda. Anda tak sedang menentukan pribadi mana yang akan menjadi presiden negeri ini, tetapi Anda menentukan siapa mitra yang paling sinergik untuk membuat preseden-preseden kebaikan bagi kecerdasan kehidupan bangsa ini dengan mempertaruhkan keseluruhan kapasitas kepemimpinan Anda. Semoga.

*) Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 6, Juni 2009.


ª Executive Director pada IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Email: iisa@visiwaskita.com. Artikel ini dimuat di Majalah Motivasi LuarBiasa, No. 6, Juni 2009.

[1] Ketidakberdayaan atau ketakmampuan menggerakkan otot.

Telah di baca sebanyak: 1356
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *