Artikel Writing Class for Teens

PENGALAMANKU ‘LIVE IN’ KENDAL


Oleh: Gunarti Evitamei Poetrodjojo, Alumni Batch III
Beberapa bulan lalu, akhir Bulan Juni 2012. Seminggu sesudah Ujian Akhir Semester Sekolah pada tanggal 1 s/d 6, saya bersama seluruh siswa siswi kelas X SMA Tarakanita Gading Serpong ditemani oleh 5 orang guru yan dipilih menjadi pendamping kami untuk pergi ke Kendal, Jawa Tengah untuk pelaksanaan salah satu program sekolah yangn setiap tahunnya diadakan yaitu, “LIVE IN”. Sekolah berkerja sama dengan masing masing Gereja sesuai dengan daerah/tempat yang sudah ditentukan oleh sekolah.

Sebelum berangkat “LIVE IN” saya diberikan banyak sekali pengarahan, dan persiapaan yang perlu diperhatikan selama saya berada di perjalanan dan saat melakanakannya. Seperti membawa oleh oleh untuk ‘orang tua angkat’ masing masing murid dalam bentuk makanan maksimal Rp 50rb, hanya boleh membawa uang sebesar Rp 20rb, membawa alat tulis (pensil, pulpen saja) melakukan 3S(Senyum ,Salam, Sapa) pada semua penduduk disana, tidak diperkenankan bermain/menemui dengan teman teman sedusun jika tidak ada perintah orang tua angkat, harus patuh kepada ‘orang tua angkat’ ,membawa baju apa adanya(sopan) serta sandal biasa(tidak mahal) semua itu untuk menjaga nama baik sekolah dan nama kita sendiri. Dan tidak lupa di beri tahu saya dapat bis 5 serta guru pendamping di bus berangkat pukul 8 malam tanggal 1 Juni, dan guru pendamping masing masing dusun.serta nomor hpnya Guru pendaming bus dan dusun saya kebetulan sama yaitu, Bpk Heru guru Mulog Home Industry saya.

Jumat, 1 Juni 2012, sorenya saya pergi ke Super Mall Karawaci untuk membeli oleh-oleh, sedikit makanan untuk perjalanan juga dan sandal sampai pukul 5. Pukul 6.30 malam saya diantar mama, kakak, dan adik saya untuk berkumpul disekolah. Saya membawa barang bawaan yang cukup banyak dan berat, Satu tas ransel kecil, satu lagi yang besar serta kantung plastik kosong didalam tas yang besar dan satu kantung platik berisikan oleh oleh.

Saat perjalanan ke sekolah langit sudah gelap. Saya sampai di lobi sekolah pukul 6.45. Saya melihat lampu gedung sekolah menyala dan bayak orang tua yang ikut mengantar juga. Saat saya masuk ke gedung sekolah, saya tidak melihat teman teman saya ternyata mereka ada didalam perpustakaan sedang berdoa bersama. Sebagian teman teman saya datang setelah saya saat doa selesai dan dilanjutkan dengan daftar nama siswa-siswi yang bisnya diubah. Lalu satu persatu siswa yang termasuk bis masing msaing dippanggil dan menuju bisnya. Bis 5 pun dipanggil saya dan teman teman satu bis berdiri dan keluar dari perpus. Saya dibantu mama dan adik saya membawa barang saya menuju parkiran dan mencari tempat duduk di bus.

Saya mencari bus saya ternya ada didepan bus 4 . Bus bus berurutan dari nomor 1-7. Bus nomor satu didepan loby gedung sekolah, aklau bus saya dipaling depan dekat pintu keluar tol SMA dibelakang bus 7.Saat di Bus mama saya memilihkan tempat duduk kenek disebelah supir, tapi saya tidak mau karena say takut duduk disitu ataupun dibelakangnya karena saya takut jatuh ketika rem mendadak. Jadi saya memilih 2 baris setelah kursi kenek. Saya duduk sendirian karena saya malas duduk berdua. Tapi adaa seorang murid dari bus lain ikut bus kami karena dipindahkan. Ia duduk Sampai pukul 9 semua bus bejalan keluar sekolah sebelumnya Pak Heru mengabsen murid muridnya di bus.

Ada perbaikan jalan yang mmbuat segala aktivitas lalu lintas menjadi lamban, dan sedikit macet.
Saat diperjalanan saya tidur tetapi seringkali terbangun karena kepala saya terjedut kaca terus, saya merasa kedinginan walaupun saya sudah memakai baju 2 lapis degan celana jeans panjang serta jaket dan selimut tipis, dan ketika hari masih gelap(subuh) bus kami sekolah saya salah jalur sehingga harus putar balik. . Sebagian teman teman terbangun dan kemudian mengacuhkan kejadian itu dan kembali tidur.

Pada pukul 5 atau 6 pagi saya ingin buang air kecil. Saya pun meminta Pak Heru untuk mengantar saya kebelakang bus. Pak Heru menerima permintaan saya dan ia memberitahu bahwa saya harus membawa botol air untuk menyiram kerana ait di ember habis Bus melaju kencang Pak Heru menjaga saya dari belakang, saat didekat toilet ada siswa laki laki tidur di depan pintu kemar mandi bus atau didepan tangga belakang bus. Pak Heru membukakan pintu toilet untuk saya. Kemudian saya masuk kedalam toilet . Saya mencoba untuk tenag dan berdoa supaya bisa pipis soalnya kalau ditahan ga enak rasanya. Tapi pada akhirnya saya tidak bisa pipis karena bus terlalu banyak bergerak membuat saya takut jath dan saya memutuskan untuk menyiram kloset dan keluar toilet.

Saya dan Pak Heru duduk ke tempat semuala…..

Sekitar pukul 5.30, Kami berhenti sejenak untuk buang air kecil di suatu pemberhentian di Tegal.Dan semua supir dan keneknya sarapan terlebih dahulu. Lalu kami naik ke bus lagi dan melanjutkan perjalanan kami.

2 jam kemudian kami sampai di Gereja Isodorus Kendal setelah bus kami mendaki sejauh ini. Kami turun dan mengambil barang bawaan kami ke dalam gereja. Setelah itu kami mengambil nasi bungkus dengan minum sebagai sarapan. Saya makan dengan salah satu teman sekelas saya dan temannya. Ia bernama Febi dan temannya bernama……. .
Temannya bercerita kalau tadi ketika di bus guru pendamping busnya mengigau ketika tertidur pulas sampai ternyungsap ke atas tangga. Guru itu Pak DJanto, guru BK. Katanya dia duduk di kursi paling depan di depan tangga pintu depan dan ketika ia mengiggau ia jatuh dan meminta tolong dengan berkata “TOLONG TOLONG” (suara dengan nada tinggi) dan ia terbangun dan sadar . Ia kira bahwa busnya jatuh kedalam jurang .Padahal itu dalam mimpinya. Supir terkaget karena supir mengira Pak Janto kesurupan bukan mengigau. Semua murid d bus itu tidak membantu ia bangun dari tangga malah teretawa terbahak bahak.

Selesai makan pagi semua murid temasuk saya mengambil barang masing masing di rungan. Dan siswa laki laki dari setiap dusun diiharuskan untuk membawa sembako dari gera unuk setiap keluarga disana. Lalu semua murid diwajibkan HPnya untuk dimatikan dan kemudian dititipkan ke Bu Cathrin. Seorang guru membagikan sebuah buku tipis yang menjadi buku renungan apa(dengan siapa, jam berapa, dimana) yang kita lakukan selama di dusun. Dengan tema “Mari Berbagi dengan sesama” Di halaman 4 buku tersebut terdaapat identitas buku murid yang harus diisi.

Setelah semua barang(tas-koper, sembako) ditaruh di atas truk, kami pun naik.
Sesudah kami semua naik truk jalan dengan pelan namun bagi kami yang diatas truk merasa terlalu kencang membuat angina menerpa wajah wajah kami. Saat diatas truk kami berteriak kesenangan ,jalnannya ancur dan menaik-turun lewat kebun karet sangat mengerikan sekali.

sekitar 1.30 jam kami sampai di dusun tersebut dan pembagian orang tua angkat .

Saya dan teman saya(Calista) mendapatkan ‘orang tua angkat’ yang merupakan petani dan produsen kompos kotoran sapi. Bapak angkat saya adalah Pontianus Suriadi sedangkan ibu bernama Siti Sundari. Keluarga angkat saya tiggal bersama kedua anaknya, Putri dan There, dan seorang nenek bernama Martinah Siti.

Rumah kami yang kami tempati berlantaikan tanah seperti ruang tamu, dapur, dan kamar ibu-bapak dan sedangkan lantai ruangan yang kami tidur beralaskan semen yang tingginya melebihi tinggi lantai tanah. Kamar yang kami tempati adalah kamar si mbah. Kamarnya cukup besar. Ada 2 lemari kayu milik mbah yang satu pintunya sudah miring dan yang satunya lebih bagus, ada cermin berukuran …… yang menghadap ranjang kayu.

Setelah itu saya dan Calista berkeliling ke rumah tetangga (rumah ortu angkat yang lain). Bertemu dengan orang baru dikenal itu sedikit menyenangkan.

Setiap malam sekitar pukul 19.00 diadakan doa arwah dengan berbahasa jawa. Saya dan teman teman mengikutinya.

Besoknya memulai kegiatan kita semua kecuali saya ikut pergi ke sawah. Saya disarankan untuk duduk di warung yang ada didepan rumah bpk angkat saya. Disitu saya menyadari bahwa saya merasa tidak nyaman di tangan sekaligus kaki saya. Ketika saya melihat ternyata ada 3 bentol yang merah di lengan kiri saya, dan 2 bentol kaki saya. Saya menggaruknya, tetangga saya memberikan minyak kayu putih.

Lusanya kami menggorek kotoran kerbau dan memasukan kekarung, bau nya tidak sedap dan jika diinjak kaki akan merasakan panas karena masih mengandung gas dan terlihat asap tipis dari situ.

Dan bentol saya makin lama makin banyak menyebar ke seluruh keki kiri kaki kanan dan tangan kiri tangan kanan. Saya pun melapor ke Pak Heru dan diberi saleb tetapi tidak mempan.
Pak Heru melapor ke guru wali kelas saya bu Cath. Wali kelas saya melapor ke mama saya. Tetapi mama saya tidak panic (biasa aja)

Hari terakhir pun tiba ,saya dibawa ke klinik disebelah gereja. Setelah diperiksa oleh dokter saya katanya cuma kelelahan jadi imun tubuh saya menurun menjadi alergi. Dokter memberi resep obat yang harus saya pakai

Sepulang LIVE IN saya sudah lemas sekali badan saya sudah panas meriang.Semakn banyak dan semakin gatal.
Saya diperiksakan ke teman mama katanya jangan digaruk nantinya akan menyebar kemana mana.

Seminggu setengah kemudian baru sembuh meski sampai sekarang bekas yang menghitam di tangan di kaki tidak bisa hilang.

Vita dapat dihubungi di Email: mrs.djoja@gmail.com; FB: Gunarti Evitamei Po


Telah di baca sebanyak: 2472
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *