Surya Rachmannuh

Pengembangan SDM Indonesia


Tulisan ini saya ambil dari diskusi antara 4 panelis dalam Launching acara Mini Workship Series tanggal 15 September 2009 yang terdiri dari Ibu Mooryati Sudibyo, Bapak Michael dari Combi Phar, Bapak Koes dari Astra Management Development International, Ibu Neli dari Manulife.

Acara ini dipandu oleh Anthony Dio Martin yang membuka panel diskusi dengan slogan dari Andrew Carnegie yang mengatakan bila anda mengambil alih perusahaan miliknya maka di masa yang akan datang akan berdiri pabrik baru dengan teknologi yang lebih baik namun bila anda mengambil SDM terbaiknya maka cepat atau lambat area pabriknya akan ditumbuhi rumput saja. Ini membuktikan bahwa pengembangan SDM menjadi area yang penting.

Menurut Pak Michael pada sesi awal diskusi bahwa Pemerintah kurang memberikan dukungan perihal rangking Indonesia yang mencapai Top Ten Worst dalam segi mutu SDM dan peran HR dinilai masih berkisar pada Recruitmnet dan administrasi saja, peran HR sebagai partner bisnis belum berkembang, ini yang membuat perkembangan pasar menjadi terhambat karena pengembangan mutu SDM tidak sesuai dengan tuntutan bisnis atau persaingan pasar yang berkembang dengan pesat sekali.

Diberikan juga sebuah gambaran tentang era apakah sekarang ini. Seperti yang kita ketahui bahwa pertama-tama adalah era pertanian atau tanah, dimana siapa yang memiliki tanah paling banyak, itulah orang yang berkuasa untuk menguasai perekomian, era ini kemudian berubah menjadi era industri sejak ditemukan mesin uap oleh James Watt, era berikutnya adalah era informasi, bahkan sekarang sudah memasuki sebuah era yang bernama “Talent” dimana sekarang banyak perusahaan melakukan sebuah “Talent Management” bagi pengembangan organisasinya.

Sedangkan menurut pendapat Bapak Koes, pengelolaan SDM kita seperti ini seperti pedagang buah mendapatkan buah. Bila buahnya tidak matang, maka mungkin buah itu akan di “prem” supaya matang, bila buahnya tidak manis, maka buah itu disuntik dengan gula sintesa agar didapat buah yang manis, jadi kita belum fokus kepada proses dimana buah itu ditanam, disiram, diberikan pupukn karena seperti prinsip Tanam Tuai, bila orang kekurangan gizi maka hasilnya adalah busung lapar dan sangat memprihatinkan adalah bentuk fisik sekolah yang tidak memadai dan terus dibawa sebagai kandidat calon pekerja yaitu sampai jenjang universitas. Bagaimana kita mampu mendapatkan calon SDM yang baik bila akar masalahnya tidak diperbaiki.

Di Manulife, yang merupakan wakil dari industri asuransi, diterapkan sebuah sistem untuk meningkatkan kemampuan SDM lewat sebuah kompetisi. Mereka memberika sistem aturan yang jelas sehingga setiap orang yang mampulah yang akan mencapai peringkat terbaik sedangkan yang tidak mencapai target akan mundur dengan sendirinya (hukum alam) dan yang perlu di garis bawahi adalah bukan berarti semua orang bisa naik pangkat, pangkat memang terbatas namun setiap orang sudah dapat menetapkan komitmennya dari awal untuk berhasil dan semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai jenjang karir berikutnya.

Ibu Mooryati menyoal isu SDM ini tentang pentingnya pendidikan masa kecil kita yang sangat mempengaruhi budaya belajar di Negara kita ini. Mereka seharusnya belajar dari rumah, sehingga saat menjadi karyawan mereka sudah terbiasa memimpin dan penting kita sebagai atasan mampu mengerakkan karyawan kita agar mau belajar yang dikaitkan dengan prestasi.

Dikatakan bahwa rata-rata orang itu biasa-biasa saja, mediocre. Bisa memulai namun tidak mengakhirinya, serba tanggung istilahnya. Sebelum budaya pembelajaran berkembang di Astra, mereka lebih dulu mengembangkan budaya keunggulan. Ini dilatar belakangi seringnya Astra berhubungan dengan perusahaan-perusahaan principal di Jepang seperti Toyota dan Honda. Jadi Astra tidak di desain dari awalnya untuk menjadi sebuah organisasi pembelajar. Mereka mengimpor manajemen mutu seperti Total Quality Management (TQM), Quality Control Circle (QCC) untuk membangun budaya keunggulana lewat semangat kaizen atau Continuous Improvement (CONIM).

Hal ini dibuktikan dengan adanya konvensi CONIM Astra yang dimulai sejak tahun 1984 sampai sekarang yang mendorong sebanyak mungkin peningkatan-peningkatan yang berkesinambungan. Apakah mungkin orang melakukan peningkatan tanpa belajar? Tidak mungkin kecuali dapat wangsit dari langit.

Menurut Bapak Michael lewat pendidikan yang tepat lah kita dapat menciptakan budaya organisasi ini karena kebanyakan orang Indonesia tidak mau diajari, budaya disiplin misalnya, di Indonesia hal ini tidak mudah diterapkan namun kalau di luar negeri, banyak orang Indonesia yang menjadi disiplin juga pada akhirnya, sehingga peran pemimpin atau Leader sangat penting untuk menjadi teladan dan ini membutuhkan komitmen yang tinggi bagi para pemimpin untuk mengubah perilakunya terlebih dulu sebelum diikuti oleh bawahannya.

Jadi, budaya itu penting. Begitu juga dengan disiplin, pola pembelajaran lewat kepemimpinan supaya mendapatkan hasil yang kita inginkan dan adanya sebuah pola peningkatan terus menerus sangat penting bagi kemaajuan bangasa Indonesia.

*) Surya Rachmannuh lahir di Jakarta 1970, lulusan S1 dari Bunda Mulia dan S2 dari Jakarta Institute of Management Studies, Certified ISO Lead Auditor dari SGS, Certified Webmaster dan Problem Solving & Decision Making. Aktif di PT. Kalbe Farma, tbk sebagai “Training Specialist”. Hasil tulisan Alumnus Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller batch XI” ini dapat dilihat di www.webiddesign.com dan suryarachmannuh.blogspot.com

Telah di baca sebanyak: 2440
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *