Her Suharyanto

PERENCANAAN KEUANGAN, MEMBANGUN SIKAP KIKIR?

20 Mei 2008 – 11:17 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: editor

(Rate: 6.50 / 4 votes)

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan e-mail dari Pak Himawan di Solo. Begini e-mail-nya: Saya banyak disarankan teman untuk belajar melakukan perencanaan keuangan, bisa lebih bijak mengelola pemasukan dan pengeluaran. Suatu saat saya coba buat secara sederhana. Tetapi apa yang terjadi? Saya tiba-tiba berubah menjadi kikir. Beberapa pengeluaran yang rekreatif maupun untuk kesenangan pribadi saya pangkas. Lama kelamaan saya jadi berpikir, lho perencanaan membuat saya malah jadi orang “perhitungan”. Mau gini takut hilang duit, sampai-sampai kesenangan pribadi dikorbankan begitu saja.

Menurut Bapak Suharyanto, apakah manajemen keuangan pribadi membuat kita tertekan? Membuat kita jadi orang perhitungan? Malah, membuat kita kikir? Saya bermaksud berhenti bikin perencanaan menyesakkan itu. Benarkah langkah saya ini? Atau Bapak punya saran lain?

Atas e-mail tersebut di atas saya membalasnya demikian:

Pak Himawan,

Saya ingin mengajak Pak Himawan melihat perencanaan keuangan dari dua sisi, yakni (pertama) tujuan dan (kedua) langkah-langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama, ketika kita hendak membuat perencanaan keuangan, perlu jelas dulu bagi kita sendiri apa tujuannya. Jelas bahwa dalam hal ini setiap orang punya tujuan yang berbeda. Ada yang ingin agar sekadar bak-buk (tidak sisa, tidak utang) di akhir bulan; ada yang ingin bisa menabung rutin untuk membiayai pendidikan anak tiga, enam atau sembilan tahun mendatang; ada yang ingin agar bisa menabung supaya ketika pensiun kelak tidak akan merepotkan anak cucu; ada pula yang ingin kaya.

Apakah kondisi ekonomi seperti itu menjadi tujuan akhir? Bisa jadi ada orang yang demikian. Tetapi yang lebih pasti adalah bahwa orang menginginkan kondisi ekonomi seperti itu agar bisa hidup lebih sejahtera, lebih bahagia. Benar bahwa uang tidak menentukan kebahagiaan seseorang, tetapi kenyataannya uang memang penting. Untuk sekadar makan sekali sehari pun diperlukan uang. Bahwa Pak Himawan berpikir untuk “tidak pelit” pada diri sendiri adalah tanda bahwa Pak Himawan merasa perlu “bebas” membelanjakan uang Pak Himawan sekarang.

Selanjutnya kalau tujuan sudah ditetapkan, bagaimana tujuan itu bisa dicapai? Di sinilah tempat dari perencanaan keuangan. Sebenarnya perencanaan keuangan bisa disederhanakan begini: Bagaimana mengoptimalkan pendapatan dan bagaimana menekan pengeluaran demi tujuan akhir yang sudah ditetapkan.

Dalam cara pandang demikian sebenarnya setiap orang pasti sudah melakukan perencanaan keuangan. Ada yang mengambil cara yang keras atau ketat, ada pula yang memakai cara yang longgar, santai. Nah, perencanaan keuangan sebenarnya sekadar membantu orang melakukan akselerasi atau penyesuaian atas cara terhadap tujuan yang sudah ditetapkan. Kalau orangtua dari dua orang anak ingin menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana (atau bahkan S2 atau S3) tetapi tidak pernah bisa menabung, tentu ada yang harus disesuaikan: harus mulai menabung atau tidak bisa membiayai pendidikan anak pada jenjang yang lebih tinggi. Bisa juga kita tidak menabung, dan pada waktunya kelak kita bisa pinjam misalnya. Tetapi ini hanya akan menunda pengetatan keuangan karena pada gilirannya kita harus membayar utang tersebut.

Menurut hemat saya, ketika kita sudah berbicara mengenai tujuan, kita tidak akan lebih rela untuk tidak menikmati apa yang mungkin bisa kita nikmati sekarang. Demi pendidikan anak di masa mendatang rasanya setiap orangtua rela untuk sekadar tidak nonton bioskop dan menggantinya dengan menonton televisi atau VCD di rumah, mengganti kopi di coffee-shop dengan kopi tubruk di rumah, tidak minum air dalam kemasan tetapi air rebus dari rumah. Apakah itu berarti pelit dan kikir? Pertama ketika orang berpikir tentang tujuan yang mulia, rasanya dia tidak akan khawatir disebut kikir. Mari kita bandingkan dengan ketika kita berpuasa. Kita tidak makan bukan karena kikir pada diri sendiri, tetapi karena kita menahan diri karena ada tujuan mulia di balik rasa lapar dan dahaga kita.

Kedua, bukankah “kikir” hanyalah label, cap atau stempel? Kalau kita yakin yang kita jalani benar, mengapa kita melabeli diri sendiri dengan cap yang negatif? Mengapa penghematan yang kita lakukan tidak kita beri label yang lebih positif seperti “pengorbanan untuk keluarga”, “bukti cinta kepada anak-anak”, “tanda kasih sayang pada keluarga”, atau label lain yang lebih memberi semangat?

Bagaimana menurut Panjenengan, Pak Himawan?[her]

* Her Suharyanto adalah trainer, konsultan, penulis independen, dan editor ekonomi. Ia dapat dihubungi di: her_suharyanto@hotmail.com.

Telah di baca sebanyak: 1262
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *