training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaNews Feedtraining motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaComments Subscribe to training motivasi – pelatihan menulis – training for trainers – pembicara publik – founder: andrias harefaSitemap

Pesan Ibu

September 13, 2009 by  
Filed under Andrie Wongso

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, “Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

“Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang.”

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. “Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.”

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, “Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

“Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.”

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

Teman-teman yang luar biasa,

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso

Telah di baca sebanyak: 22

Random Posts

Rating This Post

Comments

10 Responses to “Pesan Ibu”

  1. Agung Praptapa on September 13th, 2009 11:09 pm

    Good story. Menyentuh dan memotivasi!

  2. Emmy Liana Dewi on September 14th, 2009 4:01 pm

    An inspirative story! Bagaimana cara mengharagai kehidupan diri sediri.

  3. Anita on September 17th, 2009 5:51 pm

    Setinggi-tingginya harga diri adalah tidak meminta apalagi mengemis.

  4. Yosafati Gulo on September 19th, 2009 7:35 pm

    Sungguh menghentak nurani. Tekadang tidak disadari bahwa melihat dengan mengandalkan mata biologi sering menimbulkan kesalahan fatal. Cerita ini mengajak siapa saja untuk mendahulukan penglihatan secara nurani baru memberikan respon. Salam luar biasa!

  5. Semy Zega on September 19th, 2009 9:25 pm

    The Best Story….. Luar Biasa…..

    Kita harus menjalani hidup ini dengan kejujuran dan HATI YANG TULUS, tidak mengandalkan bantuan orang lain tetapi harus berjuang terus tanpa mengenal lelah……

  6. Eko Nurcahyanto on September 21st, 2009 9:52 am

    Aku tidak sadar kalau selama ini ternyata hidup dari pemberian orang lain. Bagaimana tidak. Gaji sdh habis bulan2 kemarin. Thr, beasiswa, tunjangan.

  7. jonathan on September 27th, 2009 1:11 am

    walah master2 ini pada lebay(berlebihan) deh kasih komentar bahwa tulisan ini bagus, bagi saya cerita ini sedikit kontradiktif. Disatu sisi si anak diajarkan untuk tidak mendapatkan uang dengan cara mengemis melainkan dengan usaha(positif), tetapi si anak memberikan uangnya ke pengemis(itu negatif).

    menurut pendapat saya, kesimpulan dari cerita pak andrie adalah “kita wajib berusaha dan bekerja keras untuk mendapatkan yang kita cita2kan serta pantang untuk mengemis tapi kita boleh untuk membiasakan orang lain mengemis”. :)

    cerita yg hampir inspiratif….

  8. Zirhci on September 29th, 2009 3:01 pm

    Sungguh cerita anda begitu menyejukkan hati saya….sngt menggugah hati saya

  9. Mabrur on January 24th, 2010 10:32 pm

    Mental yang baik muncul melalui sebuah proses pengalaman yang panjang.
    Inspiratif sekali. Terima kasih

  10. Mukhrisotun khasanah on November 25th, 2010 11:23 am

    MENTAL yg baik muncul dari pengalaman, sebuah cerita yg menyentuh hati.

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top