Surya Rachmannuh

Pestanya Langsung Bubar

Sekumpulan pedagang rokok yang berjumlah 4 orang di mulut halte Kalideres sedang jongkok sambil asyik bersenda gurau. Tiba-tiba terdengar bunyi “Sreg, sreg. Sreg, sreg”, yang ternyata berasal dari sapuan seorang penyapu jalanan yang sedang bertugas lengkap dengan seragam baju, celana panjang dan topi yang berwarna oranye ditambah dengan penutup wajah berwarna putih sehingga hanya menyisakan matanya saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugasnya itu persis ditrotoar tempat mangkal ke empat pedagang rokok tadi.

Dalam sekejab, pesta obrolan pedagang rokok itu pun bubar total. Dua orang segera bergerak kearah sebelah kiri untuk kembali melakukan tugasnya sedangkan dua orang lainnya masih melanjutkan obrolannya itu. Uniknya, tidak ada satu orang pun yang tersinggung akibat ulah sang penyapu jalanan itu yang tanpa permisi tersebut, mungkin mereka menyadari bahwa memang itu sudah menjadi kewajiban sang penyapu jalanan sekaligus membubarkan kumpulan itu sekaligus menyadarkan mereka supaya kembali ke tugasnya masing-masing.

Peristiwa “Sang Penyapu Jalan” yang tetap fokus melakukan tugasnya tanpa permisi ini sangat baik menjadi refleksi bagi kita semuanya. Memang tidak salah apabila kita fokus pada pekerjaan dan alangkah baiknya apabila kita juga memperhatikan keadaan sekitar dan peduli akan perasaan orang lain di dalam melakukan tugas kita sehari-hari. Petugas itu dapat saja memberikan kata-kata peringatan dan dengan menggunakan isyarat lewat bahasa tubuhnya agar para pedagang rokok itu bisa mundur atau kembali ke tempat tugasnya masing-masing yaitu menjajakan dagangannya. Namun secara tidak sadar kita diperlihatkan pada sebuah sikap yang seakan berbicara, “Bubar, bubar, ayo bubar. Saya sedang kerja dan kok kalian juga masih asyik-asyiknya ngobrol sih.” Mungkin begitu kira-kira maksud hatinya lewat perbuatannya yang tanpa permisi tersebut.

Nah, insight untuk kita hari ini adalah apabila anda seorang atasan atau rekan kerja yang memang memerlukan sebuah area yang memang masih menjadi tugas dan tanggung jawab kita, maka sebaiknya kita dapat memintanya dengan sopan maksud dan tujuan kita yang mungkin bersinggungan dengan orang lain supaya orang dapat menghargai pula segala sikap dan tingkah laku kita di dalam kehidupan sehari-hari, bila seorang penyapu jalan dapat kita maklumi, apa jadinya kita sebagai profesional juga melakukan hal yang sama, pasti tidak akan disukai orang karena menunjukkan sikap yang egois dan kecenderungan arogan kepada orang lain.

Mungkin maksud dan tujuan kita sebenarnya baik yaitu untuk membubarkan kerumunan supaya mereka kembali bekerja. Walaupun anda adalah seorang atasan, saya pikir kita masih dapat melakukan yang terbaik seperti dengan melakukan pendekatan yang asertif dengan cara ikut dalam pembicaraan, siapa tahu lewat obrolan santai datang ide-ide kreatif dan inovatif di dalam mencapai tujuan anda bersama di kantor atau ditempat kerja anda. Jadi janganlah dulu bertindak yang diluar harapan orang walaupun dia adalah bawahan anda, suatu saat dia juga mempunyai potensi untuk menjabat sebagai seorang pimpinan seperti anda.

Dan untuk kita semua yang kita ambil hikmahnya dari kumpulan pedagang rokok itu, para pedagang itu seharusnya harus menyadari bahwa lewat kerja keras dan tujuan yang benarlah yang akan membawa mereka ke taraf kehidupan yang lebih baik apalagi bila dikaitkan dengan value atau nilai, bagi sebagian orang profesi pedagang rokok adalah sebuah hubungan yang Menang-Kalah dalam arti ketika para pedangan rokok itu mendapatkan keuntungan berupa uang, yang juga tidak seberapa itu pula, mereka seakan memberikan pelayanan kepada pelanggannya sebuah potensi untuk mengalami gangguan pada saluran napas seperti paru-paru, dan efek negative lainnya. Kita memang dituntut selalu melakukan introspeksi atas segala tindakan yang kita lakukan apakah membawa kita menjadi lebih benar dan baik ataukah hal yang sebaliknya.

Bila kita mengilustrasikan dari profesi seorang penyapu jalan, ada sebuah pernyataan bahwa apabila profesi kita seperti penyapu jalan itu, semangatnya adalah biarlah kita melakukan tugas pekerjaan kita itu dapat dipuji oleh seorang Malaikat yang mengatakan bahwa “Dialah seorang petugas penyapu jalan yang terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.”

Bagaimanakan dengan kita? Apakah selalu memberikan yang terbaik pada setiap apa pun yang kita ingin atau dapat kita lakukan untuk memberikan hal yang lebih baik pada setiap orang? Saya yakin dan percaya lewat pikiran yang berkembang menjadi sebuah tindakan, tindakan yang berkembang menjadi sebuah kebiasaan dan kebiasaan baik yang menjadikan kita mempunyai karakter-karakter orang baik seperti jujur, layak di percaya, dan karakter baik lainnya lah yang akan mengubah nasib kita dan itu semuanya terangkum dan selaras dengan hukum alam yang ada di dunia ini.

Dan sebagai kata penutup, ingatlah pepatah atau hukum Tanam Tuai berikut ini yang berlaku untuk semua orang. Apa yang orang Tanam, itu juga yang akan dituainya nanti.

Salam Champion.

*) Surya D. Rachmannuh; Competency Based Trainer. Kolomnis tetap di www.pembelajar.com ini adalah praktisi training dalam bidang pelayanan prima, personal effectiveness, problem solving and decision making, pelatihan Leadership dan Management lainnya. Certified Lead Auditor dan Webmaster ini dapat dihubungi di Hp : 0819 3210 5388 atau www.webiddesign.com, surya.rachmannuh@yahoo.co.id, suryarachmannuh.blogspot.com

Telah di baca sebanyak: 1378
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *