Andrias Harefa

Peta yang Salah


Belajar di sekolah kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa kita melihat dunia sesuai dengan peta realitas yang bermukim di kepala kita. Peta realitas bukan realitas itu sendiri. Sama seperti peta Indonesia bukan wilayah Indonesia yang sesungguhnya; peta Medan bukan kota Medan itu sendiri; peta Bandung bukan kota Bandung itu sendiri; dan semua peta bukanlah kenyataan yang sesungguhnya. Peta hanyalah penggambaran atas suatu wilayah, tetapi bukan wilayah itu sendiri. Wilayah tak bisa salah, karena ia merupakan fakta, kenyataan, apa adanya. Namun, peta bisa (atau bahkan sering) salah, sebab ia merupakan gambar yang dibuat oleh orang tertentu, dengan asumsi-asumsi dan tujuan tertentu, dalam keadaan dan cara tertentu. Dan jika peta yang kita pegang sebenarnya keliru—sementara kita tidak menyadari kekeliruan tersebut—maka kesimpulan yang kita ambil dalam hal tertentu boleh jadi akan sangat keliru.

Sebagai contoh, seorang kawan saya pernah menuturkan pengalamannya mencari tempat pondokan di Bandung, paruh kedua tahun 1970-an. Tidak seperti rekan-rekan perantauan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mudah dapat pondokan, kawan yang datang dari tanah Batak ini ternyata sulit menemukan pemilik pondokan yang mau menerimanya. Dan setelah ditolak disana-sini, akhirnya ia mendapatkan pondokan yang semua penghuninya orang Batak (rumah kontrakan). Baru belakangan ia ketahui bahwa penolakan yang diterimanya itu disebabkan oleh perbuatan perantau-perantau Batak terdahulu, yang suka kabur dan tidak membayar uang pondokan. Hal mana membuat para pemilik pondokan ”memandang” semua perantau Batak akan berbuat demikian. Artinya, sejumlah pemilik pondokan di Bandung memiliki ”peta” bahwa perantau dari Batak ”semuanya suka kabur dan tak membayar sewa pondokan sebagaimana mestinya”. Lalu semua orang Batak diperlakukan sama dan sebangun sesuai dengan ”peta” di kepala para pemilik pondokan tersebut.

Tentu saja peta mental yang demikian itu tidak sepenuhnya benar. Ada yang tidak lengkap, cacat, tak sempurna. Ia hanya merupakan perampatan (generalisasi) yang berlebihan. Namun, siapa yang bisa melarang orang membuat ”peta realitas” di kepalanya sendiri? Siapa yang bisa melarang jika ada sementara orang yang menganggap warga Tionghoa selalu bertindak asosial dan apolitik? Siapa yang bisa melarang persepsi tentang perempuan Sunda dan Manado sebagai tukang dandan dan pesolek? Siapa yang bisa menolak untuk dianggap plintat-plintut tidak bisa tegas, hanya karena ia lahir di Yogya atau Solo? Atau siapa yang bisa mewajibkan setiap orang untuk percaya bahwa masih ada penegak hukum di republik bernama Indonesia ini yang konsisten anti korupsi dan kebal suap?

Peta kita terhadap realitas tak bisa dipaksa oleh orang lain, tetapi kita bangun sendiri berdasarkan pengalaman sejak kecil, digabungkan dengan pengetahuan dan wawasan sebagai hasil pembelajaran pribadi, dan dipengaruhi pula oleh ambisi dan cita-cita pribadi. Peta kita terhadap realitas tak bisa dijangkau oleh aturan perundang-undangan yang berlaku. Peta kita terhadap realitas beroperasi dalam diri kita, membentuk sikap dan perilaku kita sehari-hari.

Secara amat jenaka, kesalahan kita dalam mempersepsi realitas kehidupan bisa diilustrasikan oleh cerita tentang tukang cukur yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan, seperti yang beredar di sejumlah milis internet. Berikut kutipannya:

Seorang pria datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan jambangnya. Sambil mulai memotong rambut pria tersebut, tukang cukur itu mengajak konsumennya itu untuk memperbincangkan sejumlah topik yang hangat. Mulai dari soal cuaca, beralih ke situasi ekonomi, menteri-menteri yang tak becus bekerja, harga BBM yang makin mahal tak karuan, dan akhirnya perbincangan sampai ke soal-soal iman dan keberadaan Tuhan.

”Saya tidak percaya Tuhan itu ada,” kata tukang cukur mantap. Seolah-olah ia sudah memeriksa alam semesta dan tidak berhasil menemukan Tuhan.

“Kenapa kamu berkata begitu ?” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada orang sakit? Mengapa ada anak-anak terlantar? Mengapa ada orang jahat, perang dan bencana? Mengapa koruptor bebas berkeliaran, sementara orang jujur hidup dalam kesusahan? Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi, kalau IA benar-benar ada. Iya ’kan?”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak menemukan jawaban yang tepat. Ia tak ingin berdebat kusir. Apalagi tukang cukur telah menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah membayar, pria itu pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Baru beberapa langkah dari tempatnya bercukur, ia melihat ada orang-orang di jalan dengan rambut yang panjang dan terurus. Ada juga yang rambutnya berombak kasar, ada yang keriting, dan semuanya nampak begitu kotor. Sebagian orang nampak memiliki jambang yang tak terpelihara, kusut tak karuan.

Pria itu seolah-olah mendapatkan ilham. Ia kembali ke tempat tukang cukur dan berkata,”Kamu tahu, sebenarnya tidak ada tukang cukur di kota ini.”

Terkejut dengan pernyataan itu, si tukang cukur bertanya, “Kamu kok bisa bilang begitu? Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu! Apa itu tidak cukup jelas?”

“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang dan kotor, berjambang kusut tak karuan seperti orang-orang yang di luar sana.”

“Oh, itu salah mereka sendiri. Kalau mereka datang pada saya dan bercukur, mereka pasti akan nampak lebih rapi,” sanggah si tukang cukur.

”Persis!” kata pria yang habis bercukur itu. “Itulah pesan utamanya. Sama dengan Tuhan yang Anda katakan tadi. Tuhan itu ada. Tetapi, banyak orang tidak mau datang kepada-Nya, dan tidak mau mencari-Nya, sehingga hidup mereka dibebani banyak masalah.”

Si tukang cukur terbengong!

Cerita di atas bisa dipahami dengan berbagai cara. Bagi saya sendiri, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari cerita semacam itu adalah: sebuah analogi yang cerdas bisa menjawab pertanyaan yang rumit sekaligus menghindarkan kita dari kecenderungan debat kusir yang tak berujung. Pria yang sudah bercukur itu tidak berdebat dengan si tukang cukur tentang apakah Tuhan ada atau tidak. Ia hanya meminjam fakta lain di sekitarnya untuk menolong si tukang cukur menyadari bahwa petanya tentang Tuhan (bahwa Tuhan itu tidak ada) bukanlah kebenaran tentang ada tidaknya Tuhan. Ada tidaknya Tuhan tidaklah ditentukan oleh pemahaman, pengertian, atau pun pengakuan si tukang cukur tersebut. Sama seperti ketika orang merasa Tuhan tidak adil, tidak dengan sendirinya berarti Tuhan benar-benar tidak adil, bukan?

Begitulah. Peta realitas, persepsi, asumsi, cara pandang, atau paradigma kita mendikte sikap dan perilaku kita sehari-hari. Dan bila banyak persoalan muncul dalam kehidupan, kita mungkin perlu memeriksa kembali sudah benarkah perilaku kita, atau sudah tepatkah sikap-sikap yang kita pilih? Jangan-jangan inti masalahnya justru bertumpu pada peta realitas, sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar perilaku atau sikap? Jika masalahnya menyangkut peta realitas, persepsi, asumsi, cara pandang, atau paradigma, maka solusi paling tokcer adalah metanoia alias pertobatan. Begitukah?

Tabik Mahardika!

*Andrias Harefa
Penulis 30 Buku Best-seller — Pendiri WRITERSCHOOL

Telah di baca sebanyak: 1117
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *