Artikel Writing Class for Teens

PICTURES PAINT A THOUSAND WORDS


Dulu selagi saya kecil sampai remaja, saya suka bingung melihat mama menangis tiap kali membuka-buka album foto lama kami. Banyak hal lucu yang kami tertawakan, sambil saling tunjuk, memperlihatkan foto-foto kami sewaktu kecil. Tapi tawanya mama juga selalu sambil menangis dan itu membuat saya bingung. “Kenapa sih, orang lucu kok, malah nangis,” begitu selalu pikir saya. Sekarang, setelah menjadi ibu, ternyata saya pun kadangkala spontan berkaca-kaca atau hampir menangis tiap kali melihat foto-foto lama.

Foto ternyata menyimpan banyak cerita. Lihat saja ketika saya melihat foto anak-anak ketika mereka kecil atau ketika hari pertama mereka bersekolah. Saya ingat ketika melepas mereka hari itu, betapa berkecamuknya perasaan saya menyaksikan mereka harus belajar berjalan sendiri ke ruang kelas, melakukan banyak hal diluar pengawasan saya, bahkan tanpa saya. Pertanyaan seperti “…akankah mereka bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan saya?” atau “…dia masih terlalu kecil untuk dilepas sendirian…” selalu menghantui pikiran saya pada saat-saat seperti itu. Foto si sulung dengan adiknya yang masih bayi mengingatkan saya akan perasaan sedih saya, melihat si kakak yang duduk sendirian di taman karena saya sedang sibuk mengurusi adiknya yang baru lahir. Melihat foto ulang tahun anak saya yang ke-5 mengingatkan saya akan kekesalan dan kekecewaan saya karena ayahnya belum juga muncul dari kantor padahal sebentar lagi acara tiup lilin dimulai. Atau lihat saja ketika saya melihat foto saya sewaktu kecil bersama kakak dan adik saya. Semua memori yang tersimpan seperti terurai lagi satu per satu, tidak terbendung.

Teringat ketika kami main sepeda sama-sama, bertengkar, main hujan, berlibur, makan sate tiap akhir minggu, dan seterusnya. Ditambah lagi dengan perasaan sentimentil seperti, ah… sekarang situasinya tidak bisa seperti itu lagi. Kami masing-masing sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Walaupun kami tentu menyimpan dalam hati masing-masing, kalau kasih antar saudara mestinya tak lekang oleh waktu, walaupun kami jarang bertemu atau menghabiskan waktu sesering dulu kala. Tentu banyak hal yg juga mama pikirkan ketika melihat foto-foto lama album keluarga kami.

Tak heran mama selalu berkomentar mengingatkan peristiwa ini dan itu ketika melihat satu foto, sambil sesekali menyeka hidung dan matanya. Seiring dengan usianya yang terus bertambah, menyaksikan masing-masing kami bertumbuh besar, mungkin juga sesekali beliau berpikir , “…duh… dulu kamu lucu sekali waktu kecil… sekarang sudah besar sudah bisa kurang ajar!” heheheeee…. Bisa jadi saya akan berpikir yang sama di masa nanti, ketika anak-anak sudah beranjak dewasa dan tidak membutuhkan saya lagi seperti saat ini. Hmmm… Saya jadi mengerti kenapa mama suka menangis ketika melihat foto-foto lama kami. I think we all know… that a picture paints a thousand words…

*Penulis dapat di jumpai di: www.hotmaabigail.wordpress.com


Telah di baca sebanyak: 18285
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *