Kolom Bersama

Pilih Kaya atau Bahagia?

Oleh: Agus Riyanto

Hampir setiap orang yang hidup di dunia ini pasti jika ditanya apa mereka ingin hidup kaya, pasti akan menjawab “ya”. Umumnya kita ingin hidup di dunia ini berkecukupan materi, atau bila memungkinkan inginnya kaya raya. Memiliki rumah bagus, kendaraan mewah, perhiasan, deposito yang banyak, dan lain-lain.

Sekarang masalahnya, apakah dengan hidup kaya saja kita akan merasa puas dengan apa yang kita miliki? Mungkin kita telah memiliki segala benda duniawi yang menjadi simbol kekayaan, namun sebenarnya itukah yang kita cari?

Banyak kita lihat di sekitar kita, orang-orang yang telah mencapai puncak karier dan hidupnya berlimpah harta, namun bila kita perhatikan hidup mereka bukanlah hidup yang ideal. Misalnya saja seorang menteri, gubernur, anggota DPR atau pejabat tinggi negara lainnya yang sering kita lihat di berita televisi. Karier mereka sudah sampai puncak dan hidup mereka berlimpah harta, namun tiba-tiba kita dikejutkan dengan berita penangkapan mereka oleh KPK atau pihak yang berwajib. Ternyata mereka telah melakukan tindak pidana korupsi atau tindakan tidak terpuji lainnya yang merugikan negara dengan jumlah besar.

Atau mungkin seorang pengusaha yang pasti hidupnya berlimpah harta namun selalu merasa tidak tenang karena dikejar-kejar polisi. Kekayaan yang ia dapatkan ternyata dari bisnis yang haram, seperti illegal logging, narkoba, judi atau yang lainnya.

Ada juga pegawai/karyawan biasa saja namun terlihat kaya raya, padahal dia tidak memiliki bisnis atau pekerjaan sampingan. Setelah beberapa waktu kemudian ternyata ketahuan dia telah menggelapkan uang negara atau perusahaan tempat dia bekerja.

Orang-orang seperti contoh di atas mungkin secara materi mereka memiliki kekayaan berupa harta benda duniawi, namun mereka bisa dipastikan tidak akan merasakan kebahagiaan dan kedamaian dari apa yang telah mereka miliki. Mereka sebenarnya tahu bahwa apa yang mereka miliki bukanlah sesuatu yang pantas mereka nikmati, namun hawa nafsu telah menutupi hati mereka sehingga buta dengan halal dan haram. Prinsip kebenaran di hatinya telah dikalahkan oleh nafsu serakah yang menguasai dirinya sehingga ia mau dengan sadar berbuat bodoh dengan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, bahkan sampai merugikan orang banyak.

Banyak juga orang yang ingin kaya kemudian mengambil jalan pintas dengan cara pergi ke dukun, memelihara pesugihan, atau melakukan hal-hal di luar akal sehat lainnya. Mereka mempercayai bahwa memiliki kekayaan adalah yang sangat penting dalam hidup mereka, namun tidak memperhatikan jalan yang harus mereka tempuh. Ini juga merupakan kerusakan mental yang banyak terjadi.

Orang-orang yang memiliki obsesi hidup kaya raya, namun membodohi diri dengan mengabaikan aturan atau hukum Tuhan yang telah ditetapkan, kemudian meninggalkan ketentuan halal-haram, yang penting mereka bisa mewujudkan apa yang diinginkan nafsu mereka, sebenarnya mereka hanya sedang membuat rumah derita mereka sendiri.

Setelah mereka memiliki apa yang diinginkan nafsunya tanpa mengikuti petunjuk Tuhan, apa mereka merasakah kebahagiaan? Bisa dipastikan “tidak”. Hati nuraninya pasti tahu bahwa tindakan mereka tidak benar. Segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum alam pasti tidak seimbang, demikian juga apa yang terjadi dalam diri orang-oranga pengejar kekayaan dengan cara haram tersebut. Mereka mungkin kaya secara materi, namun jiwanya justru hampa dan kering. Apa yang telah mereka lakukan ternyata telah menjauhkan hati mereka dari Tuhan. Mungkin secara lahir mereka hidup enak dan menyenangkan, tapi secara batin mereka selalu diliputi kecemasan dan ketidaknyamanan.

Si koruptor pasti cemas kalau perbuatannya diketahui masyarakat dan pihak berwajib. Demikian juga yang lainnnya, mereka tahu bahwa kekayaannya dihasilkan dari sesuatu yang melanggar hukum, sehingga semua itu tidak bisa mendatangkan kebahagiaan atau kedamaian.

Berbeda dengan orang yang menjalani hidup ini dengan hasil kerja kerasnya sendiri di jalan yang diridhoi Tuhan. Walaupun mungkin mereka tidak berlimpah harta, namun dengan jaminan halal pada rezeki yang mereka makan maka ada keberkahan yang mereka rasakan di situ. Kenikmatan menikmati hasil jerih payah mereka sendiri menghadirkan rasa damai dalam jiwanya. Sederhana namun bahagia. Sedikit namun berkah. Hal itu lebih mereka rasakan sebagai kebahagiaan hidup. Harta berlimpah belum mereka dapatkan, namun kebahagiaan batin bisa mereka rasakan.

Orang-orang yang memiliki prinsip kebenaran dan mematuhi hukum Tuhan akan lebih mampu menjaga diri, meskipun mereka juga ingin hidup kaya namun mereka tahu mana yang halal dan mana yang haram. Mereka tahu mana yang menjadi haknya dan boleh mereka ambil sebagai miliknya. Mereka tahu bahwa segala sesuatu yang haram hanya akan mendatangkan penderitaan di kemudian hari.

Seorang tukang becak yang bekerja keras demi keluarganya, mungkin hidupnya tidak pernah kaya, bahkan jauh dari cukup. Namun dia sebenarnya lebih pandai dan terhormat daripada pejabat yang korupsi atau pengusaha bisnis haram. Banyak sekali terjadi di negeri kita orang-orang dengan jabatan terhormat dan berpendidikan tinggi justru mencontohkan perbuatan hina dan nista. Inilah sebenarnya salah satu penyebab terpuruknya bangsa kita. Kerusakan mental banyak terjadi di mana-mana. Kita sama-sama ingin hidup makmur dan sejahtera, namun ada sebagian dari kita yang membutakan diri dari jalan yang lurus dan benar.

Sekarang, jika kita harus memilih: ingin kaya atau bahagia? Pasti kita menginginkan keduanya. Semua itu pasti bisa kita dapatkan bersama-sama bila kita mau mengikuti aturan main dari Sang Pencipta. Jika kita ingin kaya maka ada proses yang harus ditempuh atau ikhtiar yang harus dijalani. Dan bila ingin bahagia maka ada norma dan hukum yang harus kita patuhi dan kita pegang teguh, terutama hukum Tuhan yang telah tertuang dalam kitab suci-Nya dan diperjelas dengan sunnah Rasul-Nya.

Kaya hanya salah satu alat untuk bahagia. Dan kaya bukanlah syarat untuk bahagia. Tanpa kekayaan, kita juga bisa hidup bahagia kalau kita bisa mensyukuri apa yang ada pada diri kita dan apa yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita. Kaya juga tidak hanya pada kepemilikan harta benda duniawi saja, namun kaya yang hakiki adalah kaya hati, yakni merasa cukup dan bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan yang terlimpah tiada henti dalam hidup ini. Kaya hati lebih dekat dengan bahagia, sedangkan kaya harta lebih dekat dengan cobaan-cobaan yang bisa menggelincirkan kita dari jalan yang lurus. Tapi bila kita sudah terlanjur kaya maka itu hidup yang didamba banyak orang, karena kita bisa menggunakan kekayaan kita untuk meraih ridho dan ampunan-Nya serta mendapatkan kebahagiaan yang abadi di kehidupan setelah dunia ini.

Marilah kita mengejar kekayaan yang hakiki…!

Kaya sekaligus bahagia tentunya…Diawali dengan kaya hati.


Salam SDA!

*) Agus Riyanto; Book Author of “Born To Be A Champion”; http://agusriyanto.wordpress.com/

Telah di baca sebanyak: 1780
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *