Kolom Alumni

Ponari, The Magneto


Oleh: Fita Irnani

Siapa tidak kenal Ponari ? Namanya begitu tenar belakangan ini. Ponari adalah bocah “sakti “ berusia 9 tahun, dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Kiprahnya merebut perhatian media massa dan masyarakat, mengalahkan gosip perceraian dan pertikain artis, melibas warta aktivitas caleg-caleg negeri ini. Siapa bocah yang begitu menyita perhatian publik ini ?

Tak berbeda dengan Magneto, Mutant Leshnerr di film X-Man yang memiliki kemampuan magnetik mengontrol benda-benda yang terbuat dari besi terhisap kearahnya, Ponaripun demikian. Kesaktian batu petir yang dimilikinya yang kabarnya sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit mampu menyedot perhatian masyarakat dan media massa kearahnya.

Kabarnya, batu sakti Ponari diperoleh melalui sambaran petir ketika anak itu tengah bermain dibawah air hujan. Batu ini dibawa pulang ke rumah oleh Ponari bahkan sempat dibuang, konon secara gaib batu ini “muncul” kembali di rumah Ponari. Suatu ketika Ponari “tanpa sengaja” memberi minum air putih yang dicelupi batu tersebut kepada tetangganya yang menderita sakit. Tetangga ini ternyata sembuh. Dalam sekejap berita batu petir penyembuh sakit ini menyebar ke seantero negeri. Berbondong-bondong masyarakat mengepung rumah Ponari, mengantri dan rela berdesak-desakan demi sekedar memperoleh air celupan batu Ponari.

Berbagai media massa tanah air, situs-situs berita internet berlomba-lomba mempublikasikan popularitas Ponari. Tak kurang paranormal papan atas seperti Mama Laurent dan Ki Gendeng Pamungkas terusik untuk menerawang asal muasal kekuatan batu mistik tersebut. Mama Laurent memaparkan bahwa kekuatan itu sebenarnya bukan berasal dari batu melainkan kekuatan anak itu sendiri yang mendapat anugerah, sedangkan air yang notabene ciptaan Allah sejak dulu dipercaya sebagai media penyembuhan. Saya fikir, bukannya sampai saat inipun masih banyak praktik pengobatan tradisional dengan meminum air putih yang diberi doa-doa?

Miris memang menyaksikan kiprah sang bocah. Di usianya yang masih belia, Ponari harus kehilangan hak sebagai mana bocah seusianya. Kabarnya, sejak buka praktek pengobatan, Ponari sudah tidak lagi bersekolah. Sejak kemunculannya, sudah tercatat ribuan pasien yang mengunjungi Ponari, bahkan rela tidur di pinggir jalan sekitar rumah Ponari mengantri pengobatan bahkan ketika aparat mumutuskan menutup sementara praktek Ponari, para pasien Ponari bereaksi keras. Ntah siapa yang memulai, hingga berebut air comberan yang mengalir dari got-got sekitar rumah Ponari. Saya menggeleng-gelengkan kepala sendiri, sebegitu mudahkan mereka terprovokasi hingga kehilangan akal sehatnya ?

Inikah gambaran betapa tingginya jumlah masyarakat tidak sehat di negeri ini ? Seberapa mahalkah harga kesehatan di negeri kita sehingga masyarakat membanjiri rumah Ponari untuk mengharapkan air celupan batu dengan sekedar membeli tiket dan memasukan beberapa ribu dalam kotak amal ? mengapa masyarakat masih mempercayai kesembuhan dari hal-hal yang irasional ?

Sosiolog Universitas Padjadjaran, Bandung, Budi Rajab, mengatakan, sulit mengikis kepercayaan masyarakat terhadap keajaiban di balik dukun cilik Ponari. Fenomena Ponari, menurut Budi, pasti akan dilirik oleh masyarakat yang tingkat ekonominya belum mapan. Tapi tak tertutup kemungkinan para profesionalpun memilih Ponari sebagai alternatif dalam menyembuhkan penyakitnya. Karena dukun cilik langka, Budi mengungkapkan masyarakat pun penasaran, meskipun banyak dukun dewasa yang membuka praktik pengobatan serupa. ”Dukun memang dipercaya oleh masyarakat. Tapi, dukun yang masih kecil jauh lebih dipercaya,” kata Budi.

Meskipun diperoleh fakta bahwa tidak semua pasien Ponari dapat disembuhkan, ternyata kabar batu bertuah Ponari menginspirasi kemunculan batu-batu mistik lainnya. Apakah batu ini sungguh bertuah atau kemunculannya hanya sekedar mendompleng popularitas Ponari ? saat ini sudah tercatat dua batu bertuah lain yang mulai santer terdengar. Batu Keong mas milik gadis cilik Dewi serta batu bicara wanita bernama Siti Nurohmah. Kedua batu inipun diyakini dapat memberi kesembuhan atas penyakit dan kabarnya khalayak juga mulai membanjiri tempat praktek mereka. Fenomena maraknya praktek perdukunan seperti ini akan memudahkan masyarakat tergelincir untuk menyekutukan Tuhan jika mereka tidak diyakinkan bahwa si batu ataupun pemiliknya bukanlah sumber pemberi kesembuhan yang sesungguhnya.

Seiring dengan berakhirnya bulan Febuari ini, atas desakan keluarga dan mengingat jumlah massa yang semakin meningkat dan berpotensi menjadi sumber konflik, maka aparat bersama Polres Jombang secara resmi menutup tempat praktek Ponari yang sensasional ini, meskipun keputusan ini tampaknya bertentangan dengan kepentingan warga desa Balongsari yang tidak sedikit mendulang untung atas kehadiran Ponari yang diserbu masyarakat dari luar desa Balongsari. Jutaan rupiah setiap hari bisa terkumpul dari hasil penjualan tiket saja.

Keputusan Kapolres Jombang untuk menutup praktek Ponari melegakan Kak Seto, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. “Kalau sekarang ini dihentikan oleh Bpk. Kapolres, pada prinsipnya adalah justru untuk mengedapankan kepentingan terbaik bagi anak, yaitu tidak mendapatkan tekanan-tekanan yang melebihi kapasitas sebagai seorang anak. Nantinya jika semua sudah tertib dan rapi kembali, Insya Allah Ponari bisa menjalankan hobby atau potensi yang dia miliki dengan pengaturan yang lebih baik” ujar kak Seto. Saat ini yang dibutuhkan oleh Ponari adalah waktu untuk mengembalikan kondisi psikologis Ponari setelah berhari-hari menjadi pusat perhatian. Ponari dapat kembali bersekolah, tumbuh normal dan menjalani haknya sebagai seorang anak terbebas dari beban berat yang dipikul untuk menyembuhkan pasien.

*) Fita Irnani, Alumni Writer Schoolen Workshop Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller Batch VIII. HR Executive Acer Indonesia ini dapat dihubungi di acho_fit@yahoo.co.id

Telah di baca sebanyak: 2018
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *