Eni Kusuma

Rahasia Dalam Memikat Pembaca

Ada pepatah kuno yang mengatakan “Kita lebih mudah menangkap lalat dengan madu daripada dengan cuka”. Pepatah ini memang benar adanya. Ini pun berlaku pada manusia. Jika kita menaruh simpati terhadap orang-orang, maka akan lebih mudah mereka menaruh kepercayaan pada kita bahwa pemikiran-pemikiran kita selaras dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan madu. Seperti yang telah saya uraikan pada bab sebelumnya bahwa jika pemikiran kita tidak selaras dengan pemikiran orang lain atau orang banyak pada umumnya, hendaknya kita membuat persamaan pemikiran dengan mereka sebelum kita memasukkan ide-ide kita yang baru. Kebanyakan kita mulai dengan pemikiran-pemikiran kita sendiri dan tidak memperhatikan keinginan-keinginan yang dimiliki oleh orang lain. Kita cenderung tidak berusaha mencari suatu titik persamaan. Ingatlah, tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dikritik. Maka, mengkritiklah dengan elegant.

Ada lagi pepatah yang mengatakan “Manusia itu sangat egois, yang diperhatikan adalah dirinya sendiri”. Dan pepatah ini memang benar adanya. Jika kita memulai menulis suatu hal yang langsung mengarah kepada kepentingan dan pribadi para pembaca, maka kita tidak akan mengalami kegagalan. Buku-buku yang berhasil adalah buku-buku yang sangat memperhatikan kepentingan para pembacanya. Banyak contohnya, mulai dari buku “how to”, pengembangan diri atau motivasi, buku ketrampilan dan lain sebagainya. Demikian juga dengan buku-buku yang menghibur seperti novel. Orang-orang lebih menyukai cerita-cerita mengenai pengalaman orang lain. Cerita atau kisah tentang orang lain akan sangat memikat hati -meskipun hanya sebuah fiksi- daripada tulisan-tulisan yang berisi uraian-uraian yang abstrak.

Jika kita bercerita tentang membaca dan menulis, tanpa mencoba menghubungkan hal tersebut terhadap kepentingan kita para pembacanya, niscaya tulisan tersebut akan ditinggalkan. Ambillah contoh, jika kita menulis “Membaca dan menulis adalah kegiatan yang sangat menguntungkan.” Kemudian ia melanjutkan betapa ruginya seseorang yang tidak mau meluangkan waktu untuk membaca dan menulis karena sibuk bekerja. Apakah keterangan seperti itu sudah jelas? Tentu saja tidak. Keterangan seperti itu terlalu kabur dan terlalu umum. Karena tidak akan mengesankan pembaca. Pendahuluan seperti itu tidak mengesankan secara orang-perorang. Padahal dari pembaca ada yang mahasiswa, pelajar, direktur bahkan batur, penerbit, pemilik percetakan, bankir dan lain-lain.

Berbeda dengan jika kita mulai pendahuluan: “ Soal yang akan saya sampaikan ada hubungannya dengan para pemilik perusahaan-perusahaan, para bankir, para eksekutif, para mahasiswa dan pelajar. Bahkan akan mempengaruhi harga bensin yang kita gunakan, harga makanan yang kita makan, harga sewa. Dan ini tentang kemakmuran dan kesejahteraan kita semua. Hal itu hanya karena dengan membaca dan menulis. Para pemilik perusahaan yang suka membaca akan banyak terinspirasi dalam mengembangkan usahanya. Para eksekutif, misalnya manajer yang suka menulis akan banyak membantu bawahan mereka dengan memberikan ide-ide dan motivasi-motivasi. Dan keuntungan peluang promosi jenjang karier pun akan terbuka. Juga untuk para mahasiswa dan para pelajar, wawasan mereka akan bertambah dengan membaca dan menulis.

Para penerbit akan sangat bergairah dalam menerbitkan buku-buku, karena masyarakatnya yang gemar membaca. Bahkan seorang batur pun akan terbuka pikirannya untuk melongok dunia yang terbentang luas di hadapannya dengan membaca. Lalu hubungan antara membaca dan menulis dengan kesejahteraan dan kemakmuran adalah kita bisa mengetahui jenis-jenis investasi yang menguntungkan, peluang-peluang usaha yang akan menambah penghasilan kita, serta menambah wawasan tentang usaha-usaha untuk meraih sukses. Dengan ketrampilan menulis kita bisa berkomunikasi dengan semua orang tanpa batas, untuk kepentingan bersama yang saling menguntungkan. Apalagi sekarang adalah era informasi. Maka membaca dan menulis adalah sangat vital untuk kesejahteraan kita. Semakin kita sejahtera maka semakin rendah harga makanan yang kita makan, harga bensin dan harga sewa. Bukan karena harga makanan, harga bensin dan harga sewa yang rendah tetapi karena tingkat penghasilan kita yang semakin tinggi. Dan banknya pun akan terkena juga adanya.” Apakah tulisan seperti itu tidak penting untuk disimak?

Lagi, jika kita ingin tulisan kita mendapat perhatian dari pembaca, hendaknya disertai dengan contoh-contoh sehingga mudah dicerna. Adalah sangat sulit sekali untuk berlama-lama membaca tulisan-tulisan yang abstrak. Lukisan-lukisan atau contoh-contoh lebih mudah dimengerti daripada uraian-uraian atau teori-teori yang merupakan ciri khas seorang professor (tetapi para professor sekarang udah beda, ya). Dari berbagai testimoni yang saya terima baik sms maupun email, buku saya “Anda Luar Biasa” adalah buku yang mudah dicerna dan dimengerti (saya merasa tersanjung, hehe).

Memulai dengan mengajukan pertanyaan merupakan salah satu hal yang memikat para pembaca. Dengan demikian kita mengajak para pembaca untuk ikut berpikir. Kita bisa mengemukakan fakta-fakta dan penjelasan sementara para pembaca menarik kesimpulan sendiri yang seolah-olah itu adalah hasil dari pemikirannya sendiri. Mereka tentu lebih yakin kepada suatu kebenaran yang dianggap mereka sendirilah yang menemukannya. Banyak para penulis yang membiarkan pembacanya menyimpulkan sendiri. Silahkan baca berbagai artikel yang di tulis oleh para penulis yang telah memiliki brand di Pembelajar.Com. Mereka membuka diskusi terhadap para pembacanya. Salut kepada Andrias Harefa, Sang inisiator dan Edy Zaqeus sang Editor juga para kolumnis.

Dari pembelajaran saya terhadap tulisan-tulisan para penulis, memulai menulis dengan mengutip pepatah atau perkataan orang yang mahsyur adalah salah satu hal yang memikat para pembaca. Kalimat ini akan membangkitkan rasa ingin tahu pembacanya. Para pembaca tentu bertanya-tanya: “Apa kira-kira yang si penulis ini ceritakan?” Dan biasanya para pembaca akan membandingkan pemikirannya dengan pemikiran penulis tersebut berdasarkan kalimat pepatah atau perkataan orang mahsyur tersebut. Ini yang membuat para pembaca tertarik untuk terus mengikuti tulisan kita.

Hal yang paling ingin membangkitkan rasa ingin tahu pembaca adalah sesuatu hal yang menarik untuk disimak. Ketika saya belajar menulis, saya berusaha untuk menarik perhatian para pembaca di milis-milis. Saya menulis hal-hal yang sedang hangat dibicarakan, menanggapi artikel penulis terkenal dan membuat cerpen-cerpen heboh. Cara ini sangatlah jitu untuk membuat para pembaca merasa ingin tahu, tidak saja tulisannya tetapi orangnya. Inilah cara yang sangat efisien untuk membranding diri. Anda bisa mengikuti jejak saya.

Membuat tulisan yang menarik pembaca dan memikatnya, BISA??? PASTI!!! Anda bisa belajar bersama saya yang sedang belajar. Jika ada seseorang yang mengatakan Anda “Tidak Bisa Belajar”, jawablah dengan “Saya Sedang Melakukannya!!!” [ek]

Telah di baca sebanyak: 1417
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *