Kolom Alumni

Rasa Syukur


Pernahkah Anda merasa keterpurukan dalam hidup dan kehidupan yang teramat sangat? Pernahkah Anda merasa keberuntungan teramat jauh dari jangkauan impian Anda? Pernahkah Anda merasa gagal menaklukkan kehidupan ini? Pernahkan Anda merasa orang lain lebih beruntung daripada Anda? Pernahkah Anda merasa puluhan tahun berkutat di perantauan, bekerja sepenuh hati pergi pagi pulang petang dan berpenghasilan tetap pas-pasan? Bukan pas-pasan dalam kamus seloroh, yakni uangnya pas untuk beli rumah, pas beli mobil, pasti untuk biaya hidup mewah 7 turunan.

Pernahkan anda merasakan bahwa selama ini banting tulang tetapi hanya dapat merasakan RS-7 (rumah sederhana sempit sehingga selonjor saja susah sekali)? Pernahkah Anda merasakan iri hati melihat kolega yang sepertinya baru kemarin sore meniti karir langsung kehidupannya cemerlang tanpa beban? Gonta-ganti mobil semudah makan bakso? Padahal Anda bertahun-tahun setia dengan pekerjaan hanya dapat menaiki sepeda moror roda dua, butut pula? Yang memungkinkan kepanasan dari terik matahari dan kehujanan setiap saat?

Pernahkah Anda merasa motivasi anda berada di titik nadir? Pernahkah Anda merasa sia-sia apa yang Anda geluti selama ini? Pernahkan Anda merasa penghasilan Anda tidak pernah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Gajian tanggal 25, tanggal 2 dapat uang tanggal 5 habis? Sudah bosankah Anda berhutang ke sana kemari gali lubang tutup lubang?

Yang Anda perlukan sebenarnya cuma meningkatkan rasa syukur bahwa Anda telah diberikan kehidupan oleh Tuhan yang maha segalanya. Tengoklah apakah Anda memang satu-satunya orang yang paling sengsara dalam kehidupan ini? Ups! Tidak. Ternyata penilaian Anda keliru besar. Nyatanya banyak orang yang lebih sengsara daripada Anda. Lihatlah Anda dengan kesehatan yang prima! Seluruh anggota tubuh lengkap sempurna. Maukah Anda menjual kornea mata dengan harga Rp 1 milyar? Oh tidak! Anda akan bersikeras mempertahankan karunia itu.

Kalau Anda merasa tidak beruntung dalam kehidupan ini, pernahkah Anda mengoptimalkan dream mapping Anda? Pernahkah Anda mengubah mind-set dan paradigma terhadap seluru persoalan kehidupan?

Anda bilang bahwa anda pergi pagi pulang petang? Apakah Anda telah menggunakan rumusan bekerja keras, cerdas, dan ikhlas? Wah, ternyata Anda hanya mengandalkan rasionalitas belaka. Anda hanya bekerja keras, tetapi tidak cerdas. Anda tidak menggunakan efisiensi dan efektifitas dalam bekerja. Anda juga belum ikhlas, bekerja tanpa pamrih. Anda hanya bekerja untuk uang. Padahal rumusan manapun menafikan kalau seseorang hanya bekerja untuk uang. Ingat rumus Robert T. Kiyosaki, uanglah yang mesti bekerja untuk Anda. Satu lagi, dalam pekerjaan ada niat. Apakah niat Anda sudah benar? Apakah Anda niatkan pekerjaan Anda untuk beribadah kepada-Nya?

Ketika merasa iri terhadap kemewahan kolega Anda maka sebenarnya penyakit hati telah menyelimuti kehidupan Anda. Iri diperbolehkan untuk persoalan ilmu dan ibadah seseorang.

*) Tanenji, Dosen dan Sekretaris Laboratorium Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Writer Schoolen “Menulis Buku Best-Seller” ini dapat dihubungi langsung di tanenji@yahoo.com


Telah di baca sebanyak: 3889
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *