Andrias Harefa

Resep Saya

“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
Alvin Toffler

“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).

“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”

“Apa itu, pak?” suaranya antusias.

“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.

“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”

“Karena pendidikan itu penting.”

“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”

“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.

“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”

“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.

“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.

“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.

“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?

Namun, sadar bahwa kawan saya itu merasa kurang puas, maka saya melanjutkan, “Kita perlu membedakan antara belajar dengan pendidikan formal. Tanpa pendidikan formal, tanpa sekolah sampai tingkat universitas, orang memang bisa berhasil. Namun itu karena ia menemukan cara belajar yang lain, cara belajar di luar sekolah, cara belajar di kehidupan nyata. Thomas Alva Edison hanya bersekolah formal 3 bulan. Namun ia belajar dengan sangat giat dan gigih dalam asuhan Nancy Elliot ibunya. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, memang bukan sarjana dalam arti tradisional. Tetapi saya kira tidak ada yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak berpendidikan. Sebab pendidikan juga memiliki dimensi luar sekolah, luar universitas, yakni pembelajaran dalam konteks kehidupan nyata.

Kalau kita meminjam istilah-istilah konvensional seperti pendidikan, maka ada kategori pendidikan formal, yakni dunia persekolahan dan universitas; lalu ada pendidikan non-formal, yakni dunia kursus dan pelatihan; dan ada juga pendidikan informal, yakni lewat interaksi sosial di masyarakat. Mereka yang tidak punya kesempatan dalam pendidikan formal, jika kuat belajar lewat jalur non-formal dan informal, juga bisa berhasil seperti halnya tokoh-tokoh yang sukses tanpa gelar itu. Jalan keberhasilan tanpa gelar itu saya sebut jalan kreativitas. Sebab, hemat saya, kreativitaslah yang bisa mengalahkan pendidikan formal.
Lalu, kalau kita menggunakan istilah-istilah abad ke-21 seperti pembelajaran, maka kunci utama untuk sukses itu adalah learn, unlearn, dan relearn sebagaimana disebutkan futurolog kondang Alvin Toffler puluhan tahun silam,” begitu penjelasan saya panjang lebar.

“Maksudnya apa itu, pak? Apa bedanya learn, unlearn, dan relearn?” minat kawan saya muncul kembali. Wajahnya nanpak serius dan siap menerima kata-kata yang akan saya ucapkan.

“Sudah saya jelaskan dalam buku saya yang ke-37. Judulnya MINDSET THERAPY: Terapi Pola Pikir –— tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn (Gramedia, 2010). Itulah yang saya sebut the master keys to success. Anda baca saja dulu, nanti kita diskusikan lagi ya,” saya menutup percakapan tersebut.

*) Andrias Harefa WTS. Penulis 38 Buku Best-Seller. Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun. Pendiri www.pembelajar.com. Profil lengkap bisa diakses di www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 1418
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *