Andrias Harefa

Respons Pembeda


Untuk waktu yang cukup lama saya sering memikirkan pertanyaan sederhana ini: apa sih faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan trainer dan pembicara publik yang biasa-biasa saja?

Faktor latar belakang pendidikannya bisa saja muncul sebagai jawaban pertama atas pertanyaan tersebut. Bukankah orang-orang yang terpelajar dan bergelar sarjana, magister, master, apalagi doktor bidang studi tertentu banyak yang menjadi trainer dan pembicara publik yang handal? Mungkin ada benarnya. Namun tak sulit mencari contoh orang-orang bergelar yang merupakan pembicara membosankan.

Faktor kecerdasan emosionalnya mungkin menjadi jawaban lain. Mereka yang punya kontrol diri baik dan pandai membawakan diri dalam pergaulan sosial, tentu akan menjadi trainer dan pembicara publik yang handal. Saya sepakat. Namun cukup mudah untuk menyebutkan nama sejumlah kawan yang luas pergaulannya, memiliki jaringan sosial luar biasa, namun sebagai trainer dan pembicara publik, ia tidak nampak memesona.

Bagaimana dengan faktor sertifikasi dalam bidang yang spesifik, seperti sertifikasi MBTI, DISC, atau NLP dan berbagai variannya? Bukankah mereka yang memiliki sertifikasi dalam bidang-bidang yang terkait ilmu psikologi dan ilmu syaraf terapan; lebih khusus lagi mereka yang mempelajari jenis-jenis kecenderungan kepribadian dan jurus-jurus komunikasi intrapersonal maupun interpersonal, bahkan ilmu pemrograman otak dan pikiran bawah sadar; seharusnya menjadi trainer dan pembicara publik yang luar biasa? Seharusnya demikian, saya kira. Masalahnya, saya mengenal secara pribadi kawan-kawan dengan segepok sertifikasi internasional dalam bidang-bidang tersebut, yang tidak menunjukkan kualitas prima ketika memainkan perannya sebagai trainer dan pembicara publik. Sebagian mengajarkan teknik-teknik komunikasi dengan cara-cara yang tidak komunikatif.

Untuk waktu tertentu, saya beranggapan bahwa semua jawaban di atas ada benarnya. Persoalannya adalah saya merasa tidak puas dengan semua jawaban itu. Saya mencari jawaban yang lebih baik; jawaban yang tidak saja akan memenuhi rasa ingin tahu saya secara intelektual, tetapi juga yang akan menolong saya untuk bisa memperbaiki diri. Saya berkeyakinan bahwa—sekalipun saya memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun—selalu ada hal yang bisa saya perbaiki dalam diri saya untuk memainkan peran sebagai trainer dan pembicara yang lebih baik.

Suatu hari, saya menerima kiriman cerita klasik Cina Kuno yang justru memberikan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini. Cerita itu begitu tegas menjawab faktor terpenting apa yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja.

Ceritanya adalah sebagai berikut :

Ada seorang lelaki yang menjelang ajalnya memberikan warisan masing-masing sebuah toko kelontong dan sebuah wasiat berupa nasihat penting kepada kedua anaknya. Disaksikan oleh istrinya, ia berpesan, “Anakku, jika kalian ingin membahagiakan aku di alam sana, maka lakukanlah dua pesanku ini. Pertama, jangan pernah menagih utang kepada orang yg berutang kepadamu; dan kedua, jika kalian pergi ke dan pulang dari toko yang aku wariskan kepadamu, jangan sampai wajahmu terkena sinar matahari.” Dengan pesan yang tak galib itu, ia pun wafatlah.

Waktu berjalan terus. Dan lambat laun ada hal yang menarik perhatian janda almarhum, ibu kedua anak lelaki tadi. Ia menyaksikan bagaimana dari tahun ke tahun anaknya yang sulung bertambah kaya, sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Mereka mendapatkan warisan sebuah toko yang nilainya relatif sama. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pada suatu hari, sang Ibu menanyakan hal itu kepada si bungsu yang sedang berkunjung ke rumahnya. Si bungsu pun menjawab, “Ini karena aku mengikuti pesan almarhum ayah. Ayah berpesan bahwa aku tidak boleh menagih utang kepada orang yang berutang kepadaku; akibatnya modalku susut karena orang tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Ayah juga berpesan supaya kalau aku pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya, tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya aku bisa berjalan kaki saja. Ini membuat pengeluaranku bertambah banyak. Jadi, semua ini terjadi karena aku menaati pesan Ayah”. Si Ibu terdiam dan tak tahu harus berkata apa.

Hari berikutnya ia menemui anak yang sulung dan bertanya bagaimana ia bisa bertambah kaya dari tahun ke tahun. Ibu yang semakin tua ini ingin tahu rahasia sukses si sulung agar bisa diajarkan kepada si bungsu. Si sulung pun menjawab,

“Aku berhasil karena menaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya aku tidak menagih kepada orang yang berutang kepadaku, maka aku hampir tidak pernah mengutangi orang lain, sehingga tak perlu menagih. Ayah juga berpesan, agar aku tidak sampai terkena sinar matahari ketika berangkat ke toko atau pulang dari toko ke rumah. Karena itu aku berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Tokoku buka paling pagi dan tutup paling malam, sehingga bisa melayani lebih banyak pembeli dan menjadi laris. Jadi semua ini aku lakukan untuk menaati pesan almarhum Ayah.”

Bagi saya, cerita itu memberikan jawaban yang lebih baik atas pertanyaan apakah faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja. Dan jawaban itu adalah: respons mereka terhadap klien dan audiens yang mereka hadapi.

Trainer dan pembicara publik yang jempolan terlatih untk selalu memberikan respons terbaik mereka atas permintaan klien-kliennya. Mereka memikirkan kepentingan kliennya dengan sungguh-sungguh dan tidak sungkan memberikan masukan terbaik agar kepentingan sang klien terakomodasi dengan baik. Mereka tidak ragu untuk menolak permintaan klien, jika mereka tahu bahwa apa yang diharapkan klien bukan hal yang bisa mereka berikan. Tak jarang mereka merekomendasikan temannya yang dianggap lebih kompeten untuk bisa memenuhi kebutuhan dan kepentingan kliennya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh trainer dan pembicara publik yang jempolan terhadap audiens yang mereka hadapi. Mereka melatih diri untuk peka membaca situasi dan keadaan psikologis audiens yang mendengarkan mereka; peserta yang sedang mereka latih. Mereka membaca bahasa tubuh dari mayoritas audiensnya dan memberikan respons terbaiknya atas situasi yang berkembang dari waktu ke waktu. Audiens yang ngantuk mereka segarkan dengan humor atau gerakan yang menghilangkan kantuk. Audiens yang mulai bosan mereka antusiaskan kembali dengan lagu atau ajakan untuk melakukan hal-hal tertentu sebagai energizer. Audiens yang sinis mereka tanggapi dengan positif dan kreatif agar menjadi kooperatif.

Sama seperti dua orang anak yang mendapat warisan dan wasiat berupa pesan yang sama dari ayah yang sama, namun yang menjadikan mereka miskin atau kaya bukanlah warisan atau pesan ayahnya. Yang menjadikan mereka miskin atau kaya adalah bagaimana mereka merespons pesan terakhir ayahnya itu sesuai dengan makna yang mereka cerna dengan menggunakan semua potensi terbaiknya.

Demikian juga para trainer dan pembicara publik yang hebat dan yang biasa-biasa saja akan menghadapi klien dan audiens yang memiliki banyak persamaan dimana-mana. Klien dan audiens yang sama-sama menuntut yang terbaik dari mereka; klien dan audiens yang tidak suka dibiarkan mengantuk atau bosan dengan kalimat-kalimat yang menjemukan; klien dan audiens yang ingin dirinya diperhatikan, dihargai, bahkan disanjung dengan jujur; klien dan audiens yang tidak suka diremehkan apalagi dianggap bodoh dan dipermalukan; klien dan audiens yang kadang menyenangkan dan kadang menjengkelkan; klien dan audiens yang sebagian cerdas dan sebagian biasa; klien dan audiens yang ingin menonjol dan yang kalem; klien dan audiens yang membutuhkan suntikan semangat; klien dan audiens yang ingin meningkatkan kemampuan dirinya, yang ingin menjadi lebih percaya diri; klien dan audiens yang ingin lebih mampu berkomunikasi; dan seterusnya.

Jadi, saya percaya bahwa faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja adalah respons yang mereka berikan kepada klien dan audiensnya dan aneka ragam situasi. Mereka terlatih untuk memberikan respons terbaiknya; respons yang menunjukkan semua kemampuan dirinya; entah ia berpendidikan tinggi atau tidak; entah mereka dianggap memiliki kecerdasan emosi atau tidak; entah mereka menunjukkan kecerdasan linguistik atau tidak; entah mereka memiliki sertifikasi ini dan itu atau tidak; dan seterusnya. Respons terbaik pada setiap situasi dan kondisi nyata, itulah faktor pembeda terpenting.

Sejak saya memahami hal ini, maka saya tidak pernah lagi diganggu oleh pertanyaan di awal tulisan ini. Saya hanya perlu membuat sebuah keputusan yang kuat dalam diri saya bahwa saya akan belajar memberikan makna dan respons terbaik kepada klien dan audiens yang saya layani. Sekadar merespons tidaklah cukup. Respons terbaik, itulah yang ingin saya berikan kepada klien dan audiens yang mengundang saya melayani mereka.

Anda setuju, bukan?

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan CARA CERDAS DAN PASTI: MENJADI TRAINER ANDALAN

Telepon SEKARANG ke 021-460 5757; 021-3260 3383; Hendri 0815 8963 889
www.pembelajar.com; www.proaktif.biz; www.andriasharefa.com

Telah di baca sebanyak: 1241
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *