Kolom Alumni

Rezeki Itu Datang (Haji Orang Pinggiran Eps 1)

Oleh: Jonih Rahmat

Suatu hari, akhir tahun 2003, seorang kawan menghampiri kamar kerja saya, “Kang ada rapat dengan Pak Luthfi,” ajaknya. Kami segera menuju ruang kerja, Pak Luthfi, Kepala Divisi Eksplorasi, waktu itu. Selain Pak Luthfi, di dalam ruangan sudah ada beberapa kawan lain. Setelah sedikit berbicara mengenai beberapa hal, Pak Luthfi berkata, “Pak Jonih, teman-teman yang sudah haji dan yang akan pergi haji ingin Pak Jonih pergi haji juga.”

“Saya tak punya uang, Pak,” jawab saya spontan.

Sambil menaruh amplop tebal di meja, beliau berkata, “Ini uangnya, titipan dari teman-teman,” lanjutnya.

Agak terkejut, saya. Perasaan gembira dan haru bergelora di dada. Siapa orang Islam yang tak punya cita-cita pergi haji? Orang-orang di kampung halaman orang tua kami, di pedalaman Sukabumi sana, karena obsesinya untuk pergi haji- kendatipun secara finansial belum tergolong mampu untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini- rela menggadaikan sawahnya, demi cita-cita mulia ini.

Pelbagai perasaan, seketika berkecamuk dalam hati. Ada suka, tentu saja; tetapi juga haru. Rupanya, beberapa orang kawan di Divisi Eksplorasi urunan, mengumpulkan uang untuk biaya haji saya. Sebesar itu perhatian kawan-kawan pada saya! Tak mampu saya menahan tetes-tetes air mata.

“Terima kasih atas kebaikan kawan semua, tetapi sementara ini saya ingin mengonsentrasikan dalam kegiatan-kegiatan sosial,” saya menolak dengan halus.

Tetapi, ucapan yang tulus dan wajah-wajah yang ikhlas meminta saya untuk menerima tawaran itu. “Uangnya, bawa dulu saja!” desak kawan-kawan.

Saya pun membawanya ke rumah. Kepada istri, saya sampaikan apa yang terjadi tadi siang di kantor. Istri saya menjawabnya dengan deraian air mata. Saya minta pendapatnya akan uang yang besar itu, menerima atau menolaknya? Selama dua hari dia tak menjawab. Setiap ditanya, hanya tangisan yang saya terima. Saya bilang, “Bapak pun, berat menerimanya, tetapi menolaknya lebih berat lagi. Ini adalah bentuk perhatian yang sangat besar dari kawan-kawan. Kalau menolaknya, khawatir mereka luka hatinya,” desak saya.

Hari Senin, bakda subuh, waktu itu, saya tanya lagi istri, “Bapak mau ke kantor, tolong minta jawaban, bagaimana dengan uang pemberian teman-teman itu?”

Akhirnya, dia menjawab, “Kalau begitu, Bapak berangkat saja!” Lega saya mendapat jawaban ini.

Oh ya, agar ceritanya lebih nyambung dengan apa yang saya uraikan selanjutnya, saya informasikan bahwa ONH yang teman-teman berikan adalah untuk satu orang. Untuk saya saja.

“Seperti ibu ketahui, semua orang di kampung ini juga tahu kalau kita pergi, ke mana pun, selalu berdua. Dan, ini adalah perjalanan rohani. Bapak tak mau sendirian. Kita pergi berdua!” lanjut saya.

“Tetapi, kan, uangnya tidak ada,” ia bicara sambil tak mengerti, bakal dapat uang dari mana.
“Asal ibu setuju, nanti Bapak carikan,” saya meyakinkannya.

Senin, pagi-pagi sekali, saya menghadap Pak Andit, atasan dan sahabat saya, “Istri saya setuju, tetapi saya mau dia juga berangkat dengan saya. Jadi, tolong carikan uang untuk satu orang lagi. Nanti, insya Allah, kalau dapat bonus akhir tahun, saya bayar.” Ini termasuk meminjam uang untuk ongkos naik haji yang dibolehkan, pikir saya. Sekali lagi, menurut pikir, bukan fikih! “OK, saya carikan,” kata Pak Anditya Ibrahim. Siang, setelah jam istirahat, Pak Andit membawa segepok besar uang, “Ini,” katanya singkat. “Kami, akan pergi haji!” bisik hati.

Tak pernah kami membayangkan untuk bisa pergi haji dalam waktu sedekat ini. Suasana lingkungan keluarga, tetangga (dekat dan jauh), lebih menarik perhatian ketimbang haji.

Anak-anak yang tak bisa pergi sekolah karena orang tuanya tak mempunyai biaya atau malah sudah tak punya bapak; orang-orang yang menggelapar menahan sakit dan tak mampu membayar biaya rumah sakit; para gelandangan yang tidur di emper-emper toko; tetangga yang beberapa hari dapurnya tak berasap; janda tua yang sebagian besar rumahnya bocor; orang-orang yang kesulitan mendapatkan air bersih; rumah-rumah yang tak punya sarana MCK, sehingga pagi-pagi buta berebut tempat di selokan untuk suatu keperluan; terasa lebih dekat daripada Makkah.

Bila ada orang sakit keras dan tak bisa pergi ke dokter atau berobat ke rumah sakit; orang yang selesai dirawat dan harus membayar biaya rawat inap selama di rumah sakit tetapi tidak ada cukup uang untuk membayarnya; tetangga (yang umumnya miskin) tertimpa musibah atau ada anggota keluarganya yang meninggal dunia, biasanya mereka datang ke rumah: sekedar mengeluh, mengadu, curhat atau –bila mungkin- minta bantuan. Tak jarang pula, orang yang bertengkar –baik dalam keluarga atau pun dengan tetangga- berlindung atau minta ditengahi. Sering orang datang ke rumah kami hanya untuk menceritakan kesulitan hidupnya, dan sering kali kami tak bisa berbuat apa-apa. So, ….rasanya, belum pantas saya naik haji!

Waktu itu, bulan ramadhan akhir tahun 2003, Departemen Agama baru saja mengumumkan bahwa ada rencana penambahan kuota haji. Menurut informasi, sedang diajukan oleh pemerintah RI kepada pemerintah Saudi Arabia untuk penambahan kuota tersebut. Kabar yang tersiar menyebutkan bahwa penambahan kuota ini optimis diberikan pemerintah Saudi. Berharap mendapat kesempatan mendapat seat dari penambahan kuota ini, atas rekomendasi seorang kawan, kami mendaftar di suatu lembaga bimbingan haji di Jakarta. Ada keunggulan lembaga bimbinan haji ini, seperti ditawarkan seorang kawan kepada saya: ”ONH-nya biasa, tetapi bimbingannya plus!” kawan itu meyakinkan saya.

Daftarlah kami di lembaga bimbingan tersebut, kemudian melengkapi persyaratan yang diperlukan, dan mengikuti manasik. Ketika saya bertanya tentang besarnya biaya dan cara pembayaran kepada seorang pembimbing haji di lembaga itu, ia menjawab, ”Nanti saja, menunggu pengumuman dalam waktu dekat dan akan diinfokan oleh Pak ……….. (dia menyebut sebuah nama, yang sebaiknya tidak saya cantumkan di sini). Jadi, kendatipun untuk ONH-nya belum bayar, kami sudah terdaftar dan dimasukkan dalam buku daftar calon jamaah haji di lembaga bimbingan haji tersebut.

Singkat cerita, kami mengikuti manasik di rumah salah satu pembimbing yang sangat akrab dan baik hati sekali itu, secara privat! Kami merasakan kehangatan dalam penyambutan dan manasik yang kami terima. Keluarga yang memberikan manasik ini, juga adalah aktivis kegiatan sosial. Pasangan suami istri dengan satu putra ini bahu membahu dalam menyantuni fakir miskin. Nyaman rasanya berada di kediaman itu. Saya percaya, kalau apa yang ”diiklankan” bahwa biaya ongkos naik hajinya tarif biasa, tetapi bimbingannya plus adalah benar adanya. Cocoklah, sudah!

Suatu hari, untuk konfirmasi biaya ONH, saya menelepon ketua bimbingan haji ini. Pimpinan KBIH itu menyebut besarnya ONH dan langsung menambahkan bahwa, ”Biaya itu agak mahal karena perlu melobi orang DEPAG.”

Saya tidak siap mendapat jawaban semacam itu! Saya kaget! Untuk urusan haji, pakai lobi-lobian segala! Kalau saja dia tidak menambahkan kalimat terakhir, tak ada masalah. Atau, saya tidak tahu apa yang ”biasa” terjadi antara lembaga bimbingan haji dengan orang DEPAG, saya tak ambil pusing. It’s none of my bussiness! Tetapi ini, menyangkut ONH kami. Tentu saja, kalau saya dan istri tetap mendaftar di lembaga bimbingan haji tersebut- paling tidak secara moral, kami terlibat. Bagaimana pun juga, kalau kami meneruskan di situ, kami punya andil dalam perbuatan yang ancamannya naudzubillahi min dzalik itu! Sebenarnya, saya tidak keberatan dengan besarnya ONH tersebut, tetapi sangat tidak bisa menerima kalimat penjelasannya! Kendatipun sudah terdaftar, kami memutuskan mengundurkan diri dan mulai kembali mencari lembaga bimbingan haji lain!

Waktu pun berjalan. Kami mulai membuat daftar barang-barang yang perlu dibawa ke tanah suci, dan sedikit demi sedikit mengumpulkannya. Ada yang perlu dibeli; ada juga yang bisa dipinjam dari tetangga atau teman kantor, yang dulu pernah pergi haji. Belakangan surat kabar memberitakan bahwa rencana penambahan kuota haji tahun 2003-2004, tidak jadi! Mungkin, untuk hal ini, pemerintah Saudi tidak mengabulkan permohonan pemerintah RI. Tak apalah, kami menunggu tahun berikutnya saja. Juga, ada baiknya, kami bisa baca buku-buku tentang haji lebih banyak lagi. Ini kesempatan baik.

Untuk urusan yang sangat sakral dengan biaya tak sedikit ini, kami ingin mendapatkan pengarahan atau bimbingan yang sebaik-baiknya. Karena ibadah haji adalah puncak dari segala ibadah ritual, dilaksanakan di sekitar rumah Tuhan, kami ingin, yang membimbing nanti bukan saja luas dan dalam ilmu agamanya; tetapi juga mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk kebaikan sesama, akhlaknya terpuji, dan biasa berdekat-dekat dengan Tuhan.

Setelah berlama-lama melakukan browsing di kepala, jatuhlah pilihan ke salah satu lembaga bimbingan haji, masih di Jakarta juga. Memang ada satu hal, yang hampir-hampir membuat kami batal mendaftar di lembaga bimbingan haji ini. Ongkos naik haji melalui lembaga bimbingan ini, setidaknya bagi kami, sangat mahal! Biaya untuk ONH kami berdua, hanya cukup untuk satu orang, atau untuk berdua tetapi bayar baru setengah-setengah, alias baru uang muka untuk berdua. Tidak nekat, tetapi keyakinan saja yang membimbing kami bahwa Allah pasti menolong kami untuk menyelesaikan urusan ini, sehingga kami langsung melakukan pendaftaran dan membayar uang muka dengan uang yang telah ada itu. Mengenai kapan dan bagaimana cara memenuhi sisa pembayaran yang harus dilunasi, entahlah! Yang kami yakini adalah Allah akan memudahkan urusan setiap hamba yang menuju ke jalan-Nya.

Ketika waktu pelunasan mendekati dead line, saya ditelpon petugas dari lembaga bimbingan haji untuk segera melunasi sisa pembayaran. Saya jawab bahwa uangnya belum ada dan saya sedang mencari dana ke sana kemari untuk melunasinya. ”Doakan saja, Bu,” pinta saya pada petugas KBIH itu. Pada saat-saat agak kritis itu, Pak Luthfi dan Bapak-bapak manajemen Divisi Eksplorasi, dengan mempertimbangkan jabatan saya di posisi waktu itu dan latar belakang pekerjaan saya ketika bekerja di Pertamina, dulu- di banding semua teman- menganggap saya paling sesuai untuk mengikuti suatu pelatihan yang ditawarkan pemerintah suatu Negara di Eropa Utara. Terpilihlah saya untuk dinas ke negeri yang jauh itu. Setelah memenuhi segala persyaratan yang diminta, juga urusan administrasi di kantor, hal pertama yang saya lakukan, sebelum kepergian ke negeri jauh di bola dunia bagian utara itu adalah mentransfer sejumlah dana untuk pelunasan ONH di atas. Tenanglah hati kami. Alhamdulillah!

Sepulang dari dinas tersebut, kembali kami sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan rencana ibadah haji kami. Ketika dinas di negeri jauh itu, saya hidup berhemat-hemat. Sebagai informasi saja, saya sampaikan bahwa, jauh sebelum teman-teman memberi saya uang untuk pergi haji, saya mempunyai angan-angan– kalau kelak ada rezeki yang cukup- ingin menghajikan Bapak dan Ibu mertua terlebih dahulu. Ada pun orang tua saya, keduanya sudah haji belasan tahun lalu.

Beberapa tahun setelah Bapak dan Ibu mertua pergi haji, kalau ada rezeki besar lagi, baru kami akan daftar haji. Ternyata skenario itu tak jalan, lantaran saya keburu diberi uang untuk biaya haji oleh kawan-kawan, yang baik-baik hati itu. Jadi, saya dan istri akan mendahului orang tua. Karena itu, sisa rezeki dari dinas ke negeri jauh itu, saya teruskan ke DEPAG, mendaftarkan Bapak dan Ibu untuk pergi haji tahun berikutnya. Sekali lagi, segala puji bagi-Nya, tak perlu menunggu bertahun-tahun, kami dan orang tua bisa pergi haji pada tahun yang berurutan!

Kabar rencana ibadah haji kami cepat tersebar di kantor tempat dulu saya bekerja, Pertamina EP, dan kemudian di kantor tempat bekerja sekarang, BPMIGAS. Sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, Bu Tamsil, istri atasan kami ketika berkantor di depan Masjid Istiqlal menelpon, ”Pak Jonih, Bapak ingin bertemu.” Saya pun berangkat ke kantor Pak Tamsil.

Setelah panjang lebar cerita pengalaman hajinya, Pak Tamsil mengeluarkan amplop yang isinya tebal sambil berkata “Ini untuk menambahi bekal di sana.” Amplop itu berisi sekian lembar, ratusan dollar!

Tiga hari kemudian, atasan kami ketika berkantor di Pertamina EP Cirebon, Pak Amril, yang juga mendapat kabar itu berkata,” Katanya, kamu mau pergi haji? Nanti, ke tempat saya, ya!” Keluarga Pak Tamsil dan Pak Amril adalah juga donatur anak-anak yatim kami. Dulu, kalau lama saya tak menghubunginya, beliau bersemangat bicara, ”Kemana saja? Tolong nomor rekeningnya dikirim lagi!”

Satu-dua hari kemudian biasanya ada pesan singkat masuk: ”Sudah transfer …..via Bank….. Hari itu pun, Pak Amril memberi saya amplop tebal. ”Untuk jajan di sana,” katanya.

Sehari setelah menghadap Pak Amril, seorang kawan lama, Roid Kodir, menelpon, ”Kapan bisa ke Kwarnas?” Ia berkantor di Gedung Kwarnas, tepat di depan Stasiun Gambir.

“Wah, ini pasti mau ngasih uang lagi!” hati saya berkata nakal dan rada-rada geer! Di dalam ruang kerjanya yang lapang ia berkata kepada saya, “Sudah lama saya perhatikan, kenapa si Jonih tak pergi-pergi haji. Saya mengerti. Dalam hati saya berkata, “Kalau tahun ini tak pergi juga, harus segera diberangkatkan.” Ia pun membuka lacinya. Benar juga, Roid, seperti sudah diduga, memberikan sebuah amplop. Saya, yang biasanya ke sana kemari naik angkot, bus kota, atau metromini, kali ini, demi keamanan isi amplop itu, kembali ke kantor dengan naik taksi! Di dalam taksi saya buka itu amplop, “Amboi, lembaran ratusan dollar, banyak jumlahnya!

Pada salah satu dari hari-hari terakhir di kantor, sebelum mengambil cuti, sekretaris Kepala Divisi Eksplorasi meminta saya menemui Pak Luthfi. Saya pun segera memenuhi pangilan itu. Tak banyak kata yang Pak Luthfi sampaikan, kecuali, lagi-lagi, banyak lembar, ratusan riyal diberikannya padaku.

Kalau tak salah, Jumat hari itu. Kutelpon sekretaris Deputi Finansial dan Keuangan, “Bapak ada di tempat?”
“Ada, Pak!”

”Boleh saya bertemu sebentar, mau pamitan?”
“Silakan, Pak!”

Setelah dipersilakan duduk, saya sampaikan, “Pak, barangkali Bapak mencari, mulai besok saya mau cuti. Untuk mempersiapkan segala sesuatu, saya mau pergi haji.”

“Nggak bilang-bilang,” seru Pak Eddy Purwanto. Masuk ruang kerja Pak Eddy, saya agak sering. Beliau suka nitip sedekah untuk anak-anak yatim kami. Sejenak kami berbicara tentang haji. Tak lama, pemandangan yang sama, saya saksikan dan alami kembali. Pak Eddy menarik laci, “Ini ada rezeki sedikit.”

Untuk persiapan keberangkatan, saya pun mulai cuti. Hari-hari, terasa sibuk sekali. Maklum, mau pergi ke luar negeri untuk sebuah perjalanan rohani. Mengingat, mencatat, dan membeli barang itu dan ini. Suatu hari, seorang teman sekantor yang rumahnya tak terlalu jauh dari kediaman kami, Mas Djumlati, datang ke rumah membawa amplop titipan dari Kepala Divisi Eksploitasi, Pak Kuswo, “Buat beli bakso di tanah suci,” pesan Pak Kuswo.

Beberapa kawan lama dari Bandung, teman belajar mengaji, dulu ketika masih sekolah, sangat senang mendengar seorang temannya bisa pergi haji. Dengan pelbagai upaya mereka datang ke Ciomas, Bogor mengantarkan doa dan disertai –lagi-lagi- amplop berisi. Hitung punya hitung, uang yang kami terima dari pemberian-pemberian itu, tak kurang nilainya dengan uang yang diperlukan untuk seseorang melaksanakan ibadah haji! Allahu Akbar! Uang pinjaman untuk biaya ONH istri pun telah saya kembalikan ke pemiliknya. Jadi, biaya pergi haji kami benar-benar pemberian orang-orang. Pemberian dari perorangan, bukan dari kantor. Bolehlah nanti kalau kami dipanggil Haji Kosasih, bukan Haji Abidin. Karena memang ongkos hajinya dikasih orang, bukan atas biaya dinas!

Tiga hari menjelang keberangkatan, kami mengecek kembali bekal apa yang belum tersedia: istri belum punya kaos kaki dan saya perlu jaket tebal. Menurut berita yang kami terima, udara di kedua Tanah Suci sedang musim dingin. Udara dingin sekali. Bu Singgih, tetangga yang tinggal di pinggir jalan besar datang ke rumah, “Saya punya kaos kaki. Dulu, beli di Makkah, belum dipakai. Mau nggak?” tanyanya.

Dengan sigap istri saya menjawab, “Mau sekali!”

Terpenuhilah sudah semua keperluan untuk berangkat haji. Tak lama berselang ada SMS masuk dari seorang kawan di Bandung, “Mohon maaf, saya dan keluarga tak bisa ke Bogor. Ada kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan. Barusan, saya transfer……,” sambungnya sambil menyebut jumlah uang dan nama sebuah bank. Segera saya ke ATM, dan selanjutnya ke Factory Outlet di Jl. Padjadjaran, membeli jaket.

Setelah itu, saya agak “malas” ketemu orang. Takut pada ngasih uang lagi! (bersambung …)

*) Jonih Rahmat, alumni workshop Menulis Buku Best-Seller gelombang 14. Kerja di BP MIGAS, dan dapat dihubungi langsung di jonih@bpmigas.com

Telah di baca sebanyak: 1539
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *