Kolom Bersama

Rumput Tetangga Selalu Kelihatan Lebih Hijau


Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Sering kita dengar peribahasa tersebut. Singkat tetapi bermakna dalam. Peribahasa yang selalu dilontarkan saat kita mulai merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Kiasan yang muncul saat ada perasaan iri dengan orang lain. Ungkapan yang dikatakan saat kita mulai tidak nyaman dengan segala sesuatu yang melekat dalam diri kita.

Kalau dipikir-pikir, kenapa bisa ada perasaan iri, tidak puas, tidak nyaman dalam diri kita? Mungkin jawabannya adalah sifat alami manusia yang selalu ingin lebih dibandingkan orang lain. Bagus kalau semangat lebih-nya itu diekspresikan dalam bentuk positif, karena itu akan membuat kita menjadi terlecut untuk meraih prestasi semaksimal mungkin. Tetapi kalau semangat itu adalah ekspresi negatif, maka cocoklah dengan peribahasa di atas.

Contoh sederhana. Suatu hari kita melihat garasi tetangga seberang kita yang sebelumnya kosong ada isinya. Artinya tetangga kita baru saja membeli mobil baru. Kalau kita bersemangat positif, hal itu akan menjadi lecutan semangat untuk bekerja lebih keras supaya terkumpul uang yang cukup untuk bisa membeli mobil juga. Tetapi kalau semangat sebaliknya yang muncul, maka barangkali muncul pikiran-pikiran dan kata-kata negatif sebagai bentuk iri hati. Hal yang sama kalau misalnya kita lihat rekan kerja kita berprestasi dalam bekerja, atau melihat tetangga pindah rumah ke lokasi yang lebih bagus, atau bisa juga iri melihat istri tetangga yang lebih cantik hehehe. Jadi penting untuk kita mengarahkan semangat kita, dan arahkanlah itu ke medan magnet positif.

Penyebab lain kenapa kita selalu melihat rumput tetangga lebih hijau adalah karena kita tidak mensyukuri apa yang sudah ada dalam diri kita. Ada satu ungkapan bijaksana yang mengatakan, selalu luangkanlah waktu untuk melihat ke bawah karena dari sanalah kita memahami makna dari bersyukur. Kita selalu dianjurkan untuk melihat ke atas, karena dengan melihat orang-orang yang dipandang lebih sukses dibandingkan kita, diharapkan muncul motivasi bagi kita untuk berjuang lebih keras. Itu bagus, dan saya mendukung itu. Tetapi perlu sesekali kita perlu melihat ke bawah, karena itulah momen belajar kita untuk mensyukuri hidup.

Jarang kita sadari bahwa kalau sekarang kita memiliki anggota tubuh yang sempurna adalah hal yang sangat disyukuri. Bandingkanlah dengan banyak orang yang karena suatu hal tidak memiliki anggota badan yang sempurna, seharusnya kita bersyukur bukan? Kalau saat ini kita masih sehat dan bisa beraktivitas, bersyukurlah karena banyak saudara kita yang berjuang –sebagian di ambang hidup dan mati– di rumah sakit. Sadarilah kalau kita masih memiliki atap untuk berteduh dari panas dan hujan, itu suatu hal yang harus disyukuri karena jutaan saudara kita tidak memilikinya. Kalau sekarang kita masih bisa bekerja dan mendapatkan gaji tetap bulanan, beryukurlah karena banyak yang harus berjuang untuk bisa menyambung hidup mereka hari demi hari.

Berbicara mensyukuri pekerjaan, ada satu pengalaman saya minggu kemarin. Hari itu sabtu, dan saya ada acara seminar yang digandeng buka puasa bersama dengan salah satu klien. Acaranya sih mulai jam 14. Tetapi karena saya harus memastikan segala sesuatu in-charge plus diminta datang untuk melihat gladi resik mereka, maka pagi sekitar jam 8 saya pun meninggalkan rumah. Acaranya di daerah Slipi, dan saya melewati daerah Puri sebagai jalan akses. Pas di kolong jembatan putaran balik, dari jauh saya melihat ada sekitar 4 orang lagi duduk di sana. Awalnya saya tidak memperhatikan mereka karena saya menganggap mereka adalah orang yang memang biasa mangkal di sana. Mendekati mereka, ekor mata saya menangkap satu benda yang mereka pegang. Apa itu? Sekop. Sambil melewati mereka pelan-pelan, saya melihat ke-4 orang itu membawa sekop masing-masing. Awalnya saya sedikit bingung, untuk apa mereka bawa itu. Namun setelah loading, saya baru menyadari bahwa mereka di sana bukan karena iseng. Tetapi mereka sedang menunggu pekerjaan. Iya, mereka adalah buruh bangunan harian, dan dengan bekal sekop yang mereka pegang, mereka siap diangkut kalau ada yang membutuhkan jasa mereka.

Seketika hati saya berdegup. Ada tamparan keras ke batin saya yang kadang masih mengeluh dan kurang bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki. Pikiran saya langsung melayang dalam imajinasi, mungkin keempat bapak itu sedang berjuang demi uang makan keluarga mereka. Mungkin anak-anak mereka lagi menunggu bapak mereka pulang sambil membawa uang untuk mereka bisa makan. Bagaimana kalau hari itu mereka tidak mendapatkan kerja? Berarti mereka tidak mendapatkan penghasilan. Momen itu langsung membangkitkan semangat saya, yang semula rada ogahan karena harus dinas di hari Sabtu menjadi mengebu-gebu. Dan yang terpenting, rasa syukur saya akan apa yang saya miliki menjadi semakin kuat. Rasa syukur makin meningkat karena mendapat makan gratis sepanjang hari. Alhasil, meskipun saya kembali ke rumah jam 8 malam, tetap saya bersyukur untuk hari itu.

* * *

Jadi saat kita mulai melihat rumput tetangga lebih hijau, ingatlah bahwa kita juga bisa membuat rumput di rumah kita menjadi hijau. Caranya? Lihatlah apa yang kita punya sekarang, pelihara dengan baik, kasih pupuk yang secukupnya, dan syukurilah itu. Kalau kita melakukan hal itu, niscaya kita akan menjadi orang yang paling bahagia karena imun dengan virus negatif.

Tim Pembelajar.com


Telah di baca sebanyak: 2405
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *