Kolom Alumni

Saya Suka Nyontek

Oleh: Endang “Ibu Habibie” Setyati

Saya sudah mencari dalam Kamus Indonesia di Internet mulai dari KBBI, Kamus Online, sampai Kamus Bahasa Indonesia, ternyata kata “ Nyontek” tidak saya ketemukan datanya. Padahal, kata ini sangat popular di kalangan pelajar dan mahasisiwa.

Istilah nyontek rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita, dan sangat akrab saat kita masih bersekolah maupun ketika masih menjadi mahasiswa. Saya tahu pasti, Anda juga pernah melakukannya, walaupun sedikit. Dan menurut penaksiran, mungkin hanya segelintir orang pilihan yang tidak pernah melakukannya.

Menurut para guru, nyontek adalah perbuatan tercela, sebaiknya tidak dilakukan oleh murid-murid. Sementara, dari sudut pandang pelaku dan penggemar nyontek, ini terpaksa dilakukan dengan tujuan agar memperoleh dan mendapatkan hasil lebih baik. Jadi, boleh juga nyontek disebut dengan jalan pintas.

Terlepas dari masalah pro dan kontra tentang nyontek, saya sering mendengar anjuran para motivator daninspirator ketika saya sedang mengikuti seminar, yaitu tentang membangun rasa percaya diri dan motivasi.Mereka menganjurkan agar kita tidak perlu sungkan menyontek orang lain, untuk meraih prestasi dan sukses.

Lihat saja contoh-contoh di depan mata kita. Banyak orang sukses dalam bisnis multi-nasionalnya, seperti keluarga Bakri dari Palembang. Sukses di bidang pendidikan seperti yang telah diraih keluarga Dr. Supandji dari Magelang. Sukses di dunia olahraga renang, seperti keluarga Nasution. Sukses membangun perusahaan propertiseperti yang dilakukan oleh keluarga Ir. Ciputra.

Jujur saja saya suka nyontek. Banyak hal yang sudah saya sontek dalam mengisi hidup ini. Mulai dari hal-hal yang sederhana, dan setiap hari kita lakukan. Misalnya, cara berbusana yang sopan dan serasi yang sukasaya sontek dari gaya busana Ratih Sang, seorang peragawati yang sekarang sudah alih profesi sebagai penulis dan pembicara tentang fashion. Masih banyak hal yang beliau tekuni sampai saat ini, di antaranya sebagai perancang busana muslim yang andal dan banyak penggemarnya.

Saat hamil, saya sering mencari tahu tentang bagaimana caranya supaya kelak anak saya jadi anak yang soleh. Saya tidak malu bertanya pada seorang ibu yang sudah pengalaman hamil lima kali. Beliau mengatakan,bahwa sebaiknya mendidik anak itu sejak dari dalam kandungan. Ibu yang sedang hamil harus membiasakan diri disiplin, hidup di jalan yang lurus. Kalau muslim, ya kerjakan apa yang diperintahkan Alquran, jauhi larangan-larangan-Nya. Jaga hati dan lisan, maksudnya mulut kita, karena apa yang kita lakukan akan sangat berpengaruh pada jabang bayi yang dikandung. Apabila dari dalam kandungan sudah terlatih dengan kebiasaan hidup yang baik, Insya Allah anak kita kelak akan jadi anak yang baik dan saleh.

Kepada siapakah saya bertanya? Tak jauh dari rumah saya, ada sebuah keluarga yang layak disontek, seorang ibu single parent dengan dau putra dan tiga putri, yang dua tahun lalu suaminya meninggal dunia. Saya melihat kehidupan keluarga ini dan sangat tertarik. Sebuah keluarga tanpa ayah, namun harmonis. Di mata saya, mereka lebih baik dari keluarga lain di sekitarnya. Rumah tangganya tenteram, ibunya ramah, dan sangat komunikatif. Keempat putranya sukses S-1 dari UI dan UGM. Oh ya, ada satu putranya yang masih kuliah di UGM namun meninggal karena kecelakaan motor.
Ketika lahir, ternyata anak saya laki-laki, persis seperti yang saya harapkan. Entah mengapa saya sangat mendambakan seorang anak laki-laki. Padahal, anak-anak saya yang lain enam laki-laki dan satu perempuan. Betapa bahagianya jadi ibu kandung, sebab selama ini saya hanya menjadi ibu tiri.

Kebiasaan suami, memberi nama anak-anaknya supaya gampang diingat, yaitu dengan menggunakan abjad. Anak saya adalah anak kedelapan, maka jatuhnya pada huruf H. Lalu, saya cari nama dengan huruf awal H. Ini mah gampang, idola saya huruf awalnya juga H. Maka, tanpa banyak pikir saya pakai saja nama itu. Untuk nama anak saya ini, jadilah namanya Habibie Afsyah. Bagus, kan namanya? Tidak jauh dari nama idola saya, B.J. Habibie.

Nama anak adalah doa dan harapan orang tuanya, begitu kepercayaan kami. Habibie artinya kekasih, kesayangan, sahabat. Sedang Afsyah, artinya yang sah atau yang diakui. Jadi, kalau dirangkai artinya mengakui Habibie anak kesayangan kami.

Ketika saya ikut seminar “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik” pada tanggal 15-16 Maret 2009 bersama Habibie, kami diberi buku panduan yang berjudul Agar Menulis – Mengarang Bisa Gampang yang ditulis oleh Andrias Harefa. Saya telah baca dan pelajari juga praktik, satu di antaranya adalah artikel ini. Ternyata, apa yang saya lakukan itu ada dalilnya. Menurut penulis buku tersebut, dikatakan bahwa kita sebaiknya mengikuti anjuran sang guru yang bernama Mardjuki. Pesannya, agar kita menggunakan teori 3 N, yaitu:

1. NITENI: yang artinya mengamati,
2. NIROKKE: yang artinya meniru,
3. NAMBAHI: yang artinya menambahkan.

N pertama, mengamati ada B.J. Habibie orang cerdas, pandai, itu saya suka.
N kedua, nama yang indah dan mulia, bagus untuk ditiru.
N ketiga, setelah meniru tinggal menambah. Jadilah nama indah: Habibie Afsyah.

Dalam mendidik anak, saya terinspirasi oleh cerita seorang ibu yang melegenda. Sering saya dengar di Radio SmartFM 95,9 ketika saya sedang di dalam mobil. TRUE STORY tidak hanya terkenal di negaranya, tetapi di seluruh dunia.

Tahukah Anda, ibu yang manakah yang telah menginspirasi dan menghipnosis saya? Sehingga, saya menyontek apa yang dilakukan untuk mendidik puteranya? Beliau sudah lama tiada, tetapi kesuksesan beliau dan putranya sampai sekarang masih dikenang, terutama oleh kelompok teknokrat. Keberhasilan beliau mendidik putranya telah berhasil menerangi dunia.

Seandainya saja, Ibu Nancy Matthews Elliott menerima saja pernyataan guru anaknya yang mengatakan, anaknya bodoh dan berotak udang, mungkin hari ini tak akan ada lampu pijar yang menerangi dunia. Pernyataan sang guru telah membakar semangat Ibu Nancy, yang ingin mendidik putranya sendiri. Di rumah mendidik dengan hati dan cinta kasih. Beliau ingin menunjukkan pada dunia bahwa pernyataan guru tersebut salah.

Saat itu Nancy, Ibunda Thomas Alfa Edison, sangat marah dan menarik putranya keluar dari sekolah tersebut. Beliau bertekad mengajar sendiri Edison dengan ilmu dan pengetahuan yang dikuasainya. Ibu Nancy, yang juga seorang guru, kemudian memberikan banyak pelajaran. Ternyata, apa yang beliau ajarkan bisa diserap dengan mudah oleh Edison. Hebatnya lagi, ia juga melahap habis beberapa buku ilmiah, seperti karya R.G. Parker’s yang berjudul School of Natural Philosophy dan The Cooper Union.

Dari buku-buku itulah, Edison kemudian gemar melakukan berbagai macam percobaan. Akhirnya, itumengantarkan dirinya menjadi tokoh dunia dengan seribu lebih inovasi. Dalam buku catatannya, Thomas Alfa Edison mengatakan, “Ibuku yang membentukku, ia begitu setia dan memiliki keyakinan pada diriku. Aku merasa memiliki seseorang untuk kuperjuangkan dalam hidupku, seseorang yang tidak boleh aku kecewakan.”

Semua orang tua, pasti bercita-cita agar anaknya punya masa depan yang lebih baik dari dirinya. Semua daya dan kekuatan, baik moril dan materiil, dipersembahkan buat mengejar cita-citanya, demi meraih sukses anaknya. Ini hal yang manusiawi karena pada umumnya orang tua tidak rela apabila anaknya diberi predikat bodoh. Pasti, ia akan berjuang dan mengupayakan agar anaknya tidak memilki kehidupan yang lebih buruk dari orang tuanya.

Pandangan pribadi saya tentang urusan sontek-menyontek ini adalah sah-sah saja, tinggal bagaimanakah kita menyikapinya. Untuk kebaikan dan manfaat, tentu tidak ada salahnya. Tetapi, kalau menyontek untuk hal-hal negative yang banyak mudaratnya, sebaiknya jangan dilakukan.
Jadi, bagaimana kalau kita kembangkan saja budaya nyontek? Tentu saja, jangan sembarang nyontek, tetapi nyontek-lah sesuatu yang baik dan sudah terlihat nyata hasilnya. Tak perlu ragu atau malu menyontek kebiasaan-kebiasaan yang menuntun kita menuju kebaikan dan kesuksesan.

Sekali lagi tak perlu malu, karena Rasullullah pun menganjurkan. Dalam satu Hadist, beliau bersabda,“Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya salat.” Untuk tujuan yang baik, menyontek bukan saja boleh, tetapi bahkan dianjurkan.

* Endang Setyati, yang sering dipanggil Ibu Habibie ini, lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1951. Sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan sedang mengembangkan kemampuan menulisnya. Alumnus Writer Schoolen worskhop “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik batch XI” dan “Cara Cerdas Menulis Buku Bestseller batch IX” ini bersama puteranya, Habibie, sedang mengembangkan website beralamat di http://www.ibuhabibie.com. Ia dapat dihubungi melalui telepon 021-92824783 atau HP: 0811876844 atau email endangsetyati@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 1956
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *