Screen Memory


Artikel ini terinspirasi dari kejadian saat saya melakukan live therapy di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology di minggu kedua.

Seorang wanita hadir di tengah kami sebagai klien untuk sesi hipnoterapi. Sudah menjadi bagian dari program pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy selama ini bahwa di minggu kedua saya pasti melakukan live therapy minimal pada 2 (dua) klien yang berasal dari luar peserta. Hal ini bertujuan agar para peserta pelatihan dapat melihat secara langsung bagaimana saya melakukan sesi terapi di ruang praktik saya. Ini juga untuk menunjukkan bagaimana menggunakan berbagai pengetahuan, pemahaman, teori pikiran, dan teknik intervensi klinis yang telah diajarkan dalam praktik sesungguhnya.

Klien, sebut saja Wati, datang pagi hari sekitar pukul 10.00. Sebelum bertemu kami di kelas Wati diminta untuk mengisi intake form. Setelah semuanya siap Wati diminta masuk ke dalam ruang pelatihan. Di dalam ruang ini sudah tersedia satu kursi terapi, persis sama seperti yang saya gunakan di ruang terapi, dan ditempatkan di bagian depan ruang.

Saya mempersilahkan Wati duduk sambil berkenalan. Seperti biasa saya selalu menanyakan apakah klien merasa nyaman bila diterapi sambil disaksikan oleh para peserta pelatihan saya. Wati menjawab bahwa ia merasa nyaman.

Berdasar isian intake form saya tahu bahwa Wati ingin mengatasi rasa tidak percaya dirinya. Saya mulai melakukan wawancara untuk menggali lebih banyak data mengenai diri Wati antara lain kapan terakhir kali ia merasa tidak percaya diri, dengan siapa saja bila ia berbicara perasaan ini muncul, dalam situasi apa saja atau di mana perasaan ini muncul, mulai kapan ia merasakan perasaan tidak percaya diri, dst..dst.

Saat sedang serius bertanya pada Wati saya mulai melihat raut wajahnya berubah. Matanya mulai merah dan berair. Saya tahu, dari pengalaman menangani klien, ada sesuatu yang lebih besar atau lebih penting yang ingin disampaikan oleh pikiran bawah sadar Wati pada saya.

Dan benar, semakin Wati menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan tidak percaya diri, semakin wajahnya berubah dan ia mulai menangis. Saat tangisannya semakin hebat saya minta Wati untuk menutup mata dan bertanya, “Apa yang anda rasakan?”, Wati menjawab, “Saya merasa kesepian.”

Nah, benar kan. Emosi yang muncul ternyata bukan perasaan tidak percaya diri tapi kesepian. Apa yang harus dilakukan? Saya langsung memproses perasaan kesepian ini. Dengan menggunakan teknik affect bridge saya melakukan regresi untuk mencari akar masalah atau saat pertama kali ia merasakan perasaan kesepian dalam hidupnya.

Regresi pertama membawa Wati mundur ke usia 6 tahun. Saat itu ia di rumah dan tidak ada seorangpun di rumah menemaninya. Ia merasa kesepian. Saat saya cek ternyata ini bukan ISE (Initial Sensitizing Event) tapi SSE (Subsequent Sensitizing Event).

Kembali saya melakukan affect bridge. Kali ini terjadi hal yang aneh. Walau sebenarnya saya tahu karena pernah membaca mengenai hal ini namun selama ini saya belum pernah mengalami kejadian ini.

Apa yang terjadi?

Saat saya melakukan regresi yang kedua, secara teori dan logika untuk bisa menemukan ISE, Wati harusnya mundur ke usia yang lebih muda. Namun kali ini regresi tidak bekerja seperti yang seharusnya. Wati bukannya mundur (regres) ke usia di bawah 6 tahun malah melompat maju (progres) ke usia saat SMP. Dengan demikian saya tahu bahwa regresi ini tidak berjalan seperti yang seharusnya.

Segera saya kembalikan Wati ke usia 6 tahun dan dari sini saya kembali melakukan affect bridge. Dan kembali Wati mengalami progresi. Dari usia 6 tahun ia melompat maju ke masa SMA.

Dua kali gagal melakukan regresi mengharuskan saya segera berpikir cepat untuk bisa mengatasi kondisi ini. Apa yang saya lakukan?

Dengan cepat saya mengganti teknik. Kalau tadinya saya menggunakan regresi dengan affect bridge, dan ini tidak berhasil, kali ini saya menggunakan Ego Personality Therapy (EPT). Kebetulan saya juga telah mengajarkan EPT pada peserta pelatihan. Dengan demikian ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bagaimana menggunakan EPT dalam terapi riil.

Dengan menggunakan EPT saya berhasil melakukan regresi ke awal mula munculnya perasaan kesepian ini. Dan dari sini saya memproses Ego Personality yang mengalami kesepian. Ada banyak hal yang dilakukan dalam proses ini. Singkat cerita terapi berhasil diselesaikan dengan sangat baik.

Begitu selesai, peserta bertepuk tangan dan merasa sangat bahagia dengan perubahan yang dialami oleh Wati. Apa yang terjadi? Wajah Wati tampak jauh lebih ceria, inner beauty-nya keluar dan terpancar dengan kuat, ia tampak sangat lega, dan raut wajah yang tadinya, sebelum terapi, tampak kusam kini tampak berbinar-binar.

Setelah Wati meninggalkan ruang pelatihan saya membahas apa yang terjadi dengan peserta pelatihan.

Jadi, apakah yang sebenarnya terjadi pada Wati?

Fenomena yang terjadi pada Wati dalam dunia hipnoterapi dikenal dengan screen memory. Screen memory adalah satu memori yang berfungsi sebagai tembok penghambat agar seseorang tidak dapat mengakses memori di usia tertentu. Ini adalah satu bentuk defense mechanism yang dipasang oleh pikiran bawah sadar. Dalam hal ini screen memory Wati ada di usia 6 tahun.

Screen memory bertujuan untuk melindungi seseorang agar tidak dapat mengakses memori tertentu dengan muatan emosi yang sangat intens. Dari pengalaman praktik selama ini, dan juga dari pengalaman alumni QHI, kami jarang bertemu dengan kasus seperti yang dialami Wati.

Apakah screen memory ini bisa ditembus?

Sudah tentu bisa. Namun karena saya tidak mengajarkan teknik ini di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy 100 jam, dan hanya diajarkan di level advanced, terpaksa saya tidak boleh menggunakannya. Bila saya sudah mengajarkan teknik untuk menembus screen memory maka saya akan lanjut dengan teknik ini dan menemukan ISE dengan menembus screen memory. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menembus amnesia yang dilakukan pikiran bawah sadar.

Apakah ada kemungkinan lain, selain screen memory, yang membuat Wati bukannya mengalami regresi tapi justru progresi?

Ada beberapa kemungkinan seorang klien tidak bisa mengalami regresi seperti yang diarahkan terapis. Kemungkinan ini antara lain:

• emosi klien kurang intens: bisa disebabkan oleh teknik yang kurang pas dan bisa juga karena emosi klien memang sudah terkuras banyak sebelum terapis memutuskan melakukan affect bridge.
• klien tidak mengerti instruksi terapis.
• terapis tidak memastikan bahwa klien benar-benar terhubung dengan emosinya.
• terapis kurang asertif dalam mengarahkan regresi.
• klien merasa takut. Dalam proses terapi ini saya memang belum sempat menjelaskan hal-hal yang harus diketahui klien dan untuk mengkondisikan pikirannya menjalani proses terapi. Saya putuskan untuk langsung melakukan terapi karena saat klien menangis ia telah masuk kondisi deep trance (emotionally induced induction).

Setiap terapi adalah hal yang unik, sangat individual, dan apa saja bisa terjadi. Itu sebabnya sebagai trainer saya selalu mengajarkan dasar teori pikiran secara lengkap dan menyeluruh baru setelah itu mengajarkan sangat banyak teknik intervensi klinis. Baik yang dulu saya pelajari dari berbagai buku dan trainer saya maupun yang dikembangkan atau diciptakan oleh Advanced Research & Development Team di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology.

Saya juga pernah bertemu dengan kasus di mana terapi tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan saat saya menggunakan teknik Ego Personality Therapy. Walau sudah lebih dari 30 menit saya menggunakan segala pengetahuan dan kreativitas dengan teknik Ego Personality Therapy namun pikiran bawah sadar klien “ngambek” dan tidak bersedia bekerjasama.

Terpaksa saya harus mengganti teknik lain. Baru setelah menggunakan teknik lain saya berhasil mencapai hasil seperti yang diinginkan oleh klien saya. Cukup riskan bila kita sebagai hipnoterapis hanya menguasai satu atau dua teknik terapi.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication. Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com.
www.adiwgunawan.com


Telah di baca sebanyak: 1158

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Top