Artikel Writing Class for Teens

SEA MERMAID


Oleh: Levana Bernadetta, Alumni Batch II
Biru, itulah warna lautan, terlihat menenangkan dan menyejukkan mata, sambil disambut nyanyian ombak dan sapaan manis dari butir-butir pasir yang terkadang terselip pada sela-sela sandal Bryant. Deru angin yang begitu tentram, dan suasana yang begitu damai. Orang tua Bryant adalah pengusaha yang sangat sukses. Sampai-sampai mereka dapat membeli pulau pribadi bagi mereka sendiri, karena Bryant sedang libur selama 2 minggu, orang tua Bryant memutuskan untuk bersantai di pulau tersebut. Mereka ingin berkumpul bersama, setelah disibukkan oleh urusan masing-masing, menginjak umurnya yang ke -17, sebenarnya Bryant sudah memiliki rencana bersama teman-temannya saat hari ulang tahunnya seminggu lagi. Tapi untuk menghargai usaha orang tuanya yang telah bersusah payah mecari waktu untuk Bryant, ia terpaksa harus membatalkan rencananya tersebut. Sebagai gantinya, Bryant mengajak 2 sahabatnya untuk ikut berlibur di pulau itu. Pulau milik keluarga Dmitri ini terletak di kepulauan seribu, pulau ini masih belum memiliki nama. Orang tua Bryant adalah keturunan Rusia yang bertempat tinggal di Indonesia sejak zaman kakek nenek Bryant. Almarhum kakek Bryant yang mengawali perusaahan di Indonesia adalah seorang pendantang dari Beijing lalu bertemu dengan nenek Bryant yang seorang Rusia di Indonesia. Setelah itu, ayah Bryant yang kebetulan sedang pulang ke kampung halaman ibunya bertemu dengan ibu Bryant.

Sebenarnya Bryant tidak begitu menyukai laut, bukan berarti Bryant tidak bisa berenang, ia hanya tidak menyukai air laut yang asin dan lengket. Ia lebih suka hiking di gunung atau mengikuti camping daripada pergi ke laut. Tapi apa boleh buat, ibunya adalah seorang yang sangat menyukai pantai sehingga nekat untuk membeli pulau. “ Bryant, sedang apa kau? Ayo, bereskan barang-barangmu ke kamar” seru Carlen, teman sekolah Bryant sejak di taman kanak-kanak. “Aku ambil kamar yang menyambung ke laut itu ya, Bry” kata Theo, teman dekat Carlen. “Iya” kata Bryant sambil menjawab dua pertanyaan itu sekaligus. Mereka pun mulai membereskan barang-barang mereka, Bryant menempati kamar di sebelah Theo, sedangkan Carlen menempati kamar dekat kamar orang tua Bryant. Perut mereka mulai keroncongan setelah melewati perjalan panjang dari Jakarta, akhirnya mereka makan malam bersama. Chef keluarga Dmitri yang memasakan untuk mereka ber-5, sambil menikmati terang bulan dengan deru ombak, mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan sampai tandas. Setelah itu mereka segera terlelap untuk melepas lelah.

Bryant bangun pagi-pagi sekali, entah kenapa, ia tidak bisa tidur nyenyak. Karena sudah terlanjur bangun di pagi buta seperti ini, Bryant keluar dari villa miliknya dan berjalan-jalan menyisiri pantai. Ia tertarik untuk menghampiri sebuah goa besar yang kelihatannya cukup tersembunyi di balik batu-batu karang. Saat mulai mendekati goa itu, Bryant mendengan nyanyian yang sangat indah, karena penasaran ia mendekati suara itu. Saat ingin mengintip ke balik karang, tempat dimana asal suar itu, tiba-tiba ada gulungan ombak yang menyerbu dengan derasnya, lalu terdengan jeritan dari balik batu karang itu. Bryant terkejut, ia takut orang itu terluka, segera ia menghampiri orang yang berada di balik karang itu. Bryant sangat terkejut melihat orang yang memiliki suara merdu itu. Seorang Putri Duyung! Ia memiliki rambut sepinggang yang berwarna keemasan dengan kulitnya yang putih pucat serta ekornya yang bersisik keperakkan, matanya besar berwarna kehijauan, layaknya batu emerald, dan wajahnya yang bulat dihiaskan bibirnya yang mungil, tubuhnya hanya dibalutkan oleh kain merah jambu yang diikat. Putri Duyung itu terlihat ketakutan melihat Bryant, tetapi ia tidak bisa kabur ke laut karena ia terdampar di pasir akibat terjangan ombak tadi. Bryant tidak takut kepada gadis itu, dengan sopan ia menyapanya, “Kau baik-baik saja? Tenang, aku tidak akan meyakitimu, aku hanya ingin membantumu” Gadis itu terlihat gemetaran dan memandang Bryant dengan pandangan curiga. “Maaf kalau aku menganggu nyanyianmu, aku sungguh-sungguh tidak memiliki maksud buruk” Bryant meyakinkan gadis itu sekali lagi.

Karena Bryant tau, gadis itu tidak akan menganggapinya, ia berkata “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, aku akan naik ke atas karang di sebelah sana” lanjut Bryant sambil menunjuk sebongkah batu karang besar tidak jauh dari situ. Setelah itu, Bryant melangkah dan menaiki batu itu, Bryant duduk di atas batu itu sambil mengamati putri duyung tersebut. Putri duyung itu sedikit merasa tenang karena Bryant sudah menjauh darinya, ia mulai berusaha keras untuk merangkak kembali ke laut. Tetapi sialnya segerombol ombak kembali menerjangnya tak kenal ampun sampai ia harus terpental kembali ke pasir pantai. Wajahnya terlihat frustasi dan pucat, kelihatannya ia tidak bisa apa-apa di daratan. Walau begitu putrid duyung itu tetap berusaha untuk merangkak kembali ke laut, Bryant mulai khawatir karena semakin lama wajah putrid duyung itu semakin pucat, keliahtannya ia tidak terlalu tahan di daratan. Pelan-pelan Bryant kembali mendekati gadis itu, tiba-tiba gadis itu terjerembab, tubuhnya begitu lemas, Bryant segera berlari kea rah gadis itu dan menggendongnya ke arah laut. Setelah tubuh gadis itu terendam oleh asinnya air laut, wajah gadis itu perlahan-lahan mulai membaik. Sorot mata penuh kecurigaannya berubah menjadi sorot mata yang begitu lembut dan menyejukkan, mata kehijauannya yang begitu terang menatap mata abu-abu milik Bryant. “Terima kasih” suara gadis itu terdengar jelas di telinga Bryant, tetapi mulut gadis itu tidak terbuka sedikit pun, Bryant terkejut karena gadis itu dapat menggunakan bahasa yang ia gunakan. “Bagaimana kau bisa berbicara denganku?” Tanya Bryant, “Aku memiliki bahasaku sendiri, tetapi kami, mermaid memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi lewat pikiran kami tanpa harus membuka mulut kami, dengan cara itu kami dapat berkomunikasi dalam berbagai bahasa” jawab gadis itu. “Oh.. jadi begitu, pantas saja” jawab Bryant sambil tersenyum renyah, “Perkenalkan, aku Bryant” Bryant mengulurkan tangannya kepada sang mermaid, awalnya putri duyung itu terlihat sedikit ragu untuk meyambut tangan Bryant, tetapi akhirnya ia memberanikan diri, “Freya” jawab putrid duyung itu singkat sambil menggengam tangan Bryant.

“Apa kau mau berteman denganku?” Tanya Bryant sopan, Freya terdiam, ia sedang memikirkan jawaban yang tepat, “Sejujurnya, keluargaku tidak mengijinkan kami berhubungan dengan makhluk daratan, karena mereka berbahaya” jawab Freya, “Kenapa kau naik ke permukaan?” “Itu karena aku sangat menyukai goa ini, aku juga sangat menyukai langit, terutama bintang-bintang dan bulan pada malam hari, jika aku melihatnya, rasanya aku ingin terus bernyanyi” ujar Freya dengan semangat, Bryant tersenyum, “Jadi, kau mau berteman denganku diam-diam?” Tanya Bryant sekali lagi, Freya terdiam lagi, dan kembali mempertimbangkan pertanyaan Bryant dengan serius, Bryant merasa tertarik dengan kepolosan Freya, “Kelihatannya kau baik, aku mau berteman denganmu” jawab Freya seadanya, “Tapi kau jangan member tahu orang lain mengenai aku dan keluargaku, kalau keluargaku tahu, aku bisa dihukum berat” lanjut Freya, “Sesuai keinginanmu, aku akan merahasiakannya, memangnya kau tinggal dimana?” “Aku tinggal di bawah laut yang sangat dalam, melewati beberapa palung dan banyak sekali karang” jawab Freya dengan wajah berseri-seri, “Kelihatannya mengasyikkan, aku jadi iri padamu, aku harus belajar dan bersusah payah di sini” “Kenapa kau harus bersusah payah?” Tanya Freya, “Di sini, kami harus belajar dan bekerja untuk menghidupi diri, kami harus mengalami banyak masalah dan kehidupan yang terlalu monoton” jawab Bryant jujur, entah kenapa ia dapat dengan mudah akrab dengan Freya, “Hi..hi… Hal itu begitu ringan” tawa Freya, “Kami juga memiliki tugas sebagai putrid duyung, yaitu kami harus membersihkan sampah-sampah di lautan yang tercemar, mengobati ikan-ikan yang sakit, membimbing anak-anak ikan, udang, penyu, bahkan sampai paus untuk bertahan hidup di saat-saat kritis mereka agar mereka tidak punah, belum lagi kami harus melakukan penanaman karang-karang yang dirusak oleh makhluk darat, kedengarannya menyenangkan, tetapi hal itu sangaaat melelahkan, jumlah teman-teman mermaid kami tidak sebanding dengan jumlah ikan-ikan, tapi kami menikmatinya, karena itu sudah kewajiban kami untuk melindungi rumah kami” jawab Freya, Bryant terkejut, ia tidak menyangka menjadi putrid duyung ternyata cukup berat, apalagi dengan adanya manusia yang merusak lautan. “Ah… matahari sudah datang, aku harus segera pulang” seru Freya, “Apa kau akan ke sini lagi?” Tanya Bryant sebelum sosok Freya menghilang dari dalam lautan, Freya mengangguk dengan yakin lalu menyelam ke dalam lautan.

Bryant sangat mengantuk, ia hanya tidur selama beberapa jam setelah perjalanan panjang yang ia lalui. “Bry, kamu enggak mau ikut kita diving?” Tanya ibu Bryant, Bryant hanya menggeleng, “Aku mau tidur ajah, masih capek” Bryant berjalan menuju ke kamarnya dan langsung terlelap. “Bryant memang enggak suka laut sih” kata Carlen asal, akhirnya mereka berempat pergi meninggalkan Bryant yang terlelap di kamarnya. Siang pun tiba, Bryant terbangun dari tidurnya, perut Bryant keroncongan karena belum makan dari pagi, ia segera ke ruang makan, setelah itu ia menyantap makanan yang disajikan oleh chef keluarga Dmitri. “Memangnya separah apa sih, pencemaran yang dilakukan oleh manusia ke lautan?” Tanya Bryant tiba-tiba kepada sang koki, Fredrick, yang sekaligus menjabat sebagai butler pribadi Bryant. “Banyak , tuan muda, mulai dari penangkapan ikan secara besar-besaran, pengambilan dan perusakkan karang, hingga pencemaran air laut karena tumpahan minyak” jawab Fredrick, “Itu juga aku tahu, maksudku, apa itu berdampak besar bagi penghuni laut dalam?” Tanya Bryant lagi, “Yah.. untuk jangka waktu yang lama itu akan sangat berdampak, bahkan pada setiap sudut lautan, karena bagaimana pun juga, sampah-sampah dan limbah-limbah tidak akan hilang dengan mudah, melainkan akan mengalir dan tersebar kemana-mana” “Bahkan ke laut dalam sekalipun?”, Fredrick menggangguk. Bryant terdiam dan melanjutkan makan siangnya. Fredrick tidak mengomentari apa-apa, ia tahu tuannya adalah seorang yang cukup tertutup, jadi ia hanya terdiam dan menlanjutkan tugasnya.

Esoknya, Bryant kembali bangun pagi-pagi buta, kali ini ia sengaja menyetel alarm. Ia segera memakai jaketnya dan pergi ke goa tersembunyi yang kemarin. Ia kembali mendengar suara nyanyian yang bersuasana gembira seperti kemarin, tanpa sadar, senyum langsung menghiasi wajah Bryant, ia segera bergegas ke balik karang, “Hi…” sapa Bryant, “Tidak perlu tergesa-gesa begitu, aku tidak akan kabur kok” canda Freya yang mengetahui kalau Bryant berlari-lari menuju karang itu. Bryant hanya tersenyum, “Bagaimana tugasmu kemarin?” Tanya Bryant, “Kemarin aku mencarikan anak lumba-lumba yang tersesat sampai ke laut sebelah, setelah itu aku menanam karang di beberapa tempat, melelahkan sekali, apa lagi saat ada kapal pesiar besar yang lewat, kapal itu membunyikan suara yang sangat keras dan memekakan telinga” protes Freya, “Mungkin aku harus mencobanya suatu saat nanti” ujar Bryant jahil, “Kau pasti akan berpikir 2 kali jika kau sudah mengalaminya” jawab Freya sambil mengembungkan pipinya. “Bagaimana denganmu?” “Aku? Aku hanya tidur lalu makan setelah itu bermain kembang api pada malam hari” ujar Bryant singkat, “Kembang api? Aku pernah melihatnya! Saat itu ada sebuah kapal mewah melintasi daerah rumahku, karena terdengar banyak letusan, aku penasaran dan naik ke permukaan untuk memeriksanya, ternyata ada banyak percikan-percikan api di langit malam, indah banget” Freya menjelaskan dengan antusias, “Aku sudah terbiasa dengan hal itu, apa lagi saat awal tahun, langit jadi penuh dengan kembang api, tapi, pengetahuanmu luas juga, ya” Freya tersenyum,
“Tentu saja, tanpa sepengetahuan keluargaku, aku sering mengendap-endap ke pemukiman nelayan, lalu mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, dan ada 1 rahasia lho, 5 hari saat bulan paling bersinar terang, kami, mermaid, bisa menjadi manusia, tetapi hanya sebelum matahari datang”

“5 hari dalam sebulan? Mungkin dua hari sebelum dan sesudah purnama dan saat bulan purnama, munkin minggu depan”
“Aku tidak begitu mengerti soal itu, tapi yang pasti, aku memanfaatan itu dengan baik, aku ke daratan dan bergaul dengan para nelayan, tidak seperti keluargaku yang tertutup dengan daratan ”
“Kau tidak takut pada nelayan? Mereka kan menangkap ikan-ikan”
“Tentu saja tidak, itukan untuk kehidupan mereka, bagaimana pun, bukan berarti manusia tidak boleh makan ikan kan? Aku hanya tidak setuju dengan manusia yang terlalu berlebihan mengambil ikan”
Bryant tertegun, ia sangat kagum pada jalan pemikitan Freya yang begitu polos dan lurus. Ia harus belajar banyak dari putrid duyung yang satu ini. “Berapa umurmu?” Tanya Bryant, “Sekitar 160 tahun mungkin” Bryant terdiam, “Hah?? Tetapi penampilanmu..”
“Hi hi hi, kami berbeda dengan manusia, 10 tahun kalian sama dengan setahun kami, ” tawa mermaid itu renyah.
Tanpa sadar, Bryant seperti terhipnotis oleh senyum sang mermaid, ia pun ikut memasangkan senyum hangat kepada Freya. Bryant sangat menyukai senyum Freya yang terlihat sangat segar dan polos.

Pertemuan antara Bryant dan Freya terus berlanjut sampai hari ke-8, “Bryant! Malam ini sampai 5 hari ke depan, aku bisa menjadi manusia, temani aku keliling-keliling ya, aku tidak pernah berani pergi terlalu jauh dari pantai karena takut tersesat” seru Freya girang saat melihat batang hidung Bryant.
“Tapi ada syaratnya” jawab Bryant sambil duduk di atas salah satu batu karang yang terletak dekat dengan Freya.
“Apa itu?”
“Kau harus datang saat acara ulang tahunku lusa nanti, acaranya diadakan di tepi pantai pada malam hari, kau bisa?”
Freya mengangguk pasti, setelah itu mereka saling berbincang-bincang seperti biasanya, Bryant jadi lebih memahami kehidupan Freya yang begitu rumit, ia harus bekerja dengan sangat keras akibat perbuatan manusia yang merusak lautan, apalagi mereka juga harus merahasiakan keberadaan mereka, karena pernah ada kejadian, salah satu teman mereka tertangkap oleh jarring nelayan dan tidak pernah kembali. Tetapi seberusaha apa pun mereka berusaha keras untuk lautan, keadaan laut masih terus memburuk dari hari ke hari. Bryant hanya bisa berempati mendengar semua cerita Freya, Bryant juga bergilir menceritakan kisah hidupnya yang begitu mewah, tetapi ia tidak memiliki banyak teman dan tidak suka bergaul.

Setelah fajar menyingsing,Freya kembali ke lautan, dan Bryant bermaksud kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Theo saat itu kebetulan sedang terbangun, ia sebenarnya penasaran dengan Bryant yang selama beberapa hari ini tidur sampai petang.

Malamnya, sesuai janji, Bryant pergi ke karang tempat ia dan Freya biasa bertemu. Tanpa sepengetahuan Bryant, Theo diam-diam mengikutinya dari belakang, setelah beberapa lama menunggu, Freya muncul dari permukaan air, setelah tubuhnya bermandikan sinar bulan, pelan-pelan ekornya berubah menjadi kaki. Freya menjadi layaknya manusia, rambutnya yang pirang terurai panjang, kulitnya yang putih dengan dibalutkan handuk berwarna pink. Dengan sigap Bryant memakaikan jaketnya pada Freya agar Freya tidak di serang oleh dinginnya angin malam. Theo tidak dapat melihat Bryant dengan jelas karena terhalang dengan batu karang. Ia hanya bisa terbengong saat melihat Bryant tiba-tiba berjalan beriringan dengan seorang gadis yang sangat menawan.

Bryant menyuruh Freya menunggu di dekat motor milik Bryant yang diparkir di samping villa. Bryant masuk mengetuk pintu kamar Carlen, lalu meminta sepotong pakaian darinya. Carlen hanya dapat menatap Bryant kebingungan. “Aku tidak bisa memberitahu alasannya padamu, tapi aku berharap kau mau meminjamkannya” pinta Bryant singkat. Tanpa pikir panjang, Carlen mengambil satu potong dress berwarna biru muda yang panjangnya selutut. Setelah mengucapkan terima kasih, Bryant segera beranjak dari depan pintu kamar Carlen yang masih terlihat kebingungan.

Bryant segera menghampiri Freya dan memberi baju itu, “Gantilah bajumu di belakang villa, aku sakan berjaga di depan” jelas Bryant yang kemudian melangkah ke depan villa. Theo sudah masuk ke dalam kamarnya, ia bermaksud untuk mengikuti Bryant dan gadis yang tidak dikenalnya itu, ia segera mengambil jaket kulitnya dan kunci motornya, setelah melihat Bryant pergi ke arah parkiran motor. Tidak berapa lama setelah Bryant menginjak gas, Theo mengikutinya dari kejauhan. Bryant sampai pada pelabuhan, di sana Fredrick sudah menunggu dengan speedboat, Bryant menggandeng tangan Freya dan membantunya naik ke atas speedboat, Fredrick tidak berkomentar apa pun, ia sudah diminta untuk merahasiakan hal ini dari orang lain. Setelah itu speedboat mulai melaju dengan cepatnya, Fredrick hanya terdiam sambil menatap speedboat yang semakin lama semakin tak tampak. Theo turun dari motornya, “Fred” sapa Theo, Fredrick terlihat terkejut melihat kedatangan Theo, “Selamat malam tuan Theo”
“Siapa gadis itu?”
“Gadis itu adalah teman tuan Bryant, saya tidak begitu mengenalnya”
“Kemana mereka pergi?”
“Saya hanya diperintahkan oleh tuan Bryant untuk menyiapkan speedboat beserta pengemudinya untuk pergi ke kota terdekat”
Theo terdiam, lalu kembali ke villa dengan tanda Tanya yang sangat besar.

Setelah memakan waktu yang cukup lama, Bryant dan Freya sampai di kota terdekat. Di sana mereka berbelanja, Bryant membelikan baju-baju baru untuk Freya kenakan serta perlengkapan Freya sebagai manusia. Setelah puas berbelanja, mereka segera kembali ke pulau.

Malam berikutnya, pesta ulang tahun Bryant sudah dipersiapkan dengan baik, sebelum pesta mulai Bryant diam-diam pergi untuk menjemput Freya. Theo yang melihat Bryant bermaksud untuk membuntutinya lagi, “Theo, tolong bantu aku mempersiapkan taplak” ujar Carlen, Theo mendengus kesal lalu melangkah menghampiri Carlen dengan taplak biru dengan motif kotak-kotaknya.

Beberapa saat kemudian, Bryant datang berdampingan dengan seorang gadis yang mengenakan dress selutu berwarna merah muda, rambur pirang gadis itu dihiaskan jepitan yang manis dan cocok dengan bajunya, gadis itu mengenakan sepasang sepatu dengan hak tinggi berwarna merah muda. Semua mata terpana melihat keelokan sang gadis. “Perkenalkan, ini Freya, dia tinggal di pulau sebelah” ucap Bryant memecah keheningan. Freya tersenyum hangat lalu menganggukkan kepalanya. Semua cukup terkejut dengan kedatangan Freya, pesta pun dimulai, mereka saling berbincang-bincang, terutama mereka membicarakan mengenai Freya, Bryant yang menjawab hampir semua pertanyaan yang diajukan oleh kedua orang tua dan temannya, ia sudah menyusun scenario untuk menipu mereka. Mereka semua terlihat sangat menikmati pesta ulang tahun tersebut, tapi hanya seseorang yang masih menyimpan tanda Tanya besar, Theo, ia merasa bahwa penjelasan Bryant mengenai Freya adalah kebohongan, ia bertekad untuk mengetahui siapakah Freya sebenarnya.

Sudah 11 hari Bryant berada di Kepulauan Seribu. Besok malam adalah malam terakhir Freya dalam wujud manusianya. Bryant dan Freya terlihat sangat menikmati perbincangan mereka di teras villa bersama dengan Carlen dan Theo. Setelah sudah larut malam, Bryant mengantar Freya untuk pulang, walaupun Carlen sudah membujuk Freya untuk menginap, tetapi Freya menolaknya dengan halus. Seusai mengantar Freya, Bryant kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya, sebenarnya besok Bryant bermaksud untuk memberikan sebuah gelang yang terbuat dari kulit kerang kepada Freya sebagai hadiah pertemanan mereka. Sambil memikirkan wajah girang Freya, Bryant terlelap dalam tidurnya.

Malam ini adalah malam terakhir Freya dalam wujud manusianya, Theo telah menunggu kedatangan Freya di balik batu karang secara tersembunyi. Sebelumnya, ia telah mengakali Bryant agar terlambat menjemput Freya.
“Duh… kalung perakku kenapa tidak ada dalam kotak, ya?” Tanya Theo pada Bryant sambil berpura-pura mencari kalung peraknya,
“Coba kau ingat, kapan terakhir kali kau memakainya” sahut Bryant cuek sambil membaca majalah sportnya
“Aku hanya memakainya sekali… kalau tidak salah sekitar 4 hari yang lalu” Theo terdiam, “Ah… kalau tidak salah aku pergi ke pelabuhan pada malam itu, apa mungkin terjatuh di sana, ya?” gumam Theo
“Entahlah, kurasa lebih baik kau mencarinya, di pulau yang sepi seperti ini tidak mungkin diambil oleh tidak dikenal kan?”
“Bryant, bantu aku mencarinya, ya. Kau kan yang paling mengetahui seluk beluk pulau ini” rujuk Theo
Akhirnya, setelah terus-terusan dipaksa Theo, Bryant mengambil kunci motornya
“Kau pergi duluan saja, aku akan mencari sebentar lagi di sini” ucap Theo pada Bryant. Theo hanya tersenyum penuh kemenangan saat motor Bryant menghilang di kejauhan.

Theo sangat terkejut saat melihat sesosok makhluk berekor keluar dari permukaan laut, lalu pelan-pelan ekornya berubah menjadi sepasang kaki. Freya! Ternyata benar dugaannya selama ini, gadis itu bukan gadis biasa. Theo merasa sangat beruntung, jika ia dapat mempublikasikan Freya pada public ia pasti akan menjadi orang yang sangat terkenal bahkan melebihi Bryant. Freya terliat kebingungan mencari Bryant yang tidak kunjung datang, ia mengenakan atasan kaos putih dengan celana coklat pendeknya serta sepasang sepatu sandal. Theo melangkah perlahan,
“Freya? Sedang apa kau di sini?” Tanya Theo
“Aku… menunggu Bryant” jawab Freya seadanya,
“Ah… kau belum diberi tahu ya? Sebenarnya Bryant tiba-tiba ada urusan di Jakarta, ia baru saja ke pelabuhan tadi”
Freya sangat terkejut, “Apakah masih terkejar?” Tanya Freya harap-harap cemas
“Mungkin, tapi kita harus berangkat secepat mungkin” jawab Theo berbohong
Setelah itu Theo mengajak Freya ke kamarnya dan menyuruh Freya menunggu di sana, sementara Theo berpura-pura mencari kunci motornya. Saat itu villa kebetulan sedang kosong, karena kedua orang tua Bryant sedang pergi memancing sedangkan Carlen disuruh Theo untuk membantu mencarikan kalungnya di daerah sekitar villa. Theo menyugukan segelas air minum yang sudah diberinya obat tidur pada Freya . “Minumlah, perjalanan mungkin akan sedikit lama” pinta Theo sedikit memaksa pada Freya. Alhasil, setelah meneguk air itu, Freya tertidur dengan lelapnya. Theo segera mengikat tangan dan kaki Freya dengan tali yang terdapat dalam kamarnya lalu menggendong Freya dan menyekapnya di kamar mandi kamarnya. Mungkin terdengar nekat, tapi sebenarnya, Theo memiliki perasaan iri pada Bryant sejak dulu, karena ia merasa Bryant selalu lebih unggul darinya dalam segala hal, karena itu ia ingin merebut sesuatu yang berharga dari Bryant dan mendapatkan jasa serta dikenal public.

Bryant memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ia terlambat untuk menjemput Freya! Wajahnya terlihat panic, ia menganggap Freya sebagai gadis yang berharga dan istimewa, ia tidak ingin mengecewakan atau pun membuat Freya khawatir. Saat sampai di villa, hari benar-benar sudah gelap, ia berlari ke arah batu karang yang biasanya, tetapi ia tetap tidak menemukan Freya. Saat masuk ke ruang makan, Bryant menemukan kedua orang tuanya sedang berbincang hangat dengan kedua temannya. Sebaliknya Bryant terlihat lesu, ia mengehempaskan tubuhnya ke sofa, padahal hari ini di bertekad untuk memberi Freya gelang itu. “Bryant, aku akan pulang besok. Orang tuaku memanggilku kelihatannya ada urusan mendadak” ucap Theo. Bryant hanya menggangguk kecil dan menghela nafas.
“Bagaimana dengan kalungmu?” Tanya Bryant
Theo terenyak “Hmm… a… aku menemukannya di dalam kamarku” ujar Theo bohong,

* levana bisa dihubungi langsung di email: levana.bernadetta@yahoo.com


Telah di baca sebanyak: 1523
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *