Artikel Writing Class for Teens

Seanggun Namanya


Dia mulai menginjakan kakinya ditempat yang baru, yang berbeda dengan kehidupannya. Dengan tekat yang kuat, dia dapat mendapatkan semuanya…..

Monday morning, dengan wajah bersinar Anggun memasuki gerbang sekolah barunya Lab School Salatiga. Mengenakan sepatu butut, baju smp yang menyelimuti tubuh tingginya terlihat lusuh. Namun kecantikan gadis 16 tahun ini tak tertutupi oleh kekumuhan penampilannya. Dia mengitar dan melihat sekelilingnya, sekolah elite yang memiliki gedung2 tinggi membuatnya bangga akan dirinya sendiri bahwa kenyataannya dia bisa sekolah ditempat itu.

Tiba2 ada seseorang mendekatinya…
“haii…anak baru ya.??”
Dia kaget, lalu spontan menjawab…
“ehh iyaa…”
“aku Vantika,, kamu siapa.??”
“aku Anggun..” jawabnya pelit, agak sedikit malu.
Lau terjadilah obrolan singkat tentang perkenalan mereka. Setidaknya Anggun sudah memiliki teman di sekolah elitenya, dan tidak hanya satu tetapi 3 teman lainnya juga ikut berkenalan dengan Anggun. Walaupun dengan beasiswa Anggun dapat bersekolah di Lab School, Anggun tidak malu, bahkan tekatnya kuat untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan nilai2nya yang selalu sempurna.

Lapangan sudah mulai penuh dengan anak2 yang memakai putih biru dan beberapa siswa putih abu2 yang menjadi panitia ospek. Anggun bersama 3 teman barunya Vantika, Berni, dan Chaca mulai asik dalam perbincangan mereka seputar SMP masing2 saat ketua ospek menghampiri mereka.
“haii,, kalian dari SMP mana.??”
Dengan tampang sok cute Berni menjawab “aku dari SMP Negeri 3 kak,, kalo Vantika sama Chaca dari SMP Negeri 2,, kalo Anggun dari SMP Negeri 1 kak…”
“ohh jadi yang ini namanya Anggun tho,, aku Mario”, dia mengulurkan tangannya, Anggun menyambut dan menjawab “iya kak aku Anggun..”
“yauda,, met gabung di Lab School ya,, kalo ada yang ditanyakan hubungi aku aja,, jam istirahat aku ada di ruang OSIS kok…
“beres kak,, tengku ya..” jawab Berni nyengir sambil menyenggol tangan Anggun.
Lalu mereka berjalan menuju kelas mereka yang kebetulan sama dan mereka tertawa dengan tingkah Mario tadi.

Matahari yang kian membakar dan semakin tidak bersahabat menjadi saksi pulangnya anak2 Lab School. Anggun, Vantika, Berni dan Chaca menyusuri jalan Yos Sudarso, mereka berpisah di perempatan lampu merah.
“aku pulang duluan ya..?” kata Chaca sembari menyetop angkutan umum.
“iya ati2..” jawab yang lain kompak.
Anggun semakin cemas saat Vantika dan Berni sudah naik angkutan umum duluan.
Namun tak lama angkutan umum yang menuju arah rumahnya datang, dia tersenyum senang. Terlihat sesosok cowok yang terlihat smart melihatnya dari jauh, dibuntutilah angkutan umum yang Anggun tumpangi..

Pagar bambu, halaman yang bersih yang ditumbuhi pohon mangga dan tanaman-tanaman kecil tersenyum menyambut Anggun yang terlihat lelah. Cowok yang mengikutinya tadi sudah menghilang, entah apa yang ia mau. Kursi sudut sederhana TV 14 inch menemani Ibu dan Ayah Anggun beraktifitas. Membuat selai, menyiapkan pisang coklat keju kacang dan menjadi makanan yang disukai masyarakat Salatiga.
“sudah pulang nak.?gimana tadi sekolahnya.?” Anggun dibrondong pertanyaan dari Ibunya. “iya, tadi baru perkenalan gitu bu, Anggun dapet temen dari SMP 3, anak2nya asik2 bu, Anggun seneng..” jawab Anggun berseri.
“ya sudah ceritanya dilanjutin nanti saja, sana kamu ganti baju, cuci tangan terus makan nak.” Kata Ayah.
Sambil berjalan ke kamar Anggun menjawab “iya yah.. ”.

Jam pasir, boneka baby bear, sterefom mini yang berisi foto-foto keluarga menghiasi kamarnya yang cukup sempit. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan memeluk baby bear kesayanganya. Dia menyadari bahwa dirinyalah orang yang paling beruntung di dunia, dapat bersekolah ditempat impiannya walaupun dengan beasiswa, dan ia memiliki teman yang sepertinya care dengannya, walaupun baru tadi ia mengenalnya tapi sepertinya Anggun bisa membaca pikiran mereka bahwa mereka tulus untuk berteman dengan Anggun.
Nice day, pikir Anggun. 

Cahaya matahari diiringi nyanyian burung membangunkan Anggun dari tidur indahnya. Sudah satu minggu sejak masa ospek siswa-siswi Lab School Anggun selalu ceria menghadapi hari-harinya. Anggun mengambil handuk bertuliskan namanya dan memasuki kamar mandi.
Sarapan sudah disiapkan Ibu. Walaupun anggota keluarga mereka berjumlahkan 3 orang tetapi kebutuhan sehari-hari mereka bisa dibilang pas-pasan. Dengan julukan penjual roti bakar, Ayah Ibu Anggun bukan orang yang mewah, uang yang mereka dapatkan selalu ditabung dan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak tersayang mereka, Anggun.
“Makan yang banyak ya nak, nanti pulang jam berapa.?sudah mulai pelajaran penuh ya.?” Tanya ibunya
Anggun menjawab dengan mulut penuh bubur sayu,r “pulang setengah empat bu, ya uda mulai aktif sih pelajarannya…”

Gerbang sekolah penuh dengan mobil-mobil mewah yang mengantarkan siswa-siswinya. Anggun berjalan dengan keanggunnanya, dengan sepatu baru yang dibelikan ibu kemarin.
“haii..” sapa Mario dari belakang.
“haii juga..” jawab Anggun penuh senyum.
“berangkat naik apa.?”
“ohh naik angkot terus jalan dari perempatan.”
“hmm,, ada FB ngga.??minta donk ntar biar aku add.”
“oke deh,, Anggun Fitria,, ada fotonya jadi ngga usah bingung dengan sejuta nama Anggun Fitria hehehe..”
“tengkyu ya,, aku duluan..bye Anggun Fitria….”
Anggun hanya tersenyum. Entah mengapa sepertinya dia tidak basa basi dengan cowok ini. Sejak perkenalan seminggu lalu dengan Mario, mereka sering ngobrol, walaupun hanya saat pulang sekolah, saat istirahat, atau saat ketemu di pagi hari.

Ruangan yang memiliki 35 pasang meja kursi, whiteboard, dan perlengkapan belajar lainnya sudah penuh dengan anak-anak yang siap belajar. Anggun, Vantika, Berni dan Chaca sudah duduk di bangku mereka. Guru matematika datang membawa seorang murid baru dari Semarang, namanya Belinda. Tinggi, putih, rambut panjang yang ia miliki tidak kalah lebat dengan rambut Anggun.
“good morning friends, kenalin nama aku Belinda, aku dari Semarang, minta kerjasamanya ya temen2, aku akan belajar bareng kalian.”
Dari awal Belinda masuk kelas, dia memiliki pandangan tidak suka terhadap Anggun. Setiap pelajaran yang selalu Anggun aktif dalam bertanya, Belinda terlihat iri dan keanggunan itu membuatnya jealous. Dia akan membuat Anggun tidak disukai temannya. Belinda memang sudah gila..

In canteen…
4 serangkai disertai Mario duduk di meja paling pojok, Belinda melihat mereka dari jauh dengan sejuta pikiran jelek.
“Nggun, ntar pulang sekolahjalan yuk ke pansi..” ajak mario. Anak2 sepertinya sudah paham dengan tujuan Mario, mereka hanya senyum2 melihat reaksi Anggun.
“hmm sory, besok aja gimana, aku uda bilang sama ibuku nanti pulang setengah 4.” Jawab Anggun lemes.
“ya udah, benaran ya besok..”
“iya, bener ko..”
Mereka berlima melanjutkan makan….

In class…
Belinda mengajak ngobrol anak-anak yang sudah berada di kelas, karena 5 menit lagi bel masuk berbunyi sehingga kelas sudah terlihat penuh,hanya kurang 4 sarangkai saja dan beberapa anak lain yang belum masuk.
“ah temen2 tau ngga, ternyata Anggun tu anaknya orang miskin lhoo,, dia anaknya penjual roti bakar yg didepan Dumai itu. Gila aja ngga sih,, masa anak kaya gitu mampu sekolah di sekolah favorit kaya gini..”
Anak-anak lain berbisik mengiyakan perkataan Belinda.
“ya ampun,, aku uda cuiga sih sbenernya, ternyata bener ya..” kata mereka.

Anggun masuk bersama 4 temannya.
“heiii, ko kamu ngga jualan roti bakar di sekolaa aja sih?..” celetuk salah satu teman mereka.
“iya, khan sepi tu di depan Dumai hahahahahaha…” teriak yang lain
Ingin sekali Anggun melawan mereka namun Ibu Guru sudah berjalan ke arah kelas mereka.

Bel pulang berbunyi, doa pulang, dan Ibu Guru sudah keluar meningglkan kelas.
“kamu boleh menghina aku tapi jangan menghina orang tua aku.!” Tegas Anggun. Namun justru anak-anak mentertawakannya lagi.
Berita itu sudah sampai di telinga Mario. Walaupun Mario tau yang sebenarnya, dia tidak illfeel dengan Anggun, justru dia ingin dekat dengan Anggun karena sifatnya yang tidak sombong dan rendah hati.
Mario mencari 3 sahabat Anggun dan dia ingin melindungi Anggun dari cemoohan teman-temannya itu.
“siapa yang ngomporin anak2 ya Van.?” Tanya Mario serius.
“aku juga ngga tau sih, kayaknya anak-anak itu pada baik sama Anggun tapi kok tadi pada ngomong gitu ya.?” Jawab Vantika menjadi ikutan serius.
Berni sok serius berkata “kayaknya aku tau deh,, bisa aja khan Belinda yang nglakuin.??”
Chaca yang dari tadi berdiam ikut membicarakan masalah itu “iya, msalahnya aku tau, sejak Belinda masuk cara pandangnya ke Anggun uda beda gara2 Anggun deket sama anak-anak yang lain..”
“oke, kita selidiki aja kalo gitu..” kata Mario.

Pagi itu sekolah masih terlihat sepi, tercium bau rumput yang basah oleh air. Anak-anak Lab School masih berada di rumah, kaena saat itu masih pukul 06:05 WIB.
Mario sudah berada di sekolah dari mulai lima menit yang lalu. Yang dia lakukan yaitu melihat awal datangnya Belinda hingga gerak-geriknya melakukan aktivitas di sekolah.
Kantin mulai rame anak-anak yang tidak sempat sarapan di rumah, atau hanya sekedar nongkrong minum es teh.
Belinda turun dari mobil, berjalan menuju kelas, pandangan Mario tidak lepas dari langkah kaki Belinda. Belinda memasuki kelas dan berbincang dengan teman-teman, sepertinya benar, Mario mendengar percakapan Belinda dengan temannya bahwa dia tidak suka dengan anak miskin karena orang miskin tidak memiliki moral. Mario marah, namaun amarahnya teredam ketika mengingat Anggun.

Bel istirahat pertama berbunyi, anak-anak berhamburan ke kantin, mungkin mereka kelaparan akibat pelajaran yang berlangsung selama 3,5 jam. Mario sudah mem-booking tempat di kantin, dia menunggu kedatangan 4 serangkai.
Anggun CS memasuki kantin dan Mario melambaikan tangan, tanda bahwa mereka harus duduk bersama Mario.

“Nggun, are you okay.??” Tanya Mario aneh.
“iya, emangnya kenapa.??” Jawab Anggun santai.
“ohhh engga, aku pengen gomong aja sih, tapi kamu jangan emosi ya..”
“iya, emang ada apaan sih.??”
“kamu kemaren diejekin anak-anak ya.??”
Anggun tertunduk malu “iya, tapi biarin ajalah, paling juga anak-anak pada ngga suka sama aku.”
“engga, ini ada dalangnya Nggun.Anak-anak selama ini care sama kamu, aneh kalo tiba-tiba anak pada gitu.” sela Vantika meyakinkan.
“iya, ternyata Belinda ngga suka sama kamu jadi dia kaya gitu buat narik perhatian anak-anak yang lain,” jelas Mario rapi.
“trus aku harus gimana dong, biarin ajalah, toh masih ada kalian yang peduli sama aku,” jawab Anggun pelan.
“ngga bisa gitu Nggun, mereka tu uda ngeledek kamu jadi kamu ngga boleh diem aja, bilang sama mereka kalo roti bakar itu lebih enak dari pizza, kalo mau besok anak-anak bawain aja roti bakar kamu..gimanaa…?..” kata mario sambil nyengir.
“waaaaa cemerlang tu..” jawab Chaca sambil kedip mata.

Anggun sibuk dengan barang bawaannya, roti bakar yang dibuat oleh Ayah dan Ibu Anggun telah disiapkan sesuai saran Mario. Dia akan mencari tau, apakah anak-anak dikompori oleh Belinda atau memang mereka tidak suka dengannya.
Sesampainya dikelas beberapa anak menceletuk..
“heeii mana roti bakar kamu?hahahahaha”
“nie,, aku bawain roti bakar buat kalian, dijamin lebih enak daripada pizza…” jawab Anggun sembari membagikan rotinya.
Awalnya anak-anak ragu untuk menerima roti itu, namun apa daya perut meminta.
Satu per satu mereka mencomot roti.
“hmm enak juga ya..” kata anak-anak bergantian.
“iya ya,, Belinda fitnah ternyata, dia bilang roti bakar Anggun ngga laku,, tapi enak gini masa ngga laku yah.”
Anggun menggumam “yess,, kita berhasil guys..”
Belinda yang dari tadi melihat dari depan pintu hanya menepis dan merasakan iri hati yang sangat.
“haii Bel sini, ini aku bawain roti bakar, tenang aja ini enak kok.” kata Anggun.
Belinda yang selalu berpikir buruk tentang Anggun, kini dia mau berteman dengan Anggun karena ketulusan hati Anggun. Walaupun dengan modal kecerdasan, Anggun memang pantas mendapatkan teman-teman yang baik dan sayang kepadanya.
Nice day for Anggun .

Semenjak hari itu, setiap pagi selalu ada kejutan di bangku Anggun, banyak siswa-siswi yang nge’fans dengan Anggun karena kabaikannya.
4 serangkai yang dibangga-banggakan Bapak Ibu Guru dapat lulus dengan nilai yang baik. Mario telah menunggu Anggun di UPM. Sebelum Mario pergi ke Jogja, dia dan Anggun telah berjanji untuk masuk di Universitas yang sama dan akan menjaga Anggun jika Anggun nanti kuliah di Jogja. Orang tua Anggun telah menyetujui untuk dia kuliah di Jogja bersama Mario.

Suara ombak dan angin sore membuat suasana panas di Jogja. 4 serangkai tetap bersama untuk masuk ke UPM dan mengambil jurusan yang sama, sama-sama satu kost, dan sama tujuan kuliah dan mendapatkan pekerjaan dari Universitas karena nilai yang bagus. Mario sengaja menunda kuliahnya satu tahun untuk supaya bisa seangkatan dengan Anggun.

Setelah lama penantian Mario sejak SMA, kini saat yang tepat untuk Mario menyatakan cintanya dengan Anggun. Tepat sekali, selama ini Anggun juga berusaha mendapatkan nilai baik supaya mendapatkan biaya kuliah dari Pemerintah dan bisa bersama Mario di Jogja.

Dalam hidup ini hanya ada dua sifat manusia, yaitu baik dan buruk. Setiap satu kebaikan maka kita akan menerima 2 kabaikan. Namun jika kita melakukan hal buruk maka akan ada 3 hal baik yang datang kepada kita, karena jika keburukan akan dibalas dengan keburukan maka apa yang terjani itu hanya sebuah kemurkaan.
Selamat melakukan hal baik.


Telah di baca sebanyak: 1320
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *