Kolom Alumni

Sebelum dan Menjelang Keberangkatan (Haji Orang Pinggiran Eps-2)

Oleh: Jonih Rahmat

Sebelum Keberangkatan
Allah Tidak Menerima Haji dari Rezeki Yang Tidak Halal
Ustaz pembimbing haji kami menyampaikan tentang perlunya kehalalan rezeki yang digunakan untuk melaksanakan haji. Rezeki yang halal pun, perlu diperiksa kembali apakah sudah dizakati atau belum. Jika belum, agar segera melaksanakannya sebelum pergi haji.  Allah tidak menerima ibadah haji orang-orang yang suka memakan rezeki hak orang lain.  Allah tidak butuh ibadah haji orang-orang yang suka memakan rezeki yang tak halal. Allah tidak menerima haji dari rezeki yang tidak halal!

Kami merasa beruntung mendapat bimbingan manasik haji dari para ustaz yang sangat luas ilmu agama dan  ilmu humaniora lainnya; menguasai Bahasa Arab dan beberapa bahasa asing lainnya; hafiz Alquran; penyampaian ceramah atau bimbingannya, enak didengar dan perlu! Suasana manasik nyaman sekali.

Para ustaz membahas makna haji dengan uraian yang menarik sekali. Bahwa haji adalah latihan kematian. Haji adalah kepulangan kita kepada rumah Allah di tanah suci. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kerinduan seorang muslim akan haji adalah seperti kerinduan seruling untuk kembali kepada rumpun bambu.

Bertambahlah ilmu tentang haji dan bertambahlah teman sesama peserta manasik. Semua orang pada ramah. Semua baik hati. Alhamdulillah. Beberapa orang di antara peserta manasik, malah memberi kami prabingkisan haji. Mereka membawa dari rumahnya makanan khas Arab -yang biasa dibawa dari tanah suci oleh para jamaah haji sepulang ibadah hajinya. Makanan tersebut juga tersedia di banyak kota di Indonesia. Para pedagang mendatangkannya dari negeri aslinya dan menjualnya di tanah air, untuk kemudahan para jamaah memberi hadiah, oleh-oleh, atau sekedar menyuguhi tamu yang datang. Nah, ibu-ibu teman manasik ini, mungkin, membelinya dari toko-toko yang menjual oleh-oleh haji itu, atau dari sumber lain, membawanya ke tempat manasik, dan memberikannya kepada kami. “Agar nanti tak terlalu berat membawa dari sana,” katanya. Alhamdulillah.

Mendengar kami akan pergi haji, seorang kawan yang tinggal di Ciomas juga, tapi lebih ke arah kota, ustaz Rudy dari Pasir kuda, malam-malam, menyengaja datang ke kediaman kami. Beliau dengan senang hati memberikan presentasi pelbagai hal tentang ibadah haji. Manasik gratis dari ustaz Rudy ini sangat bermanfaat bagi kami. Semoga Allah membalasnya dengan keberkahan untuk Ustaz Rudy dan keluarganya.

Walimatussafar di Rumah Bu Dokter

Demi efisiensi waktu dan -terutama- finansial, kami mengajak Bu Dokter, yang bersama tiga anaknya; satu putra dan dua putri, juga akan pergi haji tahun ini; untuk joinan menyelenggarakan walimatussafar; yakni syukuran sebelum keberangkatan ke haji. Bu Dokter adalah tetangga dekat kami. Kami sering melakukan kerja sama dalam proyek-proyek sosial. Bu Dokter mencarikan dana, kami menyediakan pengguna dana. Kami tinggal di kampung yang sama, Kampung Kereteg, Desa Padasuka, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Dalam hidup, selain dengan keluarga, kita senantiasa berinteraksi dengan saudara, teman, dan lebih-lebih tetangga. Adalah sangat mungkin selama bertahun-tahun berinteraksi tersebut ada tingkah laku dan kata yang tidak pada tempatnya, sehingga melukai hati. Sengaja atau pun tidak.

Di alam nan kekal nanti, semua ingin selamat, pasti! Ketika mati, semua orang tidak ingin membawa dosa. Perjalanan haji adalah latihan kematian. Setelah melakukan perjalanan haji, kita semua ingin kembali ke tanah air (walau ada juga orang yang ingin meninggal di tanah suci), berkumpul dengan keluarga. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karenanya, sebelum meninggalkan rumah, kita ingin terbebas dari dosa, atau setidaknya meminimalkan dosa yang selama ini melekat pada diri kita, baik dosa vertikal maupun dosa horizontal. Untuk dosa vertikal kita bisa mohon ampun, langsung kepada Tuhan. Kapan saja, pukul berapa saja. Dan,  selama kita bersungguh-sungguh dalam bertobat, Dia pasti menerima. Khusus untuk dosa horizontal, tak semudah itu. Ada beberapa prosedur yang harus dilalui.

Kepada orang-orang yang pernah kita zalimi; apa pun bentuknya, baik sengaja ataupun tidak, kita perlu mengunjunginya pada waktu yang mungkin tidak sesuai dengan waktu senggang yang kita punya, meminta dimaafkan atas kesalahan yang pernah kita perbuat, dan -mudah-mudahan- kemudian, menerima pemaafan. Kita punya salah, boleh jadi kepada banyak orang. Jadi, perlu alokasi waktu yang tidak sedikit. Padahal, orang mau pergi haji, sibuknya, tiada terkira! Jadi, bagaimana caranya? Ya, dengan walimatussafar tadi. Kita undang saudara, teman, dan tetangga ke rumah kita (atau yang dianggap rumah kita- bisa rumah saudara, tetangga atau masjid). Padahal, sesungguhnya, kita yang harus ke rumah mereka. Lha, kita yang perlu, kok!

Untuk tetangga yang lokasi rumahnya di belakang rumah kami, di gang-gang sempit dan becek kalau sedang musim hujan, kami minta tolong Pak Enjum -seorang saleh, sederhana, tak banyak bicara- untuk mengundang mereka datang ke rumah Bu Dokter. Adapun untuk tetangga yang bertempat tinggal di depan rumah dan sekitar jalan besar, kami minta tolong Pak Soleh- orang yang akhlaknya sesuai namanya- untuk mengundang mereka. Semua undangan disampaikan tidak lewat kartu undangan, melainkan dengan mendatangi rumah-rumah tersebut, satu persatu. Itulah kebiasaan di kampung kami.

Rumah Bu Dokter yang besar itu, penuh sesak oleh undangan. Hadirin tidak hanya memenuhi ruang tamu dan ruang keluarga, melainkan juga sampai ke teras dan garasi. Di antara hadirin, tampak pula beberapa ustaz yang mendapat kabar angin bahwa kami akan pergi haji. Ada siraman rohani dan sedikit konsumsi. Ceramah disampaikan oleh guru kami semua di Kampung Kereteg, Ustaz   Yayat. Beliau menyampaikan ceramah dengan materi sederhana tetapi kena. Acara puncak adalah, ya, itu tadi: kami mohon dimaafkan atas segala khilaf dan mohon didoakan agar ibadah haji kami lancar, tak ada halangan, dan Allah menerima ibadah haji kami.

Diiringi pembacaan selawat “Ya Nabi salam ‘alaika. Ya Rasul salam ‘alaika. Ya Habieb salam ‘alaika. Sholawatullah ‘alaika,” kami bersalam-salaman, saling memaafkan. Tetes-tetes air mata menambah kesyahduan malam itu. Pak Syamsudin, seorang di antara yang menyalami kami, seorang sangat sederhana tetapi kaya raya hatinya, sangat sensitif terhadap penderitaan orang-orang miskin, padahal ia sendiri, sama sekali tidak kaya, satpam sehari-hari kerjanya, nyaris tak pernah melewatkan malam tanpa salat malam, mendoakan kami sementara matanya berkaca-kaca.

Menitipkan Anak-anak Yatim

Hari-hari menjelang keberangkatan, rasanya berjalan begitu cepat. Ada satu urusan penting yang belum kami serahterimakan, yaitu mengenai anak-anak yatim kami. Mereka harus kami tinggal selama pelaksanakan ibadah haji ini. Untuk anak kami sendiri, yang lahir dari rahim istri saya, sudah kami titipkan kepada eyang, paman, dan tantenya. Mereka tak mungkin dibebani lagi dengan urusan anak-anak yatim. Barangkali terjadi sesuatu kepada anak-anak, atau mereka memerlukan sesuatu kepada kami, padahal kami tidak bersama mereka, kami harus menitipkan mereka kepada seseorang yang amanah. Yang dapat dipercaya.

Untuk urusan anak-anak yatim ini, sahabat kami, Pak Syamsudin, orang yang sebutkan di atas, yang menginspirasi kami dalam mengasuh anak-nak yatim dan fakir miskin, menerima serah terima dari kami untuk mengurus segala sesuatu keperluan anak-anak selama kepergian kami.

Menjelang Keberangkatan

Salat Tobat, Salat Safar, dan Wasiat

Malam menjelang keberangkatan dan pagi harinya, istri saya melakukan salat tobat dan salat safar. Saya baru melakukan keduanya pada siang harinya. Selesai salat kubaca doa: “Ya Allah, aku mohon perlindungan-Mu untuk diriku, hartaku, keturunanku, dunia dan akhiratku, amanah-amanahku, serta akhir seluruh perbuatanku.”

Kemudian kami kumpulkan seluruh anggota keluarga. Kami sampaikan pesan-pesan kepada anak-anak, ibu dan bapak, serta saudara-saudara. Kepada anak-anak kami wasiatkan agar saling mengasihi satu sama lain, memelihara salat yang lima, dan rajin belajar, serta mengaji. Kepada ibu, bapak, dan saudara-saudara; setelah mohon dimaafkan atas segala khilaf; barangkali terjadi sesuatu hal pada kami- sehingga kami tak bisa kembali; kami titipkan pendidikan anak-anak kami, “Untuk keperluan pendidikan anak-anak, kalau perlu, juallah apa pun yang kita punya.”

Suasana haru menyelimuti seluruh orang yang ada di dalam rumah. Tak hanya keluarga, beberapa tetangga yang hari-hari sering datang ke rumah, turut larut dalam keharuan.

Kami panjatkan doa : “Ya Allah, pada hari ini kami lindungkan diri kami, keluarga kami, harta kami dan orang-orang yang menyertai kami dalam sifat ini kepada-Mu, baik yang tampak maupun yang tak tampak. Ya Allah, peliharalah kami dengan penjagaan iman serta lindungilah kami. Ya Allah, jadikanlah kami berada dalam liputan kasih sayang-Mu dan janganlah Kau tutupi kami dari curahan karunia-Mu, karena sesungguhnya kami benar-benar memohon semua itu kepada-Mu. Ya Allah, sungguh kami mohon perlindungan-Mu dari kesulitan dalam perjalanan kami ini, dari kesedihan hati serta penantian yang buruk dalam keluarga kami, harta kami, anak-anak kami, di dunia dan di akhirat. Ya Allah, kami menghadap kepada-Mu dengan mengharap rida dan kedekatan-Mu. Ya Allah, sampaikan kami kepada apa-apa yang kami harapkan dan kami dambakan dari-Mu dan dari kekasih-Mu, Wahai Yang Mahakasih dan Sayang.”

Setelah membaca tasbih, tahmid, takbir, dan Alfatihah, kami melanjutkan doa : “Ya Allah, kami hadapkan wajah kami kepada-Mu dan kutitipkan keluarga kami kepada-Mu, demikian pula harta kami dan tanggungan kami. Sungguh kami benar-benar percaya kepada-Mu, maka janganlah Kaukecewakan kami, wahai Dzat yang tak pernah mengecewakan orang-orang yang dalam penjagaan-Nya. Ya Allah, curahkan rahmat-Mu kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad. Lindungilah kami dari apa-apa yag kami tidak ketahui tentangnya. Janganlah Kauserahkan penjagaan kami pada diri kami sendiri, wahai Dzat Yang Mahakasih dan Sayang.”

Seperti diajarkan para guru, sebelum meninggalkan rumah, agar bersedekah kepada orang-orang paling dekat dengan keluarga kami. “Ya Allah, kubeli dengan sedekah ini, keselamatan dalam safar kami ini dan keselamatan segala sesuatu yang menyertai perjalanan kami ini. Ya Allah, peliharalah kami dari segala yang kami bawa beserta kami. Selamatkan kami dari segala yang kami bawa. Sampaikan kami dari segala yang kami bawa kepada tujuan yang kami cita-citakan dengan penyampaian-Mu yang baik lagi indah.”

Tetangga Melepas

Setelah tersiar kabar bahwa kami akan pergi haji, setiap bertemu tetangga belakang rumah, mereka bilang, “Bade ngiring, ah!” (maksudnya, mau ikut mengantar ke Jakarta, melepas keberangkatan haji). Semula, kami bermaksud “melepaskan diri” saja dari rumah, sehingga tetangga tak perlu repot-repot mengantar kami ke Jakarta. Tetapi, rupanya hal itu tak lazim. Lagi pula, kasihan mereka, yang dengan rela dan senang hati mau melepas kami hingga titik terakhir yang memungkinkan. Masa ditolak! Karena keterbatasan kendaraan, dengan permohonan maaf, kami minta yang mau mengantar, satu keluarga, satu orang saja. “Jadi, kalau Ibu ikut, Bapak  -sekali lagi mohon maaf-  tidak ikut. Demikian pula sebaliknya,” seru saya. Yeni dan Bu Deasy dari TK Ummul Quro mengusahakan penyewaan bus dan dibantu Candra, keponakan saya, mengoordinasi seluruh penumpang di bus selama di perjalalan. Kami menyewa tiga bus.

Baru saja bus selesai parkir di halaman kantor TELKOM Ciomas, ketiga bus segera dipadati penumpang. Ada keharuan mendalam saat ibu-ibu pengajian menjemput kami di halaman rumah dan mengantar kami menuju bus dengan melantunkan selawat badar. Keharuan bertambah  ketika melihat beberapa tetangga kampung yang tidak bisa ikut serta ke Jakarta -karena kuota angkutan- melambai-lambaikan tangan, sebagian dengan wajah ceria, lainnya tampak sedih.

Orang “Sakti” di Bandara

Setelah chek-in, sambil menunggu istri yang sedang salat maghrib, saya berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang sedang duduk dekat musala. Rupanya dia bekerja di bandara. Dan, petang itu, ia kelihatan santai dan happy. Dia belum lama berbicara dengan seorang sakti. Sambil menunjukkan sebuah kartu nama, dia cerita tentang kehebatan si ibu yang belum lama berkenalan dengannya. “Dia bermasalah,” timpal saya. “Lha, kok, Bapak bilang dia bermasalah. Bermasalah bagaimana?” seru dia sambil menampakkan wajah tak mengerti. “Manusia dan jin itu, punya frekuensi yang berbeda. Masing-masing punya tugas sendiri-sendiri. Tak perlulah saling mengganggu atau pun “bantu-membantu”, kecuali dalam kebenaran. Tak perlu jalan-jalan ke alam sana, kecuali kalau memang kurang kerjaan!” Kemudian obrolan meluas ke sana-kemari, saya berpamit untuk segera boarding. Kelak di tanah suci, si ibu ternyata satu rombongan dengan seorang teman. Menurut informasi yang tidak sengaja saya terima, di Makkah dan Madinah, ia banyak menemui masalah dengan peribadatannya. Pada waktu-waktu salat dan pengajian, dia sering sakit. Saat “tawaf” di tempat pembelanjaan, ia segar bugar! Ada masalah yang ia alami yang jauh lebih parah dari itu, yang tidak seharusnya terjadi. Apalagi di tanah suci! Saya tak ingin menceritakannya di sini. (bersambung)

*) Lahir di Bandung.  Bersama istri tercinta, Sri Wardhani, di pinggiran kota Bogor, di mana ia dan keluarganya tinggal, mengasuh anak-anak yatim.  Selain itu, suami istri ini aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial lainnya: khitanan massal, pembuatan MCK umum, mengusahakan biaya pengobatan dan perawatan  orang-orang sangat miskin.

Di kediamannya, sering dijumpai orang yang menginap atau sekedar istirahat menenangkan hati.

Karena tidak pergi-pergi haji, dan diduga tidak punya cukup uang untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu, padahal ya, teman-temannya di tempat kerja berinisiatif: urunan, mengumpulkan uang untuk biaya hajinya. Jadilah ia kini: “Haji Kosasih”. Karena memang, ongkos hajinya dikasih.

Jonih bisa dihubungi di Jln. Pagelaran, Gg. H. Lasim No. 9, Kampung Kereteg, Ciomas, Bogor  atau melalui e-mail: bilisikap@gmail.com

Telah di baca sebanyak: 5217
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *