Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaNews FeedTraining Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaComments Subscribe to Training Motivasi – Pelatihan Menulis – Training for Trainer – Publik Speaking – Andrias HarefaSitemap

Sebelum Menulis, So What?

February 12, 2009 by  
Filed under Eni Kusuma


Saya mulai tertarik dengan dunia kepenulisan sejak mengikuti workshop kepenulisan bagi para pekerja rumah tangga di Hongkong yang di adakan oleh komunitas Café De Kosta. Kemudian saya banyak mengikuti milis-milis kepenulisan, di antaranya milis penulis best-seller. Apa saja yang saya posting di sana? Selain puisi dan cerpen, saya juga mengirim opini atau artikel-artikel, bahkan sekedar tanggapan dengan topik yang menarik untuk dibahas. Dari mana saya mendapatkan bahan-bahan itu? Apakah dari membaca buku, majalah, Koran, dan situs internet?

Membaca adalah semacam bekal untuk mengisi pikiran kita. Membaca sangat membantu saya. Akan tetapi jika saya berusaha memasukkan gagasan-gagasan dari buku, opini di majalah, koran ataupun dari situs internet ke dalam pikiran saya, kemudian meneruskan kepada orang lain, pasti akan ada yang kurang bebas dalam tulisan saya. Rekan-rekan yang membaca tulisan saya mungkin tidak begitu tahu ketidakberesannya, tapi bagaimanapun juga mereka tidak mungkin akan tertarik untuk membacanya.

Di sini ada sesuatu yang telah saya alami ketika pertama kalinya saya belajar menanggapi sebuah artikel di situs bergengsi www.pembelajar.com yang ditulis oleh seorang penulis terkenal Jennie S. Bev. Saya membaca dan mencernanya. Ketika saya menuliskannya dengan harapan dibaca orang, saya tidak menceritakannya kembali ,tetapi yang saya tulis adalah apa yang saya cerna dari artikel tersebut dan apa yang ingin dan coba saya katakan. Sekali lagi, apa yang ingin dan coba saya katakan. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang menjadi pendapat saya. Jadi tulisan saya tersebut bukan berisi pendapat orang lain yang saya teruskan kepada orang lain lagi. Tetapi saya memberikan pribadi, gagasan-gagasan, dan pemikiran-pemikiran saya berdasarkan topik tersebut.

Sebelumnya saya sering menjumpai tulisan-tulisan yang diposting di milis-milis adalah berisi tentang opini orang lain yang diteruskan oleh seseorang pada kami – para anggota milis. Jika orang yang bersangkutan ingin mulai menulis, hendaknya dia memberi opini atau pendapatnya sendiri dengan topik yang disukai atau dikuasainya. Saya tertarik untuk membacanya, yang jelas saya ingin mendengarnya bicara, gagasan-gagasannya serta pemikiran-pemikirannya dan lain-lain. Tidak peduli siapa dia maupun latarbelakangnya.

Saya membaca artikel itu, mempelajari dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya setuju atau tidak dengan pendapat penulis tersebut. Jika setuju saya harus menerangkan dan menjelaskan gagasan-gagasannya dengan peristiwa-peristiwa yang saya alami sendiri. Tetapi jika saya tidak setuju dengan artikel itu, maka saya harus mengatakan dan menerangkan apa sebabnya demikian. Demikianlah, saya bisa menulis artikel tanggapan dengan pengalaman saya sendiri sebagai pembantu rumah tangga. Jadi jika saya menulis seolah-olah merupakan hasil ciptaan saya sendiri. Tetapi yang lebih menyemangatkan saya dalam menulis adalah sedikit perlawanan dari pendapat-pendapat yang ada. Kita kerap kali akan menulis jauh lebih lancar, justru jika kita tidak setuju atau tidak begitu setuju dengan pemikiran penulis suatu artikel atau opini tertentu yang kita jumpai. Apakah menulis itu sama dengan mengumpulkan beberapa kalimat yang bagus-bagus kemudian ditulis dan ditulis? Tidak. Menulis berarti mengumpulkan gagasan-gagasan dan pikiran-pikiran sendiri, ajakan-ajakan sendiri dan keyakinan-keyakinan sendiri, dengan topik yang bertebaran di sekitar kita. Menulis berarti berpikir, merenung dan mengingat-ingat.

Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh mentor saya Edy Zaqeus. Bahwa jika tiba-tiba terbersit gagasan-gagasan di benak kita, hendaknya kita segera menuliskannya dikertas sebelum ide-ide itu hilang. Dikumpulkan untuk kemudian dirangkai secara urut dan utuh. Jangan ditunda-tunda. Jika menemukan ide atau gagasan, baiknya kita selalu perhatikan serta merenungkan gagasan tersebut sehingga makin lama makin berkembang. Itulah cara sebaik-baiknya untuk melatih kerja otak kita.

Sejak bergabung di milis-milis kepenulisan, saya lebih suka memperbincangkan suatu hal yang menarik perhatian saya, dengan menceritakannya secara singkat. Untuk menarik perhatian yang paling baik adalah bermula dari topik-topik yang ditulis pendek-pendek dulu. Biasanya ini yang paling mengasyikkan. Karena rekan-rekan mula-mula justru senang membaca yang singkat-singkat itu dan mereka pun tertarik untuk mendiskusikannya. Ini pertama kali proses pembelajaran saya dalam berpikir dan mengembangkan gagasan-gagasan.

Mungkin Anda bertanya-tanya apakah kebanyakan orang-orang berani berpendapat karena mereka itu mempunyai rasa percaya kepada diri sendiri yang sangat kuat? Apakah karena mereka tahu apa yang hendak dikatakan, tahu bagaimana bersikap? Tentu saja. Untuk itu rasa percaya kepada diri sendiri merupakan hal pertama yang telah kita bahas di depan.

Masalahnya sekarang adalah tidak mudah mencari, memilih, menyusun dan mengolah semua bahan-bahan itu ke dalam tulisan. Saya pun demikian sebagai pemula sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Naning Pranoto bahwa seorang pemula sebaiknya menulis dulu pengalaman-pengalaman yang dialaminya (baca wawancara dengan Naning Pranoto di www.pembelajar.com). Maka saya pun mematuhi nasehat itu. Saya menceritakan tentang pengalaman-pengalaman saya sendiri, keinginan-keinginan saya, tentang kesukaran dan kegagalan serta tentang keberhasilan saya. Saya menggagas,mengajak berdasarkan keyakinan saya sendiri. Bagaimanapun hal yang mengasyikkan banyak orang adalah tentang mempelajari kehidupan terutama tentang orang-orang dan pribadi-pribadi.

Pengalaman sendiri atau hal-hal yang pernah dialami dan disaksikan sendiri, mudah diingat dan direnungkan. Ingatan-ingatan itu lebih mudah untuk dipahami daripada pendapat-pendapat yang abstrak. Dan tentu saja akan lebih mudah ditulis dan diceritakan. Tetapi untuk menunjang itu semua kita harus banyak membaca. Terutama buku-buku atau literature-literatur yang menunjang tema atau topik yang sedang kita bahas. Buku merupakan oli dalam mesin pemikiran kita.

Hal ini sangat penting dilakukan. Ibarat barang atau produk, kita harus tahu betul secara detil A-Z tentang barang atau produk kita. Karena ini akan menjadikan kita sedemikian positip dan kita juga akan merasa sedemikian kuat sehingga pelanggan-pelanggan kita yang meremehkan produk kita, tidak akan menggoncangkan pendirian kita. Karena kita tahu betul bahwa ia tak sebegitu banyak pengetahuannya seperi pengetahuan kita tentang produk tersebut. Sehingga tak ada orang lain yang mengalahkan kita.

Ketika saya ke Jakarta untuk menghadiri beberapa acara di sana, saya ditemui oleh beberapa perusahaan, diantaranya adalah perusahaan asuransi. Mereka begitu sangat percaya diri dengan produk-produk mereka. Karena mereka tahu betul seluk beluk tentang produk-produk mereka. Meski saya banyak bertanya terkadang menyudutkan mereka, tetapi mereka dengan sangat tenangnya memberi informasi-informasi tentang produk-produk mereka. Mereka terus saja berbicara tak peduli dengan apakah saya mengerti atau tidak apa yang mereka maksudkan. Mereka tahu betul bahwa pengetahuan saya tentang produk-produk mereka tak sebaik mereka. Hal ini memang benar. Apa jadinya jika mereka tidak mau atau enggan mempelajari produk-produk mereka. Tentu mereka tidak akan sedemikian percaya diri.

Demikian juga dengan menulis, kita harus tahu betul masalah atau topik yang akan kita bahas. Kita harus banyak membaca literature-literatur tentang topik-topik tersebut. Maka kita akan menjadi percaya diri dan siap jika orang lain mendebat pendapat kita. Jika kita mengumpulkan bahan-bahan sepuluh kali dari apa yang kita perlukan dan mendalami dengan baik masalahnya dulu, maka kita akan menulis dengan rasa pasti. Dan kita bisa menulis dengan jelas serta meyakinkan, karena kita mengetahui sepuluh kali lebih banyak daripada yang dikemukakan.

Mungkin kita tidak punya waktu untuk melakukan itu. Kita mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keseharian kita. Apalagi ketika itu saya yang sebagai pembantu rumah tangga yang hampir tidak ada waktu luang kecuali beberapa saat dalam sehari. Jika begini kondisinya, maka tidak ada cara lain yang lebih efektif saya rasa, selain berlatih berpikir sambil menulis dan belajar berpikir sambil ikut dalam diskusi di suatu milis yang diikuti seperti saya dahulu. Kenapa di sebuah milis? Karena media ini cocok buat saya untuk profesi saya waktu itu. Jika seseorang adalah pekerja kantor tentu akan lebih bebas berdiskusi dengan rekan-rekan sekantor di suatu pertemuan, rapat, atau di café-café. Demikian juga dengan profesi yang lain. Tetapi bagaimanapun juga pergi ke perpustakaan, membaca buku, mengunjungi suatu tempat, surfing internet untuk mendalami dan mempelajari suatu masalah adalah lebih baik. Lebih banyak tahu dari mereka yang tahu akan lebih baik.

Nah menulis begitu mudah bukan? Sebaiknya jika terlintas gagasan atau ide bahkan ketika sedang duduk, mandi atau makan segera ditulis dan dikumpulkan dalam suatu amplop besar atau map besar. Untuk kemudian ditulis dan disusun menjadi satu kesatuan yang utuh. Jangan menangguhkannya lagi. Ada baiknya membiasakan diri melakukan hal ini di suatu hari tertentu, hari Minggu misalnya. Bagaimanapun akan mudah melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan kita. Apa yang menjadi kebiasaan kita, biasanya akan menjadi sesuatu yang luar biasa bagi orang lain. Sebaliknya, jika tidak dibiasakan atau sering kita tunda-tunda hingga ada waktu untuk membuat dan menyusunnya, maka waktu itu tak akan pernah ada. Seperti halnya seseorang yang kelebihan berat badan yang melakukan diet pada hari Senin berikutnya. Maka hari Senin pun tak akan pernah ada.

*Eni Kusuma adalah mantan TKW di Hongkong, penulis buku laris “Anda Luar Biasa!!!”, dan kini menjadi motivator. Ia dapat dihubungi di: ek_virgeus@yahoo.co.id.

Telah di baca sebanyak: 288

Rating This Post

Comments

2 Responses to “Sebelum Menulis, So What?”

  1. David on March 18th, 2010 9:06 am

    Terima kasih atas tulisannya, saya senang dengan gaya penulisan anda.

  2. daniem on September 10th, 2010 8:43 pm

    Terima kasih mau berbagi pengalaman, dan luar biasa bahwa ada orang seperti anda yang tidak pernah berhenti bereksperimen

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!





Top