Kolom Alumni

Selangkah Lagi Maju, Kenapa harus Berhenti?

Oleh Gagan Gartika

Kemajuan sering menjadi milik orang lain, karena kita tak meneruskan pekerjaan dan berhenti ditengah jalan”.

Banyak orang mundur dan berhenti ditengah jalan, ketika sedang mengerjakan sesuatu, padahal mungkin saja selangkah lagi maju. Misalnya, kuliah selangkah lagi lulus, tinggal skripsi. Penulisan sebentar lagi jadi buku, tinggal bab terakhir. Usaha, sedikit lagi jalan, tinggal butuh kesabaran. Namun karena mundur, akhirnya kuliah, buku serta usaha menjadi tak sukses.

Yang saya khawatirkan, bukan sekedar mundur atau berhentinya, namun yang ditakutkan. Kita bisa terjangkit sifat kelembaman, dimana bila seseorang terkena kelembaman, ia bisa terus malas, sehingga apabila tak ada orang yang membangkitkan kembali, tujuan akhir tak tercapai.

Dalam ilmu fisika, hukum kelembaman itu, intinya, yaitu apabila benda diam dalam satu tempat dan tidak ada gesekan atau gesekannya nol, benda tersebut akan diam terus. Begitu juga ketika benda tersebut bergerak, dan tidak ada gesekan, benda tersebut akan terus bergerak.

Maka, ketika suatu benda bergerak terus agar berhenti, perlu rem yang menghentikan pergerakannya. Sebaliknya, bagi benda yang diam terus, diperlukan energi untuk menggerakan.

Begitu juga dalam kehidupan manusia, ketika seseorang diam terus dirumah, dan tak ada kegiatan, orang tersebut bisa semakin malas, ide-ide untuk bekerja menjadi hilang, tak ada inovasi, tak ada kegiatan apa pun, yang ada maunya tidur, paling banter makan. Sehingga tidur makan, tidur makan—merupakan kegiatan sehari-hari—

yang akhirnya bisa terkena sifat lembam, apalagi tak ada yang memotivasi.

Kegiatan tersebut banyak terlihat dalam kehidupan dimasyarakat luas. Suami meskipun sudah punya banyak anak, masih malas bekerja, karena merasa penghasilan sudah ditopang isteri dan orang tuanya. Perusahaan berjalan di tempat, karena pegawainya tak mau berubah. Pegawai pemerintah tetap menjalankan birokrasi ketat, karena menurut pengetahuannya, birokrasi bisa mengamankan peraturan yang dimanatkan undang-undang. Tukang sayur, tukang beca, polisi, pegawai pengadilan tetap saja berprilaku seperti biasanya. Tak ada perubahan yang berarti, ketika pola kegiatannya tak ada yang merubah.

Kecuali pola tersebut ada yang menggerakan, misalnya, dalam perusahaan ada pemimpin yang selalu belajar, sehingga bisa mendongkrak kemajuan. Dalam organisasi ada organisator yang bisa memberikan penyegaran dan memiliki visi kedepan, sehingga anggotanya mau bergerak mencapai sasaran. Dalam pembuatan filem, ada sineas, sutradara, sebagai pembaharu, yang mampu membuat film menjadi hidup. Dalam pembangunan, ada arsitek yang mampu merancang suatu bangunan menjadi kuat serta memikat.

Begitu juga dalam hidup perlu teman lain, yang mampu mendorong dan memberikan inspirasi bagi kemajuan pribadi dan peningkatan karier, serta kemajuan lainnya.

Sehingga, kata orang bijak, kita jangan berlama-lama berdiam diri, otak kita menjadi tumpul. Juga jangan kelamaan menganggur, ilmunya akan hilang, serta kelamaan tak olah raga, badan keburu sakit, kelamaan merenung, malah akan menambah stres. Karena itu, sebaiknya, kita mulai berenang, supaya kita dapat menyelami dalamnya lautan. Mulai Bekerja sambil belajar, supaya kita berpengalaman dan berkembang. Dan menggali terus, siapa tahu dibalik cangkulan terakhir itu ada emas, mengamalkan ilmu walaupun satu ayat, sehingga bisa membawa kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Banyak orang tak berhasil karena berhenti ditengah jalan, ketika mengerjakan sesuatu. Misalnya, pedagang bubur berhenti karena tak laku, begitu juga pedagang bakso berhenti berdagang karena tak kuat menghadapi persaingan. Dokter lupa praktek, karena jadi politikus, dan bisa saja seorang insinyur pertanian, akan lupa bertani, ketika lebih banyak bekerja dibelakang meja, yang jarang berhubungan dengan petani.

Banyak lagi, di masyarakat yang memiliki keahlian tapi tak berguna, dan hidupnya terlunta-lunta, menanti belas kasihan orang lain, karena ia tak pernah mengimplementasikan ilmu. Padahal kalau ia mengamalkan, walaupun itu sedikit, pasti akan menghasilkan. Misalnya, bisa mencangkul, atau menggali saja kalau diamalkan akan menghasilkan uang, terlihat kuli gali banyak bekerja pada proyek-proyek pembangunan jalan. Demikian juga jika seseorang mampunya, hanya menggoes sepeda, ya bisa menjalankan ilmu itu, sedangkan yang mampunya berdagang, sebaiknya berdaganglah, apalagi mempunyai keahlian dibidang perbaikan mesin, perbengkelan mobil, perbaikan kulkas atau barang-barang elektronik, tinggal mau mengamalkan, pasti menghasilkan. Juga bagi keahlian lain, perlu mengamalkan ilmu agar berhasil. Bila mereka diam saja, ilmu yang dimiliki akan menjadi lembam dan hilang.

Untuk itu agar tidak lembam, ketika pekerjaan sedang berjalan, sebaiknya kita berusaha tak pelu berhenti dulu, tetapi perbaiki kekurangan kita, karena bisa saja selangkah lagi maju.

Dan ketika anda berhenti juga, ini menandakan anda masih tak sabaran dalam berusaha, belum konsisten, dalam melakukan sesuatu pekerjaan, yaitu berhenti sebelum mendapatkan hasil. Akhirnya sering terjadi, yang menikmati hasil, orang yang menggantikan. Sementara kita sendiri sering gigit jari,

Umumnya perusahaan yang tahan banting, biasanya mengalami kemajuan, karena perusahaan tersebut telah mengalami berbagai perjalanan pahit, telah makan asam garam, penuh lika-liku pengalaman. Apalagi perusahaan itu ditangani oleh orang yang cekatan, dan mempunyai tekad untuk maju.

Banyak perusahaan yang tadinya kecil, jadi perusahaan raksasa, contoh perusahan Toyota, awalnya perusahaan penghasil kendaraan truk dengan body dan mesinnya masih kasar, tetapi sekarang merupakan perusahaan ternama yang dipandang dunia. Bisa mengalahkan mobil-modil buatan Eropah. Begitu juga kita sering melihat usaha-usaha di sekitar kita, misalnya, pembuatan kaos, pembuatan spanduk, kursus, usaha sekolahan, semula tempat usahanya mengontrak, karena ditekuni, tempat bisa berubah menjadi milik sendiri.

Sehingga kalau begitu, agar tak lembam serta bisa mendatangkan kemajuan, sebaiknya kita perlu bergerak terus dan pantang menyerah dalam berjuang dan bekerja, kalau nda begitu, keberhasilan akan jadi milik orang lain. (gg)

*) Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (SiMark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendididikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Selain itu pada dibidang pengajaran, mengabdi menjadi Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta.

Email: gagan@kumaitucargo.co.id

Telah di baca sebanyak: 1282
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *