Andrias Harefa

Sertifikasi Trainer

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, profesi trainer atau instruktur pelatihan dibidang soft-people-skills nyaris tidak dikenal oleh publik di Indonesia. Itu sebabnya saya tak terlalu heran ketika ayah saya kebingungan memahami jenis pekerjaan yang saya mulai tekuni di tahun 1990. Waktu itu saya menjadi calon instruktur di Dale Carnegie Training Indonesia. Selama kurang lebih 18 bulan saya mengikuti proses persiapan untuk memperoleh sertifikasi awal sebagai instruktur berlisensi. Lalu saya diuji melalui forum konferensi instruktur yang dipimpin trainer instruktur senior dari Hong Kong Dennita Connor dibantu seorang calon trainer instruktur dari Manila, Filipina, yang saya lupa namanya.

Hasilnya, saya lulus dengan angka terbaik di angkatan tersebut. Saya juga menjadi instruktur termuda di Indonesia kala itu. Rekomendasi yang diberikan Dennita Connor adalah yang terbaik: saya hanya perlu mengajar tandem dua kali saja dengan instruktur senior sebelum diijinkan mengajar sendiri (solo instructor) atas nama Dale Carnegie Training. Dengan lain perkataan, saya dianggap telah memenuhi standar internasional untuk menggunakan metodologi pelatihan yang diciptakan almarhum Dale Carnegie (1888-1955) sejak ia memulai kursus Public Speaking for Business Men di tahun 1912.
Sebagai instruktur berlisensi Dale Carnegie Training, di awal tahun 1990-an jasa pelatihan yang saya fasilitasi dijual dengan harga 425 dolar Amerika per jam. Tarif itu sangatlah luar biasa. Sebagai pembanding, pada saat yang sama, Guru Besar Hukum Internasional yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, memberikan konsultansi hukum dengan honor 325 dolar Amerika per jam. Honor saya dibayar lebih tinggi dari orang sekaliber Prof. Mochtar, bukan karena kehebatan pribadi saya, melainkan karena menggunakan brand Dale Carnegie Training, lembaga pelatihan terkemuka di dunia yang beroperasi di 70-an negara. Brand itu menunjukkan semacam jaminan standar kualitas yang dikenal dalam industri pelatihan di mancanegara. Jadi, honor saya terkait dengan lisensi/sertifikasi yang saya miliki dari sebuah brandname yang dihormati.

Jika melihat perjalanan panjang karier saya sebagai trainer, yang memulai semuanya dari level terendah, dan membandingkannya dengan trainer-trainer muda yang bermunculan bak jamur di musim penghujan akhir-akhir ini, saya acap tertegun. Semakin hari nampaknya semakin mudah orang memperoleh sertifikasi atau lisensi sebagai trainer. Asalkan punya uang yang cukup, mereka bisa ikut program sertifikasi di dalam dan luar negeri. Lalu dalam 1-2 minggu, mereka dengan gagah berani menyebut dirinya sebagai trainer, praktisi dengan sertifikasi ini, master praktisi itu, business coach, master trainer, dan berbagai istilah keren lainnya. Lebih parah lagi, ada juga program sertifikasi trainer yang hanya perlu waktu 2-3 hari saja. Benar-benar ajaib.

Jaman memang telah berubah. Pada paruh kedua dekade 70-an sampai paruh pertama dekade 90-an, seingat saya hanya ada tiga lembaga pelatihan—semuanya dari Amerika—yang dikenal sebagai pemberi sertifikasi/lisensi untuk menjadi trainer dalam bidang soft-people-skills (termasuk self development, personality development, communication, personal leadership, dsb). Mereka inilah yang pada hemat saya meletakkan fondasi bagi tumbuh dan berkembangnya karier seorang trainer berlisensi di negeri ini. Alumni dan mantan certified instructors dari ketiga lembaga ini pula yang sampai saat ini banyak dikenal sebagai trainer-trainer senior yang dihormati dalam industri pelatihan.

Lembaga pertama adalah Dale Carnegie Training. Berdiri sejak 1912—bersamaan dengan waktu Njonja Meneer memulai bisnis jamunya di Indonesia—lembaga ini mulai masuk ke pasar Indonesia tahun 1976. Program pelatihannya yang paling terkemuka adalah Effective Speaking and Humans Relations. Sejumlah nama yang kelak menjadi besar dan terkenal, tercatat sebagai peserta pelatihan Dale Carnegie Training di masa tersebut. Di antaranya adalah Mochtar Riyadi, Jonathan L. Parapak, Cacuk Soedarjanto, Towil Heryoto, dan sejumlah manajer muda yang kemudian menjadi eksekutif hebat di lingkungan Astra International era tahun 90-an. Tahun 1980, hak menggunakan nama, materi, dan metode pelatihan Dale Carnegie Training di Indonesia dibeli oleh Ir. Soen Siregar dengan bendera PT Dasindo Media, sampai sekarang. Meski merupakan pelopor, namun nama lembaga ini tidak cukup populer karena kurangnya publisitas di media massa. Sampai hari ini masih banyak orang yang tidak tahu bahwa ada perwakilan Dale Carnegie Training di Indonesia. Orang lebih banyak mengenal nama Dale Carnegie (1888-1955) sebagai penulis buku terlaris yang amat sangat fenomenal sepanjang abad ke-20, yakni How To Win Friend and Influence People (pertama kali terbit 1936) dan How To Stop Worrying and Star Living (1944). Dale Carnegie sebenarnya menulis beberapa buku lainnya, namun tidak sampai menjadi fenomenal seperti kedua buku tersebut (lebih lanjut tentang DCT Indonesia lihat situs www.indonesia.dalecarnegie.com).

Lembaga kedua adalah John Robert Powers International (JRP), yang dirintis pendirinya tahun 1923 sebagai organisasi agensi modelingnya yang pertama. JRP masuk ke Indonesia tahun 1985. Dalam situs resminya disebutkan bahwa Rayan dan Diana Wijaya adalah orang yang membawa JRP ke Indonesia. Namun masyarakat awam lebih mengenal JRP sebagai organisasi yang ikut dibesarkan oleh Mien Uno, sebelum Mien Uno mendirikan lembaga baru yang kini bernama Duta Bangsa. Sepeninggalan Mien Uno, John Robert Powers ditangani oleh tim manajemen yang baru dibawah kepemimpinan Indayati Oetomo, tokoh penting dibalik keberhasilan JRP di Surabaya. Program andalan JRP adalah Personality Development dan Public Communication (lebih lanjut lihat situs www.jrpindonesia.com).

Lembaga ketiga adalah Dunamis Intermaster, yang memegang hak eksklusif untuk pelatihan utama The 7 Habits of Highly Effective People dari Stephen R. Covey—belakangan menjadi Franklin Covey. Tokoh kuncinya di awal pendiriannya tahun 1991-1992 adalah Nugroho Supangat dan Henk Sengkey. Meski merupakan organisasi yang relatif belia—dirintis oleh Stephen Covey di Amerika tahun 1984—namun perkembangan lembaga ini secara internasional sangat fenomenal. Dalam konteks lokal Nugroho Supangat agaknya berhasil membawa organisasi ini menjadi lembaga yang terhormat dan disegani di tanah air. Belum lama ini estafet kepemimpinan Supangat juga telah berhasil diteruskan ke Managing Partner yang baru Satyo Fatwan (lebih lanjut lihat situs: www.dunamis.co.id).

Sependek pengetahuan saya, ketiga lembaga itulah yang kemudian memperkenalkan adanya konsep lisensi atau sertifikasi untuk menjadi trainer, instruktur, fasilitator, atau apapun istilahnya. Dan dari ketiga lembaga tersebut, Dale Carnegie Training (selanjutnya disingkat DCT) merupakan lembaga yang mengatur proses sertifikasi paling lama.

Sampai tahun 1998, di sekitar 70 negara dimana DCT beroperasi, mereka yang ingin mendapatkan lisensi dasar (pertama) sebagai instruktur harus menginvestasikan waktu rata-rata 24 bulan (dua tahun). Jadi, tidak satu orang pun instruktur DCT yang bisa memperoleh sertifikasi hanya dalam hitungan jam, hari, minggu, atau 2-3 bulan. Tidak peduli berapa uang yang bersedia ia bayar; berapa banyak gelar akademis yang dimilikinya; berapa tinggi IQ yang bersangkutan; dan berapa kaya pengalamannya sebagai profesional; ia harus mengikuti proses standar yang berlaku di seluruh dunia.

Pertanyaannya adalah mengapa menjadi trainer di DCT memerlukan waktu persiapan yang begitu lama di banding menjadi trainer, instruktur atau praktisioner untuk lembaga lainnya? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada proses dan metodologi pelatihan DCT itu sendiri.

Untuk memperoleh lisensi, seorang peminat harus mengikuti pelatihan dasar yang di Indonesia disebut Fundamental Leadership Course (dh. Effective Speaking and Human Relations). Pelatihan ini diselenggarakan sekali seminggu dan berlangsung selama 12 minggu. Jika ia—karena prestasinya di kelas sepanjang pelatihan berlangsung—direkomendasikan oleh peserta lain dari angkatannya untuk menjadi instruktur, maka ia harus ikut lagi program yang sama selama 2-5 angkatan (berarti 2-5 kali 12 minggu) dengan peranan khusus sebagai graduate assistant. Jika ia lolos pada tahap ini, maka ia akan dimasukkan dalam program calon instruktur. Setelah itu ia harus mengikuti ujian sertifikasi dalam forum konferensi instruktur yang dipimpin langsung oleh trainer instruktur mewakili DCT dari New York, Amerika Serikat. Andai ia memiliki kendala bahasa Inggris, maka ujian akan diselenggarakan di negara dimana ia berada dan trainer penguji akan dibantu oleh penerjemah. Ujian diselenggarakan secara maraton selama satu minggu dengan menggunakan kelas khusus dimana peserta pelatihan dipandu oleh calon instruktur sebagaimana layaknya pelatihan sesungguhnya. Trainer penguji akan hadir di kelas dan mengamati seluruh proses pelatihan sambil membuat catatan-catatan penilaian. Calon instruktur juga mesti melewati proses wawancara pribadi dan mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh tim penguji.

Pada hari terakhir, trainer penguji dari DCT pusat akan mengeluarkan tiga rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh sponsor lokal selaku pemegang lisensi induk untuk negara/wilayah tersebut. Rekomendasi pertama, calon instruktur dinyatakan lulus dan diwajibkan untuk tandem dengan instruktur senior untuk 2-5 angkatan berikutnya (bergantung pada nilai yang diperolehnya) sebelum dinyatakan layak menjadi instruktur yang mandiri (solo). Rekomendasi kedua, calon instruktur diminta mempersiapkan diri kembali untuk mengikuti konferensi instruktur berikutnya (ia dianggap punya potensi tapi belum cukup siap). Rekomendasi ketiga, calon instruktur disarankan untk memilih profesi lain yang lebih cocok dengan bakat dan talentanya.

Nah, proses sertifikasi yang panjang inilah yang umumnya membuat banyak calon instruktur DCT berguguran di tengah jalan. Mendedikasikan diri seminggu sekali untuk hadir dikelas sore hingga malam hari (jam 17-21) selama hampir dua tahun penuh, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi sepanjang proses menjadi graduate assistant dan instructor candidate, mereka tidak mendapatkan imbalan finansial yang berarti. Tidak jarang bahkan mereka harus mengeruk koceknya sendiri untuk transportasi pergi-pulang ke lokasi pelatihan.

Namun, hal yang positif dari proses ini adalah setiap calon instruktur benar-benar diuji komitmennya sebelum masuk dalam profesi sebagai trainer DCT. Itu sebabnya, mereka yang kemudian berhasil menjadi instruktur penuh di DCT umumnya memang orang yang benar-benar memberikan dirinya untuk mengajar dan melatih orang lain. Andai pun sebagian dari mereka belakangan meninggalkan DCT, alasannya bukan ketidakcocokan dengan pekerjaan tetapi lebih karena ketidakcocokan dengan sponsor atau manajemen lokal.

Dengan proses sertifikasi yang begitu lama, apakah trainer-trainer DCT kemudian terbukti menjadi trainer andalan? Sebagai mantan orang DCT Indonesia, saya tidak bisa obyektif menjawab pertanyaan ini. Namun saya bisa menyebutkan sejumlah nama orang yang pernah belajar banyak di DCT dan sekarang masih eksis di pasar pelatihan sebagai trainer senior dengan lembaganya masing-masing, antara lain : Jansen H. Sinamo (Institut Darma Mahardika), Luhut Sagala yang dibantu Surjo Sulaksono (Multi Training Center), Hendrik Silitonga (Dinamika), dan trio Alex Paulus—Gregorius Pramudya—Analgin Ginting (trainer penting di lingkungan Smart Corporation).

Saya berkeyakinan bahwa cukup banyak juga mantan pemegang lisensi dari kelompok John Robert Powers dan Stephen R. Covey yang kemudian membangun brand-nya sendiri. Namun saya tidak memiliki data yang bisa dipaparkan karena tidak banyak bergaul dengan mereka.

Yang jelas, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, dalam satu dekade terakhir bermunculan banyak sekali program sertifikasi di luar ketiga lembaga tersebut di atas. Sertifikasi untuk program-program pengenalan kepribadian seperti PDP, Thomas International, dan belakangan DISC serta MBTI adalah contoh yang mudah disebut. Dalam publisitas media massa juga makin sering terdengar tawaran program sertifikasi NLP dengan berbagai variannya untuk level Practitioner, Master Practitioner, Trainer, dan Coach. Belum lagi sertifikasi untuk program hypnosis dan hypnotherapy dengan kiblat rujukan yang aneka ragam. Program certified training designer and delivery professional juga mulai masuk ke Indonesia.

Dari berbagai kesempatan belajar dan mengikuti aneka tawaran tersebut secara langsung, saya mencoba menemukan semacam benang merah yang menjelaskan bagaimana sebuah program sertifikasi hadir di negeri ini.

Pola umum munculnya program sertifikasi itu adalah sebagai berikut: pertama, seorang peminat program mengambil sertifikasi di luar negeri; kedua, ia kemudian menjadi praktisi program yang ia pelajari untuk masa tertentu di Indonesia; ketiga, ia mengambil lagi program sertifikasi tingkat lanjut dan membeli semacam hak untuk melakukan sertifikasi dari guru-gurunya di luar negeri; keempat, ia kemudian menawarkan program sertifikasi untuk pasar Indonesia.

Pola umum ini sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dulu dilakukan oleh organisasi mapan seperti Dale Carnegie Training, John Robert Powers, dan Stephen R. Covey. Hanya saja jika dulu penjualan lisensi program lebih bersifat paket menyeluruh untuk organisasi (business-to-bussiness), maka belakangan ini penjualan program sertifikasi dan lisensi bersifat parsial dan individual (business-to-customers).

Pada sisi lain, saya juga mencatat bahwa investasi yang diperlukan untuk mendapatkan satu sertifikasi tertentu yang diberikan di Indonesia harganya bergerak antara Rp 1.500.000,- hingga Rp 3.000.000,- per hari per orang (sampai dengan tahun 2009). Jadi, tinggal dihitung saja berapa hari yang diperlukan untuk memperoleh sertifikasi tersebut dan berapa biaya yang diperlukan untuk itu.

Bagaimana dengan kualitas sertifikasi yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia di negerinya sendiri? Pada hemat saya masih sangat memprihatinkan. Tanpa maksud mengecilkan semangat dan gairah kawan-kawan muda yang sebagian saya kenal secara pribadi itu, saya berpendapat bahwa mereka yang menawarkan program sertifikasi itu sendiri masih sangat kurang wawasan maupun kedalaman pengetahuannya (kurang insight-nya). Hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, namun lebih disebabkan oleh terlalu cepatnya proses yang mereka lalui. Ibarat buah matang karena proses karbitan, sebagian besar kawan-kawan muda itu tidak “menyatu” dengan ajarannya sendiri. Belum ada kesatuan gerak antara apa yang dikatakan, diyakini, dan dilakukan.

Kondisi inilah yang menghidupkan kembali impian lama saya untuk membuat semacam sekolah khusus bagi mereka yang berminat menjadi professional trainer, trainerpreneur, dan public speaker. Namun, saya tidak ingin sekadar memindahkan paket yang ditawarkan dan dirumuskan oleh orang-orang hebat di luar negeri untuk dibawah dan diecerkan di Indonesia. Saya ingin mendorong lahirnya semacam komunitas Certified Indonesian Trainers, yang pada satu sisi memiliki konseptual framework yang jelas (ditandai dengan buku teks yang ditulis oleh orang Indonesia juga); dan pada sisi lain benar-benar aplikatif dan praktis (ditandai dengan kualitas alumninya yang menjadi trainer terkemuka).

Belajar dari keberhasilan membangun komunitas penulis buku-buku laris lewat brand Writer Schoolen: real writing – best-seller writers, tahun 2009 saya melahirkan konsep brand yang baru Trainer Schoolen: the real training for the real trainer. Jika Writer Schoolen bermuara pada Certified Indonesian Writer dengan sejumlah persyaratan yang relatif cukup ketat, maka Trainer Schoolen akan bermuara pada Certified Indonesian Trainer yang juga memiliki persyaratan yang tak kalah ketat.

Untuk memperoleh sertifikasi dari Trainer Schoolen, tiap-tiap peminat atau klien harus mengikuti tiga jenjang program sertifikasi dengan jarak waktu tertentu. Masing-masing jenjang berdurasi 3 hari. Di antara pelatihan level satu dan level berikutnya akan ada persyaratan jumlah jam praktik yang harus dilakukan sendiri oleh peserta. Namun bila ia mengalami kesulitan, maka ia dapat meminta bantuan konsultansi berbayar agar ia bisa didampingi sampai benar-benar menjadi trainer dengan penghasilan tertentu seperti yang diinginkannya. Dengan kata lain, program sertifikasi dan pendampingan dari Trainer Schoolen bersifat menyeluruh sampai klien masuk ke pasar dan mendapatkan nafkah sebagai trainer.

Persyaratan lain adalah soal jumlah jam terbang di lapangan dan karya tulis berupa buku yang harus dimilikinya (pertanda bahwa ia memiliki konsep dan bukan hanya pengasong konsep dari orang lain). Karena bagaimana pun juga saya percaya bahwa sudah tiba waktunya orang Indonesia membuat sendiri program sertifikasi yang berkualitas internasional dengan corak keindonesiaan yang khas. Sudah terlalu lama kita sekadar menjadi pengasong konsep sertifikasi dan lisensi dari lembaga-lembaga luar negeri; dan sudah tiba masanya untuk menciptakan sistem dan metode pembelajaran kita sendiri yang bertumpu pada nilai-nilai, budaya, dan spiritualitas kita yang unik.

Seorang kawan yang mendengar gagasan-gagasan di atas, mengatakan kepada saya, “Ketika orang masih ramai berdiskusi soal blue ocean strategy, Anda melangkah untuk melaksanakannya dalam konteks industri pelatihan. Kalau Anda konsisten melaksanakan hal ini, maka nama Anda akan tercatat dengan timnta emas dalam sejarah industri pelatihan di Indonesia.”

Saya tertegun. Akankah demikian? Biarlah sejarah mencatat apakah kiprah saya berhasil atau hanya lewat sebagai pepesan kosong belaka.

* * *

Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan CARA CERDAS DAN PASTI: MENJADI TRAINER ANDALAN

Telah di baca sebanyak: 6565
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *