Artikel Writing Class for Teens

SHIRA AND KELLY


Oleh: Hanna Christina Uranus, Alumni Batch III
“Hahaha..” tawa riang terdengar dari bibir mungil tersebut. Rambut halusnya yang kini tengah dikuncir kuda ikut bergoyang bersamanya. Perempuan sebayanya yang tengah melangkah disebelahnya ikut tertawa kecil. Shira dan Kelly, sepasang sahabat yang sangat kompak, tampak senang. Mereka memang berbeda karakter, namun tentu saja itu tidak menghalangi kedekatan mereka. Shira, seorang cewek tomboy berkuncir kuda, sedikit cuek. Bukan sedikit, namun cuek banget. Ia tidak terlalu peduli pada penampilan. Mungkin karena itulah ia sering diomeli Kelly. Sahabatnya yang agak pemalu tersebut memang sangat feminim. Baju-baju dan aksesoris yang dia pakai manis-manis dan cewek banget. Shira sering protes karena ialah yang biasanya dijadikan kelinci percobaan make-up Kelly. Biarpun begitu, Shira sayang banget sama sohib yang telah menemaninya sejak ia pertama kali memasuki SMA Merdeka itu.

“Shir, makan dulu yuk? Aku lapar nih.” Kelly menggandeng tangan Shira yang agak menggelap. Maklum, ia sering main volley di saat matahari tengah terik-teriknya. Cewek itu sangat dibanggakan sekolahnya karena kemampuannya itu. Tak heran teman-temannya mengangkatnya menjadi kapten tim volley sekolah mereka.
“Yuk Kel. Perut gue juga udah minta diisi nih.” Jawab Shira asal sambil mengagumi suasana Fx Plaza Sudirman tersebut. Lampu warna-warni yang menghiasi langit-langit memang sangat mengagumkan. Shira senang denganwarna-warna seperti itu. Menurutnya warna-warna tersebut memberikan semangat, kesenangan, pokoknya rasa-rasa positif deh.
Mereka pun memutuskan untuk menyantap makanan di sebuah restoran Jepang kegemaran Shira. Mereka menyusuri lantai F2 tersebut, dan menemukan restoran Jepang yang mereka cari tersebut di dekat sebuah tempat pemesanan tiket. “Shir, antriannya panjang nih.” Bisik Kelly.

Dan benar saja, terlihat antrian panjang di depan tempat makan tersebut. Shira mengerang. Padahal tadi ia berharap dapat langsung menikmati kelezatan makanan-makanan tersebut.

“Kita cari yang lain aja yuk, Shir?”
“Enggak mau.” Shira menggeleng keras-keras. “Ayolah Kel. Gue lagi pengen ini nih..”
“Tapi aku udah lapar, Shir..” pinta Kelly memelas.
“Please Kel. Waktu itu kan kita udah makan di restoran kesukaan elo.”
Kelly mendesah. Ia memang selalu kalah berdebat dengan Shira. Terkadang ia benci sekali dengan sifat pemalunya. Padahal perutnya sudah menjerit sedari tadi.
Mereka menunggu di antrian tersebut sambil bergosip. Shira sesekali tertawa keras hingga seorang ibu yang duduk di sebelahnya ikut tertarik mendengarkan pembicaraan mereka. Sifat Shira yang ceria dan menyenangkan membuat Kelly akhirnya melupakan kejengkelannya.
“Shira! Kelly!” Sebuah suara yang agak berat menyapa membuat mereka berdua menoleh. Sesosok lelaki berkaca-mata berdiri di hadapan mereka. Kelly, yang merupakan salah satu penggemarnya, langsung salah tingkah. Ia merasa sangat beruntung dapat bertemu pujaannya tanpa diduga. “Oh, hai Yo.” Shira tersenyum. Ia pun menyikut Kelly yang masih salah tingkah. “Hai, Rio. Ehm, apa kabar?”
“Baik. Boleh gue gabung bareng kalian? Gue lagi sendiri nih..” ujarnya dengan senyum khasnya yang sangat manis. “Tentu , Yo. Ayo bareng.” Ucap Shira cuek. Ia sibuk menahan tawa melihat tingkah Kelly yang wajahnya tampak merah.
Akhirnya giliran mereka tiba. Mereka menempati kursi panjang mungil yang ditunjuk oleh seorang petugas, kemudian setelah mengambil bahan-bahan seperti udang, bakso dan rumput laut, mereka mulai memasak di sebuah panci besar yang tersedia di setiap meja. “Rish, aku ke toilet dulu yah.” Ucap Kelly setengah berlari. Sepertinya ia benar-benar grogi.

“Shir, gue suka sama lo.”
Shira tersedak. Untunglah bakso yang baru dilahapnya tidak tertelan.
“Gue serius Shir.” Ulang Rio bersungguh-sungguh. Ia menatap mata Shira yang masih terlihat bingung.
“Yo, kenapa mendadak gini? Lagipula, gue enggak bisa.” Jelas Shira singkat. Padalah sebetulnya ia panic juga.
“Tapi Shir, gu-..”
Ucapan Rio tersebut terhenti karena Kelly kembali duduk di antara mereka. Suasana sangat canggung. Mereka melanjutkan makan tersebut dengan hening. Kelly agak bingung melihat sikap kedua orang tersebut, namun ia memilih untuk tidak menyinggungnya.
Mereka keluar setelah mereka semua selesai makan. Rio memaksa untuk mentraktir mereka. Shira terus menerut memainkan tangannya. Ia sangat gelisah. Shira terkadang memang agak egois, namun untuk yang kali ini, ia tidak ingin memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin menghianati Kelly. Sahabatnya itu tidak pernah mengeluhkan sifat Shira yang mudah marah. Shira yang lebih memikirkan diri sendiri, dan Shira yang sangat perhitungan.

bersambung..

Hanna dapat dihubungi di Email: hanna.christina96@yahoo.com; FB: Hanna Christina Twitter: @hanna96

Telah di baca sebanyak: 1833
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *