Kolom Alumni

Siapkah Membisu Dalam Sisa Hidup Anda Karena Gemar Merokok?

Oleh: Ananto Wyatna

Seperti telah banyak nasehat dan paparan penyakit karena akibat merokok, tetapi banyak orang yang cuek, masa bodoh, karena katanya banyak orang yang merokok tetapi tetap panjang umur, seperti Prof. Dr Sumitro Djpyohadikusumo, pakar ekonomi pembangunan Indonesia telah meninggal dengan usia mencapai kepala delapan.

Merokok bagi yang suka itu katanya sangat nikmat, karena dapat berhalusinasi, pikirannya dapat melayang-layang. Tetapi bagi saya yang tidak suka merokok, saya tidak merasakannya, malahan waktu saya kecil suka mencoba merokok, menghirup asap rokok saya terbatuk-batuk dan kepala menjadi pening, bahkan juga muntah-muntah.

Guru matematika saya juga sangat suka merokok, karena dalam memecahkan soal matematika kalau tanpa merokok tidak lancar penyelesaiannya.

Saya sendiri dalam pergaulan setelah lulus SMA, dapat merokok, meskipun sejujurnya saya tidak suka, secara sadar atau tidak, karena pada umumnya orang secara nalar tidak dapat menjelaskan apa keuntungan merokok.

Saudara saya yang semenjak masih muda dan masih remaja sudah merokok, karena ayahnya yang bekerja di Stancac di Sumatera, sering dapat rokok pembagian dari perusahaan, sehingga dia dapat bebas merokok tanpa membeli, dan waktu itu belum ada larangan merokok.

Karena semenjak muda sudah merokok, sehingga merokok sudah merupakan rutinitas atau “way of life”, merupakan kebiasaan sehari-hari, setiap hari harus membeli rokok, di rumahnya harus sudah tersedia minimal satu slop rokok, sehingga setiap saat tanpa diatur dan tanpa komando otomatis harus merokok, terutama sehabis makan.

Kalau tidak merokok mulutnya terasa asam dan kepalanya menjadi pening, karena racun nikotin tembakau yang dibakar sudah masuk, meresap dalam jaringan tubuhnya, seluruh organ-organ tubuhnya sudah “tecemar” dengan zat nikotin tersebut.

Tumor Ganas Melekat pada Pita Suaranya
Akhirnya setelah aktivitas dalam mencari nafkah terhenti, karena anak-anak sudah bekerja semua, mulai menuai kebiasaan yang yang tidak sehat, yaitu kebiasaan merokok.

Mula-mula batuk-batuk, dan biasanya makan sebotol obat batuk sudah cepat sembuh, tetapi sekarang batuknya berkepajangan, sudah tiga botol obat batuk, tetapi tidak mau sembuh, maka pergilah ke dokter umum, untuk memeriksakan diri dan mencari obat yang mujarab.

Tetapi dokter setelah memeriksa dengan teliti meminta pasienya di-rontgen atau discan paru-paru dan tenggorokannya, setelah melalui wawancara mengenai kebiasaan merokok.

Hasil scan atau juga hasil roentgen sinar-X, pada pita suara tenggorokannya melekat tumor ganas, dan pada saat itu masih kecil dan disarankan untuk dibedah, tetapi Saudara saya tersebut tidak mau, karena masih ada alternative pengobatan lain, yaitu dikemoterapi dan radiasi atau dibakar, agar jaringan tumor ganas itu dapat mati tidak tumbuh membesar.

Setelah mengetahui sebab dari batuk-batuk yang tidak sembuh-sembuh itu, karena adanya tumor ganas yang melekat pada pita suaranya, maka mulailah penderitaan yang berkepanjangan, banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Selain batuk-batuk, sekarang kadang-kadang juga sesak napas, setelah kurang lebih setahun lamanya, maka yang bersangkutan menyerah dan tidak mau diradiasi lagi, karena lehernya sakit meradang dan menjadi gosong, kehitam-hitaman, kebiru-biruan, dan kemerah-merahan. Sebab dari sesak napasnya, karena jaringan tumornya mulai membesar. Maka sesuai saran dokter semula, akhirnya dengan sangat terpaksa pasrah diri dan minta untuk dioperasi di rumah sakit THT.

Jaringan tumor ganas bersama pita suara dan lain-lain yang melekat di kerongkongan diangkat semuanya. Saya melihat, besarnya jaringan tenggorokan itu sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Setelah diangkat tumornya, keadaan mulai sedikit lega, batuk-batuk mulai mereda, tetapi kadang-kadang pening kepalanya, karena kecanduan nikotin suka kambuh.

Dalam sisa hidupnya dijalankan dengan membisu.

Dalam hidup barunya dalam tahun ketiga semenjak sakit, banyak hal-hal baru harus dilakukan, komunikasi harus dilakukan secara tertulis, pensil atau ballpoint dan sehelai kertas harus disediakan, juga dalam memanggil harus disediakan alat bunyi-bunyian, seperti kaleng kosong, atau bel.

Selain kesulitan berkomunikasi, juga kalau makan dilakukan tidak lewat tenggoroakn, tetapi lewat hidung, lubang pernapasan, atau lewat kerongkongan, makanpun hanya dalam bentuk cairan melalui pipa atau pipet, yang harus steril, bebas kuman. Juga obat-obatan diminum melalui lubang hidung. Setelah lebih dulu dihaluskan dan dilarutkan dengan air minum.

Karena makanan dalam bentuk cairan dan melalui hidung itu tidak masuk dengan sempurna, maka penderita jadi lemas dan lemah, kurang makan, tidak bertenaga.

Akhirnya dokter melakukan cara lain untuk makan, yaitu dengan membuat lubang “darurat” diperut, sehingga makanan dapat disalurkan melalui lubang tersebut lewat pipa, agar makanan terserap lebih banyak, dibandingkan dengan lewat hidung.

Tetapi dalam beberapa bulan menjelang akhir hidupnya mulai ada benjolan-benjolan timbul disekitar lehernya, seperti bisul-bisull, maka pergilah ke dokter lagi. Rupanya jarringan tumor ganas masih tersisa, masih belum bersih, belum terangkat semua.

Karena penyembuhannya sulit dapat dilakukan secara medis, maka ada orang menyarankan agar berobat secara alternative, dengan dilakukan pemijatan dan minum ramuan-ramuan tumbuh-tumbuhan, ramuan herbal.

Begitulah kisah sedih penuh penderitaan, karena gara-gara mengabaikan nasehat-nasehat untuk tidak merokok dan paparan-paparaan penyakit akibatnya.

Apakah Anda bersedia untuk tidak merokok?

*) Ananto Wyatna, Alumni tertua (74 tahun) workshop Writer Schoolen “Cara Cerdas Menulis Artikel Menarik” Februari 2009 dan “Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller” Maret 2009. Dapat dihubungi langsung di wyatna2009@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 2030
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *