Wandi S Brata

Sing Micoro Moncer, Fondasi Pembicara Andal


Anda ingin jadi pembicara terkenal? Jadilah pribadi andal. Kalau tidak, kecanggihan bahasa dan kepiawaian penyampaiannya hanya akan jadi busa kosong yang membual, dan membuat perut pendengar Anda mual.

Mendengarkan tausiah untuk pasangan yang baru saja nikah, kita tidak hanya dapat belajar dari apa yang dikatakan si pemberi petuah, tapi juga dari semua yang terpapar di hajatan itu. Salah satu yang saya pelajari adalah soal kemampuan bicara.

Kejadiannya di sebuah pesta “ngunduh mantu”, yaitu hajatan keluarga Jawa di mana pihak pengantin putra menerima pengantin putri dan keluarga besar besan di rumahnya. Pesta besarnya sudah berlangsung di pihak pengantin putri seminggu sebelumnya, maka kali ini maunya sang empunya hajatan ya serba sederhana saja. Yang penting keakraban di antara kedua keluarga besar dan doa restu dari para tetangga sekitar.

Kendati dimaui sederhana, agar tidak cuma terkesan sebagai “kejadian biasa”, si empunya rumah mau repot menghadirkan dua tokoh yang pandai bicara berbobot. Mereka itulah yang saya amati. Yang pertama, MC. Yang kedua ustaz penceramah. Yang pertama bikin saya jengah, tak betah. Yang kedua tak hanya bikin saya kagum dan tersenyum simpul, tetapi juga cerah.

Dalam bahasa Jawa yang sangat kaya nuansa makna dan irama, MC bicara dengan indah sekali. Juga panjang-panjang. Kosa katanya amat kaya variasi. Pendek kata, bila dijajarkan dengan dalang kondang, dia tak akan banyak timpang. Andai saya hanya mendengarkan siarannya dari radio, dan tidak hadir di sana, pengalaman saya pasti hanya berisi kekaguman.

Tapi saya jengah. Ada kepalsuan di dalamnya. Bukan karena kepribadiannya palsu atau karena dia jahat. Itu saya tak tahu. Yang jelas saya tahu, karena cara bicaranya begitu formal dan keterlaluan melebih-lebihkan. Pelaminan terbuat dari besi yang di sana sini saya tahu sudah berkarat, dengan latar belakang hiasan warna-warni dari kertas emas. Tapi, keterlaluannya adalah bahwa MC menggambarkannya sedemikian, sehingga kalau hanya mendengar ucapannya dan tidak melihat barang beserta konteksnya, kita akan dibuat membayangkan tahta raja yang serba elok penuh gebyar seperti dalam suluk wayang.

Setelah intronya yang amat panjang, MC mengajak mengheningkan cipta untuk bersyukur atas keselamatan yang sudah kami nikmati hari itu, sekaligus mendoakan pasangan pengantin yang sedang berbahagia. Begitu singkat saat hening itu, sehingga yang Katolik pasti belum akan sampai seperempat Bapa Kami, sedangkan yang Muslim pasti belum kelar dengan setengah Al Fatihah. Sekejap, langsung bergulung sambung menyambung kata-kata indah sang MC. Katanya dalam bahasa Jawa yang halus sekali, kira-kira seperti ini: “Purna sudah, doa kita panjatkan ke Hadirat Ilahi Suci. Rasa dan rindu hati tumpah terungkap sudah, membubung ke angkasa, membelah mega. Langit koyak, dan lamat-lamat kita dengar puja-puji surgawi, sementara udara semerbak harum bau wangi, penanda penerimaan dan betapa berkenan Allah Yang Mahasuci, atas sujud syukur dan permohonan insani.”

Weleh-weleh, apa perlu itu? Indah? Barangkali! Yang jelas, berlebihan dan gegabah. Berlebihan, karena dia sudah meninggalkan acuan realitas dan menyodorkan kepada kami omongan yang berisi kira-kira tapi sudah diklaim sebagai fakta. Situasi digambarkan serba semarak mengenakkan, sementara kami gerah kepanasan. Gegabah, karena bukankah mengenai penerimaan doa kita oleh Allah hanya bisa kita katakan insya Allah? Tahu dari mana dia, dan untuk apa perlunya dia katakan bahwa doa kami sudah diterima oleh Yang Mahasuci?

Lain pengalaman saya ketika mendengarkan tausiah perkawinan oleh ustaz. Bila dibandingkan dengan sang MC, ustaz ini tak kalah piawai. Rangkaian kata-kata dalam bahasa Jawanya luar biasa. Kromo inggil (tataran bahasa Jawa paling tinggi dan paling halus yang diarahkan kepada orang-orang yang paling dihormati), madyo kromo (tingkatan menengah), dan ngoko (paling rendah, sehari-hari, kasar) dia ramu dan dia ucapkan untuk dan pada konteks yang amat pas.

Selain fleksibilitas berdasarkan konteks, ada spontanitas di dalam kata-kata dan suaranya. Tampak sekali bahwa dia tidak sedang mengejar keindahan ucapan, dan kemerduan lagu kalimat, tapi efektivitas pesan. Ucapannya tetap indah. Kalimat-kalimatnya berirama, tanpa kita mendapat kesan bahwa dia sedang mengada-ada.

Di tengah seting penyampaian nasihat perkawainan yang sebenarnya formal itu, nada suaranya informal. Kadang-kadang dia melagukan pesannya dengan irama musik yang lagi ngetrend, bisa dangdut, bisa pop, atau pop Jawa, untuk membungkus pesannya. Beberapa kali kata-katanya dipelintir sendiri untuk membuat kocak sebuah ironi. Kadang, omongannya diselingi bahasa Indonesia. Ada pula satu dua selipan kata Inggris, agar lebih kena saat menyapa pasangan pengantin yang dua-duanya sarjana.

Bobot pesan disampaikan dengan ucapan yang mengundang tawa. Salah satu kiat untuk menjalin keluarga sakinah, katanya, adalah perlunya pasangan suami-istri berdoa bersama. Yang Islam ya sholat berjamaah. Sang istri harus membangunkan suaminya untuk sholat subuh. Suami juga harus cepat bangun, … bangun seluruh jiwa raganya, dan bukan hanya itu-nya… dan bukannya bilang, “Honey, biar aja yang lain sholat subuh. Aku mau imbuh! Ee… yang lain pergi ke masjid melakukan sembah, dia malah minta nambah… Yang lain ke langgar, dia malah buat serangan fajar!”

Saya kenal dekat yang punya gawe. Di hadapannya saya puji kemampuan bicara dua orang tadi. Si empunya hajatan bilang, “Sing micoro cen moncer, Mas!” Ini ungkapan Jawa. O dibaca seperti o pada tembok. E dibaca seperti e pada ember. Padanannya: Yang pandai bicara memang bersinar, Mas! Karena itu, kata si empunya rumah, jasa mereka sering diminta untuk hajatan seperti itu. Di desa mereka, di tingkat kelurahan, bahkan kecamatan. Sesekali di luar daerah.

Memang benar, kemampuan bicara melejitkan orang. Ini tidak terlalu mengherankan, karena ketika sedang membuka mulut, orang-orang yang pandai bicara sesungguhnya ibarat sedang mengibarkan bendera di tengah kerumunan orang. Tak bisa tidak mereka dipandang, dan jadi pusat perhatian.

Ketika mulai bicara, dan melontarkan gagasannya, seorang pembicara sudah membuka diri dengan mengambil posisi mengenai suatu perkara. Orang tidak perlu menebak-nebak lagi, dan kini orang-orang sekitarnya tinggal perlu mempertimbangkan untuk mengikuti gagasannya atau tidak. Jadi, dilihat dari ilmu marketing, sang orator sudah mengambil langkah penting, yaitu menetapkan positioning. Dengan penetapan sikap itu sang orator sudah membuat audiens serta merta terbelah menjadi tiga, yaitu kelompok yang pro, yang kontra, dan yang netral atau tak peduli. Pembicara canggih adalah yang bisa mempersuasi semuanya menjadi satu suara yang mau mengadopsi gagasannya.

Karena begitu pentingnya, saya menganggap kepiawaian bicara sebagai keahlian yang paling elementer dan generik bagi kesuksesan di segala bidang. Kemampuan ini, karena itu, pantas diupayakan oleh semua orang.

Ada teman yang mengeluh, “Tapi saya tak bisa bicara dan gemetaran omong di antara banyak orang!” Mengenai tak bisa bicaranya, saya sangsi seribu persen. Dalam kesehariannya dia bisa bicara. Juga runtut kalau ngobrol di antara kawan. Jadi, sebenarnya teman ini hanya perlu membawa kemampuan yang sama ke panggung yang berbeda. Dari panggung lingkungan informal pertemanan, ke panggung yang lebih formal di antara kerumunan orang.

Mengenai gemetarannya tampil di tengah kerumunan banyak orang, itu bukan khas dia. Banyak sekali orang yang mengalami hal yang sama. Demam panggung itu bisa mudah diatasi secara bertahap. Kita bisa mulai dengan tapil di kerumunan teman akrab, untuk kemudian beranjak ke kerumunan orang-orang yang belum dikenal.

Ralf Waldo Emerson (25 Mei 1803 – 27 April 1882) seorang esais, pemimpin pergerakan transendentalis, filsuf, dan orator ulung, bilang, “Semua orator ulung dulunya adalah pembicara yang buruk!” Tak ada orang yang terlahir dengan mulut yang sudah piawai nerocos meluapkan gagasan dengan kata-kata yang jos. Keahlian ini dipelajari sambil jalan.

Untuk yang mau menguasai keahlian ini, telah banyak buku ditulis mengenainya. Baik terjemahan maupun karya lokal, telah banyak yang diterbitkan oleh Gramedia. Seni Berbicara Kepada Siapa Saja karya Larry King adalah bestseller sampai kini yang akan amat membantu kita. Lalu ada Berbicara dan Menang Seperti Obama: Teknik Pidato yang Menyentuh, Membangkitkan, dan Menggerakkan Pendengar karya Shel Leanne.

Dari dalam negeri ada The Power of Public Speaking: Kiat Sukses Berbicara di Depan Publik karya Charles Bonar Sirait. Kalau mau pintar dan profesional, ada buku TALK-inc. Points: Kekuatan Mental, Ketepatan Kata, dan Totalitas Bahasa Tubuh untuk Menjadi Pembicara Profesional karya Alexander Sriewijono, Becky Tumewu, dan Erwin Parengkuan. Ada pula Cerdik Berbicara Cerdas, Menguasai Suasana karya Jusra Chandra.

Selain itu masih ada banyak lagi, seperti Teknik dan Komunikasi Penyiar Televisi, Radio, MC karya M. Habib Bari; Panduan untuk Menjadi MC Profesional karya Lies Aryati; Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio karya Hudoro Sameto; Sukses Bicara Dengan Siapa Saja karya Rosalie Maggio; Communicate or Die: Mencapai Tujuan dengan Berbicara dan Mendengarkan karya Thomas D. Zweifel; Seni Memulai Pembicaraan Agar Pembicaraan Mengalir dan Membangun Keterampilan Networking karya Debra Fine; Negotiate To Win: 21 Jurus Ampuh untuk Memenangkan Negosiasi karya Jim Thomas; Seni Menaklukkan Penjual dengan Negosiasi karya Istijanto, M.M., M.Com.

Dari perbedaan cara bicara antara MC yang bikin jengah dan ustaz yang bikin cerah di atas, kiranya jelas bahwa kepiawaian bicara tidak hanya ditentukan oleh kehebatan kemampuan merangkai dan mengucapkan kata. Ada landasan integritas yang membuat kepiawaian bicara itu punya efektivitas. Melebih-lebihkan sedemikian, sehingga keindahan kalimat kehilangan refensi faktual justru merupakan cara andal yang membuat kita terjungkal. Sekurang-kurangnya, orang akan tahu bahwa keindahan kalimat-kalimat yang terlontar tak lebih daripada kebohongan dan kepalsuan yang membual. Alih-alih mengena di hati dan menerangi pikiran, basa-basi seperti itu pasti membuat pendengar mual.

*) Wandi S Brata. Direktur Eksekutif PT Gramedia Pustaka Utama. wandi@gramediapublishers.com

Telah di baca sebanyak: 2359
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *