Kolom Alumni

Small is Beautiful

Oleh: Tanenji

Salah satu metode dalam proses pembelajaran yang cukup dikenal adalah metode keteladanan. Metode berkenaan dengan penanaman nilai atau values. Mungkin masih segar dalam ingatan kolektif kita tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4 yang sudah almarhum bersama tumbangnya rejim orde baru. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan P4. Bahkan ia merupakan pedoman berkehidupan, berbangsa, dan bernegara yang pas di republik multikultur semacam Indonesia.

Yang sangat disayangkan adalah karena dalam pengamalan dan implementasinya, P4 miskin keteladanan. Artinya para penatar, para pejabat, hanya omong doang, nato (no action talk only). Apa yang ia omongkan kepada rakyat berbeda jauh –nyaris berjarak antara langit dan bumi—dengan apa yang ia lakukan.

Ketika guru menginginkan murid-muridnya rajin belajar, hobi membaca, maka sang guru tidak boleh juga mengabaikan hal yang satu ini. Sebagai guru mestinya lebih rajin belajar, juga lebih rajin membaca. Ia akan menjadi orang pertama yang melaksanakan apa yang ia ajarkan. Murid mempunyai semacam idola yang tidak berada jauh dalam jangkauannya. Guru menjadi sumber inspirasi dan keteladanan bagi sivitas akademika-nya. Guru yang mempunyai kepribadian menarik.

Begitu pula orang tua. Ketika menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang santun, anak yang sopan, anak yang rajin beribadah, yang percaya kepada Tuhan, yang optimis menghadapi arus derasnya kehidupan, maka ia adalah orang pertama yang melaksanakan apa yang ia ingin kehendaki terjadi pada anak-anaknya.

Termasuk di dalamnya adalah dalam dunia persahabatan. Mengapa seseorang dapat menjadi dan memperoleh status sebagai sahabat karib, biasanya karena banyak kesamaan. Kalau toh tidak, biasanya juga karena mereka saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi dalam perjalanannya sering kali terjadi clash. Masalah ini timbul karena seseorang menginginkan yang lainnya menjadi dan bersikap dengan apa yang dia bayangkan. Mestinya ia akan melaksanakan apa sikap yang diinginkan orang lain bersikap.

Hal ini sesuai dan dapat dibenarkan dengan apa yang pernah dikatakan penulis mode dan gaya hidup, Samuel Mulia, bahwa banyak orang berambisi mengubah dunia, tetapi sedikit sekali orang berpikir megubah dirinya sendiri (Kompas, 02/11/08). Nah kita sebagai guru, sebagai orang tua, sebagai sahabat, sebagai atasan, sebagai tetangga, sebagai anak, sebagai saudara –kakak atau adik– atau sebagai apapaun hendaknya mengubah dirinya sendiri dulu sebelum menginginkan perubahan yang terjadi pada pihak lain di luar kita.

Perubahan ini hendaknya juga berawal pada diri sendiri, pada hal-hal yang terkecil, dan mulai saat sekarang juga, sebagaimana dikatakan oleh Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym.
Mengapa harus mulai dari hal-hal yang kecil? Masih ingat pepatah yang berbunyi sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit? Pola menabung juga demikian adanya. Pola yang terjadi pada tumpukan sampah juga tidak kalah menariknya dengan gaya tabungan. Tidak ada tabungan dan tumpukan sampah yang terjadi langsung berjumlah banyak dengan sendirinya. Sampah pertama kali dibuang sembarangan oleh seseorang, lalu yang lainnya mengikuti, dan terus menerus terjadi. Kaca yang berdebu sedikit, dan tidak pernah dibersihkan, lama-lama, semua permukaannya tertutup debu. Hutang yang menumpuk pun demikian. Jarang sekali hutang langsung berjumlah banyak, kecuali mungkin hutang korporasi pada dunia perbankan, dan ini lain ceritanya. Hutang individual rata-rata berjumlah kecil. Karena mungkin bergaya hidup mewah plus dukungan gali lobang tutup lobang maka yang akan terjadi adalah menumpuknya hutang.

Demikian hebatnya hal-hal kecil, sebagaimana digambarkan inti atom dalam dunia fisika. Kita tidak boleh menyepelekan hal-hal yang kecil. Bahkan peran apapun dan sekecil apapun yang kita lakukan di muka bumi ini tidak boleh disepelekan. Tukang sampah, tukang sayur, satpam, office boy, PRT, tukang ronda, pekerja konstruksi level bawah yang ada di lapangan, dan pekerjaan-pekerjaan sejenis lainnya, tidak boleh dilihat dengan sebelah mata. Pekerjaan ini sepenting bekerja sebagai anggota DPR, ia sehebat bahkan bisa dibandingkan dengan presiden direktur sebuah perusahaan. Dapat dibayangkan bila semua pekerja yang di atas mogok kerja semua. Mereka memboikot semuanya. Pastilah ritme kehidupan yang sudah tertib, aman, nyaman, dan berlangsung seperti tidak ada masalah menjadi kehidupan yang menyebalkan, timpang, kehidupan yang tidak lengkap.

Hal-hal yang kecil juga bisa menjadi sumber penghasilan untuk mengatasi pengangguran. Tubagus Wahyudi, pakar hipnotis dan public speaking terkenal, pernah mengemukakan bahwa salah satu hal untuk menguasai sensorik power adalah dengan tetap melakukan ketekunan. Ketekunan dalam bidang ilmu, hobi, penelitian, dll. akan membuat dan mengantarkan seseorang menjadi pakar pada bidang tertentu tersebut. Bahkan hobi yang terlihat sepele oleh orang lain, yang ditekuni dapat menjadi sumber penghasilan dan sandaran hidup.

So, small is beautiful. Dan tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang berani mencobanya. Siapa mau?

* Tanenji, Alumni Writer Schoolen Workshop Cara Cerdas Menulis Buku Best-Seller batch V. Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dapat dihubungi di tanenji@yahoo.com

Telah di baca sebanyak: 1387
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *