Her Suharyanto

SODOKAN KARAMBOL PENURUNAN SUKU BUNGA

02 Desember 2006 – 07:27 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Editor

(Rate: 0 / 0 votes)
Serial News for Wealth

Dalam beberapa bulan terakhir kita dibombardir oleh berita bahwa Bank Indonesia tengah dan akan terus menurunkan suku bunga. Apa makna penurunan suku bunga ini bagi kita orang per orang?

Pertama sekadar sebagai latar belakang, kita perlu mengingat kembali mengapa Bank Indonesia harus menaikkan atau menurunkan suku bunga. Bank Indonesia melakukan hal itu dalam tugasnya sebagai pengendali moneter, termasuk di dalamnya tugas mengendalikan laju inflasi dan nilai tukar mata uang. Untuk mengendalikan inflasi, yang dilakukan oleh Bank Indonesia adalah mengatur jumlah uang yang beredar di masyarakat. Logikanya, semakin banyak uang yang beredar, maka kecenderungan belanja masyarakat akan meningkat. Kalau belanja meningkat, maka harga-harga akan naik. Inilah inflasi. Sebaliknya kalau jumlah uang yang beredar sedikit, maka masyarakat cenderung berhemat, dan karena itu harga-harga akan cenderung turun. Ini yang dinamakan deflasi.

Nah, bank sentral mengatur jumlah uang yang beredar dengan suku bunga. Suku bunga adalah besaran imbalan yang diberikan kepada pihak yang menempatkan sejumlah uang. Bank Indonesia mengendalikan uang yang beredar dengan dua suku bunga. Yang pertama adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yang bisa dibeli oleh bank atau pihak lain melalui broker. Dengan SBI, Bank Indonesia bisa mengatur jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat. Kalau jumlah yang beredar dinilai terlalu tinggi, maka Bank Indonesia akan memberikan suku bunga yang tinggi sehingga masyarakat (melalui bank dan lembaga keuangan) memilih menyimpan dananya di Bank Indonesia. Sebaliknya kalau dana yang beredar terlampau sedikit, Bank Indonesia menurunkan suku bunga SBI sehingga perbankan dan lembaga keuangan memilih menyediakan dananya untuk dipakai masyarakat. Tarik ulur seperti ini diperhitungkan dengan cara yang sedemikian cermat sehingga target inflasi bisa tercapai.

Langkah yang kedua adalah dengan menetapkan suku bunga patokan (benchmark) yang disebut dengan BI Rate. Bank Indonesia menyebut BI Rate ini sebagai sinyal kemana sebenarnya kebijakan moneter sedang diarahkan. Dengan demikian, diharapkan bunga di pasar uang (bank dan lembaga keuangan lainnya) akan mengacu pada BI Rate tersebut. Logikanya sama seperti pada SBI. Semakin tinggi BI Rate, maka suku bunga perbankan (tabungan maupun kredit) juga akan tinggi, dan dana masyarakat akan cenderung tersimpan di bank. Sebaliknya kalau BI Rate rendah, maka suku bunga perbankan juga akan turun, dan masyarakat akan cenderung menggunakan dananya untuk keperluan lain.

BI Rate Turun
Sejak awal kuartal ketiga tahun lalu, BI menaikkan suku bunga hingga ke titik tertinggi 12.75% pada akhir tahun lalu. BI mengambil langkah ini setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak sebanyak dua kali dalam setahun, dengan akumulasi kenaikan lebih dari 100%. Kita semua tahu, kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan yang lain. Itu sebabnya BI menaikkan suku bunga, untuk meredam inflasi.

Tetapi sejak Mei lalu, BI perlahan-lahan mulai menurunkan suku bunga, karena inflasi berhasil dikendalikan. Sejak saat itu hingga saat ini, penurunan suku bunga sudah enam kali dilakukan, dan saat ini BI Rate sudah tercatat sebesar 10.25%.

Pertanyaan untuk kita, kalau penurunan suku bunga ini ibarat sodokan stick pada satu bola bilyar, kemana bola-bola mana saja yang akan terpengaruh, dan yang lebih terpenting lagi bola mana yang akan masuk lobang di sudut dan mendatangkan poin untuk kita?

Bola pertama yang akan tersodok adalah suku bunga perbankan. Artinya, bank-bank pasti akan segera menurunkan suku bunganya. Pertama-tama, tentu saja, yang akan diturunkan adalah sukubunga tabungan dan deposito, dan baru kemudian suku bunga kredit. Ini normal, betapapun bikin gregetan, bahwa bank dengan cepat menurunkan bunga tabungan deposito, tetapi lambat dalam menurunkan bunga kredit. Alasan klasik yang dikemukan bank adalah bahwa dana yang tersedia saat ini adalah dana masyarakat yang masih berbunga tinggi. Misalnya saja, ada deposito satu tahun yang jatuh tempo Juni tahun depan, yang untuknya bank masih harus membayar bunga tinggi. Tetapi sebenarnya deposito baru sudah berbunga rendah, dan tabungan lama pun bunganya langsung “disesuaikan”. Di sinilah justru bank berpeluang untuk mendapatkan “margin karet” dari beban bunga (tabungan dan deposito) yang sudah turun, tetapi pendapatan bunga (kredit) masih tetap tinggi. Apakah ini saatnya membeli saham sektor perbankan? Tentu boleh dipikirkan.

Bola kedua akan bergerak beberapa bulan lagi, ketika bank-bank sudah secara riil juga menurunkan bunga kredit. Kalau ini yang terjadi, maka akan terjadi sodokan karambol ke bola-bola yang lain yang akan kita lihat berikut ini.

Bola ketiga yang tersodok adalah dunia bisnis. Bola ini tersodok karena dunia bisnis akan mendapatkan kredit dengan biaya yang lebih murah. Mereka yang sebelumnya tidak berani mengabil kredit untuk modal usaha karena bunga masih tinggi, sekarang akan berani, dan berarti akan ada aktivitas bisnis baru. Mereka yang sebelumnya sudah menggerakkan roda usahanya dengan bunga yang cukup tinggi, sekarang berpeluang mendapatkan kredit dengan bunga yang lebih murah, sehingga usaha mereka akan lebih efisien. Apakah ini artinya laba persahaan-perusahaan akan meningkat? Banyak orang sudah menduga ke sana. Buktinya, orang sudah berburu saham di bursa, sehingga dalam sebulan terakhir indeks harga saham gabungan terus mencatat rekor terbarunya.

Situasi ini menyodok bola keempat, yakni dunia kerja. Kalau dunia usaha sudah bergerak lagi, maka karyawan yang dulu sempat dirumahkan mungkin akan dipanggil lagi. Perusahaan yang sebelumnya tidak mampu menyesuaikan gaji terhadap inflasi, kini mulai bisa menaikkan gaji. Bahkan kini ada banyak perusahaan baru, yang otomatis juga akan menyerap tenaga kerja baru.

Maka bola kelima pun tersodok, yakni daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat meningkat karena perusahaan tempat mereka bekerja menjadi lebih aktif, semakin banyak usaha baru, dan semakin banyak peluang usaha baru pula. Daya beli masyarakat naik karena sumber pendapatan mereka semakin mantap.

Kondisi ini menyodok bola keenam, yakni rasa percaya diri masyarakat sebagai konsumen untuk mengambil kredit untuk konsumsi, karena bunga kredit konsumsi juga sudah turun. Masyarakat mulai kembali membeli rumah dengan KPR, membeli mobil atau sepeda motor secara kredit, dan ini berarti sodokan balik ke bola ketiga, yakni dunia usaha Karena masyarakat mulai berbelanja, maka sektor industri akan bergerak lebih lancar, dan ini kembali menyodok bola keempat (dunia kerja) yang pada gilirannya akan kembali lagi menyodok bola kelima.

Bola ketujuh yang tersodok adalah investasi. Ketika suku bunga tinggi, orang akan cenderung menyimpan uangnya di bank, karena tanpa susah payah, orang akan mendapatkan bunga yang lumayan. Sedikit lebih baik dari pendapatan bunga bank adalah bunga obligasi. Maka pendek kata wahana atau sarana investasi yang laku adalah instrumen berpendapatan tetap. Tetapi ketika suku bunga turun, maka hasil investasi pendapatan tetap juga otomatis akan turun. Maka orang akan memutar otak, bagaimana mendapatkan hasil investasi yang lebih baik. Pilihan yang cukup umum adalah dengan menanamkan dana di bursa saham. Dan inilah yang sudah mulai terjadi di Indonesia belakangan ini. Buktinya, sekali lagi, harga-harga saham di bursa terus merambat naik, sehingga indeks harga saham gabungan juga terus merambat naik.

Nah, anda lihat, bukan, betapa berita pergerakan suku bunga ternyata memiliki sodokan karambol, yang masing-masing mempunyai dampak ekonomi yang besar sekali. Apakah anda sudah mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga ini? Saya sudah. Sejak Januari reksadana saham saya naik lebih dari 40%.(hs)

* Her Suharyanto adalah editor ekonomi dan penulis independen. Ia bisa dihubungi di her_suharyanto@hotmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *