Andrias Harefa

Speak Up!


Speak Up and Be Counted! Berbicaralah agar diperhitungkan! Itulah nama program pelatihan yang belum lama ini saya luncurkan ke pasar pelatihan di Indonesia. Dan respons pasar luar biasa. Peserta yang hadir di kelas saya tak hanya orang Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Sebagian datang dari Bandung. Sebagian lagi datang dari Pontianak. Bahkan ada yang datang dari Timika, Papua, khusus untuk mengikuti program pelatihan tersebut.

Latar belakang peserta sungguh beragam. Ada yang datang dari industri pertambangan, industri media, dunia pendidikan tinggi, perusahaan makanan dan minuman, angkutan dan pengiriman barang, dan sebagainya. Rentang usianya pun tak seragam, antara 20 hingga 50 tahun. Jabatannya dari staf, supervisor, manajer, sampai direktur.
Variasi peserta yang ikut program Speak Up memang sudah saya perhitungkan. Sebab saya paham betul program semacam ini merupakan kebutuhan fundamental dalam hidup dan pekerjaan. Ini kebutuhan generik. Semua orang ingin menjadi sosok yang diperhitungkan. Tak ada orang yang senang disepelekan dan dianggap rendah.

Masalahnya, jika orang ingin dirinya diperhitungkan, maka ia harus mencari jawaban yang tepat atas sebuah pertanyaan mendasar: kecakapan strategis apa yang perlu saya kuasai agar saya diperhitungkan?
Pertanyaan sejenis pernah dijawab oleh dua orang peneliti luar biasa. Yang pertama adalah pakar kebijakan pendidikan Richard J. Murnane dari Harvard Kennedy School; dan Frank Levy, pakar ekonomi urban dari Massachusetts Institute of Technology. Mereka mengkaji jenis kecakapan yang kian dibutuhkan dan tak dibutuhkan dalam dunia kerja abad ke-21.

(Iwan Pranoto; Kompas 16 Juni 2012; hlm.7)
Berdasarkan hasil penelitian selama hampir 30 tahun (1969-1998), mereka mengungkapkan bahwa kecakapan memecahkan masalah yang tak rutin dan kecakapan berkomunikasi kompleks semakin dibutuhkan. Pada saat komputer serta teknologi informasi semakin berdaya, banyak masalah rutin dapat dipecahkan oleh mesin. Sebaliknya, manusia justru semakin dibutuhkan pada pemecahan masalah tidak rutin. Juga semakin dibutuhkan kecakapan komunikasi yang kompleks seperti kecakapan seorang manajer memotivasi anak buahnya.

Kecakapan berkomunikasi yang kompleks, itulah fokus utama pelatihan Speak Up and Be Counted. Bagaimana memulai percakapan dengan orang baru?; bagaimana memulai pembicaraan dengan bos besar pemilik konglomerasi tertentu, sementara Anda staf baru di salah satu anak perusahaannya?; bagaimana menyampaikan pendapat yang tegas secara santun?; bagaimana memotivasi orang dengan perkataan?; bagaimana menggunakan intonasi dan bahasa tubuh yang mendukung kata-kata terucap?; bagaimana menjadi pembicara yang fleksibel?; bagaimana melakukan presentasi dan memberikan coaching kepada bawahan?; bagaimana menyelipkan humor atau joke dalam berbicara?; bagaimana memberi petunjuk teknis dengan efektif?; bagaimana mengekspresikan diri kita yang terbaik saat berbicara? Itulah sejumlah pokok materi yang dilatihkan—sekali lagi dilatihkan, bukan sekadar dibicarakan atau diceramahkan—agar peserta menguasai kecakapan tersebut untuk dirinya.
Mengapa kecakapan berkomunikasi kompleks ini penting?

Pertama, seperti yang dikatakan Stephen R. Covey, kemampuan berkomunikasi adalah keterampilan terpenting dalam hidup dan pekerjaan. Masalahnya, kemampuan ini tidak diperoleh begitu saja tanpa adanya pelatihan yang baik dan berkesinambungan. Ceramah dan nasihat tidak banyak membantu mengembangkan kecakapan komunikasi, sebab suatu kemampuan hanya bisa dikembangkan lewat praktik yang terbimbing dan dilakukan berulang-ulang dalam jumlah yang memadai sampai melekat menjadi kecakapan.

Kedua, karena kerugian yang disebabkan oleh ketidakcakapan berkomunikasi ini sangat besar di setiap organisasi. Bentuknya bisa berupa kesalahpahaman, konflik yang tak perlu, suasana kerja yang buruk, motivasi kerja yang rendah, tidak tercapainya target dan penurunan produktivitas yang drastis, dan sebagainya. Inefisiensi kerja yang mengemuka dalam berbagai program pemerintah pun, dapat ditelusuri berakar pada kurangnya kecakapan berkomunikasi di antara para pejabat terkait. Ini masih terkait kecakapan komunikasi personal dan belum sampai ke komunikasi massa, yang tentu lebih kompleks lagi.
Ketiga, kecakapan komunikasi kompleks adalah kompetensi yang memicu tumbuhnya rasa percaya diri yang sehat (healthy self-esteem and self-confidence), sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk bertindak berani dalam mengejar target-target tertentu. Dengan lain perkataan, ketidakpercayaan diri menguat jika kemampuan berkomunikasi menurun. Dan pekerja yang tidak percaya diri akan menjadi beban (biaya) bagi perusahaan. Ia akan menghindar dari tugas-tugas yang menantang, sehingga perusahaan kekurangan orang-orang yang bisa diandalkan dan diperhitungkan.

Seperti Iwan Pranoto, Guru Besar ITB, yang menyatakan keprihatinannya atas praktik pendidikan kita yang tak mendukung penguasaan kecakapan memecahkan masalah tak rutin dan kecakapan komunikasi kompleks, saya pun gelisah atas produk pendidikan formal yang tak cakap berkomunikasi di dunia kerja. Itu sebabnya saya ciptakan program ini. Dan karena saya berkiprah di jalur pelatihan korporat, maka program ini saya tawarkan sebagai pelatihan dasar wajib untuk setiap pekerja yang ingin atau perlu diperhitungkan.
Speak Up and Be Counted! Berbicaralah agar diperhitungkan! Salam proaktif.

* ANDRIAS HAREFA STW
Trainer-Speaker: Berpengalaman 20 Tahun
Writer: 38 Best-selling Books
Beralamat di www.andriasharefa.com– Twitter @ aharefa


Telah di baca sebanyak: 2546
admin
Admin Pembelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *